Terjebak Cinta Gadis Konflik

Terjebak Cinta Gadis Konflik
Hubungan Abduh Dan Yanti


__ADS_3

Sesampainya di rumah, Abduh sudah disambut oleh Jasmine yang baru selesai mandi membuat mata Nathan terlihat membulat seolah tidak mau berkedip atau melewatkan keindahan ciptaan tuhan yang ada di hadapannya. kalau tidak di sikut oleh Abduh Nathan mungkin terus menatap sampai matanya merah.


"Kebetulan Kakak pulang, sarapan sudah siap, Ayo kita sarapan dulu...!" ajak Jasmine.


"Yah Kakak juga sudah lapar," jawab Abduh sambil berjalan mengikuti Jasmine masuk ke dalam rumah, sesampainya di dalam dia memindai area sekitar seperti sedang mencari sesuatu.


"Yanti sedang bantu teh Sarah menyiapkan sarapan." ujar Jasmine seperti mengetahui apa yang dicari oleh kakaknya.


"Siapa yang mencari Yanti ,Aku mencari kang Dadang dia sudah pulang apa belum," jawab Abduh mengelak.


"Oh namanya Yanti, cantik ya Sesuai dengan orangnya. pantas saja kakakmu ini sampai bergetar melihat wanita itu." Sahut Nathan menimpali.


"Emang ketemu di mana?"


"Tadi pas keluar dari rumah kita bertemu dengan wanita yang masuk ke rumah ini. awalnya Abduh mengajak aku jalan-jalan tapi itu tidak lama dia pun mengajak kita kembali karena mungkin alasan untuk berjalan-jalan sudah ada di rumahnya."


"Cie.... sampai segitunya." ledek adiknya sambil mencolek dagu Abduh.


Dari arah depan terdengar suara mobil yang terparkir, tak lama masuklah seorang pria paruh baya meski berusia sudah lanjut tapi badannya masih atletis karena sering berolahraga dan bekerja, apalagi memiliki musuh kesehatan tetap harus bugar, Karena untuk bertarung Harus Memiliki kesehatan yang prima.


"Kenapa kalian masih berdiri, bukannya kakak kalian mengajak sarapan bersama?" tanya orang yang datang sambil mengulurkan tangan.


"Iya kami nunggu kang Dadang Datang."


"Ya sudah ayo kita sarapan dulu!" ajak Dadang sambil masuk ke ruang tengah terlihatlah nasi goreng yang masih mengepul sudah tersaji. Sarah dibantu oleh Yanti menyiapkan sarapan untuk para lelaki yang berada di rumahnya.


Keluarga kecil yang dipenuhi kebahagiaan meski berada di tengah-tengah Konflik berkepanjangan, mereka sarapan bersama dengan penuh Sukacita, mengisi perut untuk memulai hari yang entah apa yang akan terjadi. kalau belum terbiasa mungkin tidak akan mau makan tidak akan mau minum, karena itu hanya Percuma saja kalau nanti akhirnya akan mati atau terluka ketika ada serangan.

__ADS_1


Selesai melaksanakan sarapan, Dadang kembali lagi ke kebun untuk membahas masalah-masalah pertanian. sedangkan Abduh Jasmine Yanti dan Nathan mereka berkumpul di saung yang berada di halaman belakang rumah setelah membantu Sarah merapikan semua alat-alat sarapan.


Suasana di saung itu terasa sangat sepi hanya terdengar suara burung-burung yang berkicau dari arah pohon yang tumbuh di area sekitar, di Sauti dengan hewan ternak yang berada di dalam kandang. Entah mengapa suasana pun menjadi membeku padahal tadi ketika ada Dadang mereka sangat ceria.


"Emang Yanti ini siapa?" Tanya Nathan mulai memecahkan heningnya suasana.


"Sahabat sekolah ketika di SMA, tapi." jawab Jasmine namun tidak melanjutkan pembicaraannya.


"Oh teman sekolah,tapi apakah dia nggak tahu kalau kakak dari sahabatnya menaruh hati"


"Saya nggak tahu. ya sudah biarkan mereka mengobrol sebentar. Ayo kita menjauh!" ajak Jasmine sambil menarik tangan Nathan membuat pria itu berharap dunia ini berhenti seketika, karena dia merasa takut kalau tangan itu terlepas kembali.


"Ayo. kenapa malah diam?" ajak Jasmine untuk yang kedua kalinya membuat Nathan terhentak kemudian mengikuti Jasmine seperti kerbau yang sedang dituntun oleh gembalanya.


Jasmine mengajak Nathan untuk duduk di bangku yang berada di halaman belakang yang menghadap ke arah sawah, padinya sedang hijau seperti permadani yang dihamparkan. Nathan yang belum mengetahui Apa tujuan Jasmine mengajak dirinya untuk pergi, dia pun menatap Gadis itu dengan begitu lekat seolah ingin menusuk menembus jantung hatinya.


"Nggak apa-apa, kenapa aku diajak ke sini?" tanya Nathan dengan suara yang sedikit pelan kalau berbicara di pinggir jalan kota mungkin suaranya tidak akan terdengar.


"Kita biarkan mereka untuk melepaskan rasa kangen, soalnya mereka Jarang bertemu  tapi Yanti tetap setia menunggu Kak Abduh datang melamarnya."


"Maksudnya?"


"Jadi mereka itu sudah lama berpacaran tapi keadaan kampung yang belum kondusif mereka tidak berani menambah beban orang tua mereka dengan urusannya. sehingga mereka lebih memilih menyembunyikan hubungan dari orang tua masing-masing."


"Tapi kalau seperti itu, kasihan dengan Abduh dan Yanti yang saling mencintai. Padahal kalau sudah suasananya seperti ini mereka jujur saja sama orang tua masing-masing."


"Tidak bisa. oh ya Nama kamu siapa?" Tanya Jasmine yang menatap lekat ke arah pemuda yang sangat tampan. di dalam hati kecilnya Dia sedikit tertarik dengan sahabat kakaknya itu karena kalau tidak tertarik mungkin tadi pagi dia sudah mengadu yang tidak-tidak, agar Nathan dihakimi oleh warga. tapi dia tidak melakukan hal itu karena sejak pertama kali bertemu Entah mengapa ada getaran-getaran yang belum bisa diartikan.

__ADS_1


Jasmine merasa aneh dengan dirinya sendiri, karena dia belum pernah merasakan getaran yang memenuhi dadanya. Meski banyak teman-teman kampus di caltec California yang mendekati, tapi dia merasa biasa saja berbeda ketika bertemu dengan Nathan yang membuatnya sedikit salah tingkah.


"Aku Nathan, dan aku tahu nama kamu adalah Jasmine." jawab Nathan sambil menaikan bahu membusungkan dada, seolah ingin menunjukkan bahwa dia adalah pria yang sangat pantas untuk mendekati Jasmine.


"Oh Nathan teman kuliah kaj Abduh di Bandung ya?" tanya Jasmine sambil mengeluarkan tangan mengajak Nathan berkenalan.


Namun kejadian yang sangat aneh pun terjadi, Nathan menolak uluran Tengah gadis yang sangat ia sukai. dia hanya menyimpan kedua tangannya di dekat dada sebagai penerimaan kenalan Dari wanita yang selalu hadir dalam menemani lamunan indahnya, seperti sedang menahan harga bahwa dia bukan lelaki gampangan.


"Maaf saya tidak akan bersentuhan tangan dengan wanita, kalau wanita itu belum sah menjadi istri saya." ujar Nathan sambil mengulum senyum menunjukkan bahwa dirinya adalah pria yang sangat agamis.


"Fuih... gayamu. Bukannya tadi kamu memelukku dengan begitu erat." gerutu Jasmine yang seketika mendelik dan menarik tangan yang diulurkan.


"Itu beda lagi ceritanya kalau tidak sengaja tidak dosa, lagian kamu kok yang mendidikku dari atas, aku takut kalau kamu jatuh." ucapan Nathan yang terlihat sangat pintar dia mampu mengelak tuduhan-tuduhan Jasmine.


"Kamu kurang ajar banget! mau ngapain sih tadi sebenarnya?"


CNggak ngapa-ngapain, Oh ya Kakak kamu tidak bisa kenapa." ujar Nathan mengalihkan pembicaraan


"Karena kang Dadang sudah terlalu disibukkan dengan urusan-urusan dengan warga Kampung Sagaranten, Kak Abduh tidak mau menambah beban kakaknya yang sudah mendedikasikan hidupnya untuk kampungnya sendiri."


"Kalau cinta tidak boleh memikirkan orang lain, Lagian Abduh dan Yanti tidak salah, mereka sudah sewajarnya saling mencintai karena memang begitulah kehidupan dan fitrahnya sebagai manusia yang harus memiliki pasangan seperti aku dan..." ujar Nathan yang tidak melanjutkan pembicaraan.


"Dan apa?"


"Dan wanita yang akan mau aku nikahi. Emang kamu mau?" tanya Nathan yang memainkan Alif dia semakin merasa nyaman mengobrol dengan Jasmine sehingga candaannya pun mulai keluar.


"Mudah sekali cintamu diobral begitu saja, baru pertama. bertemu sudah ngajak menikah." jawab Jasmine mencibir

__ADS_1


"Daripada dipendam nanti keluar jerawat."


__ADS_2