
Duarrrrr!
Tiba-tiba ledakan besar terjadi memporak perandakan meja yang dijadikan tempat bermusyawarah, ledakan itu keluar dari bawah kolong meja membuat orang-orang yang berada di situ terlihat sangat panik, bahkan Yanti yang dekat dengan sumber ledakan dia terpental jauh ke belakang.
Kejadian itu sangat mendadak tidak diprediksi sebelumnya, karena tiba-tiba saja ada bom besar yang meledak di tempat kejadian acara, sehingga banyak orang-orang yang terluka. anak-anak terdengar menangis, wanita-wanita berteriak histeris, para lelaki mereka celingukkan mencari-cari Dari mana asal mula bom itu.
Abduh yang sangat jelas melihat kekasihnya terpental jauh dengan segera membangkitkan tubuhnya lalu berlari menuju ke arah Yanti yang sedang dipeluk oleh Marna, dari dahinya terlihat keluar cairan merah yang sangat kental mungkin robek terkena ledakan. Yanti tidak sedikitpun memberikan respon padahal orang tuanya sudah membangunkannya beberapa kali membuat Abduh pun segera memeluk menggantikan orang tuanya.
"Yanti, Yanti bangun sayang! Yanti, Yanti!" ujar Abduh sambil menepuk-nepuk pipi Yanti berharap wanita pujaannya memberikan respon.
Dadang yang tadi terpental dia yang mencium kejadian yang mencurigakan, dengan segera memerintahkan Manta untuk bersiap-siap, karena dia yakin tidak akan ada asap Kalau tidak ada api. mereka bersiaga menerima kemungkinan selanjutnya karena mereka yakin itu hanya permulaan dari serangan
Dadang bukan tidak kasihan dengan Yanti dan keluarganya yang terlihat sedang Meraung, merintih, menangis, memanggil-manggil Yanti yang tidak bisa bergerak lagi. tapi dia lebih memilih keselamatan warga yang masih selamat. Abduh terus berusaha menyadarkan Yanti, namun kasihnya itu sudah tidak ada di dunia ini sudah pulang ke tempat asalnya.
Menyadari kekasihnya sudah meninggal, Abduh pun berteriak dengan sangat kencang merasa frustasi dengan apa yang terjadi di kampungnya. karena baru saja dia akan mendapat kebahagiaan tapi kebahagiaan itu sirna seketika, gara-gara ada serangan bom yang mematikan. Bukan cuma Abduh dan keluarga Yanti yang menangis ada beberapa keluarga yang ikut merasakan kesedihan yang sama, karena dari serangan bom itu ada empat orang yang meninggal dunia.
__ADS_1
Benar saja apa yang diprediksi oleh Dadang, dari arah Timur terdengar gemuruh orang yang berlari sambil berteriak, bahkan bersorak sorai seperti hendak maju ke medan pertempuran, para lelaki yang berada di tempat itu mereka sudah bersiap siap untuk meladeni apa yang akan terjadi selanjutnya.
Beberapa saat diantaranya, terlihatlah gerombolan orang yang berlari menuju ke arah rimbunan orang dengan membawa senjata yang lengkap. Ada yang membawa golok, ada yang membawa badik, ada juga yang membawa tombak. mereka terus berteriak sambil bersorak untuk menjatuhkan mental lawannya, gerombolan pasukan itu dipimpin oleh Darman dan Sutardji yang masih penasaran belum mampu membalas sakit hati orang tuanya yang cacat permanen. kala itu Darman dan Sutardji mereka membawa pasukan yang begitu banyak, sesuai dengan kekhawatiran dan ketakutan Dadang yang beberapa saat mengatakan bahwa Darman terus menjalin kerjasama untuk membantu kampungnya menyerang Kampung sagaranten.
Ketika mereka sampai, tanpa berbicara lagi Darman yang sudah mengincar Dadang dengan segera menyabetkan goloknya mengarah ke arah leher. namun Dadang dengan segera menghindar sambil melancarkan serangan parangnya, begitu pula dengan warga yang lain yang diserang tanpa berkompromi terlebih dahulu, tanpa tahu permasalahannya Seperti apa. mereka bertarung atas nama dendam keluarga, saudara, tetangga, warga kampung masing-masing. karena dari kalangan mereka sudah banyak yang menjadi korban.
Dadang berusaha mengimbangi serangan-serangan musuhnya yang kadang bergantian menyerangnya, mulai dari Darman ataupun Sutardji bahkan warga kampung yang tidak memiliki hubungan apa-apa mereka terus menyerang Dadang dengan membabi buta, seolah Dadang adalah penjahat yang harus dilenyapkan dari muka bumi.
Sabetan demi sabetan terus menerjang mencari tubuh Dadang yang terempuk, mencari jalan keluar untuk nyawanya. namun sekuat mungkin Dadang terus berusaha melawan Bahkan dia berhasil melukai beberapa lawannya yang lengah, Begitu juga dengan Nathan yang ikut membantu, meski dia tidak membawa senjata dia tetap bisa mengimbangi musuhnya yang bersenjata lengkap.
Nathan tidak terlihat kewalahan meski dia harus dikeroyok oleh tiga orang atau lebih, karena Nathan yang suka berolahraga dan sering berlatih bela diri tidak terlalu kesulitan kalau hanya untuk meladeni orang yang bertarung hanya menggunakan keberanian, tanpa menggunakan perhitungan. Kalau tidak ingat sedang bertarung dengan manusia mungkin Nathan hanya membutuhkan waktu beberapa saat untuk melenyapkannya, tapi Nathan yang tidak memiliki sifat jahat, Dia hanya ingin melumpuhkan tanpa melukai.
Suara senjata terus beradu menimbulkan suara trang Treng trong, dibarengi dengan percikan percikan api yang menyebar dari setiap sudut tempat itu. anak-anak terdengar menangis namun dengan cepat ibunya membawa agar tidak terkena imbas dari pertarungan. Begitu juga dengan para wanita mereka Terdengar berteriak histeris, apalagi melihat suaminya terkena sabetan senjata musuh, bahkan tidak jarang Mereka melihat keluarganya dibunuh tanpa ada rasa kasihan tanpa ada rasa kemanusiaan.
Entah apa yang merasuki warga Kampung Cisaga kala itu, mereka menyerang dengan begitu brutal tidak pandang bulu. mau orang tua ataupun anak muda, ketika bertemu dengan mereka mereka akan membabad habis sampai tak tersisa. membuat Dadang Kian memuncak. dia mengamuk menggunakan seluruh tenaganya sehingga beberapa orang dari warga Kampung Cisaga terlihat tergeletak bermandikan darah.
__ADS_1
Meski Dadang dikepung, dia terus berusaha mempertahankan Kampung Sagaranten agar tidak tumbang dihabiskan oleh musuh, karena kalau tidak ada orang yang menghentikan pasti warga Kampung Cisaga akan membuat habis semuanya, berbeda dengan kampungnya yang ketika menyerang mereka tidak akan menyiksa warga yang tidak berdosa dan sudah tidak memiliki kekuatan, mereka hanya bertarung seperti kesatria.
30 menit berlalu, keringat Dadang mulai bercucuran bercampur dengan darah cipratan dari darah musuhnya, dia yang sudah tidak semuda waktu dulu terlihat napasnya sangat memburu, memang benar umur tidak akan membohongi keadaan tubuh meski memiliki taktik tapi fisik tidak kuat.
Trang!
Satu Serangan yang dilancarkan oleh Darman di tangkis menggunakan Parang yang dipegang oleh Dadang, Namun sayang tenaga Darman yang masih tidak terlalu terpakai karena dia membawa pasukan yang begitu banyak, membuat senjata yang dipegang oleh Dadang pun terlepas terjatuh jauh.
Serttt!
Belum saja Hilang Rasa terkejutnya, tiba-tiba dari arah pinggang terasa ada benda tajam yang menusuk punggungnya. membuat Dadang memalingkan pandangan ke arah belakang terlihatlah orang yang menatap tajam ke arahnya, menunjukkan sorot mata yang sangat membencinya padahal Dadang tidak kenal dengan orang itu.
Sambil meringis menahan rasa sakit Dadang pun menarik kepala orang yang sedang menatapnya, tanpa berpikir panjang dia memerintir kepala itu sampai terdengar suara kemretek tulang yang putus, orang yang baru saja dipelintir terlihat berkelejat sebentar kemudian terdiam menghempaskan nyawanya
Pisau yang masih tertancap Dadang cabut dengan cepat agar tidak menimbulkan rasa sakit yang berlebihan, kemudian senjata itu digunakan untuk menangkis serangan-serangan yang dilancarkan oleh musuhnya yang sangat banyak.
__ADS_1
Pisau ketika diadukan dengan golok tidak mampu memberikan perlawanan yang signifikan, sehingga Dadang pun beberapa kali terkena sabetan golok yang disabetkan oleh musuhnya, bajunya yang berwarna putih sudah berubah warna menjadi merah kehitaman.