
Kira-kira pukul 10.00 malam, Deni sudah datang lagi namun sekarang dia tidak datang dengan anggotanya, melainkan datang sendiri untuk menemui Manta. meski sudah larut malam Tapi berita yang di bawah sangat penting jadi secepatnya harus disampaikan.
"Bagaimana Pak, Apakah sudah mendapat keputusan dari pihak yang berwenang?" tanya Manta setelah mereka duduk di ruang tamu, disaksikan oleh para warga-warga yang lainnya.
"Kami sudah berkoordinasi dengan para pejabat lainnya untuk membahas apa yang menimpa dengan Kampung Sagaranten dan kampung Cisaga. kami memutuskan bahwa untuk Besok pagi kita fokus untuk pengurusan jenazah, mendata orang-orang yang terluka mencari orang yang belum ditemukan, kalau semuanya sudah beres hari selasanya kita adakan perkumpulan dengan warga Kampung Cisaga untuk membahas dan menyetujui keputusan yang akan kami buat, karena kita berada di negeri yang berasaskan hukum, maka Setiap perkara akan ditentukan dengan hukum yang berlaku. kalau tetap Kukuh ingin melanjutkan perkonflikan, maka sekarang kami tidak segan-segan untuk menangkap dan memasukkannya ke penjara, dengan catatan sebagai pemberontak negara, karena sudah membuat kegaduhan ketidaknyamanan di dalam negara." ujar Deni menyampaikan hasil permusyawarahannya.
"Terima kasih, saya rasa itu lebih baik, kami akan siap menerima semua keputusan yang akan dibuat. Terus bagaimana rencana besok pagi?" jawab Manta diakhiri dengan pertanyaan.
"Sesuai rencana, kita akan bersama-sama menguburkan jenazah jenazah yang sudah menjadi korban pertikaian, dengan penjagaan yang sangat ketat agar tidak ada lagi pertumpahan darah."
"Kalau bersama-sama berarti warga Kampung Sagaranten bisa menyaksikan penguburan jenazah itu."
"Harus, kita harus bersama-sama mengurus orang yang sudah meninggal, kalau dibiarkan lama itu juga kurang baik, soalnya rumah sakit yang berada di sekarang dan hanya Rumah Sakit pembantu tidak lengkap dengan kamar mayat seperti rumah sakit besar yang berada di kota. Jadi kalau tidak segera dikebumikan takut menimbulkan hal-hal yang negatif." jawab Deni menjelaskan.
Memang benar kalau jenazah jenazah yang gugur tidak segera diurus maka akan menimbulkan bau yang kurang sedap, sehingga itu akan menimbulkan masalah yang baru, karena rumah sakit di Sagaranten hanya Puskesmas yang memiliki perlengkapan rumah sakit, tapi perlengkapannya tidak selengkap rumah sakit besar pada umumnya.
"Kalau begitu kapan kami bisa pulang ke kampung?"
__ADS_1
"Besok, semua orang-orang yang sudah sehat bisa kembali pulang ke kampung Sagaranten. Nanti para pihak pengaman akan mengamankan dan akan menjemput ke sini. Jadi kalian jangan bergerak tanpa instruksi dari kami, karena kalau kalian melanggar aturan yang dibuat maka kami tidak segan-senggan untuk menghukum sesuai dengan aturan yang sudah ditetapkan."
"Baik kami akan mengikuti semua perintah bapak." Jawab Manta menyanggupi.
Akhirnya pertemuan itu berakhir dengan keputusan esok pagi mereka akan dijemput oleh pihak yang berwenang, begitupun dengan orang-orang yang masih tinggal di rumah sakit mereka juga akan dijemput dengan pengamanan yang sangat ketat, sambil membawa para jenazah yang sudah gugur untuk dikebumikan.
Sepulangnya Deni dari rumah Karsa, para penduduk yang sedang mengungsi membubarkan diri, akibat rasa lelah setelah seharian melewati kejadian yang begitu mengerikan, kejadian yang sangat memilukan di mana banyak korban yang terluka dan tidak sedikit yang meninggal.
Kampung Curug kembar meski tidak memiliki musuh dengan Kampung manapun, tapi mereka merasakan hal yang sama, mencekam akibat berita-berita yang beredar begitu mengerikan. malam itu tidak ada orang yang berani keluar takut ada serangan susulan atau pertikaian lanjutan, karena tersiar kabar dari kedua Kampung konflik itu dua-duanya memiliki kerugian yang sangat besar akibat ditinggal dua orang yang dianggap sebagai pemimpin. dan itu tidak menutup kemungkinan akan menimbulkan dendam yang baru sehingga para warga Kampung tetangga yang tidak mau ikut campur mereka lebih memilih berdiam diri di rumah.
Manta menatap ke arah halaman dari jendela yang hanya menggunakan gorden tipis, memperhatikan keadaan sekitar yang nampak sepi, hanya terdengar suara jangkrik dan kodok dari arah sawah. manta Sedang berpikir menimbang baik buruknya Apa keputusan yang akan diambil antara melanjutkan permusuhan atau patuh dengan pihak Kepolisian. memang kedua pilihan sangat sulit kalau tidak melanjutkan dia merasa bertanggung jawab atas kematian warga Kampung sagaranten, tapi kalau dilanjutkan pasti akan ada korban kembali.
Sedang asyik berpikir, dari arah dalam terlihat ada Heri yang keluar dengan membawa dua gelas kopi yang baru diseduh, kemudian diletakkan di hadapan Manta. membuat orang yang sedang melamun agak sedikit terkaget namun itu tidak lama karena dilanjutkan dengan mengulum senyum.
"Daripada ngelamun mendingan ngopi." ujar Heri seperti tidak memiliki beban dalam hidupnya, Padahal dia belum mengetahui keadaan keluarganya seperti apa.
"Terima kasih kalian memang sangat baik. Maafkan kami yang tidak bisa menjaga kenyamanan dan ketentraman hidup kalian." ungkap Manta sambil mengeluarkan bungkusan rok0k dari kantong celananya.
__ADS_1
"Ngomong apaan sih Kang, kita sudah seperti ini kita tidak bisa menyalahkan siapa-siapa, karena ini adalah kesalahan kita yang tidak mau pergi meninggalkan kampung, karena kita menghormati kang Dadang dan Pak Ali. Padahal mereka sudah menyuruh kita dari jauh-jauh hari untuk meninggalkan kampung Segaran, tetapi kita yang tidak memiliki kemampuan baik dalam berpikir ataupun dalam finansial kita tetap memilih tinggal di kampung yang terus berkonflik, hingga akhirnya kejadian yang dikhawatirkan pun terjadi. jadi sekarang kita tidak boleh saling menyalahkan, Harusnya kita bersatu demi memulai hidup yang lebih baik, yang lebih bahagia, yang lebih aman dan damai." Jawab Heri membuat Manta mengulum senyum merasa bangga memiliki tetangga yang pemikiran.
"Saya sedang bingung her!"
"Bingung kenapa, hidup itu jangan diambil pusing karena Hidup sudah susah maka Nikmatilah hidup dengan penuh kebahagiaan." jawab Heri seperti tidak dipikir terlebih dahulu mungkin dia sedang menghibur hati yang hancur.
"Begini Heri, kita nanti setelah menguburkan orang-orang yang sudah wafat, kita akan dikumpulkan dengan warga kampung Cisaga. Apa yang harus kita lakukan di sana, Apakah kita melakukan balasan dari apa yang sudah mereka perbuat atau bagaimana?" ujar manta yang tidak terlalu memperdulikan perkataan Heri karena memang sudah paham dengan sikapnya.
"Ya kita tinggal ikuti alur ceritanya saja karena kalau kita memutuskan takut tidak sesuai rencana."
"Emang benar hidup itu kadang tidak sesuai rencana, tapi meski begitu kita tetap harus memiliki rencana agar kita bisa memiliki tujuan hidup."
"Kalau begitu kita tinggal hitung saja Tinggal berapa warga Kampung sagaranten yang masih hidup dan masih sehat. Aku kira hanya tinggal beberapa orang saja yang tidak terluka, karena pertempuran tadi siang yang tidak direncanakan sebelumnya, membuat kita lengah dan tidak siap hingga akhirnya banyak korban yang berjatuhan begitu banyak dari pihak kita."
"Terus?" Tanya manta dengan mengurutkan dahi.
"Kalau kita mampu Kita balas semua perlakuan warga Kampung Cisaga, tapi kalau tidak mampu kita berlindung saja dibalik perlindungan pemerintah karena tadi kita sudah mendengar bahwa mereka akan menjamin semua keselamatan warga, asal kita mau mengikuti semua aturan yang mereka buat."
__ADS_1
Mendengar penjelasan dari Heri Manta pun mengulum senyum, karena dia memiliki pemikiran sependapat dengan warga kampungnya, warga kampung yang dituakan seperti dirinya. Manta yang awalnya merasa ragu dengan pilihan yang akan diambil, sekarang menjadi lebih yakin dengan apa yang akan dia kerjakan.