
Melihat serangan seperti itu, Dadang hanya memajukan satu kakinya ke arah depan dan memegang parangnya dengan begitu kuat, takut nanti ketika beradu perang itu terjatuh. ketika Maja datang menghampiri dengan segera Dadang menangkis serangan yang dilancarkan oleh musuhnya sehingga percikan api terlihat membaur.
Dari arah samping kanan dan kiri terdengar suara teriakan-teriakan orang yang menjatuhkan mental musuhnya. ada pula suara teriakan teriakan yang kesakitan akibat terkena sabetan golok ataupun parang. suasana di kampung Cisag kala itu terlihat begitu mengerikan, darah berceceran di mana-mana anak-anak kecil menangis, istri-istri berteriak histeris, bahkan tidak sedikit orang yang berlari menyelamatkan diri dari konflik antar kampung Cisaga dan Kampung sagaranten.
Merasa serangannya di tangkis oleh musuh, Maja pun menarik kembali goloknya kemudian menyerang dari arah samping, tepat mengarah ke arah leher. namun Dadang tidak tinggal diam, dengan Sigap menundukkan kepala sampai akhirnya serangan itu hanya memakan Angin, namun tidak cukup sampai di situ. Maja yang sudah diliputi oleh kebencian dia pun membalikkan arah goloknya mengarah ke arah pinggang, sehingga Dadang pun harus memundurkan langkah demi menghindari serangan musuh yang begitu mengerikan.
Pertarungan pun tidak Bisa dihindarkan, kedua belah pihak memiliki dendam masing masing saling melampiaskan. karena permusuhan itu sudah terjadi turun temurun dari kakek buyut Dadang. Mereka terlihat saling sabet menggunakan senjata, saling Serang, saling pukul, saling bandingkan, saling menendang demi mempertahankan yang tidak pasti, karena konflik itu tidak diketahui asal mulanya dan memperebutkan apa.
Maja yang sudah Sepuh tenaganya pun sudah berkurang, meski garamngnya masih seperti waktu muda, namun umur tidak bisa membohongi, sehingga beberapa kali Serangan yang dilancarkan oleh Dadang mengenai tubuhnya. sedangkan Darman dan kakaknya yang bernama sutarji mereka tidak bisa membantu, karena manta dan Adang yang bersama warga lainnya terus mengepung, sehingga jangankan untuk menolong orang tua, untuk menolong dirinya sendiri Mereka pun belum bisa mengetahui.
Semakin lama pertarungan Dadang dan Maja semakin tak berimbang, karena tenaganya sudah mulai terkuras habis, hingga ketika Dadang menyabetkan goloknya dari arah samping, Maja yang sudah kelelahan tidak bisa menghindar.
Srttttt!
Parang itu merobek lengan baju Maja, tembus sampai kulit, hingga mengeluarkan darah yang meluber membasahi lengan baju, membuat tua bangka itu mundur beberapa langkah ke belakang, untuk mengatur napas yang sudah memburu.
"Kurang ajar, kamu sangat curang ketika bertarung!" gerutu Maja sambil menutup darah yang terus mengucur menggunakan tangannya.
"Jangan banyak bacot kamu Maja, kalau bertarung itu harus memakai teknik agar musuh kita cepat roboh. Lagian dimana curangnya, kamu membawa senjata aku pun sama. ayo kita lanjutkan sampai salah satu dari kita ada yang meninggal." Tantang Dadang yang sama terlihat kecapean, namun dendam yang sudah memenuhi dada, sehingga Dia melupakan semuanya, dia ingin segera menghabisi musuh orang tua sekaligus Kampung sagaranten.
__ADS_1
Maja tidak menjawab perkataan Dadang, dia merobek lengan bajunya kemudian mengikat luka yang terus mengeluarkan darah. Dadang tidak menyerang dia memberikan waktu musuhnya bisa mengobati luk, karena dia bukanlah seorang pecundang yang akan memanfaatkan kelengahan musuh demi tercapainya tujuan, dia ingin bertarung secara Ksatria.
"Jangan sombong kamu Dadang, kamu baru bisa melukai saja sudah bangga. ingat akulah orang yang sudah menghabisi nyawa kedua orang tuamu Jadi kamu jangan belagu kalau hanya baru bisa melukai." jawab Maja sambil mengulum senyum, merasa bangga sudah bisa membunuh kedua orang tua Dadang.
Mendengar perkataan musuh yang seperti itu, amarah Dadang yang dari tadi sudah berkobar kini menyala lebih besar. tanpa berbicara lagi dia pun berlari menyerang Maja yang sedang tertawa, sambil menghempaskan parangnya mengarah ke arah leher. namun Maja yang sudah kembali menguasai keadaan dengan segera dia pun merundukkan kepalanya, sehingga kepala itu tetap aman tidak terlepas dari tubuhnya.
Namun sayang ketika Maja menundukkan kepala, kaki Dadang yang sudah dari tadi bersiap terbang mengarah ke arah perut, sehingga tak Ayal lagi Maja yang sudah sangat kelelahan dia pun harus menerima serangan itu.
Agggggghhhh!
Teriak Maja yang memegangi perut, terhuyung ke belakang dan seketika tubuhnya ambruk, melihat musuhnya yang sudah tidak bisa dikasihani. Dadang dengan segera melayangkan serangan kembali namun tidak menggunakan senjata tajam, dia memukuli Maja dengan begitu brutalnya, sampai darah pun berceceran keluar dari mulut dari luka yang menganga.
terdengar suara teriakan orang yang meminta tolong membuat perhatian Dadang sedikit teralihkan, dia melirik ke arah datangnya suara. terlihatlah Manta yang sudah terdesak oleh Darman yang badannya kekar, sedangkan sutarji sebaliknya dia kalah oleh Heri dan Adang karena mereka mengkeroyoknya.
Darman yang sudah berada di atas angin, dia pun mengangkat goloknya setinggi mungkin untuk secepatnya menghabisi nyawa musuhnya, karena warga kampung Cisaga tidak memiliki rasa kasihan seperti warga Kampung Sagaranten, yang selalu bertindak dengan pemikiran yang matang.
"Kurang ajar, makan ini parangku!" teriak Dadang berharap orang yang hendak menghabisi nyawa warganya sedikit terganggu konsentrasinya.
Benar saja Darman yang sudah siap melepaskan nyawa Manta dia pun melirik ke arah datangnya suara, Alangkah terkejutnya ketika ada Parang yang terbang menuju ke arahnya, sehingga dia pun mundur beberapa langkah menjauh dari Manta untuk menghindari serangan parang yang dilemparkan oleh Dadang.
__ADS_1
"Kurang ajar Kalau berani jangan main belakang, sini maju Biar aku antar bertemu dengan keluarga kamu yang sudah menjadi bangkai, hahaha." Dengus Darman sambil menatap tajam ke arah Dadang, seperti Serigala yang terganggu ketika dia hendak merekam mangsanya.
Manta yang terbebas dari ancaman Pati dengan segera dia pun memundurkan tubuhnya, agar tidak diserang kembali oleh Darman, membuat musuhnya itu menatap tajam merasa kesal karena sudah diganggu.
Heri yang melihat Dadang tidak memiliki senjata, dia pun mengambil golok yang tergeletak ditinggalkan pemiliknya, agar ketika bertarung menghadapi Darman dia bisa mengimbangi.
Setelah mendapatkan senjata, Dadang pun bersiaga untuk menerima serangan dari musuh, karena Darman nampaknya sudah tidak sabar ingin segera menghabisi nyawanya. Tanpa ada pembicaraan lagi Darman yang sudah diliputi oleh amarah dia pun menyerang Dadang dengan membabi buta, apalagi melihat orang tuanya yang sudah terhuyung akibat dari luka yang ia Derita.
Darman menyerang Dadang mengarah ke arah perut menggunakan golok yang sejak tadi ia pegang, namun pria paruh baya itu memundurkan langkah ke belakang sambil menyerang Darman, yang kepalanya terbuka. namun Darman bukan anak kemarin sore yang akan mudah dilumpuhkan dengan segera Darman pun menarik goloknya untuk menahan serangan musuh.
Trang!
Suara golok yang beradu begitu nyaring, memercikan percikan api yang membaur menyebar kemana-mana, akibat dari kerasnya hantaman serangan. Darman melihat dada musuh yang terbuka Darman tidak menyia-nyiakan itu dengan segera dia pun Mengayunkan tinju, sebelah kanan mengarah ke arah tulang rusuk.
Dadang yang kepalang tanggung dia tidak bisa menghindari hingga serangan itu tepat menyayang di dadanya. membuat Dia sedikit terhuyung ke belakang. merasa berada di atas angin Darman pun kembali menyerang Mengayunkan golok hendak memotong leher musuhnya, namun Dadang tidak membiarkan itu terjadi dengan segera dia pun merindukan punggungnya untuk menghindari sabetan serangan musuh. Tapi tak cukup sampai di situ kaki Darman yang begitu Perkasa diayunkan mengarah ke arah perut.
Bugh!
Serangan itu tepat mengenai sasaran, membuat Dadang terhuyung ke belakang kemudian ambruk, pandangannya mulai kabur, kepalanya terasa pening, isi yang berada di dalam perutnya memaksa untuk keluar.
__ADS_1
"Hahaha, hanya segitu saja kemampuanmu Dadang." ujar Darman yang berdiri bertolak pinggang, tangan kanannya memegang golok, matanya menatap tajam ke arah musuh yang sedang kepayahan.