Terjebak Cinta Gadis Konflik

Terjebak Cinta Gadis Konflik
Permusuhan terus Berlanjut


__ADS_3

Melihat serangan yang datang ke arah dada, Dadang hanya menggeserkan kaki kirinya ke arah samping untuk menghindari serangan musuhnya, kemudian tangan yang kanan menyerang ke arah belikat Darman, namun pemuda itu tidak tinggal diam dengan segera menarik tangan yang tadi dipakai menyerang untuk membendung serangan Dadang yang membahayakan.


Bugh!


Tinju dan sikut pun beradu menimbulkan suara yang terdengar memilukan, karena serangan itu sangat kencang, mungkin kalau dibiarkan tulang rusuk Darman bisa patah, beruntung dia bisa membendung serangan itu sehingga tubuhnya bisa terselamatkan.


Setelah membendung serangan musuh, tangan yang sebelah kiri Darman gunakan untuk menyerang mengarah ke arah wajah Dadang, namun Dadang pun menahan dengan menggunakan telapak tangan, hingga akhirnya pertarungan sengit pun tidak bisa dielakan. mereka berdua saling pukul, saling tinju, saling Serang, saling lempar, saling tendang, untuk menjatuhkan musuhnya masing-masing. disaksikan oleh para warga kampung yang sedang beristirahat selepas melaksanakan pertempuran atau sedang mengobati temannya, karena ketika sudah ada yang terluka dan Mereka mengganggu kalah pertempuran itu tidak dilanjutkan.


Dadang yang piawai dalam bertarung, karena sejak dari kecil dia sudah berlatih bela diri. Soalnya kalau tidak bisa bertarung dia berada di kampung konflik yang sangat berkepanjangan, bisa-bisa dirinya berada dalam bahaya, sehingga ketika bertarung dengan Darman dia yang sudah bisa membaca situasi dan keadaan, perlahan merangseg,  mulai mendesak Darman untuk menyerah. hingga akhirnya ketika Darman kehilangan kewaspadaan, satu pukulan tepat mengenai di atas pelipis musuhnya.


Bugh!


Tubuh Darman terhubung ke belakang, tangannya memegangi pelipis yang terasa basah oleh darah, kepalanya terasa pening, pandangannya mulai berkunang-kunang. melihat musuhnya belum ambruk tanpa memberi ampun Dadang pun menyerang kembali, menggunakan tendangan dan pukulan hingga akhirnya tubuh Darman pun ambruk ke tanah.


Amarah, nafsu, dendam, yang sudah menyelimuti kehidupan Dadang. dia pun melupakan etika bertarung, melihat musuhnya sudah terjatuh dengan segera ketua Kampung sagaranten mendidihnya, sambil terus melancarkan pukulan demi pukulan mengarah ke arah kepala. bayangan orang tuanya yang sudah terbujur kaku membuat Dadang semakin beringas, hingga Dia pun melihat sebuah golok yang tergeletak di samping Darman, tanpa berpikir panjang Dadang mengambil golok itu kemudian mengangkatnya begitu tinggi hendak menusuk dada musuhnya.


Orang-orang yang menyaksikan terlihat menutup pandangan, tidak mau melihat kengerian yang akan terjadi. apalagi hari itu mereka sudah beberapa kali melihat kengerian, awalnya Kampung Cisaga yang menyerang sekarang giliran mereka yang membalas serangan itu, sehingga darah, teriakan dan jeritan, sudah tidak bisa dielakan lagi, seperti mereka sedang berada di Timur Tengah.


Maja yang sejak dari tadi hendak kabur, ketika Dadang lengah dia pun mengurungkan niatnya karena teringat dengan Darman yang masih bertarung dengan manta. meski dalam keadaan unggul namun para warga kampung yang baru pulang dari penyerangan, Mereka terlihat sangat kelelahan sehingga para warga Kampung sudah terlihat lemas dan mulai mundur menjauh berlari menyelamatkan diri masing-masing.

__ADS_1


Ketika melihat anaknya hendak ditusuk oleh Dadang, Maja yang bersembunyi di balik pintu rumah, dengan segera dia pun keluar dengan membawa golok, kemudian berlari menuju ke arah Dadang hendak menyerang.


Melihat Maja yang berlari menuju ke arahnya, Dadang pun mengulum senyum kemudian bangkit dari tubuh Darman bersiap menerima serangan musuh. ketika maja datang tanpa berpikir panjang Dadang pun menangkis serangan itu sehingga golok yang dipegang oleh Maja terbang jauh meninggalkan dirinya, karena dia yang sudah tua tidak terlalu kuat untuk bertarung.


Maja yang merasa menyesal karena telah keluar hendak menyelamatkan Darman, ketika sudah tidak memiliki senjata dia pun terlihat mundur beberapa langkah, matanya memindai keadaan sekitar mencari celah untuk melarikan diri.


"Hahaha tidak ada tempat untuk pelarian tua bangka, sekarang tempat satu-satunya yang harus kamu datangi adalah neraka." ujar Dadang sambil menyongkan senyum sinisnya merasa puas atas kemenangan yang ia dapat.


Maja tidak berbicara lagi, dengan segera dia pun membalikkan tubuh berlari menjauh dari Dadang, namun anak buahnya yang sejak dari tadi memperhatikan tidak tinggal diam, mereka menendang kaki Maja ketika melewatinya sehingga tua bangka itu terjatuh tersungkur ke tanah.


Dadang pun berlari mengejar meninggalkan Darman yang sudah tidak bisa berbuat apa-apa,Karena musuh utama dari pertikaian itu adalah Maja yang keras kepala, yang tidak mau diajak berdamai. sampainya di tempat Maja terjatuh dengan segera Darman pun Mengayunkan Parang hendak memisahkan kepala dari tubuh Maja.


Ketika beberapa inci lagi mengenai kulit, tiba-tiba Dadang menghentikan serangannya, membuat para warga kampung sekarang dan Kampung Cisaga merasa heran kenapa Darman tidak melanjutkan serangannya, dia hanya menancapkan Parang di samping kepala Maja.


"Kalau aku membunuh pria ini maka pertikaian pun akan terus berlanjut, biarkan orang tuaku menjadi orang yang terakhir menjadi korban  mulai sekarang seterusnya tidak ada lagi jiwa-jiwa yang meninggal tanpa memberikan arti, tidak ada lagi istri-istri yang menangis karena ditinggal suaminya." jawab Dadang yang mengingat perkataan Sarah.


"Terus sekarang bagaimana?" tanya Manta yang terlihat kebingungan.


"Aku tidak akan membunuh tua Bangka ini, tapi aku akan membawanya ke jalur hukum, agar mereka Jera dengan apa yang sudah mereka lakukan. tapi sebelum ke jalur hukum aku akan membuat kedua orang tua yang menjadi ketua Kampung Cisaga tidak akan bisa berbuat banyak." Jawab Dadang tetap menatap Maja yang bergetar karena sudah dipastikan dia tidak akan selamat, tapi Dadang tidak melakukan hal itu membuat dirinya pun merasa lega.

__ADS_1


Maja membalikkan tubuhnya yang awalnya tengkurap, sekarang terlentang, kemudian bangkit untuk duduk matanya menatap ke arah Dadang yang sedang mengobrol dengan Manta, dari sudut bibir pria tua itu terukir senyum merendahkan.


"Mendingan Akang Bunuh saja tua bangka ini, karena kayaknya dia tidak akan bisa sadar dengan kesalahannya." saran Manta setelah melihat wajah Maja yang sangat menyebalkan.


"Iya Dadang Bunuh saja aku sekarang, agar permusuhan ini terus berlanjut sampai anak cucu kita beranak pinak. karena ini adalah tradisi leluhur kita yang harus kita lestarikan, sampai salah satu dari kampung kita tidak ada yang tersisa." tantang Maja yang terlihat menyonginkan senyum finish bernada mengejek


"Sabar aja tua bangka, karena aku memberikan waktu untuk mengingat semua dosa-dosamu dan bertobat, Siapa tahu saja dosamu yang setinggi badan sebesar gunung bisa diampuni."


"Halah banyak bacot, kalau berani Ayo bunuh!"


Manta yang merasa kesal dengan refleks kakinya pun melayang menuju ke arah dagu, membuat orang yang baru Bangkit itu terjungkal ke belakang, dari sudut bibirnya mengalir darah kental bahkan ketika meludah ada benda keras yang jatuh, mungkin gigi Maja yang sudah tua rontok terkena serangan oleh Manta.


"Ayo Selesaikan masalah ini, karena kita harus mengurus jenazah orang tua Kang Dadang." ujar manta mengingatkan.


Dadang yang tadi sedikit melupakan kematian orang tuanya, sekarang teringat kembali kedua orang yang sudah membesarkan dan menyayanginya sepenuh hati. dengan segera dia pun mengambil parang yang tertancap kemudian menuju ke arah Maja yang mengerang kesakitan. tanpa membuang waktu Dadang pun membalikkan tubuh musuhnya agar telungkup, lalu dia pun Mengayunkan sekarang setinggi-tingginya hingga akhirnya.


Sret! sret!


Dua sabetan memutuskan urat-urat yang berada di paha Maja, sehingga Darah segar pun mengalir membasahi tanah membuat orang yang terkena serangan seketika mengerang, tidak kuat menahan rasa sakit yang mulai menjalar ke seluruh tubuhnya, hingga lama-kelamaan dia pun tak sadarkan diri.

__ADS_1


Dari semenjak waktu itu pertikaian pun semakin meluas, karena Dadang melaporkan perbuatan Maja yang sudah membunuh orang tuanya, sehingga Darman dikorbankan untuk menanggung semua dosa yang dilakukan oleh Maja. dia masuk ke dalam penjara namun itu tidak lama karena Sekarang dia sudah keluar kembali. sedangkan orang tuanya sekarang dia tidak bisa melakukan apa-apa hanya bisa duduk di kursi roda, karena semua urat saraf di kakinya terputus oleh sabetan Parang Dadang.


"Keluarga Maja terus mengupayakan agar pertikaian itu terus terjadi, karena dia ingin membalas apa yang sudah dilakukan oleh saya, yang membuat Maja tidak bisa berbuat apa-apa. namun saya selalu menahan agar pertikaian itu tidak terjadi kembali, sehingga saya hanya lebih memilih untuk berdiam supaya tidak ada lagi korban." pungkas cerita Dadang yang menceritakan kejadian dirinya.


__ADS_2