
"Awwww....!" teriak wanita yang disandera, dia tidak sadar tiba-tiba dirinya sudah berada dalam dekapan Darman. wanita itu terlihat ketakutan apalagi ketika melihat golok yang sangat tajam. dari arah belakang orang-orang pun terus berteriak kemudian berhenti di belakang pemuda yang masih berdiri dengan tenang, menatap Darman yang sedang menyandera wanitanya.
"Berhenti, atau kubunuh adik si Dadang ini!" ancam Darman yang terlihat sangat garang, tangan kirinya mencekik leher Jasmine, sedangkan tangan kanannya memegang golok yang diacungkan ke arah Manta yang baru datang, namun sesekali berpindah ke depan Jasmine.
Wanita yang ingin berkunjung mengenang masa lalu bersama orang tuanya. tadi ketika mendengar keributan Mereka pun memutuskan untuk pulang namun belum sempat meninggalkan area sawah, Jasmine sudah di Sandra oleh Darman dijadikan tameng untuk melindungi dirinya.
"Lepaskan Darman! Jasmine tidak salah apa-apa. kalau berani Ayo kita bertarung sampai salah satu dari kita ada yang tumbang." tantang Manta yang merasa ngeri ketika adik ketua kampungnya ditahan.
"Hahaha enak saja main lepaskan. sekarang kalian Pulanglah Dan beritahu si Darman bahwa adiknya ada di dalam genggamanku. sampaikan salamku terhadap pria itu dan persiapkan pernikahan kita, karena gadis cantik ini akan menjadi milikku seutuhnya. kalau tidak mengizinkan untuk dinikahi minimal malam ini dia harus menemaniku." tawa Darman sambil mencolek dagu Jasmine membuat wanita itu terlihat menggelinjang ingin melepaskan diri meski biasanya dia tidak pernah marah ketika didekati oleh seorang pria tapi ketika diperlakukan kurang ajar dia pun tidak terima.
Jasmine terlihat meronta-ronta ingin melepaskan genggaman Darman namun apalah daya tenaga seorang perempuan yang tidak ada apa-apanya, kalau dibandingkan dengan tenaga Darman yang ototnya saja sangat kekar. daripada terlepas, Jasmine merasa kesakitan di area leher akibat tenaganya sendiri.
"Emang cantik kamu, jangan galak-galak! nanti kalau sudah bercocok tanam dengan Aa kamu juga akan menikmatinya. hahaha," goda Darman membuat orang-orang yang berada di situ merasa geram namun mereka tidak bisa berbuat apa-apa karena takut Darman akan tega melukai Jasmine.
Sedangkan Nathan dia hanya terdiam memperhatikan suasana, namun matanya terlihat Waspada seperti sedang mengintai tengahnya.
"Lepaskan Darman! mana ada seorang laki-laki Ksatria hanya berani dengan seorang perempuan," ungkap Manta memanasi hati Darman, berharap pemuda Kampung Cisaga itu mau melepaskan Jasmine.
"Mana ada seorang laki-laki yang beraninya main keroyokan, kalau kalian laki-laki maju satu lawan satu." jawab Darman dengan mencibir.
"Ya sudah, ayo kita bertanding satu lawan satu, tapi tolong lepaskan Jasmine.' pinta Manta mengiba.
__ADS_1
"Hahaha, Kamu kira aku ini anak yang borok kepala yang mudah kalian tipu. sekarang kalian Jangan mendekat karena kalau mendekat kepala adik si Dadang ini akan berpisah dengan tubuhnya." ancam Darman yang sesekali mengacungkan goloknya ke arah depan mengancam orang-orang yang akan mendekat, sekali golok itu ditarik ditempelkan ke arah leher Jasmine.
Nathan yang merasa kasihan dia pun maju beberapa langkah mendekat ke arah Darman, membuat pria itu semakin meningkatkan kewaspadaan, Bahkan dia terlihat mundur beberapa langkah ke belakang agar Nathan tidak bisa mendekat.
"Jangan maju anak bod0h! kalau kamu masih mau wanita ini hidup. aku tidak akan berbuat apa-apa, aku hanya meminta gadis ini menemaniku malam ini, besok pagi akan aku antarkan dengan keadaan yang tak kurang apapun kecuali dianya memaksa."
Mendengar perkataan Darman, Nathan terlihat Tetap tenang bahkan dari sudut bibirnya terukir senyum indah, membuat musuhnya merasa jengkel bahkan manta dan rekan-rekan yang lain merasakan hal yang sama, karena bukannya berpikir mencari cara agar bisa melepaskan Jasmine tapi Nathan terlihat cengengesan seperti orang yang tidak memiliki perasaan.
Melihat Nathan tersenyum, Jasmine pun menarik nafas dalam menenangkan hati dan pikiran yang dipenuhi dengan ketakutan, setelah agak tenang dia pun mulai berpikir hingga menemukan cara.
"Awwww......! dasar wanita sial4n!"
Blugh!
Tubuh besar itu pun ambruk ke belakang namun dengan segera dia pun bangkit sambil Mengayunkan golok yang ada di tangannya. melihat Serangan yang begitu cepat dari arah atas Nathan hanya menyampingkan tubuhnya ke sebelah kiri, sehingga sabetan itu hanya memakan angin, namun serangan Darman tidak cukup sampai di situ dengan segera dia pun memberikan arah golok mengarah ke arah pinggang, namun Nathan terlihat sangat Gesit sehingga dia pun memundurkan tubuhnya beberapa langkah, sehingga Nathan pun terselamat dari dua Serangan yang begitu membahayakan.
Ketika Darman mau melancarkan Serangan yang ketiga, Manta dan rekan-rekannya yang sejak dari tadi sudah bersiap dengan segera Mereka pun melemparkan batu yang ada di sekitar Saung, membuat Darman menghentikan serangannya karena ada beberapa batu yang mengenai tubuhnya.
"Dasar kurang ajar sudah main keroyok, mainnya curang lagi. kalau berani Ayo maju!" tantang Darman sambil menghindar dari beberapa batu yang terus menghujani tubuhnya namun batu yang dilemparkan begitu banyak, sehingga Tak aya lagi ada beberapa batu yang mengenai tubuhnya.
Merasa tidak memungkinkan untuk melawan, Darman pun kembali membalikan tubuh kemudian berlari menggunakan sisa-sisa tenaga menuju ke arah jalan raya. dari arah selatan jalan besar itu terlihat ada mobil yang mengebut ketika Darman sampai ke tepi jalan, pintu mobil itu terbuka lalu Darman pun masuk ke dalam membuat para pengejarnya hanya terdiam melihat kepergian Darman yang semakin menjauh. Ada pula yang masih menyerang menggunakan batu melempari mobil yang membawa Darman kabur, Namun sayang lemparan itu tidak ada yang kena.
__ADS_1
Berbeda dengan Nathan dia tidak mengejar Darman, ketika Jasmine ditinggalkan oleh Manta dan warga Kampung lainnya, Nathan pun mendekat ke arah Gadis itu kemudian memegang pergelangan tangannya, matanya menatap dari arah rambut sampai ke telapak kaki seolah sedang memastikan bahwa gadis pujaannya tidak terluka sedikitpun.
"Kamu tidak apa-apa?" tanya Nathan dengan wajah yang dipenuhi kekhawatiran.
"Tidak apa-apa lagian tadi cengkramannya tidak begitu kuat, mungkin akunya saja yang gugup sehingga aku tidak bisa berkonsentrasi untuk melepaskan diri."
"Beneran kamu tidak apa-apa?" tanya Nathan seolah tidak puas dengan jawaban yang diberikan oleh Jasmine.
"Ya tidak apa-apa, lihat saja Aku ini masih seperti tadi, hanya baju aja yang kusut."
"Mau diantar ke rumah sakit?" tanya Nathan tanpa melepaskan pandangan.
"Apaan sih udah jelas aku tidak apa-apa, pakai mau dibawa ke rumah sakit sekarang. tapi Terima kasih sudah mau menolongku, sehingga Darman tidak bisa menangkapku lagi."
"Tidak usah mengucapkan terima kasih, karena melindungimu adalah Tugasku seumur hidup."
"Maksudnya?" tanya Jasmine yang mengangkat kepala matanya yang lentik menatap penuh pertanyaan ke arah pemuda yang berdiri di hadapannya, pemuda yang masih menggenggam pergelangan tangannya begitu erat seolah tidak mau kehilangan Gadis itu meskipun hanya sedetik.
Sebelum pemuda itu menjawab pertanyaan Jasmine, Manta yang sudah kehilangan jejak atas buruannya Mereka pun kembali ke arah Nathan seolah sudah tersadar dengan Jasmine yang baru disekap, karena ketika tadi melihat Darman Mereka salah kehilangan ingatan tidak peduli dengan Adi ketua Kampung mereka.
Dari arah jauh terdengar suara Deru mobil yang mengebut sehingga tak lama mobil itu sudah berada di hadapan Mereka, kemudian keluarlah sosok laki-laki paruh baya namun sangat berwibawa, membuat hati Manta dan para warga lainnya terasa berdebar, jantung pun mulai berdegup dengan kencang, apalagi ketika melihat wajah orang itu yang terlihat sangar sehingga tidak ada orang yang berani beradu tetap, membuat orang-orang di situ menundukkan kepala.
__ADS_1