
"Ide yang berlian bagaimana Nathan, Coba tolong Akang kasih solusi soalnya, Akang takut kalau terjadi sesuatu sama adik terkecil Akang?" tanya Dadang sambil menatap penuh harap ke arah Nathan dalam wajahnya terlukis raut kekhawatiran.
"Begini kang Dadang, Memang kapan Jasmine akan tiba di bandara?" jawab Nathan malah balik bertanya.
"Mungkin kira-kira pukul 06.00 pagi lusa, karena sebentar lagi dia berangkat dari sana. perjalanan Amerika ke Indonesia membutuhkan waktu 22 jam, tapi walau masih lusa kita harus berangkat dari sini besok soreĀ agar dia tidak menunggu." jawab Dadang menjelaskan.
"Apakah di sini ada mobil yang suka mengirim sayuran ke Tangerang atau ke Jakarta?"
"Banyak, tapi kebanyakan bukan dari warga kampung kita, soalnya kalau dari warga kampung kita suka diganggu dengan warga Kampung Cisaga."
"Bagaimana kalau kita gunakan mobil pengantar sayuran untuk menjemput Jasmine, memang kurang Elok tapi untuk keselamatan itu lebih baik."
"Caranya?" tanya Dadang sambil mengerutkan dahi.
"Kita minta warga kampung yang lain untuk mengantarkan sayuran seperti biasanya, tapi ketika pulang kita mampir atau menunggu dulu di bandara. jadi keberangkatan kita tidak akan diketahui oleh Kampung musuh, soalnya yang Saya dengar dari penjelasan Abduh bahwa kita diserang karena ada salah satu dari warga Kampung Cisaga yang mereka mengetahui keberangkatan kita. Berarti kalau kita samarkan dengan cara ikut dengan mobil yang lain, warga Kampung Cisaga tidak akan terlalu fokus karena mereka tidak memiliki permusuhan berbeda dengan kita, pasti akan terus di ikuti bahkan Ditunggu kedatangannya."
"Benar juga, Terus bagaimana lagi?"
"Kalau Akang setuju dengan Saran saya. Besok Akang cari mobil pengirim sayuran yang mau kita tumpangi, terus sorenya kita berangkat kemudian jangan langsung pulang kita tunggu sampai Jasmine datang."
"Bagus kalau masalah mobil kita bisa menyewa atau ikut dengan kenalan Akang yang berada di kampung Ci sujen."
"Tapi masih ada satu lagi masalahnya Kang." ungkap Nathan yang melanjutkan pemikirannya.
"Apa itu, Coba tolong jelaskan soalnya Akang lagi tidak bisa berpikir."
"Jasmine-nya mau atau tidak dijemput menggunakan mobil sayuran?"
"Akang kira dia pasti mau."
"Jangan cepat menyimpulkan Coba telepon dulu, nanti dia merasa tidak diistimewakan." saran Sarah menimpali dia ikut berbicara Setelah lama menyimak
__ADS_1
"Coba tolong telepon Bu?" jawab Dadang meminta istrinya.
Sarah terlihat manggut kemudian mengambil handphone yang berada di atas meja, lalu dia menekan tombol Panggil ketika sudah menemukan nomor kontak adik iparnya. tak lama telepon pun terhubung lalu terdengarlah suara-suara gadis yang sangat merdu menyapa dari ujung sana, membuat hati Nathan sedikit berdegup meski tidak melihat secara langsung tapi getaran-getaran itu selalu ia rasakan.
"Yah Ada apa Kang?" tanya Sarah dengan suara Merdunya.
"Kamu sudah boarding apa belum?"
"Belum, tapi Jasmine sudah mau berangkat ke bandara agar tidak ketinggalan pesawat. kenapa?" jelas Gadis itu diakhiri dengan pertanyaan.
"Begini Jasmine Akang bersama Kak Abduh barusan mengobrol tentang penjemputan kamu, sehingga temannya memiliki ide untuk menjemput kamu menggunakan mobil sayuran. Apakah kamu tidak apa-apa kalau Akang jemput dengan mobil itu?"
"Emang kenapa, kok Jasmine dijemput dengan mobil sayuran. Emang Jasmine mau dibawa ke pasar?" tanya Gadis itu yang selalu ceria dan selalu bercanda.
"Bukan begitu Jasmine demi untuk menjaga keselamatan diri kita semuanya. Akang bersama Kak Abduh mau menyamar sebagai pengirim sayuran, agar tidak menimbulkan kecurigaan dari pihak lain."
"Oh gitu kirain apa. Jasmine nggak apa-apa naik mobil apapun yang penting Jasmine bisa pulang ke kampung berkumpul bersama keluarga. sebenarnya kalau tidak dijemput pun Jasmine tidak apa-apa."
"Baik Akang, Terima kasih atas doanya?"
Telepon pun terputus membuat orang-orang yang berada di ruang tamu terlihat menarik nafas lega, karena orang yang dijemput tidak menolak walaupun hanya dijemput menggunakan mobil sayuran.
Setelah semuanya diselesaikan, Nathan dan Abduh pun kembali ke kamar untuk melanjutkan waktu tidur yang sempat terganggu, karena memikirkan cara penjemputan Jasmine.
Setibanya di kamar mereka berdua terlihat membaringkan tubuh di atas ranjang yang sama dengan selimut yang berbeda, dengan posisi wajah yang tertutup. sedangkan Nathan Dia terlihat memandangi plafon seperti sedang memikirkan sesuatu, khayalannya mulai terbang Bagaimana ekspresinya ketika dia sudah bertemu dengan Jasmine. Apakah Gadis itu akan mencintainya atau sebaliknya Tapi kalau Jasmine tidak menerima rasa sukanya, Nathan sudah berjanji akan berusaha sekuat tenaga agar adik sahabatnya bisa menerima seutuhnya.
Nathan terlihat gelisah, karena ketakutan yang diciptakan oleh dirinya sendiri. Nathan merasa takut kalau Jasmine tidak akan menyukai dirinya, khayalannya terus terbang memikirkan bagaimana kalau lamunannya itu menjadi kenyataan, karena Nathan benar-benar mencintai gadis yang baru dia lihat melalui video.
"Kenapa sih kamu dari tadi terus bergerak-gerak. aku tidak bisa tidur nih!" gerutu Abduh sambil menendangkan kakinya agar Nathan tidak terus gelisah.
"Aku takut Abduh. aku takut kalau Jasmine tidak menyukaiku."
__ADS_1
"Baguslah kalau kamu sadar diri." jawab Abduh tanpa membuka selimut yang menutupi wajah.
"Mulai deh kamu menyebalkan. Bukannya kamu menenangkan sahabatmu yang sedang gelisah ini. Kamu harusnya memberikan motivasi agar aku bisa kuat menghadapi semua cobaan, supaya adikmu berada di tangan yang tepat."
"Maaf aku bukan motivator, kalau mau dan kalau ingin berusahalah sendiri, jangan membawa orang lain."
"Lah kok gitu sih! aku serius Abduh. Aku lagi benar-benar takut.." ungkap Nathan sambil bangkit dari tempat tidurnya, kemudian dia Duduk menatap wajah sahabatnya yang terhalang oleh selimut.
Mendengar ungkapan Nathan Abduh tidak bergeming sedikitpun, bahkan dia menirukan suara orang yang sedang mengorok membuat sahabatnya semakin merasa kesal sehingga menarik selimut penutup wajah.
"Ada apa sih! Aku ngantuk mau tidur."
"Jangan tidur dulu aku harus bagaimana, agar pertemuan pertama kali dengan Jasmine membuat dia berkesan. coba kamu tolong ceritakan apa saja kesukaan adikmu itu dan apa saja yang tidak ia sukai?"
"Kamu salah bertanya, karena aku berada di pihak adikku. Lagian kalau kamu sungguh-sungguh mencintai Jasmine kamu berusahalah sendiri jangan nepotisme."
"Bukannya ada kenalan itu seharusnya kita manfaatkan, agar urusan kita bisa lebih mudah."
"Memang benar. Tapi itu tidak baik karena Siapa tahu saja di luaran sana masih banyak orang yang lebih pantas dan yang lebih baik untuk mendampingi adik saya."
"Halah kamu semakin ngelantur aja coba tolong kasih saran aku harus bagaimana?"
"Nggak tahu, aku capek Nathan aku mau tidur." Balas Abduh sambil membalikkan tubuh membelakangi Nathan, namun itu tidak lama karena dengan segera Nathan menarik tubuh Abduh agar menghadap ke arahnya.
"Sudah dibilangin Jangan tidur dulu, malah kamu memalingkan wajah."
"Ya Mau apa sih?" Jawab Abduh dengan sedikit mendengus.
"Ya Kasih tahu aku harus bagaimana kalau aku bertemu dengan Jasmine?"
"Pikirkan saja sendiri..! aku hanya mendukung tidak mungkin membantu semuanya."
__ADS_1