
"Ah, Akang bisa aja." jawab Yanti yang tersipu malu meski tidak berbicara secara bertatapan langsung, Yanti selalu Salah Tingkah dibuatnya. Abduh sangat menghormatinya, sehingga dia merasa nyaman dan betah berlama-lama tinggal atau mengobrol dengannya.
"Emang benar Loh, suara Yanti itu bagaikan candu. seharian kalau tidak mendengar suaranya, separuh jiwa Akang seperti menghilang."
"Mulai deh gombalnya."
"Akang nggak pandai melakukan hal itu, akang selalu berbicara fakta dan realita."
"Sudah ah jangan ngelantur ke mana-mana, Yanti mau berbicara nih."
"Emang dari tadi Yanti ngapain aja, bukannya dari tadi Yanti terus mengobrol.
"Ih Akang, Yanti serius." Timpal Yanti dengan nada manjanya, mungkin kalau bertatapan langsung dia akan mendelik, namun itu akan membuatnya semakin terlihat sangat cantik.
"Iya, iya, maaf. mau ngomong serius apa?"
"Begini Kang. Yanti sudah bercerita semuanya dengan ibu dan bapak."
"Alhamdulillah. Terus bagaimana keputusannya?"
"Keputusannya. Kapan Akang mau datang ke sini untuk melamar Yanti?"
"Jadi bagaimana."
"Iya mereka sudah siap menunggu Akang datang. sekarang tinggal kesiapan Akangnya Kapan mau melamar Yanti."
"Oh begitu, Alhamdulillah kalau begitu. besok yanti ke sini, Akang akan memperkenalkan Yanti terhadap kang Dadang."
__ADS_1
"Emang Akang takut ngomong sendiri sama Kang Dadang?"
"Bukannya takut, tapi nanti dia nggak percaya. masa iya Akang yang jelek seperti ini, bisa mendapatkan seorang bidadari secantik Yanti."
"Ih Akang selalu aja seperti itu." jawab Yanti dengan nada manjanya.
"Bagaimana bisa nggak besok ke sini?"
"Insya Allah bisa."
Akhirnya mereka pun ngobrol ngalor ngidul, meski setiap malam bereleponan dan setiap waktu saling bertukar kabar melalui pesan singkat, mereka tidak pernah merasa bosan atau merasa jenuh dengan hubungan yang mereka jalani. yang ada rasa cinta mereka semakin terlihat kuat, meski berada di tengah-tengah kampung konflik.
Pukul 11.00 malam lewat, sambungan telepon pun terputus karena mereka berdua harus menyiapkan fisik dan mental untuk menghadapi hari esok yang akan menjadi sejarah baru bagi mereka, karena Yanti dan Abduh akan menghadapi orang yang sangat disegani di kampung sagaranten.
"Nggak panas tuh telinga, hampir sejam lebih ditempelin di telinga." celetuk Nathan yang sudah berbaring namun belum tertidur.
"Kirain kamu sudah tidur, kok dari tadi tidak menyahuti. biasanya kamu akan sangat rewel."
"Biarin...! Emang kebahagiaan itu diukur dengan kata-kata yang puitis, kebahagiaan itu hadir ketika kita saling menghormati, saling mengagumi, sehingga rasa cinta pun semakin tumbuh besar memenuhi dada."
"Wah, benar benar hebat sahabatku ini. dia sudah mulai pandai beretorika seperti seorang seniman yang kehausan akan Karya." jawab Nathan sambil bangkit kemudian bertepuk tangan.
"Sudah ngapain bangun, anak kecil tidak boleh tidur terlalu larut, nanti besok kesiangan pergi ke TK." ledek Abduh dengan mencibir.
"Yang anak kecil itu siapa, bukannya anak kecil tidak berani berbicara jujur dengan orang tuanya, sampai harus meminta diantar ketika dia mau berbicara jujur."
"Apaan sih! Sok tahu kamu."
__ADS_1
"Ya emang tahu lah, Emangnya aku budek apa? aku dengar semuanya apa yang kamu bicarakan dengan Yanti. kalau kamu tidak berani berbicara dengan kang Dadang, biarkan aku saja yang berbicara tapi Yanti dan Jasmine harus menjadi milikku."
"Eh sialan....!" jawab Abduh dengan menggerutu kemudian dia pun duduk di tepian ranjang, karena ketika tadi dia berteleponan Abduh duduk di kursi yang berada di dekat jendela.
"Terus bagaimana keputusan dari keluarga Yanti?" tanya Nathan yang menatap serius ke arah sahabatnya, karena dia memang sangat pandai menempatkan posisi dalam situasi, mana waktunya untuk bercanda mana waktunya untuk serius.
"Alhamdulillah keluarganya mau menerima kedatanganku untuk melamar anaknya. Tapi yang jadi permasalahan Aku tidak berani menghadapi Kang Dadang."
"Kenapa tidak berani, apa salah seorang laki-laki ingin memenang seorang perempuan yang masih lajang, padahal kan itu sudah menjadi kewajiban seorang manusia yang harus memiliki pasangan. kalau Jasmine sudah mau aku tidak akan membuang waktu untuk menikahinya."
"Kang Dadang itu sangat baik,, dia berani mengorbankan banyak hal demi kepentingan orang lain, sehingga tidak sedikit orang yang sangat menghormatinya, bahkan seluruh warga Kampung sagaranten tunduk atas perintahnya."
"Nah apalagi kalau Kang Dadang orang baik, terus apa yang jadi permasalahannya?"
"Dari kebaikan itulah kita menjadi senggan. aku lebih berani berbicara dengan teh Sarah daripada dengan kang Dadang, walaupun teh Sarah hanya kakak ipar."
"Ya sudah sekarang tidur aja untuk mempersiapkan tenaga, agar bisa menghadapi semua masalah yang akan kita hadapi hari esok." ucap Nathan yang mengulum senyum, sebelah matanya dikedipkan seolah sedang meledek sahabatnya, karena perkataan seperti itu adalah perkataan Abduh yang tadi diucapkan ketika berteleponan dengan Yanti.
"Eh dasar kurang ajar, kamu betah amat menguping."
"Bukan betah, suaramu yang kegedean sehingga aku tidak bisa tidur. Ya sudah aku ngantuk aku mau tidur duluan." jawab Nathan sambil membaringkan tubuhnya kembali, kemudian menutupinya dengan selimut karena suasana sudah mulai terasa.
Keadaan di luar semakin lama semakin malam, suara jangkrik dan ciang-ciang terus menghiasi Malam Sunyi itu namun suara kendaraan sudah tidak terdengar lagi, karena seperti biasa warga Kampung akan tidur sehabis melaksanakan salat isya dan paling malam itu jam 09.00 sehingga ketika pukul 11.00 Mereka pun sudah terlarut dengan mimpi masing-masing.
Abduh terus berpikir mencari cara bagaimana agar dia bisa berani berbicara dengan kakaknya, kekhawatiran dan ketakutan pun mulai menghantui. Bagaimana kalau kakaknya menolak keinginan untuk menikah dengan Yanti, atau bagaimana kalau Abduh disuruh menunggu sampai keadaan Kampung benar-benar kondusif. kalau semua itu benar-benar terjadi maka Abduh akan merasa kecewa dan merasa malu terhadap Yanti yang tidak bisa meyakinkan keluarganya, berbeda dengan Yanti yang dengan cepat menerima Keinginan mereka.
Ketakutan dan kebahagiaan terus bercampur memenuhi pikiran Abduh, hingga lama-kelamaan dia mulai menjatuhkan tubuhnya ke atas kasur, matanya meratap ke arah langit-langit membayangkan kejadian baik dan buruk yang akan terjadi, membayangkan bagaimana hidup berdua bersama kekasih hatinya dengan keadaan nyaman dan damai, tidak seperti di kampung Sagaranten yang terus dihantui oleh ketakutan atas teror dari berbagai pihak.
__ADS_1
"Astaghfirullahaladzim!" gumam Abduh sambil mengusap mukanya menggunakan kedua telapak tangan, dia mulai mencoba membuang jauh-jauh pikiran buruk yang terus menghantuinya, hingga lama kelamaan rasa kantuk pun datang dan akhirnya mata Abduh terpejam, terlelap dengan impian-impian indah bersama Yanti.
Keesokan paginya ke rumah Abduh ada seorang wanita yang bertamu yang disambut dengan begitu baik oleh Jasmine dan Sarah, karena Wanita itu adalah sahabat terbaik Jasmine ketika waktu bersekolah di SMA.