Terjebak Cinta Gadis Konflik

Terjebak Cinta Gadis Konflik
Pelarian


__ADS_3

"Iya betul kampung itu, karena beberapa kali saya mendengar teriakan mereka menyebut dua nama kampung yang sedang dibela." jawab Nathan yang sedikit menyembunyikan identitasnya takut akan terendus oleh warga Kampung Cisaga yang pasti akan terus memburu Jasmine.


"Emang kalian sedang apa kok bisa terjebak di kampung yang sudah lama berkonflik?" Tanya satpam itu terus menyelidiki, namun sekarang tidak terlalu tajam seperti tadi karena mungkin sudah paham dengan akar permasalahnya.


"Kami berdua sedang mengadakan liburan ke kampung cisoreang, tapi ternyata menuju Kampung ke Soreang harus melewati Kampung Sagaranten. dan kami Terpukau melihat banyak orang yang sedang berkumpul, ternyata tadi itu ada acara lamaran yang begitu megah, karena adik dari pemimpin warga Kampung Sagaranten akan melamar seorang gadis pujaannya. tapi acara yang begitu meriah tiba-tiba berubah menjadi mencekam akibat ledakan bom di tengah-tengah acara lamaran, disusul dengan teriakan-teriakan orang yang menyerang dan terluka, hingga dalam waktu singkat pertempuran pun tidak Bisa dihindarkan. banyak orang yang meregang nyawa mempertahankan kampungnya, tidak sedikit orang yang terluka. intinya pagi tadi suasana kampung sangat mencekam dan mengerikan banyak darah yang berceceran menyemprot ke sana hingga baju kami yang tidak tahu menahu terkena cairan itu. Kita bisa lolos karena kami menumpang mobil sayuran sampai depan," jawab Nathan menjelaskan kejadiannya walaupun tidak semua diceritakan dengan lengkap, tapi itu akan memberikan gambaran situasi yang terjadi di kampung sagaranten.


"Pantas saja dari tadi mobil ambulans dan mobil pihak yang berwajib terus menuju ke arah selatan ternyata di sana terjadi konflik lagi, padahal sudah berpuluh-puluh tahun tapi mereka masih belum merasa senang kalau belum membalas dendam, tapi mau bagaimana lagi memang sudah begitulah kenyataannya. ngomong-ngomong kalian orang mana sebenarnya, kok Kalian pergi ke kota?" jawab satpam itu membenarkan.


Dengan segera Nathan pun mengeluarkan dompet yang ada di kantong celananya, kemudian memberikan kartu tanda pengenal. dengan segera satpam pun memperhatikan dan membaca kartu tanda penduduk dengan teliti ternyata Nathan bukan warga Kabupaten Sukabumi tetapi warga Kota Bogor. merasa yakin kalau Nathan tidak memiliki masalah akhirnya satpam pun meminta maaf.


"Tidak apa-apa terima kasih atas perhatiannya." ujar Nathan dengan mengulum senyum kecut, menyembunyikan rasa perih yang memenuhi dada.


"Terus sekarang kalian mau ke mana?"


"Kami mau pulang ke Bogor, tapi kami mau membeli pakaian terlebih dahulu karena tidak mungkin kami pulang dengan pakaian berlumuran darah seperti ini."


"Yah karena itu akan memanggil kecurigaan seperti kita yang berada di sini. saya kira kalian berdua adalah orang yang melarikan diri setelah pembunuhan."


"Yah Sekali lagi kami mohon maaf kalau kedatangan kita mengganggu." ujar Nathan sambil memasukkan kembali kartu tanda penduduk ke dalam dompetnya lalu memasukkan ke dalam kantong celana seperti semula.

__ADS_1


"Tidak apa-apa. ya sudah kalian jangan terlalu lama di sini karena ini akan menimbulkan keributan." perintah satpam itu sedikit mengusir.


"Baik, tadi kami hanya mencuci wajah dan ingin membersihkan darah, tapi ternyata darah yang terkena baju ketika dibersihkan hanya menggunakan cipratan air itu bukannya bersih melainkan menjadi semakin kotor."


Nathan pun berpamitan kemudian dia menuju ke salah satu atm untuk mengambil uang, setelah mendapatkan uang Nathan pun mengajak Jasmine untuk berjalan kembali sambil memindai keadaan sekitar mencari-cari toko pakaian yang bisa mereka beli untuk mengganti pakaian yang sangat kotor.


Kira-kira 5 menit berjalan, Nathan pun merasa bahagia karena di samping jalan terlihat ada toko baju yang menjajakan pakaian, dari mulai pria, wanita, muda dan tua. bahkan balita pun terpampang ada di toko itu tanpa berpikir panjang Nathan mengajak Jasmin untuk membeli pakaian terlebih dahulu.


Seperti kejadian tadi di pom bensin Nathan pun ditanya oleh satpam terlebih dahulu karena pakaian mereka yang sangat mencurigakan. tapi setelah menjelaskan akhirnya mereka pun membantu mencarikan pakaian untuk kedua pelanggannya, apalagi Nathan datang ke situ bukan untuk meminta melainkan untuk membeli jualan mereka.


Jasmine hanya terdiam namun dalam hatinya dia merasa bahagia karena perhatian yang diberikan Nathan adalah perhatian yang begitu luar biasa, Nathan menggantikan tugas kedua Kakaknya yang selalu siap membantunya ketika kesusahan, meski dalam keadaan perih Jasmine sedikit ada cahaya yang menerangi kegelapannya, dengan kebaikan yang ditunjukkan oleh Nathan.


"Mau makan apa?" tanya Nathan telah duduk di hadapan Jasmine.


Nathan bukan tidak mau mengajak Jasmine ke tempat makan yang mewah, bukan tidak mampu membayarnya tapi untuk sekarang kemewahan sangatlah tidak penting yang paling penting bagi mereka adalah menyelamatkan nyawa, agar masih tetap betah di dalam raga, supaya bisa melanjutkan kehidupan selanjutnya


Mendapat pertanyaan seperti itu Jasmine sama sekali tidak memberikan respon, dia Tak ubahnya seperti es yang berada di Kutub Utara, tidak ada lagi keceriaan, candaan, ledekan terhadap Nathan. seolah Jasmine sudah terkubur bersama kedua jenazah kakaknya.


"Mau makan apa?" tanya penjaga warung sambil melempar senyum lama layaknya seorang pramuniaga toko yang menyambut pelanggannya.

__ADS_1


"Nasi, pakai ayam, pakai sayur."


"Kalau Tetehnya mau makan pakai apa?" tanya penjual nasi sambil melirik ke arah Jasmine.


"Samain aja." jawab Nathan dengan segera karena dia yakin Jasmine tidak akan menjawab.


Penjaga warung pun mengangguk kemudian dia kembali ke dalam untuk menyiapkan pesanan yang dipinta oleh pelanggannya. sambil menunggu Nathan terus memperhatikan Jasmine yang tidak merubah raut wajahnya sedikitpun,  sekarang gadis konflik itu tidak menangis, tidak mengeluarkan air mata, namun wajahnya sangat kelambu seperti hujan badai akan turun, sepertinya hati Jasmine sudah membatu akibat dari tempaan-tempaan kesedihan yang begitu menyiksa.


Perlahan Nathan memegang tangan Jasmine yang berada di atas meja, kemudian menggenggamnya begitu erat seolah sedang berkomunikasi menggunakan hati, sambil memberikan kekuatan agar Jasmine bisa kuat menerima cobaan yang menimpanya.


"Kamu yang sabar, kamu yang kuat. aku berjanji tidak akan ada lagi air matamu yang terjatuh, aku berjanji Kamu akan selalu tersenyum bahagia tanpa ada kesedihan. Tapi tolong bantu aku untuk mewujudkan semuanya." ungkap Nathan sambil meremas tangan Jasmine begitu kuat.


Wanita itu hanya terdiam tidak menggerakkan wajahnya sedikitpun, membuat Nathan tidak melanjutkan perkataannya. Namun Ia terus mengelus-ngelus punggung tangan Jasmine, memberikan ketenangan agar wanita yang ada di hadapannya tidak terlalu bersedih.


Lama menunggu akhirnya pesanan Nathan pun datang, tanpa berpikir panjang Nathan yang sudah kelaparan sejak dari tadi paigi dengan segera menyendok nasi kemudian hendak dimasukkan ke mulutnya. tapi itu tidak terjadi ketika melihat Jasmine hanya terdiam sehingga Nathan pun mengurungkan niatnya.


Nathan mengembalikan nasi yang hendak masuk ke mulutnya ke dalam piring kemudian dia menyendok nasi lebih sedikit dari nasi yang tadi hendak dia makan. Setelah campur dengan lauknya Nathan pun mendekatkan ke arah mulut Jasmine, Nathan begitu menyayangi gadis konflik itu selain Dia sudah berjanji dan memang dia sangat tulus mencintainya, sehingga dia merelakan suapannya demi untuk memperhatikan kekasihnya.


"Buka mulutmu, Makanlah Walau sedikit. agar tubuhmu tidak lemas." pinta Nathan ketika mendekatkan sendok yang dipegang ke arah bibir Jasmine.

__ADS_1


__ADS_2