Terjebak Cinta Gadis Konflik

Terjebak Cinta Gadis Konflik
Mulai Menjalakan Rencana


__ADS_3

"Kayaknya mereka sedang menyelidiki tentang Abduh. tapi buat apa menyelidiki orang yang sudah meninggal?" ujar Manta mulai mengungkapkan hasil pemikirannya.


"Apa Kang Manta, lupa bahwa Abduh memiliki sahabat yang bernama Nathan, dan pemuda itulah yang membawa kabur Jasmine serta membunuh adiknya Sutardji." jawab Heri menimpali.


"Bisa jadi, mereka sedang menyelidiki Nathan melalui perantaraan Abduh yang sekampus dengannya. Waduh gawat keamanan mereka berdua sedang terancam. ujar Manta yang baru sadar bahwa sebenarnya mereka bukan mengincar Abduh,  melainkan mengincar Nathan yang menyelamatkan Jasmine dari kampung konflik."


"Yah sekarang kita paham bahwa mereka mengincar Nathan untuk membalaskan dendam, sekaligus mencari keberadaan Jasmine. Terus apa yang harus kita lakukan sekarang?" Tanya Heri yang merasa khawatir dengan keselamatan adik dari pemimpinnya.


"Kita cari tahu di mana Nathan tinggal, Walaupun dia sudah mengatakan bahwa dia akan pergi ke Bogor, tapi saya lupa meminta alamat jelasnya. kalau begitu secepatnya kita harus menemukan Nathan dan Jasmine, agar mereka bisa diselamatkan, soalnya hukum yang berlaku di kampung kita tidak akan berlaku untuk kedua orang itu, soalnya mereka berada di luar jangkauan." ujar mantap mulai mengatur rencana.


"Bingung juga kalau begitu, kalau kita mencari orang yang belum jelas alamatnya. tapi Kang manta jangan khawatir saya akan mencari tahu di mana Nathan tinggal."


"Ya sudah kalau begitu kita bubar saja terlebih dahulu, sambil menunggu hasil penyelidikan dari kepolisian, Apakah benar berkas-berkas Abduh dicuri ataupun masih belum terbongkar di kamarnya."


"Kalau tidak dicuri Bagaimana Kang?"


"Kalau tidak dicuri kita tetap harus menemukan Nathan dan Jasmine, soalnya itu adalah amanat kang Dadang sebelum dia meninggal."


Akhirnya ketika orang pun mengobrol sebentar lalu membubarkan diri untuk melanjutkan aktivitas masing masing, namun mereka berjanji akan mencari tahu di mana keberadaan Nathan yang melarikan diri dengan membawa adik dari pimpinan Kampung sagaranten.


****


Di tempat lain yang tidak jauh berbeda suasananya dengan waktu yang berada di kampung Sagaranten. Kampung Cisaga yang terlihat normal seperti biasa, tidak ada keributan, tidak ada pertikaian mereka terlarut dalam aktivitas masing-masing. ada yang pergi ke sawah untuk melihat pengairan, Ada pula yang pergi ke kebun untuk mengecek sayuran, ada pula yang diam di rumah karena tidak memiliki aktivitas di luar.


Suasana tenang itu tiba-tiba berubah menjadi agak riuh, karena ke kampung Cisaga ada pihak yang berwajib yang menemui Sutardji untuk menanyakan tentang kejadian yang menimpa rumah almarhum Dadang.


Sutarji yang sudah menyiapkan semuanya dari awal dia tetap terlihat tenang tidak menunjukkan sedikitpun ketakutan, Bahkan dia pura-pura sangat kaget dan mengecam orang yang sudah berani masuk ke rumah musuh bebuyutannya. meski dia sangat membenci Dadang tapi dia bukan pengecut yang hanya berani main belakang, kalau dia mau pasti dia akan datang langsung secara gagah.

__ADS_1


Introgasi pun menemui jalan buntu, membuat pihak yang berwajib kembali ke kantornya untuk melanjutkan penyelidikan, setelah kepergian para penyidik Sutardji memanggil Sarman sebagai orang kepercayaannya.


"Bagaimana Kang, Apakah pihak yang berwajib tidak curiga dengan kita?" tanya Sarman yang melihat pihak yang berwajib datang ke kampungnya.


"Tidak karena aku bisa menjawab semuanya dengan tenang. ini semua gara-gara kecerobohan kamu yang bekerja dengan tidak hati-hati." gerutu Sutardji dengan menekuk wajah membuat wajah itu semakin terlihat seram.


"Maafkan saya Kang, Saya memang benar-benar ceroboh." jawab Sarman sambil menundukkan pandangan tidak berani beradu tetap dengan orang yang sangat ia hormati.


"Ya sudah tidak usah bahas lagi. Sekarang aku memiliki tugas baru untukmu."


"Tugas apa itu kang?"


"Sesuai dengan rencana awal bahwa kita akan menyelidiki pembunuh adik saya yang bernama Darman. kamu selidiki siapa sebenarnya nama pemuda itu dan cari tahu di mana tempat tinggalnya."


"Caranya bagaimana? tanya Sarman yang belum paham.


"Baik kang, Saya mengerti. Maaf kalau saya tidak bisa berpikir karena saya masih takut masuk ke dalam penjara, kalau saya ketahuan tadi malam habis masuk ke rumah si Dadang."


"Makanya kalau kerja yang benar, jangan meninggalkan jejak!"


"Kapan saya harus berangkat ke Bandung?" tanya Sarman kembali ke pokok permasalahan.


"Besok kamu berangkat. Ajak si Wanto dan si Darta supaya kamu bisa bertindak ketika ada orang yang menghalangi."


"Baik kang." jawab Sarman menyanggupi.


"Ya sudah sekarang kamu pulang jangan berlama-lama berada di sini, bisa-bisa pihak yang berwajib curiga. nanti malam kamu ke sini lagi untuk mengambil ongkosnya sekalian Ajak si Wanto dan Si Darta supaya mereka mengerti dengan tugasnya."

__ADS_1


Sarman pun manggut kemudian bangkit dari tempat duduknya, lalu dia pun pergi meninggalkan rumah Sutardji karena kalau berlama-lama di sana dikhawatirkan dia bertemu dengan pihak yang berwajib, dan tidak bisa menjaga rahasia sehingga rencana yang sudah dimatangkan bisa berantakan.


~


Keesokan paginya, pagi-pagi buta sekali Sarman bersama kedua warga Kampung Cisaga lainnya, sudah berada di mobil Elef yang menuju Terminal jubleg, kemudian dilanjutkan dengan naik angkot berwarna hitam jurusan Ramayana, namun mereka turun di tengah jalan di jalur Lingkar Selatan untuk naik bus jurusan Leuwi Panjang.


Tidak ada gangguan dan hambatan perjalanan mereka sehingga akhirnya mereka pun tiba di kota Bandung, mereka yang sudah terlalu sore untuk bergerak memutuskan untuk menginap di salah satu hotel, sembari mengistirahatkan tubuh yang terasa lelah sehabis seharian melaksanakan perjalanan yang begitu melelahkan, baru Keesokan paginya mereka mulai menjalankan rencana mereka mendatangi kampus ITC untuk mencari tahu siapa saja sahabat Abduh.


"Kita ke kantin saja, biasanya di sana banyak orang-orang yang mengenal satu sama lain." ujar Wanto memberikan saran.


Darta dan Sarman Mereka pun menuruti saran yang diberikan oleh orang yang paling muda, mereka menuju ke kantin, agar tidak membuat orang-orang curiga bahwa dia sedang mencari musuhnya.


Sesampainya di kantin, Ketiga orang itu memesan makanan seperti biasanya, mereka Sambil menyelam minum air, sambil mencari informasi mereka mengisi perut yang mulai terasa keroncongan karena hotel yang mereka jadikan tempat menginap tidak menyediakan sarapan karena Hotel itu, hotel murah.


Sedang asyik menyantap makanan tiba-tiba datang segerombolan mahasiswa yang duduk dekat dengan mereka, Wanto dengan segera menghampiri kemudian berbicara.


"Mohon maaf Mau numpang?" tanya ujar Wanto dengan manggut menunjukkan kesopanan.


"Yah ada apa A?" tanya salah satu mahasiswa sambil menggeserkan tempat duduk memberikan ruang kepada Wanto.


"Saya mau bertanya apakah kalian kenal dengan Abduh?" tanya Wanto Setelah dia duduk di bangku yang dikosongkan.


"Abduh yang semester akhir itu bukan." jawab salah seorang mahasiswa balik bertanya.


Mendapat pertanyaan seperti itu Wanto terlihat terdiam mengingat-ingat Apakah Abduh sedang berkuliah di semester akhir atau baru masuk, namun beruntung Tadi malam dia melihat surat penerimaan siswa baru yang dikirimkan 5 tahun ke belakang, sehingga Wanto pun menyimpulkan bahwa Abduh adalah mahasiswa semester akhir.


"Iya Abduh mahasiswa semester akhir." jawab Wanto membenarkan.

__ADS_1


__ADS_2