
"Aku juga inginnya seperti itu tetap bertahan di sini sampai mati. tapi warga Kampung Sagaranten butuh pemimpin dan tubuh pemimpin itu ada di kamu, sekarang kalau kamu meninggal siapa yang akan melanjutkan kehidupan Kampung sagaranten." ujar Nathan menjelaskan.
"Pokoknya aku tidak mau pergi dari sini, sebelum aku melenyapkan orang yang sudah membunuh kakakku." jawab Abduh dengan suara bergetar kemudian dia pun meletakkan tubuh Dadang yang tergeletak berdampingan dengan Sarah, mata yang sudah dipenuhi oleh dendam memindai keadaan sekitar mencari Darman orang yang membunuh kakaknya.
Manta yang berada dekat di tempat itu, dia tidak setuju dengan kelakuan Abduh, dia mendekatinya setelah membabat habis lawan yang mengganggunya.
"Abduh tolong segera tinggalkan tempat ini, biarkan paman yang akan meladeni mereka.
"Aku tidak akan pergi sebelum Aku membunuh orang yang sudah membunuh kakakku."
"Mohon maaf nak Abduh, Sekarang bukan waktunya untuk berdebat karena keselamatan nak Abduh adalah yang paling utama sebagai penerus pemimpin warga kampung. sekarang Jangan biarkan kematian kedua Kakak kamu menjadi sia-sia, Jangan biarkan kematian mereka tidak ada yang membalas. sekarang selamatkan dirimu terlebih dahulu dan susun kekuatan agar kita bisa membalas semuanya." jawab Manta memberikan saran kepada adik pimpinan Kampung Sagaranten yang sudah meninggal.
Jasmine yang memiliki Pemikiran yang sangat luas meski dalam hatinya dipenuhi oleh rasa dendam tapi dia masih bisa menggunakan akal Sehatnya. dengan segera dia menarik tangan Abduh untuk meninggalkan tempat yang sangat mengerikan itu, meninggalkan kakaknya yang sudah tergeletak sambil memeluk istrinya.
Suasana kampung Sagaranten terlihat begitu mencekam, awalnya sangat dipenuhi dengan senyuman kebahagiaan karena adik dari pimpinan mereka akan melangsungkan lamaran. namun secepat kilat perasaan Bahagia itu berubah menjadi menakutkan, menyedihkan, menggetirkan. banyak mayat mayat yang tergeletak, banyak orang-orang Yang merintih akibat luka yang diderita. suara tangis tanpa henti suara, teriakan istri tanpa jeda mewarnai suasana mencekam kala itu.
Jasmine dan Nathan terus menarik Abduh agar pergi meninggalkan kampung sagaranten, supaya mereka tidak menjadi bulan-bulanan kekejian warga Kampung Cisaga yang datang dengan kekuatan penuh dibantu oleh warga kampung yang merasa berhutang Budi terhadap keluarga Maja.
Sutarji yang dari tadi hanya memantau dan memandu pertempuran, dia melihat ada tiga orang yang berlari menyelamatkan diri, dia pun berteriak memanggil adiknya yang sedang melawan Adang.
"Darman kemari!" teriak Sutardji memecah teriakan-teriakan kesakitan.
Mendengar panggilan dari kakaknya Darman yang berada di atas angin, dengan segera melancarkan satu tendangan menuju ke arah Adang, sehingga tubuh musuhnya ambruk ke belakang. namun ketika anda diikuti dengan sambutan golok adang pun bangkit kemudian membalikkan tubuh berlari menyelamatkan diri.
__ADS_1
"Dasar Pengecut!" gerutu Darman sambil mengelap goloknya yang penuh dengan darah hari itu dia sudah membunuh dua orang yang paling penting di kampung sagaranten, ditambah warga-warga yang tidak berdosa lainnya.
"Darman budeg sini!" teriak sutarji yang merasa kesal karena panggilannya tidak digubris.
"Sabar kenapa. dan jangan berteriak-teriak aku ini tidak budek." gerutu Darman sambil mendekat ke arah kakaknya.
"Dasar gobl0k, dipanggil bukannya nyaut malah bersenang-senang." Hardik Sutardji yang merasa kesal panggilannya tidak cepat dihiraukan.
"Lah mau ngapain lagi bukannya kita datang ke sini hanya untuk melihat musuh-musuh kita tumbang."
"Iya. tapi kamu melupakan suatu hal yang penting."
"Apa itu kang?" tanya Darman sambil mengerutkan dahi, padahal kedua orang penting di kampung segaranten sudah dia babad tapi dia masih selalu disalahkan.
"Biarkan saja mungkin itu hanya cucunguk yang tidak punya nyali untuk menghadapi ketangguhan kampung kita."
"Dasar beg0! gunakan Matamu dengan bijak, lihat itu adiknya si Dadang. kalau mereka dibiarkan hidup nanti bisa jadi Duri ke depannya."
"Terus saya harus bagaimana Kang?"
"Emang benar-benar tol0l punya adik itu. kejar mereka dan Habisi Jangan sampai ada yang tersisa!"
"Baik Kang, Baik." jawab Darman sambil mengajak beberapa orang untuk mengejar Abduh yang sudah lumayan agak jauh, tapi masih terpantau karena jalan yang mereka lalui adalah jalan besar.
__ADS_1
Ketiga orang itu terus berjalan dengan tergontai-gontai, Jasmine tidak henti-hentinya menangis melihat kedua orang yang sangat ia cintai sudah tidak ada di dunia ini, apalagi dia meninggalkan jasadnya begitu saja, tanpa diurus dengan layak. Jasmine merasa menjadi orang yang paling tidak berguna, tidak mampu merawat kakaknya meski sudah meninggal.
Sepanjang perjalanan Jasmine terus ditenangkan oleh Nathan, diberikan kekuatan agar tidak terlalut dalam kesedihan. apalagi mereka sedang berada di dalam bahaya karena Tadi Nathan melihat sekilat orang yang mengejarnya.
"Sudah jangan nangis Adek, sudah Ayo kita segera pergi meninggalkan kampung yang terkutuk in.i Ayo!" ujar Abduh sambil memeluk Jasmine begitu erat, dia memang sangat pandai memposisikan diri, padahal kala itu dirinya sedang rapuh tapi dia menguatkan adiknya.
Jasmine terus menangis tidak bisa dihentikan membuat Nathan semakin merasa khawatir kalau mereka bisa terkejar oleh musuhnya, apalagi orang yang mengejar sudah semakin mendekat.
"Ayo Jangan membuang waktu kita harus menyelamatkan diri terlebih dahulu, agar kita bisa tenang memikirkan jalan keluar dari semua masalah yang sedang kita hadapi." ucap Nathan sambil memisahkan pelukan Mereka kemudian menariknya untuk melanjutkan perjalanan.
Ketiga orang itu terus berjalan, bahkan sedikit berlari karena ada seorang perempuan di sana yang tidak bisa berlari cepat, apalagi wanita yang sedang dipenuhi oleh kesedihan, kalau bisa memilih dia ingin berada di samping tubuh kakaknya sambil menumpahkan kesedihan yang memenuhi dada.
Para pengejar pun semakin lama semakin mendekat karena mereka berlari menggunakan kekuatan penuh, hanya Darman yang terlihat agak sedikit santai, karena dia ingin memantau situasi terlebih dahulu, soalnya dia sudah mengetahui kehebatan Natan yang mampu merobohkan warga kampungnya tanpa menggunakan senjata, dia ingin mencari celah ketika Nathan lengah.
Dua orang pun berhasil mengejar mereka, namun dengan segera Nathan pun memasang badan kemudian tanpa berbasa-basi dia melancarkan serangan Parang yang dibawanya
Nathan membabat musuh dari arah samping mengarah ke arah pinggang, sehingga orang yang baru datang tidak sempat menghindar, karena tenaganya sudah habis digunakan untuk berlari mengejar Jasmine dan Abuduh.
Sretttt!
Parang itu menembus baju sampai ke kulit kemudian diikuti dengan darah yang memancar membuat tubuh orang yang terluka tidak mampu melakukan apa-apa, tubuh itu langsung ambruk tangannya menutupi luka yang mengeluarkan darah begitu banyak, sehingga lama-kelamaan tubuhnya terlihat mengkelejat dan matanya pun tertutup, pria itu meninggal demi mempertahankan yang tidak jelas.
Melihat temannya sudah terkulai, dia membalikkan tubuh kemudian berlari menuju ke arah sahabatnya yang terus mengejar, tapi mereka tetap mengacuhkannya mereka terus menuju ke arah Nathan. namun ketika orang yang Melarikan diri bertemu dengan Darman, Tanpa Rasa belas kasihan Darman pun menghunuskan goloknya menuju ke arah depan sehingga mata orang yang diserang mendelik, seolah tidak percaya bahwa pemimpinnya akan membunuhnya.
__ADS_1
"Dasar Pengecut! kalian sudah berjanji akan bertarung sampai mati, tapi kenapa kalian malah kabur seperti tidak memiliki nyali, daripada kalian kabur lebih baik kalian mampus." bentak Darman sambil menarik kembali golok yang penuh dengan darah, kemudian menendang tubuh yang masih belum ambruk.