Terjebak Cinta Gadis Konflik

Terjebak Cinta Gadis Konflik
Jamine Meringis


__ADS_3

"Mau kemana nih kayaknya mau pergi keluar?" tanya rahmi ketika melihat anaknya menghampiri.


"Iya Bu, Nathan mau beli baju Jasmine, soalnya dia tidak punya baju ganti."


"Benar, Ya sudah jangan pulang malam-malam, sebelum adzan isya kalian harus sudah berkumpul, biar bapak gak khawatir."


"Siap Bu," jawab Nathan sambil mencium punggung tangan ibunya diikuti oleh Jasmine.


Mereka berdua pun berjalan ke halaman, kemudian Nathan membukakan pintu depan sebelah kiri, namun Jasmine membuka pintu belakang, membuat Nathan garuk-garuk kepala karena dia belum bisa menaklukkan hati Jasmine,  tapi meski begitu dia merasa senang karena Jasmine sudah ada perubahan.


Nathan berlari ke arah samping kanan kemudian dia duduk di belakang kemudi, setelah itu dia menyalakan mesin mobilnya, sebelum berjalan dia menoleh ke arah Jasmine yang duduk di kursi belakang.


"Mau pindah ke depan tidak, karena aku bukan sopir nih."


"Enggak, aku di sini aja di depan takut kalau tabrakan aku yang mati duluan."


"Hehehe bisa aja kamu." jawab Nathan menanggapi candaan Jasmine kemudian dia pun menginjak gas berbarengan dengan melepaskan kopling, sehingga mobil pun mulai mundur keluar dari halaman rumah yang begitu besar.


Mobil itu terus melaju merayap di jalan yang dipenuhi oleh angkutan kota berwarna hijau, agak sedikit macet karena berbarengan dengan orang-orang yang baru pulang kerja di daerah, sedangkan orang yang bekerja di kota Jakarta mereka akan tiba setelah maghrib, namun meski macet tidak terlalu macet total mobil Nathan masih bisa melaju.


"Lari dulu apa ke mall dulu?" tanya Nathan ambil lirik Justin dari spion Tengah.


"Terserah," hanya kata itu yang terlontar dari mulut gadis konflik.


"Ke mall dulu aja, nanti kalau sudah mendapatkan bajunya baru kita ke lapang." ujar Nathan sambil mengarahkan mobil ke arah empang, karena kalau lewat pusat kota sudah bisa dipastikan macetnya akan semakin parah.


Benar saja ketika melewati jalan alternatif mobil itu bisa melaju dengan tanpa hambatan. hingga tak lama akhirnya mereka tiba di salah satu pusat perbelanjaan di kota Bogor.


Setelah memarkirkan mobilnya Nathan pun keluar kemudian membukakan pintu belakang, untuk memudahkan Jasmine yang masih diam tak memberikan respon.


"Sudah sampai, Ayo turun." ajak Nathan memberitahu.


Jasmine tidak menjawab Dia terlihat meringis menahan sakit, membuat Nathan merasa khawatir sehingga dia pun mendekat ke arah Jasmine ingin mengetahui kondisinya, namun dengan segera Gadis itu menolak.


"Kenapa?" tanya Nathan yang terlihat sangat panik.

__ADS_1


"Nggak apa-apa, Bagaimana kalau kita pulang lagi?" tanya Jasmine membuat Nathan semakin merasa heran dengan perubahan yang begitu mendadak.


"Kenapa kita sudah sampai, kalau kamu tidak betah berlama-lama kita sebentar saja yang penting kamu memiliki baju ganti."


"Sudah aku jawab tidak apa-apa, Ayo kita pulang."


Nathan memindai tubuh Jasmine dari kepala sampai kaki, dia pun menemukan keanehan Jasmine tetap terduduk namun suasana yang masih sore sehingga tempat duduk Yasmin terlihat basah.


"Kalau begitu tunggu dulu sebentar, aku tidak akan lama." ujar Nathan kemudian masuk kembali ke dalam mobilnya, lalu menyalakan mobil itu agar ketika ditutup pintunya masih memiliki udara. sebelum pergi Nathan pun memberikan botol minum agar gadis konflik itu menjadi rileks.


Nathan dengan dengan bergegas masuk ke dalam mall, kemudian menuju salah satu Swalayan yang berada di sana Lalu dia menghampiri seorang SPG yang sedang berjaga, dengan malu-malu Nathan pun menghampiri.


"Ada yang bisa dibantu Kak?" Tanya pramuniaga itu dengan mengulum senyum sebagaimana sop kerja yang harus mereka jalankan.


"Anu, anu, aduh saya bingung ngomongnya."


"Nggak usah bingung kami siap melayani dan di toko kami Semuanya serba ada, mulai dari perabotan, kebutuhan sehari-hari, kebutuhan rumah tangga, kebutuhan bayi, kebutuhan apapun kami sediakan." jawab Pelayan toko begitu aktiv.


"Saya, Saya mau cari pengaman." ucap Nathan membuat SPG itu menatap heran mungkin dalam hatinya berbicara Kenapa setiap lelaki ganteng harus meniduri kekasihnya.


"Bukan, bukan pengaman itu. apa ya Bilangnya, saya tidak mengerti."


"Terus pengaman yang bagaimana yang kakak cari?"


"Ketika perempuan datang bulan, itu kan ada pengamannya namanya apa itu saya lupa?" ujar Nathan yang masih tergagap karena merasa malu harus berbicara seperti itu.


"Oh pembalut buat kakak atau buat siapa."


"Buat orang Mbak, teman saya bocor."


"Ayo ke sini Kak," ajak pramuniaga itu sambil berjalan menuju ke salah satu rak yang menyediakan berbagai macam pengaman wanita haid, membuat Nathan kembali mengerutkan dahi karena ternyata pembalut itu sangat beragam dan sangat banyak jenisnya.


"Kak tunggu dulu, Tolong bantu saya." Tahan natha ketika melihat pramuniaga hendak pergi meninggalkannya.


"Mau bantu apa lagi?"

__ADS_1


"Tolong pilihkan ukuran yang pas buat sahabat saya."


"Emang ukurannya ukuran apa?"


"Nggak tahu Mbak saya lupa nanya." jawab Nathan yang terlihat semakin kebingungan.


"Ya sudah tanya dulu, kan sekarang bukan zaman batu sekarang sudah zaman canggih bisa bertelepon."


"Justru itu Masalahnya HP teman saya sedang lowbat, sehingga tidak bisa dihubungi tolong. bantu cari ya


"Bingung kalau tidak ada orangnya, memang badannya sebesar siapa."


Ditanya seperti itu Nathan tidak menjawab, Dia hanya memperhatikan tubuh pelayanan toko dengan begitu lekat, membuat wanita yang sudah dibuat kesal menutup bagian tubuh sensitifnya.


"Maaf Mbak, bukan saya kurang ajar. sahabat saya mungkin ukurannya sama dengan milik Mbak."


"Maksudnya apa, kamu jangan kurang ajar."


"Kenapa saya jadi grogi gini, kenapa saya sering salah berucap. maksud saya tinggi badan sahabat saya sama seperti kakak."


Pelayan toko yang sudah dibuat ilfil tidak bertanya lagi dia pun mengambil dua pembalut yang ada di kemudian menunjukkan kepada Nathan.


"Mau yang bersayap atau yang tidak pakai?"


"Memang Bedanya apa?"


"Tidak ada bedanya, yang jelas tergantung kebiasaan, sahabat Kakak pakainya yang bersayap atau tidak."


"Ya sudah saya ambil dua-duanya." putus Nathan yang tidak mau pusing dia mengambil dua pembalut itu kemudian dia menuju ke rak baju dan celana untuk membeli baju ganti buat Yasmin, karena baju yang sedang dipakainya sudah basah dengan darah haid yang datang tiba-tiba.


Setelah membeli semua yang dibutuhkan, dia pun mendatangi kembali pramuniaga yang tadi yang terlihat sibuk merapikan barang-barang yang diacak-acak oleh para pengunjung.


"Mau apa lagi?"


"Saya minta tolong satu lagi, Tolong bantu saya mengantarkan semuanya kepada sahabat yang masih menunggu di mobil Dan tolong antar ke kamar mandi untuk mengganti pakaiannya, Karena kalau saya yang memberikan takut dianya tersinggung."

__ADS_1


__ADS_2