Terjebak Cinta Gadis Konflik

Terjebak Cinta Gadis Konflik
Akhirnya


__ADS_3

Yanti menatap Abduh dengan wajah yang terlihat sangat murung, matanya mulai mengembun menandakan air hujan akan segera turun. Abduh yang sangat mengerti dia pun menarik tangan Jasmine untuk menjauh dari pintu.


"Bagaimana kalau sudah begini, karena kalau kita mendatangi kang Dadang itu sama saja dengan setor nyawa karena keadaannya yang sedang rumit." ujar Abduh yang merasa sedih karena selalu saja ada gangguan ketika dia hendak menyampaikan keinginannya.


"Yanti ngikut aja sama Akang karena maju dan mundurnya suatu hubungan itu tergantung oleh seorang laki-laki. Seorang Istri istri kalau di hidupkan pasti Hidup, kalau mau disakiti ya pasti sakit. jadi istri hanya bisa mengikuti kemauan seorang laki-laki."


"Kamu nggak boleh ngobrol seperti itu, hubungan kita itu bukan untuk menunjukkan Siapa yang pemimpin siapa yang dipimpin. hubungan kita harus menunjukkan bahwa kita sama-sama berjalan berdampingan, saling menguatkan, saling mendukung, saling bahu membahu demi tercapainya semua kebahagiaan. jadi tolong kasih saran sekarang apa yang harus Akang lakukan?"


"Kita tunggu saja dulu sampai keadaannya mulai mereda, karena kalau berbicara dengan orang yang sedang emosi itu tidak akan memberikan solusi."


"Maafkan Akang yang selalu tidak bisa berbuat apa-apa. ya sudah kita tunggu saja sampai Kang Dadang bisa diajak mengobrol dengan tenang, Nanti Akang akan berbicara sendirian."


Suasana ruang tengah pun terlihat sangat sepi, karena Sarah sedang berada di dapur untuk membereskan perabot makanan, sedangkan Jasmine baru saja selesai melaksanakan salat dan masih berada di kamarnya, begitupun juga dengan Nathan yang lebih sering menghabiskan waktu di halaman belakang rumah menikmati keasrian Kampung sagaranten.


Nathan yang merasa kesal karena Abduh tidak kunjung datang, dia pun memutuskan untuk melihat keadaan sahabatnya dia masuk ke dalam rumah melalui pintu dapur, ketika melihat Sarah sangat kerepotan Dia membantu merapikan piring yang baru dicuci. setelah itu dia pun masuk ke tengah rumah, terlihatlah Yanti dan Abduh yang sedang saling terdiam seperti kehabisan pembicaraan.


"Sudah Menemui Kang dadangnya?" tanya Nathan sambil duduk di hadapan Yanti dan Abduh.


"Belum!" jawab Abduh yang terdengar lesu seolah kehilangan semangat.


"Kenapa kok ditunda-tunda, Nanti keburu kang Dadang keluar lagi."


"Kang dadangnya sedang menghadapi masalah yang lumayan sangat rumit, tadi aku Mendengar pembicaraan dengan para warga Kampung bahwa Kang Adin yang diserang itu menimbulkan Gejolak Di warga Kampung Sagaranten. Para warga Kampung ingin membalas kelakuan warga Kampung Cisaga yang sudah kelewatan karena mereka beranggapan itu sangat tidak etis ketika seseorang sedang mencari nafkah dihajar begitu saja."


"Terus apa hubungannya dengan kalian yang ingin berbicara tentang pernikahan?"

__ADS_1


"Hati Kang dadangnya sedang tidak bagus, nanti bukannya mendapatkan Restu tapi kita malah mendapatkan kemarahan."


"Ngapain takut, Bukannya kalau dimarahin tidak akan terluka. Lagian kita tidak boleh berburuk sangka dengan orang lain sebelum kita mencobanya."


"Memang tidak akan terluka, tapi hati kami yang akan tersiksa."


"Jujur Sekarang atau tidak sama sekali, karena kesempatan itu tidak akan datang berulang kali. Kesempatan hanya datang ketika kita mau memperjuangkannya. sekarang perjuangan kalian sudah berada di titik Paling tinggi, sehingga kalau tidak dimaksimalkan maka kalian akan menyesal seumur hidup."


"Tapi Nathan."


"Sudah tidak ada tapi-tapi, Ayo aku antar kalian menemui kang Dadang." ajak Nathan sambil menarik tangan Abduh dan Yanti keluar dari ruang tengah menuju ruang tamu langsung menuju ke teras di mana Kang Dadang sedang berdiskusi dengan warga-warga yang masih setia patuh turut dengan perintahnya


Dari arah dalam terlihat ada dua wanita yang mengikuti karena Jasmine yang tadi berada dalam kamar dia menguping pembicaraan orang yang berada di ruang tamu dia pun mengajak Sarah mengantisipasi kalau kakak tertuanya akan meledak


Melihat kedatangan adik-adik dan istrinya, Dadang pun menatap heran ke arah gerombolan orang itu, dia yang duduk di kursi menghentikan pembicaraannya yang sangat serius, dia mulai membagi tatap ke setiap orang yang baru saja datang.


"Ini Kang Dadang, Adik Kang Dadang sudah menjalin hubungan sekian lama, tapi mereka sangat cemen ketika mau mengungkapkan dan meminta Restu terhadap kang Dadang." jawab Nathan dengan suara lantang seolah tidak memiliki rasa malu di dalam dirinya, Karena orang lain biasanya tidak berani berbicara dengan nada yang begitu tinggi dengan Dadang, akibat dari rasa hormat yang sangat besar.


"Maksudnya?" tanya Dadang yang mengerutkan dahi.


"Begini kang Dadang. Abduh dan tetangganya yang bernama Yanti mereka saling mencintai, Mereka ingin melangsungkan hubungannya ke jenjang yang lebih serius, tapi mereka bak anak kecil yang tidak memiliki keberanian untuk mengungkapkan perasaannya."


"Jadi bagaimana, coba kalian jelaskan sambil duduk!" ujar Dadang sambil menunjuk kursi yang berada di hadapannya, sedangkan warga yang tadi duduk Mereka pun bangkit memberikan waktu untuk Nathan dan Abduh berbicara.


Setelah duduk Nathan yang terlihat cengengesan seperti orang yang tidak memiliki rasa hormat terhadap kang Dadang, dia pun menarik nafas bahkan meminum air kemasan yang ada di tempat itu.

__ADS_1


"Begini kang Dadang. Yanti dan adik Akang yang bernama Abduh mereka saling mencintai Mereka ingin melangsungkan acara lamaran namun mereka tidak berani meminta izin ke kang Dadang, karena mereka sangat menghormati dan sangat segan.


Mendengar penjelasan dari Nathan, Kang Dadang pun membagi tatap ke arah adiknya dan pacarnya, seolah ingin mengetahui kebenaran dengan apa yang disampaikan oleh Nathan.


"Apakah yang dibicarakan sahabatmu ini benar Abduh?" tanya Dadang dengan sorot mata yang sangat tajam tapi sorot Mata itu bukan menggambarkan kebencian, melainkan Tatapan yang sangat tegas dalam mengambil sikap.


Mendapat pertanyaan seperti itu, Abduh hanya menundukkan pandangan tidak berani beradu tetap dengan kakaknya yang sangat ia hormati. Hatinya mulai terasa berdebar, jantungnya mulai terasa berdegup, tempat duduknya terasa melayang mau terbang ke angkasa. Kala itu perasaan Abduh bercampur aduk antara menjawab jujur dan rasa senggan yang berada di dalam dirinya karena baru pertama waktu itu dia meminta sesuatu terhadap kakaknya."


"Kenapa malah diam, coba Tolong kamu jawab. Apakah benar kamu ingin melamar gadis ini?" tanya Dadang untuk yang kedua kalinya.


"Tidak salah kang?" jawab Abduh dengan suara pelan kalau tidak sedang sunyi Mungkin suara itu tidak akan terdengar.


"Berarti benar, kamu ingin segera menikah dengan Yanti."


"Yah Kang." Hanya itu yang bisa Abduh jawab.


"Terus Akang bisa membantu apa, agar lamaran kalian bisa secepatnya dilaksanakan."


"Akang tidak marah kalau Abduh menikah dengan Yanti?" jawab Abduh malah balik bertanya.


"Hahaha. Abduh, Abduh. Kenapa Akang harus marah, Akang harusnya bangga memiliki adik yang mempunyai keinginan yang sangat mulia, karena menikah itu dalam ajaran agama kita sangat diharuskan bagi orang yang sudah mampu dan sudah siap."


"Jadi Akang beneran tidak marah?" tanya Abduh seolah tidak percaya dengan apa yang ia dengar.


"Ya Allah, Abduh. Akang Kapan berbohong dengan kamu. Akang jangankan dengan kamu dengan orang lain pun akang tidak pernah berbohong, karena sekalinya orang itu berbohong maka akan terus ketagihan dan cap pembohong akan terus melekat di dalam diri orang itu."

__ADS_1


"Terima kasih terima kasih banyak Kang, Terima kasih atas izinnya." ucap Abduh sambil bangkit dari tempat duduknya kemudian dia ingin memeluk kaki sang kakak, namun Dadang yang mengerti dengan segera menahan karena itu tidak pantas untuk dilakukan.


"Kita tidak boleh bersimpuh di hadapan orang lain, karena ada Dzat yang pantas untuk kita sembah yaitu Allah Subhanahu Wa Ta'ala." ujar Dadang sambil membangkitkan tubuh Abduh kemudian dia memeluknya dengan begitu erat, wajahnya tidak terlepas dari mengulum senyum seperti menemukan Oasis di tengah gurun sahara.


__ADS_2