Terjebak Cinta Gadis Konflik

Terjebak Cinta Gadis Konflik
Mendapat Petunjuk


__ADS_3

"Kenal, emangnya kenapa?" Jawab salah satu mahasiswa sambil menatap ke arah Wanto.


Orang yang di Tatap pun dengan segera merubah raut wajahnya yang semula bercahaya kini terlihat bermuram, dibuat-buat seolah sedang bersedih bahkan beberapa kali terlihat menarik nafas seperti sedang mengatur tangis yang hendak keluar.


"Ada apa, Kenapa dengan Kak Abduh?" tanya salah satu mahasiswa yang merasa kasihan.


Sebelum menjawab Wanto pun menarik ingus yang hendak keluar, kemudian menyeka air mata yang tiba-tiba keluar dengan terbata-bata dia pun menjawab.


"Apa kalian tahu atau mendengar berita tentang konflik yang berada di Kabupaten Sukabumi?" jawab Wanto malah malah balik bertanya.


"Mendengar sih, karena beritanya sangat viral, sangat bodoh sekali mereka yang terus bertengkar Padahal mereka sesuku dan seagama. menurut keterangan dari media mereka sudah bertikai berpuluh-puluh tahun yang lalu, diwariskan dari nenek moyang mereka." jawab salah satu mahasiswa yang lain yang mengetahui berita tragedi itu.


"Abduh dan kami bertiga adalah warga Kampung Sagaranten, warga yang diserang oleh Kampung Cisaga, dalam kejadian naas itu Abduh pun meninggal."


"Apa...., Abdul meninggal?" Jawab salah seorang mahasiswa seolah tidak percaya.


"Benar Abduh sudah meninggal."


"Emang Abduh orang mana?" tanya salah satu mahasiswa sambil membagi tatap ke arah orang-orang yang berada di situ.


"Kurang tahu pastinya dia tinggal di mana, namun yang jelas Dia berasal dari Kabupaten Sukabumi." jawab salah satu mahasiswa.


"Kenapa pihak kampus tidak mengumumkan kalau salah satu mahasiswanya meninggal dalam tragedi mengenaskan?"


"Kurang tahu, mungkin pihak kampus tidak terlalu mempedulikan kondisi mahasiswanya, yang mereka pedulikan ketika kita telat membayar uang SPP dan uang pangkal." jawab salah satu mahasiswa yang lain dengan nada mencibir.


"Lantas akang, Kenapa bertanya tentang orang yang sudah meninggal?" ujar salah satu mahasiswa sambil menatap melekat ke arah Wanto salah ingin menembus jantung orang yang sedang berpura-pura.

__ADS_1


"Sebelum meninggal Dia menitip pesan Untuk sahabatnya yang berada di kampus, Namun sayang dia belum sempat menyebutkan namanya, dia keburu meninggal. apakah kalian tahu Abduh bersahabat dengan siapa saja?"


"Yang kami tahu Abduh sangat supel dan ramah sama para Junior, dia tidak petantang petenteng seperti para senior lainnya, dia berteman baikĀ  dengan siapa saja namun hanya satu yang menjadi sahabat dekatnya, yaitu Nathan dan Shakila. Namun kedua sahabatnya sudah tidak masuk ke kampus mungkin mereka masih libur semester karena baru saja menyelesaikan skripsinya." jawab salah seorang mahasiswa memberitahu.


"Apa kalian tahu di mana rumah Nathan?" jawab Wanto yang sudah bisa menyangka bahwa orang yang membawa kabur Yasmin adalah Nathan


"Kalau itu Saya kurang tahu, tapi sebentar saya lihat dulu di sosial medianya." jawab salah seorang mahasiswa kemudian dia pun merogoh kantong almamaternya lalu mengeluarkan handphone kemudian membuka profil Nathan, namun pemuda yang menyelamatkan Jasmine tidak terlalu aktif di media sosial, sehingga sangat sulit menemukan tempat tinggalnya.


"Waduh informasi yang didapat hanya sedikit, Nathan hanya tinggal di Bogor namun alamat lengkapnya tidak dituliskan." jawab mahasiswa itu sambil meletakkan kembali handphonenya.


"Terima kasih atas informasinya, Segitu juga sudah cukup, kami sudah menemukan jejak siapa sahabat Abduh." Jawab Wanto meski sedikit agak kecewa namun dia sangat beruntung bisa mengetahui jejak Orang yang dicari.


"Emang ada apa mencari Kak Nathan?"


"Tidak ada apa-apa hanya ada titipan pesan dari Abduh, pesan yang sangat rahasia yang tidak bisa dibicarakan dengan kalian. Sekali lagi saya ucapkan terima kasih atas bantuannya, Semoga saya cepat menemukan Di mana tempat tinggal Nathan."


Setelah mendapatkan informasi, Wanto pun kembali menemui Darta dan Sarman yang sejak dari tadi menunggu, kemudian melaporkan hasil temuannya. setelah mendapatkan informasi Mereka pun meninggalkan kampus untuk mengatur rencana selanjutnya.


Ketika mereka menjauh dari area kampus, Mereka pun berhenti di salah satu pohon yang rindang di bawahnya tembokan menyerupai pot besar, mereka bertiga beristirahat sejenak karena udara Kota Bandung mulai terasa panas.


"Rencana selanjutnya bagaimana?" tanya Wanto sambil menatap ke arah Taman sebagai ketuanya.


"Sesuai dengan arahan yang diberikan oleh Kang Sutardji, kita harus menculik atau menyekap salah satu dosen di kampus ITC, untuk mengetahui data lengkap tentang Nathan."


"Caranya bagaimana?"


"Sangat mudah, kita tinggal memantau saja siapa yang mau jadi dosen di kampus itu, nanti setelah kita ketahui kita akan langsung menangkapnya."

__ADS_1


"Berarti kita jangan berhenti di sini, kita beristirahat di depan kampus agar kita bisa mengetahui siapa dosen-dosen yang mengajar di kampus ITC?" jawab Darta memberikan saran.


"Ya sudah kita Jangan membuang waktu." jawab Yanto menimpali.


Akhirnya mereka bertiga pun kembali ke area kampus namun mereka tidak masuk seperti tadi, mereka hanya duduk sambil jajan di penjual penjual yang berada di depan kampus, mata mereka memindai ke area pintu gerbang memperhatikan Siapa saja orang yang masuk dan yang keluar.


Setelah beberapa saat memperhatikan, Mereka melihat ada seorang wanita kira-kira berumur 50 tahun, dari penampilannya sudah bisa dipastikan bahwa dia adalah salah satu dosen yang mengajar di kampus itu. Sarman memberikan kode kepada Darta bahwa mereka sudah mendapatkan target, karena wanita tua tidak akan memberikan perlawanan yang berarti apalagi mereka bertiga.


"Apa kamu yakin kalau wanita tua itu adalah dosen?" tanya Darta kepada Sarman.


"Yakin karena menurut penjual yang ada di sana, wanita itu adalah salah satu dosen yang mengajar di kampus ITC."


"Terus apa yang akan kita lakukan?" tanya Wanto menimpali.


"Kita ikuti dia sampai ke rumahnya kemudian kita pantau sambil mencari tahu kelemahannya. kalau di rumahnya tidak ada orang maka kita akan eksekusi langsung kalau di rumahnya rame maka kita akan eksekusi di luar." jawab Sarman mulai mengatur siasat.


Keadaan pun menjadi Hening seketika, hanya terdengar suara Deru mobil yang terus berlalu Lalang di Jalan Raya, sesekali di sehuti dengan suara klakson ketika ada kendaraan yang menghalangi atau merebut Jalan, Ada pula yang membunyikan klakson untuk memanggil penumpangnya. Mata Ketiga orang itu terus memindai keadaan pintu gerbang kampus menunggu wanita yang mereka incar keluar.


Lumayan lama mereka melakukan hal itu, karena orang yang ditunggu tidak kunjung menampakan batang hidungnya, membuat ketiga orang itu patah semangat dan ingin mengalihkan target penyergapan.


"Bagaimana nih Sudah mau sore, tapi wanita itu belum kunjung keluar. apa jangan-jangan dia pulang menggunakan mobil?" Ujar Darta yang terlihat gelisah.


"Tidak dia lebih suka naik angkutan umum daripada menggunakan mobil." jawab Sarman dengan begitu yakinnya.


"Terus apa yang harus kita lakukan sekarang, wanita itu belum kunjung keluar mana cuaca sudah menunjukkan tanda-tanda Hujan akan turun, langit sudah menghitam angin sudah berhembus dengan kencang." tanya Darta sambil menatap ke arah langit yang sudah mendung.


"Sabar aja dulu, pasti wanita itu akan keluar karena tidak mungkin kalau dia menginap di kampus."

__ADS_1


__ADS_2