Terjebak Cinta Gadis Konflik

Terjebak Cinta Gadis Konflik
Kisah Abduh Dan Yanti


__ADS_3

Suasana pun semakin siang, matahari sudah mulai naik menuju ke atas ubun-ubun. di halaman rumah belakang terlihat ada dua pasang manusia yang sedang mengobrol begitu serius. padahal tidak ada obrolan penting yang mereka bicarakan, hanya sendau gurau saling menggoda saling Tunjukkan ketertarikan satu sama lain. satu pasangan berada di dalam Saung, satu pasangan duduk di bangku yang menghadap ke arah bawah.


"Lebih baik menjadi jerawat, daripada dicap sebagai orang yang suka mengobral cinta." ujar wanita yang duduk di bangku bersama pasangannya, sudut bibirnya ditarik ke bawah seolah mencibir Apa yang dibicarakan oleh Nathan.


"Tidak mengobral cinta, lagian aku hanya mengungkapkan ini baru kepada satu wanita yang benar-benar pantas untuk menerima semua cintaku, yaitu kamu." jawab Nathan dengan wajah serius tidak memperdulikan Jasmine yang terus menolak dan menyanggah perkataannya.


"Memang setiap laki-laki itu selalu berbicara seperti itu, Kamu adalah cintaku yang pertama dan terakhir tapi kenyataannya mereka sudah melakukan pacaran dengan wanita-wanita yang lain, bahkan saking kurang ajarnya seorang laki-laki mereka masih berani mencari wanita lain, ketika mereka sudah mengikat janji suci dengan ijab kabul di depan penghulu.'


"Yah memang laki-laki itu seperti itu, makanya sampai sekarang aku tidak mau mendekatinya Aku mau berhubungan dengan wanita, karena wanita itu sangat cantik dan sangat baik." ujar Nathan yang mengulum senyum, Entah mengapa pagi itu terasa cerah cerah Harapan yang ada dalam dirinya.


Mendengar ungkapan Nathan, bibir Jasmine pun yang awalnya ditarik ke bawah mulai mencoba ditarik ke atas, menimbulkan Satu Senyuman yang sangat indah, bahkan mungkin bisa menghentikan rotasi bumi, Jasmine tidak menanggapi perkataan Nathan, dia menatap ke arah sawah yang padinya sedang menghijau, diselingi oleh pohon-pohon kelapa ketika ada irigasi.


"Emang Yanti orang mana?" tanya Nathan mulai membuka kembali pembicaraannya.


"Orang kampung sagaranten, karena di sini sangat susah untuk mendapat pasangan, dari luar daerah atau luar Kampung, soalnya seperti yang sudah kamu ketahui Kampung kita selalu berkonflik dengan kampung yang lain, sehingga mereka akan berpikir berulang kali, ketika mau menjalin hubungan dengan warga Kampung sagaranten."


"Kenal Kapan mereka?"


"Mereka pacaran sejak aku masuk SMA, ketika Yanti ikut main ke rumahku. waktu itu kak Abduh yang sudah berkuliah di Bandung dia bertemu dengannya, dan dari saat itu kak Abduh mulai menunjukkan ketertarikan dan bagusnya Respon yang diberikan oleh Yanti pun sangat baik, sehingga mereka melakukan hubungan. Namun hubungan itu tidak pernah ada yang mengetahui kecuali aku dan diri mereka masing-masing."


"Karena takut membebani keluarga, begitu Bukan?" tanya Nathan yang memotong.


"Benar begitulah! jangankan kita dilirik oleh warga Kampung lain, warga kampung sendiri ketika mau meresmikan percintaan mereka dengan ikatan pernikahan, kita harus berpikir berulang kali agar kita tidak salah langkah, karena kalau kita salah mengambil langkah, nanti yang ada bukannya mempersatukan yang ada malah membubarkan."

__ADS_1


"Kasihan banget ya mereka, tapi kalau Abduh memiliki keinginan yang sangat kuat, dia harus menanggung semua resikonya karena memang begitulah kehidupan, kalau kita tidak bisa memilih maka kehidupan lah yang akan memilihkan jalan untuk kita."


"Yah mau bagaimana lagi. ya sudah, di sini panas Ayo gabung dengan mereka." ajak Jasmine sambil bangkit dari tempat duduknya, kemudian diikuti oleh Abduh yang meregangkan tubuh yang terasa kaku, karena terlalu lama duduk Meski waktu yang dilalui terasa begitu singkat, tapi itu sudah cukup untuk membuat kesan baik di hadapan gadis yang selalu mengganggu sel otak kirinya.


Mereka berdua berjalan menuju ke arah Abduh yang sedang mengobrol serius, terlihat wajah Yanti yang menggambarkan kesedihan karena dia sangat bingung dengan hubungannya. di satu sisi orang tuanya sudah menyuruhnya untuk menikah, karena umur 20 Ketika di perkampungan itu sudah disebut perawan tua, maksimal usia menikah di kampung ketika sudah lulus SMA, kalau tidak kuliah maka gunjingan-gunjingan orang pun akan mulai terbit ke telinga.


Ketika melihat Jasmine dan Nathan menghampiri dengan segera Yanti pun mengusap mata yang hendak menjatuhkan butiran bening, kemudian dia menyembunyikannya dengan senyum yang terlihat dipaksakan.


"Kenapa kalian tadi pergi?" tanya Yanti dengan suara yang sedikit parau.


"Tidak apa-apa, aku sebagai adik ipar yang baik akan memberikan waktu untuk kalian mengobrol Karena aku tahu kalian sudah sangat kangen kan, karena sudah lama tidak bertemu." jawab Jasmine yang membalas senyum Yanti.


"Oh iya. hari ini kita akan melakukan apa?" tanya Abduh mengalihkan pembicaraan karena tiba-tiba saja suasana pun menjadi membeku.


"Apa itu liwet?" tanya Nathan yang biasa hidup di Bogor.


"Nasi uduk."


"Bukan bukan nasi uduk, tapi nasi yang dibumbui dan dimasak menggunakan kastrol atau panci yang bulat." Timpal Abduh yang membetulkan.


Akhirnya mereka berempat mengobrol ngalor ngidul membahas aktivitas masing-masing. Jasmine yang baru pulang dari Amerika dia menceritakan tentang kehidupan di luar negeri, sedangkan Nathan dan Abu mereka kompak menceritakan kesehariannya, ketika berkuliah hanya Yanti yang sering terdiam, karena dia tidak pernah keluar dari kampung dia setia menunggu Abduh datang melamarnya.


Kira-kira pukul 10.00 siang, acara mengobrol pun berpindah ke dapur, menyiapkan perlengkapan untuk membuat nasi liwet. sedangkan Nathan dan Abduh mereka membantu untuk membeli benda-benda yang dibutuhkan yang tidak ada di warung terdekat.

__ADS_1


Selesai berbelanja Nathan pun mengajak Abduh untuk kembali, dia ingin mengajak sahabatnya untuk mengobrol yang sangat serius Abduh yang merasa Malas, karena sampai sekarang dia belum menemukan jalan keluar untuk masalah yang sedang ia hadapi bersama Yanti. awalnya menolak namun ketika Nathan terus memaksa akhirnya dia pun mengalah.


"Mau apa sih! jangan sampai kamu mau bertanya lagi Tentang kesukaan Jasmine. kamu sudah sedikit berhasil meluluhkan hatinya, tapi kamu jangan berbangga dan Bersenang dulu, karena begitulah sikap Jasmine yang periang dia akan menyapa seluruh manusia dengan sapaan yang sama dan dengan senyum yang sama, jadi kamu nggak usah kegeeran."


"Yey. Siapa lagi yang mau bertanya tentang Jasmine. Aku sudah menemukan cara untuk menaklukkannya, Aku ingin berbicara urusan kamu." jawab Nathan dengan mencibir karena merasa kesal dengan sahabatnya yang sok tahu.


"Terus apa hubungannya dengan urusanku?"


"Yanti!" Jawab Nathan membuat wajah aku semakin terlihat murung karena dia sedang memikirkan hal yang sama.


"Apakah kamu benar-benar mencintai Yanti?" lanjut pertanyaan Nathan dengan menatap sahabatnya penuh keseriusan.


"Kenapa kamu bertanya seperti itu, apa jangan-jangan kamu tertarik dengannya, Awas sekalipun kamu hanya menyapa Gadis itu akan ku robek mulutmu."


"Yey sakit amat. aku tidak butuh wanita lain, yang ada di dalam hatiku hanya Jasmine seorang Jadi kamu jangan berprasangka buruk terhadap orang lain, mendingan sekarang kamu jawab apa kamu mencintai Yanti."


"Emang kenapa?" jawab atuh yang terus membalikkan pertanyaan.


"Yah Jawab aja, karena kalau kamu benar-benar mencintainya, kamu tidak mungkin membiarkan Gadis itu menunggu terlalu lama. kasihan Yanti Abduh Dia sangat cantik Dia sangat ikhlas menunggumu untuk datang melamarnya, tapi kamu tidak ubahnya sebagai pengecut yang bernyali tempe mungkin sama sekali tidak bernyali."


"Jaga bicaramu Nathan! kamu tidak mengerti masalahnya seperti apa."


"Justru aku sangat mengerti masalah yang sedang kamu hadapi Seperti apa. makanya aku berbicara seperti itu Kamu takut menambah beban kang Dadang, yang terus dihantui oleh serangan-serangan warga Kampung Cisaga. tapi yang perlu kamu ketahui dengan kamu jujur dengan kang Dadang itu tidak akan merubah apapun. warga Kampung Cisaga akan tetap menyerang dan mungkin kamu akan meninggal duluan terkena serangan itu, dan tidak sempat mengungkapkan cinta terhadap Yanti."

__ADS_1


__ADS_2