
Malam itu Jasmine tidak bisa memejamkan mata, hatinya Dilema antara tetap tinggal di rumah orang yang sudah baik menjaganya, ataupun pergi demi kebahagiaan orang lain. Jasmine terus berpikir bagaimana caranya dia bisa terlepas dari belenggu yang mengikatnya, dia tidak ingin menjadi benalu di atas kebahagiaan orang lain.
Suasana semakin larut, hingga akhirnya Jasmine pun tertidur akibat rasa capek yang ia rasakan setelah seharian mengikuti acara pernikahan Ayla, di dalam impiannya dia dihantui dengan mimpi-mimpi buruk karena mungkin begitulah ketika tertekan dalam kehidupan, maka akan terbawa ke alam impian.
Keesokan paginya. seperti biasa Jasmine mengikuti salat subuh berjamaah kemudian membantu para asisten rumah tangga di dapur untuk menyiapkan sarapan. Rani yang melihat Jasmine kurang bercahaya dia pun mendekatinya sambil tetap melakukan pekerjaan.
"Tidak usah ambil hati perkataan orang yang jahat seperti itu, karena kalau kita terbawa maka Kitalah yang akan rugi." tiba-tiba Rani berbicara seperti itu membuat Jasmine sedikit mendelik tidak paham apa yang dibicarakan.
"Iya kamu jangan dengarkan omongan Pak Atma, karena keluarga Pak suyatno bersama anak-anaknya sangat menyayangi keberadaan kamu. sekarang kamu tidak usah bingung, tidak usah khawatir. anggap aja Anjing menggonggong kafilah berlalu." ujar Rani sambil berbisik Sepertinya dia sangat tahu dengan apa yang sedang dirasakan oleh Jasmine.
"Ah sok tahu kamu!" jawab Jasmine membiaskan kesedihannya dengan senyum semua.
"Tahulah, tadi malam aku hendak menemuimu di kamar tapi aku Mendengar pembicaraan Bapak Atmajaya yang sedang mengusir dan menjelek-jelekkanmu, sudah sekarang Jangan dengarkan kamu fokus aja untuk bahagia."
"Terima kasih ya Ran, kamu memang benar-benar wanita baik. Aku mohon jangan bicarakan hal ini dengan orang lain, takut mengganggu kebahagiaan mereka yang baru saja melangsungkan acara pesta pernikahan."
Mereka berdua pun terus mengobrol membahas hal-hal yang lainnya, Jasmine yang sudah terbiasa membantu dia tidak sedikitpun kesusahan Ketika Harus turun ke dapur, membuat para asisten rumah tangga merasa bahagia karena Jasmine memberikan dampak keceriaan terhadap mereka, di tengah-tengah kelelahan dalam bekerja.
Suasana pun semakin lama semakin terang, hingga akhirnya matahari dari ufuk timur terlihat begitu sempurna, memancarkan cahaya membuat tubuh-tubuh yang tersinari oleh sinarnya terasa hangat, burung-burung terdengar berkicau begitu riuh menyambut sang mentari pagi menggetarkan ranting-ranting pohon yang di ujungnya ada air embun yang menggantung, sehingga air embun itu jatuh mengkilap bak mutiara yang sedang tersinari oleh cahaya.
Orang-orang sudah mulai bersiap untuk melaksanakan aktivitasnya, bahkan tidak sedikit orang yang sudah mulai beraktivitas dari setelah melaksanakan salat subuh, seperti para sopir yang terus bergelut dalam kemacetan jalan, orang-orang yang biasa bekerja di pasar mereka sudah menjajakan dan menjual jualannya. begitu juga orang-orang yang mau berangkat ke kantor mereka sudah duduk di kursi makan untuk sarapan.
Nathan yang selalu memperhatikan gerak-gerik Jasmine tidak ada saat ketika mereka bertemu yang tidak terpantau oleh matanya. pagi itu dia menatap sesuatu yang aneh yang membuat Nathan memiliki kecurigaan bahwa Jasmine sedang menemukan masalah. setelah selesai makan bersama Nathan pun menghampiri Jasmine yang hendak naik ke lantai atas, untuk membersihkan tubuh setelah selesai membantu para art di rumah orang yang ditinggalinya.
__ADS_1
"Tunggu sebentar!" tahan Nathan sambil memegang tangan Jasmine membuat mata gadis cantik yang agak sedikit Sendu menatap ke arah orang yang menghentikan.
"Ada apa?" jawab Jasmine balik bertanya.
"Aku yang harusnya bertanya seperti itu. kenapa kamu terlihat murung Apakah tadi malam kamu tidak bisa tidur dengan nyenyak?"
"Ah nggak apa-apa, mungkin aku kecapean saja setelah kemarin berpesta."
"Kalau orang kecapean tidak akan bersedih mereka hanya kelelahan, dan mungkin butuh waktu istirahat mereka akan segar kembali seperti aku yang sekarang yang sudah segar, meski hari kemarin ada acara pesta pernikahan." selidik Nathan yang tidak serta-merta percaya dengan apa yang diucapkan oleh gadis yang masih berdiri menatapnya.
"Yah, setiap orang kan berbeda cara mengekspresikan kelelahan, mungkin wajahku seperti ini ketika aku merasa lelah. Ya sudah aku mau ke atas dulu aku mau mandi." jawab Jasmine yang membiaskan kepedihan dengan Seuntai senyum yang terlukis di bibir indahnya.
Yasmin tidak berani berkata jujur kepada Nathan tentang apa yang menimpa dirinya ketika tadi malam didatangi oleh Atma Jaya yang harus segera pergi meninggalkan rumah itu, Karena Nathan dan Linda sudah dijodohkan. Atmajaya tidak mau kehadiran Jasmine mengganggu kelangsungan hubungan anak dan keponakannya.
Setelah kepergian Jasmine. Nathan pun bersiap-siap untuk pergi ke kantornya, karena hari itu ada Project yang harus dibicarakan dengan para staf di kantor. Dia berjalan menuju garasi namun ketika berada di teras rumah, dia pun berhenti karena mendengar panggilan seseorang.
"Ada apa Mbok Rani?" tanya Nathan dengan mengulum senyum menyambut art-nya dengan begitu ramah.
"Nggak ada apa-apa den!" jawab Rani setelah sampai di hadapan Nathan.
"Pasti ada apa-apa, karena kalau tidak ada apa-apa Mbok Rani tidak akan memanggil saya. mau dibelikan apa, Saya mau berangkat ke kantor." tawar Nathan dengan begitu ramah Karena dia sudah berjanji apapun yang diminta oleh para asisten rumah tangga, dia tidak akan menolak selama itu mampu dia kerjakan.
"Ah Mbok tidak mau apa-apa, namun ada yang ingin Mbok sampaikan sedikit."
__ADS_1
"Tentang apa?" tanya Nathan dengan mengurutkan dahi.
Sebelum menjawab pertanyaan dari atasannya, Rani pun memindai keadaan sekitar seolah merasa takut kalau apa yang akan disampaikan terdengar oleh orang lain. melihat Gelagat seperti itu Nathan pun mengerti sehingga dia mengajak Rani untuk masuk ke mobil agar mereka berdua bisa leluasa ketika mengobrol.
"Coba Mbok Jelaskan, Ada apa sampai-sampai pembicaraannya harus seserius ini?" tanya Nathan sambil mengulum senyum, Tapi walau begitu dia tetap memprioritaskan tentang privasi seseorang.
"Non Jasmine Den." jawab berani dengan sedikit ragu-ragu.
"Jasmine Kenapa, Jasmine menitip sesuatu untuk saya berikan?" tanya Nathan seolah menantang.
"Bukan, bukan itu. non Jasmine sangat baik dia tidak pernah merepotkan orang lain,dia sering membantu bibi dan para asisten rumah tangga lainnya di dapur, di rumah, bahkan tidak segan-segan untuk mengepel."
"Terus kenapa dengan Jasmine Mbok?" tanya Nathan semakin merasa heran dan penasaran.
"Sebelumnya Bibi minta maaf terlebih dahulu. Aden jangan marah!"
"Cerita saja belum, Mbok sudah ketakutan duluan. ayo jangan ada yang tutup-tutupi kalau bisa nanti saya akan bantu, Kalau pun tidak bisa kita bersama-sama carikan solusinya."
"Tadi malam ketika Mbok habis mengantarkan pesanan Den Rio anaknya Pak Arfan. Mbok tak sengaja lewat ke kamar non Jasmine, karena kamar itu dilalui ketika kita mau ke kamar Pak Arfan."
"Terus?"
"Mbok gak sengaja mendengar ada orang yang berbicara, awalnya Bibi mengira bahwa itu suara Aden dan non Jasmine yang sedang bercengkrama. namun setelah diperhatikan dengan begitu teliti suara yang laki-laki adalah suara orang tua, setelah diperhatikan lagi ternyata itu suara pak Atmajaya."
__ADS_1
"Emang apa yang mereka bicarakan?" tanya Nathan meski belum mengerti Ke mana arah tujuan asisten rumah tangganya, tapi dia merasa penasaran apa obrolan Jasmine dan Atmajaya karena selama Jasmine tinggal di sini Atmajaya jangankan mengobrol menyapa pun tidak pernah dia lakukan.