Terjebak Cinta Gadis Konflik

Terjebak Cinta Gadis Konflik
Nur Halimah Disergap Perampok


__ADS_3

Suasana pun semakin lama semakin sore matahari tidak terlihat karena tertutup awan-awan hitam yang menggumpal, angin bertiup dengan kencang menggerakkan pepohonan yang tumbuh di samping kanan kiri jalan. Sarman dan kedua temannya mereka merasa Dilema antara melanjutkan penyelidikan atau menunda. karena cuaca yang sangat tidak mendukung. beruntung di tengah keputusan itu datang suatu pertolongan, orang yang sudah lama ditunggu keluar dengan menenteng payung di tangannya, Mungkin dia bersiaga sebelum hujan turun.


Melihat orang yang ditunggu Mereka bertiga tidak langsung bergerak masih terlihat Terdiam seperti sedang mengatur rencana. hanya matanya saja yang bergerak-gerak meneliti Kemana arah perginya wanita itu. sedangkan wanita yang sedang dipantau Dia tidak memiliki rasa curiga kalau dirinya sedang diancam, karena merasa kota Bandung sangat aman. setelah menyeberangi jalan dia pun mengangkat tangan saat ada angkutan umum yang lewat, lalu dia pun naik menuju tempat tujuannya dengan tergesa-gesa takut keburu hujan turun.


Baru beberapa saat mobil itu melaju tiba-tiba mobil itu berhenti kembali, kemudian menaikkan 3 orang penumpang yang tidak dikenal, tapi Nur Halimah tidak terlalu memperdulikan karena memang sudah biasa angkutan umum akan selalu diikuti oleh para penumpang.


Mobil angkot pun melaju meninggalkan kampus ITC menyalip kendaraan-kendaraan lain yang terparkir di pinggir jalan suasana semakin lama semakin gelap, hingga akhirnya hujan pun mulai berjatuhan sedikit demi sedikit hingga akhirnya hujan itu tiba dengan begitu deras.


Kira-kira 15 menit berlalu, Halimah pun meminta sopir untuk menghentikan angkot yang dikemudikan. dengan segera sopir pun menuruti permintaan penumpangnya, meski dalam keadaan hujan deras sang supir tidak berani membantah apa yang diminta oleh tuannya, mobil angkot itu berhenti di pinggir trotoar yang tidak tergenang oleh air.


Setelah membayar ongkosnya, Nur Halimah pun melanjutkan dengan berjalan kaki menuju salah satu rumah yang berada di pinggir jalan, sopir angkot tidak berarti tepat di depan rumah karena ada genangan air yang lumayan sangat deras. Ketiga orang yang tadi naik awalnya hendak turun namun salah seorang menahan agar tidak membuat curiga.


Halimah terus berjalan menggunakan payung melindungi dirinya dari cipratan air hujan. Namun sayang hujan yang begitu deras membuatnya tidak luput dari cipratan cipratan air yang membasahi bumi, beruntung ia tidak terlalu lama berjalan Karena dia sudah masuk ke dalam salah satu rumah dengan pagar dan gerbang yang rendah, karena mungkin suasana tempat ya tinggal sangat aman.


Setelah berada di teras. Nur Halimah pun membuka kunci pintu rumahnya kemudian masuk lalu melepaskan semua baju yang basah, mengambil handuk untuk membersihkan badan terlebih dahulu. Nur Halimah sangat tenang karena di rumah itu hanya sendirian.


Agak lama dia berada di kamar mandi berendam menggunakan air hangat, apalagi suasana kota Bandung yang sangat dingin membuat orang betah berada dalam kehangatan, mungkin setengah jam berlalu Nurhalimah baru keluar dari kamar mandinya. namun Alangkah terkejutnya dia ketika melewati pintu terasa ada benda dingin yang menempel ke lehernya, Awalnya dia mau berteriak namun secepat kilat mulut itu dibekap menggunakan baju kotor yang berada di bak cucian.


"Jangan bergerak atau melawan, kalau kamu masih sayang dengan nyawamu sendiri!" tiba-tiba terdengar suara ancaman yang dibisikan dari arah belakang membuat mata Halimah semakin terbelalak merasa kaget dengan penyerangan yang begitu mendadak.


Hati wanita itu terasa berdebar, jantungnya berdegup dengan kencang, nafasnya terasa sesak karena dibekap oleh kain, keringat dingin mulai membasahi tubuh takut terjadi sesuatu yang buruk dengan dirinya. Halimah tidak bisa berbuat banyak hanya matanya saja yang terbelalak memindai keadaan sekitar.

__ADS_1


"Hidungnya jangan ditutup! nanti dia Mati." Ingat salah seorang dengan suara yang berbeda membuat Halimah memastikan bahwa orang yang masuk ke rumahnya lebih dari satu orang.


"Ya sudah kamu jangan diam terus ikat tangannya! sekalian kakinya juga, nanti dia berontak." Jawab orang yang membekap dengan sedikit mendengus, mungkin merasa kesal karena temannya tidak membantu


Tangan Halimah ditarik ke belakang kemudian diikat menggunakan tali rafia yang diambil Entah dari mana, Begitu juga dengan kakinya tak luput dari ikatan. Halimah yang sudah tidak bisa berdaya, kain penutup mulutnya pun Diikat Di belakang kepala, wanita itu dibawa ke salah satu kamar membuat Halimah semakin ketakutan kalau dirinya akan diperlakukan tidak senonoh. Halimah meronta-ronta ingin melepaskan diri namun apalah daya tenaga seorang perempuan yang sangat jauh jikalau dibandingkan dengan tenaga laki-laki, apalagi laki-laki yang menyergapnya lebih dari satu orang.


Sesampainya di dalam kamar, Halimah pun didudukan di atas kasur hingga matanya yang sejak dari tadi ingin melihat Siapa saja orang yang menyergapnya, dia bisa leluasa memandangi orang-orang yang masuk ke rumah, ternyata orang yang masuk ke rumahnya ada tiga orang dengan menggunakan penutup wajah.


"Jangan macam-macam! kalau tidak, tenggorokanmu akan putus!" ancam salah seorang yang menggunakan penutup wajah menggunakan kaos sambil membuka penutup mulut Halimah.


Padahal kalau Halimah sejak dari tadi tidak dibekap, Walaupun dia berteriak sekencang apapun, teriakan itu tidak akan terdengar karena suara derasnya hujan yang belum berhenti, seperti semua yang ada di langit di tumpahkan sekaligus.


"Ambun, ampun! jangan nodai saya, Jangan nodai saya!  ungkap Halimah dengan mata yang berbinar ketika mengedip butiran bening pun jatuh membasahi pipi.


"Kalau mau uang dan perhiasan Silakan ambil di lemari! Asal jangan mengganggu hidup saya" ujar Halimah menawarkan pilihan lain.


"Eh dengar nenek peot kami tidak butuh harta, kami tidak butuh tubuhmu yang sudah tidak memiliki pelicin." jawab salah seorang yang menutupi wajahnya dengan menggunakan serbet nasi.


Mendengar jawaban Ketiga orang yang datang membawa rumahnya Halimah pun mengerutkan tidak mengerti apa yang mereka maksud, karena biasanya seorang penjahat yang masuk ke rumah dengan memiliki tujuan tertentu, baik mencuri hartanya ataupun mencuri kehormatan. namun berbeda dengan Ketiga orang yang datang ke rumahnya mereka seperti tidak memiliki tujuan.


"Kalau kamu bisa bekerja sama dan kamu bisa menjawab pertanyaan kami dengan begitu baik, maka kami tidak akan berbuat jahat, melainkan kami akan memberimu hadiah." ujar orang yang memakai penutup kaos membuat Halimah semakin melongok.

__ADS_1


"Terus Sebenarnya apa yang kalian mau dari wanita tua yang peot ini, kalau tidak mau harta. tidak mau kehormatan?" tanya Halimah yang sedikit mulai memiliki keberanian dari rasa penasaran yang memenuhi dada.


"Jawab siapa namamu, jangan bohong!"


"Saya Nur Halimah?"


"Ngapain kamu datang ke kampus ITC?" Selidik orang yang memakai penutup wajah dari kaos


"Saya sebagai dosen di sana, emang kenapa?"


"Kalau sebagai dosen pasti kamu memiliki akses untuk mencari data-data setiap mahasiswa yang kuliah di kampus itu,"


Mendengar pertanyaan dari sang penyergap Halimah sedikit mulai paham Ke mana arah tujuan ketiga orang yang sedang berdiri mengintrogasinya, mereka mencari data mahasiswa namun Siapakah yang mereka cari.


"Kenapa malah diam, Apa kamu mau merasakan ujung pisau ini?" ujar orang yang menempelkan pisau di leher Halimah dengan sedikit menekan.


"Mahasiswa mana yang kalian cari?" jawab Halimah dengan sedikit bergetar karena terasa ada cairan merah yang sedikit keluar dari pundak kiri, akibat kerasnya tekanan yang diberikan oleh musuh.


"Hati-hati gobl0k, nanti dia bisa mati!"


"Maaf Kang, nggak sengaja ketekan, lagian meski udah tua tubuh nenek peot ini lumayan menggairahkan."

__ADS_1


Plak !


Kepalanya pun digeplak oleh temannya, agar orang itu membuang jauh-jauh niat buruk yang akan merugikan semuanya, karena mereka datang ke situ bukan untuk meminta kehormatan atau merampok uang, melainkan mencari alamat orang yang sedang mereka cari.


__ADS_2