
Suara Deru air terdengar bergemuruh dari arah Sungai yang lumayan sangat deras karena beberapa hari terakhir selalu diguyur dengan air hujan, berbaur dengan suara jangkrik dan ciang-ciang, di sauti dengan suara kodok yang terdengar dari arah sawah. Jalan Setapak yang biasa dilewati oleh para petani terasa begitu licin meski hari tadi tidak diguyur hujan.
Bintang-bintang terlihat bertebaran di atas langit, diketuai oleh bulan yang tampak bersinar begitu membulat sempurna tidak ada bintik-bintik hujan akan turun, membantu ketika orang ketika berjalan di tepian sungai.
Tidak ada pembicaraan dari mereka hanya terdengar suara deru nafas yang memburu, beriringan dengan suara drag langkah kaki. sesekali Mereka terlihat berhenti seperti sedang mengambil nafas yang sangat sesak namun itu tidak lama mereka pun melanjutkan kembali perjalanan memperlihatkan bayangan-bayangan hitam seperti seorang maling yang sedang menuju tempat buruannya. Mereka terlihat menaiki bukit-bukit petakan sawah kadang pula mereka menuruni bahkan tidak jarang mereka harus turun ke sungai ketika tidak yang bisa dilewati.
"Kenapa milih jalan seperti ini?" Tanya orang yang sedang mengatur nafas ketika baru manjat dari sungai.
"Kenapa Kang Darta bertanya seperti itu, bukannya Kang Darta juga sudah tahu bahwa di setiap sudut Kampung Sagaranten dan kampung Cisaga di jaga ketat oleh pihak yang berwajib, kalau tidak berhati-hati Nanti Kitalah yang akan ditangkap." jawab Wanto menjelaskan.
Ketiga bayangan itu tidak lain dan tidak bukan adalah warga Kampung Cisaga yang sedang ditugaskan untuk mencari data diri Nathan pembunuh adik Sutardji yang bernama Darman, ketua mereka tidak akan bisa tenang hidup kalau belum bisa membalaskan rasa sakit yang diterima oleh adiknya.
"Sudah jangan berdebat kita sebentar lagi sampai ke rumah Dadang, tinggal menyusuri petakan sawah yang ini dan nanti kita bisa sampai ke belakang rumah." ujar Sarman memisahkan kedua orang yang sedang berdebat, matanya menatap ke arah cahaya kecil yang terpancar dari salah satu lampu yang berada di rumah.
"Apakah rumah si Dadang dijaga?" tanya Darta sambil menatap bayangan hitam yang berdiri di sampingnya.
"Kurang tahu kan kita belum pernah berkunjung setelah pertikaian itu terjadi."
"Ya sudah Jangan membuang waktu kita pastikan saja terlebih dahulu, bahwa rumah itu sangat aman karena seperti yang tadi kita dengar bahwa rumah tidak ada yang menghuni oleh orang lain, rumah itu dikosongkan namun tetap dirawat."
"Ayo!" jawab Sarman dan Wanto dengan serentak.
__ADS_1
Akhirnya ketiga bayangan itu mulai terlihat bergerak kembali menyusuri jalan petakan sawah yang terasa begitu licin, beruntung kala itu mereka memakai sepatu karet yang di bawahnya memiliki Duri, sehingga tidak terpeleset atau tercebur ke dalam sawah. disaksikan oleh cahaya Rembulan yang tidak pernah berkedip sekolah ingin mengetahui seluruh gerak-gerik Ketiga orang yang hendak berbuat jahat itu.
Mereka berjalan dipenuhi dengan kehati-hatian takut menimbulkan suara yang membuat kecurigaan, kalau sampai ketahuan oleh warga Kampung Sagaranten mereka sudah bisa dipastikan akan menjadi babak belur, ditambah akan meringkuk di penjara, seperti warga Kampung lain yang berani menentang aturan yang sudah dibuat.
Semakin lama bayangan itu semakin mendekat ke arah salah satu rumah yang paling besar di kampung Sagaranten, mereka semakin meningkatkan kewaspadaan bahkan Langkah Demi Langkah diperhitungkan agar tidak menimbulkan suara hingga akhirnya mereka pun tiba di belakang Saung yang berada di tepian sawah, yang biasa digunakan untuk beristirahat Dadang bersama keluarganya.
Mereka memasang telinga mendengarkan situasi yang berada di belakang rumah, Namun ternyata situasi sangat aman karena warga Kampung Sagaranten yang merasa tenang, mengandalkan penjagaan dari para petugas. Mereka pun sedikit lalai tidak menyangka kalau mereka selalu diintai oleh warga Kampung Cisaga yang terus-menerus mengobarkan api permusuhan.
"Kayaknya aman!' bisik Sarman dengan mendekatkan mulut ke telinga Darta.
"Mungkin, tapi kita harus memastikan dulu di area depan Apakah ada penjaga ataupun tidak." jawab Darta dengan berbisik pula.
"Wanto coba tolong cek ke depan!"
Rumah Dadang yang tidak memiliki batas pagar di area belakang tidak seperti area depan yang memiliki gerbang dan pagar yang lumayan tinggi, memudahkan Wanto untuk masuk ke area halaman samping dia terus berjalan mengendap-ngendap menuju ke area halaman depan rumah, setelah berada di depan dia tidak menemukan siapa-siapa hanya pintu gerbang saja yang dikunci.
"Dasar bodoh! ngapain buat pintu gerbang segitu besar kalau area belakang rumah terbuka dan terhubung dengan sawah." gumam hati Wanto sambil kembali menemui kedua temannya yang sedang bersembunyi.
"Kenapa kamu berjalan dengan sangat santai, Bagaimana kalau ada orang yang mengetahui." gerutu Sarman dengan menatap tajam ke arah Wanto yang baru datang, dia menganggap temannya sangat ceroboh ketika kembali tanpa mengendap-ngendap.
"Semuanya aman terkendali, tidak ada orang yang berjaga di rumah ini." Jawab Wanto dengan suara pelan namun tidak berbisik seperti tadi.
__ADS_1
"Yang benar kamu Wanto?" tanya Sarman tidak percaya.
"Ya benar, memang warga Kampung Sagaranten sangat bodoh dibuktikan dengan pemimpinnya yang memiliki rumah di pagar begitu tinggi di halaman depan, namun di halaman belakang tidak ada pengamanan sama sekali, padahal maling sekarang lebih cerdas."
"Ya sudah baguslah kalau begitu, tapi kita harus tetap hati-hati dan waspada takut ini hanyalah jebakan."
"Baiklah! Ayo kita bobol rumah si Dadang." ujar Darta sambil bangkit dari tempat jongkoknya, kemudian mereka bertiga pun berjalan mendekati pintu belakang yang nantinya akan terhubung dengan dapur.
Sesampainya di dekat pintu Darta pun mengeluarkan golok yang berada di pinggang, dengan segera dia pun mencongkel pintu dengan penuh kehati-hatian dan ketelitian.
Krettt! Kreeet! kreeet! brak.....!
Akhirnya pintu pun terbuka sehingga terlihatlah dapur yang begitu bersih dengan perabotan yang begitu lengkap tersusun rapih di rak rak piring, sepertinya rumah itu memang benar-benar dijaga, karena Jasmine mereka yakini masih hidup Dan suatu saat pasti akan kembali ke rumah. Manta yang bertanggung jawab atas semua harta yang ditinggalkan, dia pun sudah berjanji akan mengurusnya semaksimal mungkin.
"Kamu tunggu di luar, pantau situasi! kalau tidak aman kamu secepatnya harus memberi tanda." ujar Sarman membagi tugas ia memerintahkan Wanto untuk tetap tinggal di luar rumah, berjaga-jaga takut ada ronda ataupun petugas yang mengontrol rumah Dadang.
Wanto pun mengangguk kemudian dia mencari tempat yang aman untuk bersembunyi, sedangkan Sarman dan Darta Mereka pun masuk ke dalam dapur tak lupa Mereka pun menutup pintunya agar tidak menimbulkan kecurigaan.
Setelah berada di dapur, Mereka pun memindai keadaan sekitar yang nampak begitu luas, perabotan perabotan masih tersusun rapi di rak-rak piring, Tak ada satupun yang menghilang karena manta selalu menjaganya dengan begitu baik, rumah yang kosong itu terlihat begitu bersih dan wangi karena pengharum ruangan tergantung di setiap sudutnya.
Setelah puas memindai Keadaan dapur. Mereka pun membuka pintu tengah terlihatlah perabotan perabotan rumah tangga yang masih tetap terawat, kursi sofa masih berada di ruang tamu, begitupun dengan ruang keluarga yang biasa dihiasi dengan menonton TV masih tersusun tapi.
__ADS_1
Darta dan Sarman mereka tidak membuang waktu dengan segera menuju salah satu kamar untuk mencari data-data milik Abduh, mereka yakin Bahwa data-data keluarga Dadang masih tersimpan rapi di rumah itu melihat dari keadaan yang tidak berubah.