
Setelah berpamitan mereka bertiga pun naik kembali ke dalam mobil lalu pergi meninggalkan kebun milik Karsa, mereka berjanji kalau nanti sore akan kembali lagi untuk mengambil mobil yang akan digunakan untuk menjemput Jasmine. mobil yang dikendarai oleh Dadang terus melaju membelah perkebunan sayur-sayuran yang terhampar begitu luas. selesai melewati perkebunan Mereka pun tiba di persawahan yang menandakan bahwa mereka sudah masuk kembali ke kampung sagaranten, kampung yang sudah lama berkonflik dengan Kampung Tetangga.
Sesampainya di rumah. mereka bertiga pun mandi kemudian melaksanakan salat zuhur berjamaah di Masjid dilanjutkan dengan makan siang dan beristirahat untuk mempersiapkan tenaga demi menghadapi perjalanan yang akan sangat melelahkan, mereka harus pergi ke Bandung terlebih dahulu dan dilanjutkan menuju ke Tangerang. memang jaraknya sangat berlawanan, tapi mau bagaimana lagi demi untuk keselamatan semua itu harus dilakukan.
Sore hari, sesuai dengan rencana. Dadang dan Abduh sudah bersiap siap untuk pergi menjemput adiknya, sedangkan Nathan dia memilih untuk tetap tinggal karena dia takut ketika bertemu Jasmine dia belum siap, sehingga Dia memutuskan untuk menyerahkan semuanya terhadap Abduh, agar sahabatnya bisa mempromosikan dirinya terhadap calon kekasihnya.
Setelah semuanya dirasa selesai, Abduh dan Dadang pun berpamitan dengan keluarganya begitupun dengan para pengawal yang akan ikut Mereka pun berpamitan dengan keluarga masing-masing, seperti hendak pergi ke medan tempur, karena mereka tidak bisa memastikan hidup mereka sampai kapan, soalnya malaikat pencabut nyawa selalu mengintai.
Sepeninggalnya Dadang dan Abduh Nathan pun ikut bergabung dengan para pemuda lainnya yang berada di kampung Sagaranten, dia mengikuti berbagai acara agar tidak merasa jenuh, mulai dari ikut bermain volly ball dan sepak bola. karena begitulah kebiasaan warga Kampung Sagaranten pada waktu itu mereka menghabiskan siang hari untuk bekerja, sedangkan Sore harinya untuk berolah raga demi untuk terus menjaga tali persaudaraan.
Malam hari, Nathan sudah masuk ke dalam kamar meski Sarah dan para warga yang menemani menginap mengajak Nathan untuk mengobrol, tapi dia lebih memilih di kamar untuk bisa lebih tenang membayangkan dan merencanakan ketika dia bisa bertemu dengan gadis pujaannya.
Di dalam kamar yang terasa sepi hanya terdengar suara obrolan obrolan orang-orang yang menemani Sarah dari ruang tamu, di Sahuti dengan suara gemericik air yang menimpa ke kolam, suara kodok dan jangkrik tidak mau ketinggalan menemani kegelisahan hati Nathan yang terus dihantui oleh ketakutan. takut kalau Jasmine tidak menyukainya takut kalau Jasmine tidak mau menerimanya.
"Seharusnya aku tidak boleh khawatir seperti ini. karena semuanya belum terjadi. apakah memang benar beginilah Rasanya jatuh cinta sehingga Aku merasa sangat ketakutan. takut akan kehilangan takut akan penolakan. Apakah salah para pujangga bilang, bahwa jatuh cinta itu sangat indah. Tapi aku tidak merasakan hal itu, hanyalah ketakutan dan kekhawatiran yang melanda." gumam Nathan sambil menatap ke arah langit-langit kamar yang tidak berubah sejak dari kemarin.
__ADS_1
"Semoga saja si Abduh bisa diandalkan, kalau dia bisa mengerti dengan apa yang aku utarakan maka itu akan sangat mudah. aku hanya tinggal mengutarakan perasaanku karena kebaikanku sudah dijelaskan olehnya." harapan Nathan di sela-sela kegelisahannya.
Semakin lama dia melamun semakin terlarut pula ke dalam khayalan khayalan yang kadang sangat indah, namun suka diselingi dengan ketakutan. hingga akhirnya matanya yang menatap ke arah langit-langit mulai tertutup dengan sempurna diikuti oleh suara dengkuran halus yang keluar dari mulutnya. Nathan mulai terlelap dalam tidur dan impiannya.
Keesokan paginya setelah sarapan Nathan pun berjalan-jalan di belakang rumah sambil memainkan handphone menunggu kabar dari sahabatnya yang sedang menjemput Jasmine. Nathan selalu menanyakan kabar gadis pujaannya tidak mau ketinggalan meski hanya sedikitpun. Dia sangat cerewet selalu mengirimkan pesan singkat atau menelepon Abduh menanyakan Jasmine sudah tiba atau belum.
Abduh yang merasa terganggu dia pun mematikan handphonenya, karena sejak dari tadi subuh Nathan tidak berhenti mengganggu. setelah kedatangan Jasmine Mereka pun berpelukan lalu sesuai dengan rencana mereka bertiga menaiki mobil sayuran yang sudah kosong untuk pulang ke kampung halamannya.
Hati Dadang dan Abduh mereka merasa khawatir takut penyamarannya diketahui oleh warga Kampung Cisaga, sehingga ketika mereka semakin mendekat ke arah Kampung Sagaranten kewaspadaan pun mulai ditingkatkan. hati mereka selalu berdebar ketika berpapasan dengan mobil yang mau pergi ke arah kota atau ada mobil yang menyalip dari belakang. namun beruntung kekhawatiran itu tidak terjadi, karena mereka bertiga bisa sampai ke rumah dengan selamat, tidak ada yang luka sedikitpun. ide yang diberikan oleh Nathan itu sangat berguna sehingga Jasmine ketika turun disambut dengar penuh sukacita oleh kakak iparnya.
"Sehat kamu Dek, kamu sehat...!" ujar Sarah sambil mencium adik iparnya, meski hanya adik ipar dia tidak membedakan hal itu dia selalu menganggap Jasmine adalah Adiknya sendiri.
"Alhamdulillah sehat Kak, Kakak Bagaimana?" tanya Jasmine Sambil memandangi tubuh kakaknya dari ujung rambut sampai telapak kaki, setelah tidak ada yang kurang Mereka pun berpelukan kembali.
Habis berpelukan dengan kakaknya dia pun berpelukan dengan saudara-saudara yang lain yang mereka pun merasa bahagia melihat Jasmine baik-baik saja, karena Jasmine selalu memberikan energi positif di tengah-tengah kekalutan yang sedang dialami.
__ADS_1
Mendengar keributan di depan rumah. Nathan yang Sejak dari pagi berada di halaman belakang, dia pun dengan segera masuk melalui pintu dapur, kemudian berjalan menuju ke ruang tamu. terlihatlah Jasmine dan Abduh yang kebetulan baru masuk ke dalam, membuat Nathan dengan segera menaikkan bahunya untuk membusungkan dada yang bidang. Dia berjalan dengan gagah berani seperti Arjuna yang mau maju tempur ke medan perang
Dengan wajah yang mengulum senyum dipenuhi dengan kegembiraan. Nathan pun mengajak Jasmine untuk bersalaman namun penyambutan gadis itu sangat dingin seolah tidak terlalu peduli dengan kehadirannya.
"Aku Nathan... pasti Abduh sudah banyak bercerita tentangku, tentang kebaikanku yang tidak pernah berpacaran, tentang kebaikanku yang selalu menjadi mahasiswa unggulan. dan Jasmine tidak boleh terlalu percaya Karena begitulah seorang sahabat yang akan melebih-lebihkan sahabatnya sendiri, agar urusannya semakin dipermudah. Tapi begitulah kalau kita mencintai adik sahabatnya sendiri, sehingga kita tidak terlalu berdarah-darah untuk mendapatkan cintanya." ungkap Nathan dengan wajah cengengesannya membuat Jasmine semakin mengerutkan dahi seperti tidak mengerti dengan apa yang disampaikan.
"Maaf Anda siapa, dan Nathan itu siapa?" tanya Jasmine yang seperti biasa selalu mengacuhkan sapaan lelaki yang tampan, karena sikapnya yang periang banyak lelaki yang ingin mendapatkan cintanya, bahkan tidak sedikit orang yang rela mati-matian untuk bisa mencintainya. tapi begitulah Jasmine dia tidak memperdulikan tentang cinta sehingga ketika Nathan berbicara seperti itu sudah dianggap hal yang biasa.
Mendengar pertanyaan Jasmine mata Nathan pun menatap ke arah Abduh, seolah bertanya apa yang sudah ia lakukan selama menemani Jasmine pulang. Apakah Abduh mengingkari janjinya yang akan mempromosikan Nathan terhadap Jasmine. namun Abduh yang mengerti dengan tatapan itu dia hanya menyunginkan senyum penuh kemenangan. berbeda dengan wajah Nathan yang berubah membeku menjadi es, seperti darah darah yang ada di wajah itu sirna seketika. wajah Nathan terlihat pucat pasi menahan malu yang sampai ke ubun-ubun.
Jasmine yang sudah terbiasa dengan pria-pria tampan yang mendekatinya, dia tidak terlalu menghiraukan keberadaan Nathan yang seketika mati kutu. dengan segera dia pun masuk ke tengah rumah untuk pergi ke kamanya berniat merapikan bawaan, begitupun dengan Abduh yang masuk ke kamarnya diikuti oleh Nathan dengan mengepalkan tangan.
"Kurang ajar kamu! Apa kamu tidak bilang kalau di rumah ini ada tamu yang jauh-jauh datang hanya untuk mendapatkan cintanya?" tanya Nathan dengan wajah yang terlihat sangat kesal bahkan wajah itu sangat merah seperti besi mentah bakar.
"Hahaha dasar bodoh! masa iya aku lebih memilih kamu yang hanya seorang sahabat daripada seorang saudara. ingat ya Nathan, Jasmine itu adalah adikku. kalau kamu memang benar-benar mencintainya kamu berusaha sendiri jangan mengandalkan orang lain yang berada di pihak musuh. kamu jangan bodoh, hahaha!" jawab Abduh yang diselingi dengan tertawa terpingkal-pingkal seperti sangat puas melihat wajah temannya yang sangat marah.
__ADS_1