
"Saya tahu keberadaan Pak Manta ada di mana, tapi buat apa mencarinya?" tanya Karsa yang masih ragu dengan pihak yang berwajib ketika memberitahu keberadaan Manta, takut orang itu menjadi kambing hitam dari semua yang terjadi.
"Kami ingin berdiskusi dengan pemimpin warga Kampung sagaranten untuk membicarakan perdamaian antara Kampung mereka dengan Kampung Cisaga, karena kalau tidak diakhiri sekarang Mau sampai kapan lagi mereka akan terus berkonflik, mau berapa nyawa lagi yang harus hilang gara-gara keegoan masing-masing. sekarang pemimpin mereka sebagai biang masalahnya sudah tidak ada mungkin para pengikutnya tidak akan terlalu keras kepala seperti para ketua terdahulunya." jawab Deni menjelaskan.
"Kalau Boleh saya tahu perdamaian apa yang akan Bapak usulkan untuk kedua kampung yang sudah lama berkonflik ini?"
"Kita akan tanyai mereka maunya seperti apa, karena Kalau kami yang mengusulkan mereka selalu menolak. tapi kalau mereka tetap Kukuh ingin melanjutkan pertikaian maka kami tidak akan senggang-senggan untuk menangkapnya tidak apa penjara penuh yang terpenting orang-orang yang tidak berdosa orang-orang yang tidak tahu menahu akan hidup tenang."
"Kalau begitu nanti pak Manta saya ajak ke sini untuk mengobrol lebih jelasnya, biar masalahnya cepat selesai. Walaupun saya tidak memiliki hubungan apapun dengan kampung sagaran tapi melihat kenyataan yang begitu memilukan, saya ikut prihatin sebagai manusia. Saya ingin mendamaikan kedua kampung itu tapi apalah daya kekuatan Saya tidak sampai."
"Kalau bisa jangan nanti-nanti sekarang saja bahwa saya ke sana, karena masalah ini harus secepatnya diselesaikan." ujar Pak Deni yang tidak ingin membuang waktu karena keadaan di rumah sakit sudah jelas seperti itu
"Baik kalau begitu, ayo kita temui mereka." ajak Karsa sambil bangkit dari tempat duduknya, Entah mengapa dia langsung setuju mungkin karena mendengar akan ada perdamaian antara Kampung yang sudah lama berkonflik.
Akhirnya kedua orang itu keluar dari rumah sakit menuju kendaraan masing-masing, Deni mengajak beberapa anggotanya untuk ikut takut hal-hal yang tidak diinginkan menimpa mereka. setelah semuanya dirasa rapi akhirnya orang-orang itu berangkat menuju ke rumah Karsa dengan tuan rumah yang berjalan duluan menggunakan motor, Sedangkan para aparat mereka menggunakan mobil di belakang.
Kira-kira pukul 05.00 sore akhirnya motor dan mobil itu tiba di salah satu halaman rumah yang lumayan besar, rumah itu nampak sepi seperti tak berpenghuni, padahal di dalamnya ada ma5ta bersama warga Kampung lainnya. Walau Rahmi dan anak-anaknya disuruh mengungsi ke rumah orang tuanya untuk menjaga keamanan mereka.
__ADS_1
"Assalamualaikum!" ujar Karsa setelah berdiri di depan pintu.
Tak lama kemudian pintu pun terbuka, muncullah kepala Adang yang sedikit terkejut melihat Karsa datang dengan rombongan aparat. namun meski begitu dia tetap menyembunyikan karena yakin kalau Karsa bukan orang yang jahat, karsa adalah orang yang baik yang sudah menolongnya.
Pemilik Rumah itu langsung mengajak para aparat untuk masuk ke dalam ruang tamu, karena dikhawatirkan kalau mengobrol di luar akan ada mata-mata yang mengintai, soalnya keberadaan Manta bersama teman-temannya sedang dirahasiakan agar tidak ada lagi serangan susulan.
Setelah mempersilahkan tamunya untuk duduk Karsa memanggil Manta dan orang-orang terdekatnya orang-orang penting di kampung Sagaranten untuk mengobrol dengan pihak pengamanan, sesuai dengan rencana awal.
"Maksud kedatangan kami ke sini hanya untuk memastikan keselamatan warga Kampung Sagaranten, Apakah masih ada orang yang terluka atau tidak. karena data yang kami kumpulkan belum sepenuhnya komplit. ada beberapa warga yang masih belum diketahui keberadaannya." ujar Deni mulai menyampaikan maksud dan tujuannya.
"Terima kasih atas semua penjagaannya. kami selaku warga Kampung Sagaranten hanya bisa meminta maaf atas kegaduhan yang terjadi. namun ini bukan murni kesalahan Kampung kami, karena kampung Kami hanyalah korban dari serangan warga Kampung Cisaga."
"Seperti yang Bapak ketahui, pimpinan kami kang Dadang almarhum sebenarnya ingin mengakhiri permusuhan ini, namun warga kampung Cisaga tatap Kukuh ingin melanjutkan permusuhan. sampai akhirnya terjadilah kejadian yang memilukan bagi warga kampung sagaranten."
"Kenapa kalian masih tetap melayani sudah tahu mereka keras kepala, Bukankah mengalah untuk menang itu lebih baik."
"Mengalah ataupun tetap bertarung itu sama-sama memberatkan bagi kami. mengalah kami akan disiksa, dibunuh, dihancurkan sampai hancur lebur. bertarung pun sama karena setiap pertarungan pasti akan ada korban. Jadi kami dihadapkan dengan pilihan yang sangat sulit."
__ADS_1
Mendengar penjelasan dari wakil Kampung sagaranten, Pak Deni terlihat menarik nafas dalam seolah merasa berat dengan masalah yang sedang dihadapi, karena memang begitulah kenyataannya masalah antar kampung itu sudah mengakar turun temurun bahkan menyebutnya sebagai tradisi.
"Bagaimana kalau kita adakan musyawarah dan buat perjanjian. Apabila ada dari salah satu warga baik Kampung Sagaranten ataupun Kampung Cisaga yang memulai pertikaian, maka mau tidak mau mereka harus dimasukkan ke penjara, sekarang kesampingkan ego demi kemenangan yang Hakiki demi kelangsungan hidup anak cucu kita kedepannya." ujar Deni memberikan pilihan.
"Kami sebagai warga Kampung segaranten yang sudah lelah dengan pertikaian tanpa akhir. Mulai sekarang kami akan selalu patuh dengan apa yang diputuskan oleh pihak aparat, karena kami sudah menyesali apa yang kami lakukan ketika kami tidak mau mendengarkan perintah dari para pemerintah. Jadi sekarang kami akan mengikuti apa yang disarankan tidak akan ada lagi penolakan seperti dulu. kami sudah capek menjalani hidup yang terus menerus berkonflik, Kami ingin hidup damai seperti keluarga Kampung lainnya." jawab manta tidak berpikir panjang langsung menyetujui.
"Kalau begitu saya akan rapatkan dulu dengan para pimpinan, nanti kita akan tunggu keputusannya seperti apa."
"Baik kami akan menunggu keputusannya, tapi kami meminta keselamatan kami terjamin Kalau kami tidak melakukan perlawanan terhadap Kampung cisaga."
"Sudah menjadi tanggung jawab pemerintah yang harus mengurus seluruh rakyatnya agar hidup aman dan damai sesuai motto Jawa Barat gemah ripah loh jinawi. jadi saya pastikan kalian akan tetap aman yang terpenting Kalian mau mengikuti saran dari para pemimpin.
Akhirnya permusyawaratan pun berakhir dengan keputusan bahwa Deni akan bermusyawarah dengan pimpinan-pemimpinan lainnya, tapi dia berjanji akan secepatnya menyelesaikan masalah yang menimpa warga Kampung Cisaga dan kampung Sagaranten, karena dia juga sangat lelah menghadapi konflik yang sudah cukup lama terjadi.
Setelah permusyawarahan berakhir akhirnya Deni pun meminta izin untuk kembali bertugas dan berjanji secepatnya akan memberikan keputusan. namun sebelum pergi Manta meminta daftar orang yang menjadi korban pertikaian karena dia ingin mengetahui apakah Abduh sudah ditemukan atau belum.
Pihak aparat pun tidak pelit mereka memberikan daftar orang-orang yang sedang dirawat dan orang-orang yang sudah gugur menjadi korban. Manta membacanya dengan teliti dia pun bernapas lega karena Abduh termasuk di dalamnya, lega bukan berarti bahagia ditinggalkan orang yang sudah meninggal, tapi lega jenazahnya ada yang mengurus.
__ADS_1
Suasana pun semakin sore, Hingga akhirnya berkumandang bedug magrib pun terdengar dipukul dari arah Masjid diikuti dengan suara Adzan yang begitu merdu, membuat hati Manta ingin keluar mengikuti salat berjamaah. kejadian yang menimpanya membuat dirinya semakin harus mendekatkan diri kepada sang pencipta, karena kematian itu akan datang tiba-tiba, tidak ada yang memprediksi sebelumnya. seperti yang menimpa dengan pemimpinnya, yang menimpa dengan para tetangganya. mereka sedang bersukacita menyambut adik dari pimpinan akan melangsungkan acara lamaran, namun kebahagiaan itu tiba-tiba berubah menjadi petaka yang begitu mengerikan
Manta hanya bisa salat di rumah Berjamaah dengan orang-orang yang selamat, sedangkan orang-orang yang terluka setelah adzan maghrib ada salah satu perawat yang datang berkunjung untuk memeriksa lukanya, karena dibawa ke rumah sakit juga mereka tidak akan mendapat jaminan bahwa mereka akan dirawat sebagaimana mestinya, karena rumah sakit kampung segaranten oper kapasitas.