
"Kurang ajar kamu Abduh, Bukannya kamu sudah bersedia untuk berbicara dengan Jasmine, agar dia tahu bahwa di sini ada Arjuna yang menunggunya. tapi kenapa sekarang kamu malah berbohong bahkan seperti tidak suka kalau aku mendekati adikmu." gerutu Nathan dengan wajah yang sangat kesal karena dia merasa malu semalu-malunya ketika dia sudah bangga memperkenalkan diri terhadap gadis yang selama ini ia sukai, tapi Gadis itu tidak mengenalnya Gadis itu hanya bertanya siapakah dirinya.
Mendengar sahabatnya uring-uringan Abduh semakin memperkeras suara tawanya dengan terpingkal-pingkal, seolah merasa puas dengan apa yang menimpa sahabatnya, dia tidak memperdulikan Nathan yang masih kesal bahkan menghampiri dirinya.
"Kurang ajar bukannya mikir, kamu malah menertawakanku seperti itu." bentak Nathan sambil menarik tubuh Abduh agar mendekat ke arah wajahnya.
"Wis.....! jangan main kasar Bro, ingat kalau kamu kasar di sini itu sama saja kamu sudah menunjukkan kekalahanmu secara jelas." jawab Abduh yang tetap tenang membuat Nathan dengan segera menghempaskan tubuh Abduh ke atas kasur.
Nathan merasa kesal sama sahabatnya,tapi dia tidak bisa melampiaskan karena memang itu kesalahan dirinya sendiri, kenapa dia percaya dengan seorang sahabat yang tidak pernah membantunya dalam masalah wanita. sehingga Nathan hanya bisa berjalan mondar-mandir seperti sedang merasakan kegelisahan yang sangat memenuhi dadanya.
"Jangan tertawa kamu Abduh, kalau kamu tidak mau menolong minimal kamu tidak menari di atas penderitaan orang lain. Lagian Kenapa kamu sangat tega sampai-sampai kamu tidak memberitahu Kalau kamu tidak menyampaikan pesanku terhadap Jasmin."
Abduh mengangkat bahu sambil meregangkan tangan, seolah tidak mau peduli dengan kesusahan sahabatnya. dari sudut bibir terlukis senyum penuh bahagia melihat wajah sahabatnya yang terlukis rasa malu yang begitu mendalam.
"Malah cengengesan.... bantuin gua apa!" gerutu Nathan yang masih berdiri.
"Bntuin apa? Ingat Jasmine itu adalah adikku Mana mungkin aku akan mempermudah perjuanganmu untuk mendapatkan cintanya, itu sama saja aku menjerumuskan Jasmine untuk hidup dengan pria yang tidak pernah gosok gigi sebelum tidur." ujar Abduh sambil bangkit dari tempat tidur Kemudian keluar dari kamar, namun sebelum pergi dia menatap kembali ke arah Nathan dengan begitu terus.
"Kalau kamu mau dengan Jasmine, kamu harus berusaha... buktikan bahwa kamu benar-benar mencintainya. kamu harus membuktikan dengan dua orang, yang pertama dengan diriku yang kedua dengan jasmine-nya sendiri. ingat aku tidak akan berada di pihakmu Untuk masalah ini."
"Huh, payah...! punya sahabat tidak bisa diandalkan." jawab Nathan masih dengan ada kesal.
__ADS_1
"Maaf siapa ya...." tanggap Abduh menirukan Jasmine ketika pertama kali menyapa Nathan.
"Eh dasar kurang ajar...!" bentak Nathan sambil mengambil bantal, kemudian melemparnya ke arah Abduh namun orang itu sudah keluar, sehingga bantal pun hanya mengenai pintu yang sudah ditutup.
"Haduh....! kenapa aku bodoh sih kenapa aku mengandalkan orang yang tidak becus bekerja. tapi baiklah kalau begitu Aku akan berusaha sekuat tenaga, agar aku bisa meluluhkan hati Jasmine. tunggu kamu buah hatiku, kamu akan tahu siapa aku sebenarnya." ucap Nathan dengan membetulkan kerah kaosnya menunjukkan rasa percaya diri yang begitu tinggi.
Jasmine tetap disibukkan dengan menyapa seluruh keluarganya yang sengaja datang untuk menemui dirinya karena saudara dari orang tuanya masih ada belum meninggal seperti orang tuanya. mereka menyambut dengan begitu meriah, karena kebaikan orang tuanya yang selalu menolong para saudara, Bahkan bukan hanya saudara saudara tetangga dan para warga Kampung pun mulai berdatangan menyambut kehadiran anak sekaligus adik pemimpin mereka.
Setelah melepaskan rasa kangen, semua keluarga pun berkumpul untuk makan bersama, karena Sarah yang dibantu oleh para tetangga dan para saudara sejak dari tadi pagi menyiapkan penyambutan Jasmine. karena Gadis itu sudah terlalu lama berada di tempat perantauan membuat Nathan tidak bisa berbuat banyak hanya bisa mencuri-curi Pandang dengan sudut matanya.
Nathan semakin kagum dengan kepribadian Jasmine yang sangat ramah, bahkan tidak sedikit teman-teman wanita ke usianya yang sengaja datang ke rumah, karena mereka merasa kangen dengan kawan yang sudah lama merantau. senyum Jasmine seolah menghentikan dunia mengalahkan keindahan yang ada di muka bumi ini, membuat Nathan betah berlama-lama menatap wajahnya. apalagi ketika wanita itu tertawa dengan lepas memamerkan gigi-gigi putih yang berbaris, membuat jantung Nathan semakin berdegup dengan kencang.
Hari itu Nathan tidak bisa berbuat banyak, jangankan untuk mengajak ngobrol untuk memandanginya saja dengan leluasa. Nathan sangat kesusahan karena Jasmine yang sangat ceria terus bergerak menyambut tamu yang datang, ketika dia diam itu pun hanya sebentar karena para tamu terus berdatangan.
Selesai melaksanakan acara Jasmine yang kelelahan dia pun berpamitan untuk masuk ke kamarnya, karena dia ingin beristirahat setelah Perjalanan yang sangat jauh membuat Nathan hanya bisa menggigit jari karena rencana yang sudah dimatangkan gagal seketika. Nathan berencana ketika malam tiba dia ingin mengajak ngobrol Jasmine dengan serius, Nathan tidak mau terlalu lama memendam perasaannya namun itu hanya angan-angan belaka, karena kenyataannya Jasmine sudah pergi meninggalkannya.
Di dalam kamar Abduh, mereka berdua masih mengobrol sambil melepaskan rasa lelah setelah melaksanakan acara syukuran. Nathan yang belum mau untuk berbaring dia masih duduk memandangi kolam yang terlihat ikannya besar-besar, Karena airnya sangat bersih ditambah lampu penerangan yang lumayan memadai.
Suara jangkrik dan suara ciang-ciang terdengar begitu nyaring, seolah menertawakan kemalangan Nathan pada hari itu, begitupun dengan suara kodok dan katak yang saling bersahutan menambah kegetiran hati Nathan.
"Ini semua gara-gara kamu Abduh, gara-gara kamu yang tidak menepati janji." ungkap Nathan yang masih menyalahkan sahabatnya.
__ADS_1
"Apa yang gara-gara aku Nathan?" tanya Abduh yang terlihat mengerutkan dahi.
"Iya kalau kamu memperkenalkanku ketika kamu menjemput Jasmine, mungkin malam ini aku tidak kesepian. mungkin malam ini aku sudah duduk di bangku yang ada di sana, berduaan membahas rencana masa depan yang begitu indah." ungkap Nathan sambil menunjuk bangku taman yang berada di tepian kolam. memang kalau dibayangkan itu akan sangat menyenangkan apalagi malam itu rembulan sudah menampakkan wujudnya.
"Kamu masih membahas itu aja, Kirain udah lupa?"
"Iyalah masa kamu lupa, aku datang ke sini bukan untuk kamu, tapi untuk Jasmine. tapi apa yang kudapat sekarang aku hanya dipermalukan oleh sahabatku sendiri, Padahal kalau tidak mampu menepati tidak usah berjanji."
"Yey.... Lagian siapa yang berjanji." sanggah Abduh menolak tuduhan Nathan.
"Kamu, tadi malam." jawab Nathan mengingatkan.
"Enak aja.... aku nggak pernah janji untuk menceritakan tentangmu terhadap Jasmine. aku hanya mengiyakan itu pun kalau ada waktu. dan Kenyataannya memang tidak ada waktu, aku bersama para warga lainnya duduk di mobil yang berbeda Jasmine berada di mobil yang paling depan bersama Kang Dadang. lagian buat apa membicarakan masalah seperti itu, karena ada yang lebih penting dari semua keinginanmu yaitu keselamatan kami yang selalu diincar oleh Kampung Cisaga. dan kamu harus tahu kalau mencintai gadis konflik maka beginilah resikonya."
Mendengar penjelasan dari sahabatnya pemuda itu pun menarik nafas dalam membenarkan apa yang disampaikan oleh Abduh, karena memang benar keselamatan lebih penting daripada apapun.
"Iya benar, kayaknya Aku terjebak Cinta Gadis konflik."
"Kok terjebak?"
"Karena Jasmine sudah mencuri Separuh Jiwaku, sebagian nafasku, mungkin akan mencuri seluruh hidupku karena aku sudah yakin bahwa dialah calon istriku. jadi aku tidak bisa lari dari jeratannya."
__ADS_1
"Halah mulai ngelantur, mendingan sekarang kamu tidur siapkan tenaga untuk perjuanganmu besok pagi, Itupun kalau benar kamu mencintai adik saya." ungkap Abduh dengan membaringkan tubuhnya di atas kasur lalu menutupnya menggunakan selimut.