
"Baru pulang mencari rumput Din?" tanya Manta sambil menatap ke arah orang yang baru datang.
Udin tidak langsung menjawab pertanyaan itu, dia mengatur nafas yang memburu menyusut keringat yang bercucuran membasahi dahi. merasa kasihan orang yang berada di situ mengambilkan air untuk minum kemudian diserahkan terhadap orang yang baru datang.
Tanpa ada penolakan Udin pun mengambil air itu lalu meneguknya beberapa kali, terlihatlah jakunnya yang turun naik seolah sedang menikmati air yang masuk membasahi tenggorokan. setelah Udin reda dari rasa capeknya dia pun ditanya kembali oleh Manta
"Kenapa, kayaknya kamu seperti sedang menemukan sesuatu yang sangat menakutkan?"
"Benar Kang!" jawab Udin sambil meneguk kembali air minum yang masih tersisa setengah gelas, Dia menghabiskan semuanya sampai Tak ada yang tersisa.
"Ketemu dengan siapa, bertemu dengan setan bukan, kayaknya kamu sangat ketakutan sekali?"
"Lebih dari itu kang saya bertemu dengan iblis berwujud manusia."
"Siapa?" tanya orang-orang di situ sambil menatap penasaran ke arah Udin.
"Darman kang, tapi Saya melihat hanya dari kejauhan Ketika saya mengambil rumput di tepian sungai perbatasan dengan Kampung Cisaga."
"Kamu tidak apa-apa?" tanya Manta sambil memperhatikan sekujur tubuh anak buahnya, Mungkin dia ingin memastikan kalau Udin tidak terluka sedikitpun.
"Tidak Kang, karena Darman tidak menyerang saya. mereka hanya berdua dan sepertinya sedang tidak menginginkan untuk berperang."
"Terus mereka lagi ngapain berada di perbatasan desa?"
__ADS_1
"Mereka hanya diam di saung sambil memetik buah kelapa. awalnya saya sudah bersiap-siap untuk berlari menyelamatkan diri, kalau-kalau mereka berdua mendatangi saya. tapi saya yang hanya berpura-pura untuk tidak melakukan provokasi dan fokus mencari rumput Mereka pun tidak mengganggu saya."
"Ini kesempatan Baik kang Manta, ini adalah waktu yang kita tunggu untuk membalaskan dendam Kang Adin yang masih terbaring di rumah sakit." Timpal seseorang yang sudah merasa gemas dengan kelakuan oleh Kampung Cisaga.
"Maksudnya kesempatan baik Bagaimana, kita Jangan gegabah dan jangan sampai salah langkah sehingga menimbulkan kerugian kembali."
"Kita intip mereka kalau benar-benar mereka berdua itu adalah kesempatan terbaik untuk membalaskan dendam, karena kalau hanya untuk melawan dua orang saja kita tidak mungkin kalah, jumlah kita yang lumayan banyak."
Mendengar saran dari temannya, Manta pun terlihat terdiam seperti sedang menimbang baik buruknya tindakan yang akan diambil. dia mengingat kembali dengan perdebatannya beberapa hari yang lalu dengan Dadang yang tidak memperbolehkan dirinya untuk melakukan tindakan tanpa seizin darinya, meski Dia tidak setuju dengan apa yang dilakukan oleh Dadang tapi untuk membantahnya Dia tidak memiliki keberanian.
CKenapa malah diam kang, Bukannya ini adalah waktu yang tepat untuk membalaskan dendam. benar apa yang dikatakan oleh Kang Heri, Sekaranglah waktunya untuk membalaskan dendam. apalagi orang itu adalah Darman orang yang suka membuat kerusuhan dan terus menyalakan api permusuhan di kampung kita. kalau bisa kita jangan kasih ampun, sekalian saja kita bunuh. Siapa tahu saja pertikaian ini akan berakhir kalau satu persatu pemimpin mereka kita lenyapkan." Timpal Adang yang membenarkan perkataan warga Kampung lain.
"Haduh saya bingung kalau seperti ini, karena walaupun Bagaimanapun saya tetap masih menghormati kang Dadang, semua keputusan harus keluar dari dirinya."
"Bagaimana kalau Kampung kita ini tetap tidak bisa berdamai?"
"Minimal kita bisa mengurangi intensitas peperangan karena salah satu otak serangan dari pihak musuh sudah kita Lumpuhkan. karena menurut keterangan yang saya dapat dari warga lain bahwa orang yang sering merencanakan penyerangan terhadap warga Kampung Sagaranten adalah Darman. Coba kita rasakan sesaat ketika dia berada di penjara, intensitas serangan tidak terlalu tinggi. hanya ada perebutan paham tidak sampai ada korban jiwa yang harus dilarikan ke rumah sakit." jawab Heri menjelaskan.
Manta pun terdiam kembali merasakan apa yang disampaikan oleh para warga Kampung Sagaranten. setelah dipikir memang ada benarnya ketika Darman berada di penjara serangan itu tidak terlalu sering, hanya sesekali saja itu hanya menimbulkan peperangan yang sangat parah hanya menimbulkan luka ringan. akhirnya Manta pun memutuskan untuk mengikuti kemauan warga Kampung lain untuk menyerang Darman yang sedang lengah, tidak apa-apa dia masuk ke penjara yang terpenting kampungnya bisa aman kembali.
"Bagaimana Kang? Jangan membuang waktu Nanti keburu Mereka pergi." tanya Adang mendesak agar Manta segera mengambil tindakan.
"Ya sudah kalau begitu kita pastikan saja dulu apakah mereka hanya berdua ataupun lebih, karena kalau lebih itu tidak menguntungkan bagi kita, minimal kemungkinan menang harus di atas rata-rata, dan kita usahakan agar dari pihak kita tidak ada yang terluka sedikit pun. sekarang ayo siap-siap!"
__ADS_1
"Dari kemarin kita kan sudah siap, Kita hanya tinggal menunggu perintah Akang untuk menyerang Kampung Cisaga."
"Ya sudah kalau begitu ayo kita pergi."
Akhirnya Manta bangkit dari tempat duduknya kemudian mengambil senjata yang selalu disiapkan di depan pintu rumah, berjaga-jaga kalau ada serangan datang secara tiba-tiba. Setelah semuanya dirasa rapi mereka yang berjumlah tidak kurang dari 20 orang berjalan menyusuri jalan kecil mengendap-ngendap agar tidak ada warga yang mengetahui, Soalnya kalau acara penyerangan itu berhembus ke telinga Dadang maka sudah bisa dipastikan pengepungan Darman akan batal dilaksanakan
Mereka terus mengendap-ngendap di balik rimbunnya pepohonan, agar tidak menimbulkan kecurigaan. setelah sampai di tempat yang dituju mata mereka pun menatap ke arah Saung yang terlihat ada dua orang yang sedang duduk sambil menikmati dengan yang baru saja dikupas
Darman dan Wanto mereka berdua terlihat kekenyangan karena sudah menghabiskan beberapa degan, sehingga mereka hanya terdiam sambil menyandarkan punggung ke tiang Saung, menikmati sebatang rokok yang ada di tangannya matanya menatap ke arah jauh seperti sedang mengukur Di mana letaknya ujung langit
"Aduh kenyang banget To, Kalau kenyang begini Bawaannya ngantuk."
"Kalau ngantuk Mendingan pulang saja kang, jangan tidur di sini. karena ini adalah daerah rawan Pasti sangat berbahaya kalau lama-lama berada di sini." ujar Wanto mengingatkan karena perasaannya sudah tidak enak sejak dari tadi karena pertikaian lebih sering berada di tempat itu, sehingga kejadian-kejadian yang mengerikan selalu membuat Wanto terus teringat menjadikan trauma yang begitu mendalam, kalau tidak takut dengan Darman mungkin sejak dari tadi dia sudah pergi meninggalkan Saung yang berbatasan dengan Kampung sagaranten.
"Kalau kamu takut, pindahkan saja kemaluanmu ke dahi. jadi cowok itu jangan penakut harus pemberani!" Jawab Darman dengan entengnya.
"Berani itu harus memiliki dasar yang kuat, kalau tidak memiliki dasar itu bukan pemberani tapi itu adalah kelakuan yang sembrono." gumam hati Wanto yang tidak berani mengungkapkan. Akhirnya dia pun terdiam sambil mengerok daging degan kemudian memasukkannya ke dalam mulut. namun ketika dia mau menelan tiba-tiba ke Saung mereka sudah datang gerombolan orang dengan membawa senjata yang begitu lengkap, membuat Wanto memuntahkan kembali dengan yang sudah berada di dalam mulutnya.
"Hahaha memang kalau sudah tahu ajalnya tidak akan jauh-jauh pergi ke mana-mana, kalian seperti seorang menantang malaikat maut menjemput." ujar Heri sambil menyeringai memamerkan gigi, di tangannya terlihat ada Parang yang sangat panjang berwarna putih memantulkan cahaya membuat getir hati orang yang menatapnya.
Mendengar ancaman seperti itu Darman pun bangkit dari tempat duduknya, kemudian dia pun bertolak pinggang tanpa memperlihatkan sedikitpun ketakutan di wajahnya. Dia terlihat gagah dan berani menghadapi puluhan orang yang sedang mengepung, matanya yang seperti mata elang membagi tatap ke arah orang orang yang sedang berdiri di hadapan, seperti sedang mencari sesuatu Tapi itu tidak lama karena Herman pun terlihat tertawa terbahak-bahak.
"Dasar gil4! kenapa malah tertawa?" bentak Adang yang merasa kesal, karena walaupun dari tadi banyak orang Darman masih terlihat santai.
__ADS_1
"Mungkin dia sudah tahu tempat tinggalnya di neraka, jadi dia merasa bahagia dan tertawa seperti orang yang kurang waras." Timpal Heri membuat Darman menatap tajam ke arahnya.