
Mendengar cerita dari ketua Kampung Sagaranten, Nathan yang sejak dari tadi memperhatikan dia pun manggut-manggut seolah mengerti dengan apa yang diceritakan. memang kalau menyangkut masalah harga diri dan keluarga itu tidak bisa didamaikan, apalagi sampai kehilangan untuk selama-lamanya.
"Kamu mengerti kan sekarang, kenapa warga kampung di sini terus terusan bertikai dengan warga Kampung Cisaga?" tanya Dadang sambil menatap ke arah Nathan.
"Mengerti Kang. Maaf kalau saya salah berucap." ujar Nathan yang tidak ragu untuk mengakui kesalahannya.
"Tidak apa-apa karena mungkin kamu belum tahu situasi dan kondisinya di sini, yang di luar akal sehat. karena biasanya manusia akan memilih untuk hidup dengan damai berdampingan dengan warga Kampung lain, tapi di sini lebih memilih mementingkan ego demi sebuah nama yang dibanggakan, yaitu kehormatan." Jawab Dadang sambil menghela nafas dalam, seolah enggan membayangkan apa yang akan dihadapi oleh warga kampungnya.
"Kasihan sekali warga kampung di sini yang harus hidup dalam ketakutan. Apakah saya boleh membantu mencari cara supaya kedua kampung konflik ini bisa berdamai?"
"Terima kasih atas kesediaannya. Tapi kamu jangan terlalu percaya diri karena jangankan anak kemarin sore yang baru selesai kuliah. orang yang sudah lama bekerja di bidang perkomplikan belum bisa menangani masalah yang terjadi. tapi kalau itu tujuanmu saya akan dukung semampu saya, karena saya juga merasa kasihan dengan istri saya yang selamanya dihantui oleh ketakutan. takut kalau suaminya tidak pulang kembali ke rumah. takut kalau adik atau keluarganya tidak bertemu lagi di esok hari. karena serangan terus dilancarkan dengan tanpa henti, seolah tidak memiliki kelelahan dalam bertikai." jawab Dadang sambil menggenggam tangan Sarah yang berada di sampingnya. kemudian mencium punggungnya menunjukkan bahwa dia sangat menyayangi wanita yang selalu menemaninya, baik dalam keadaan suka maupun duka.
Mendengar perkataan Dadang, tiba-tiba air mata Sarah pun yang awalnya mengembun sekarang mulai jatuh membasahi pipi, karena apa yang disampaikan oleh suaminya Memang begitulah keadaannya. Dia tidak enak makan, dia tidak enak minum, tidak nyenyak tidur, takut kalau sewaktu-waktu ada serangan yang mendadak.
Melihat air mata yang jatuh Dadang dengan segera mengusapnya menggunakan ibu jari, kemudian mengusap lembut punggung istrinya dengan begitu lembut, seolah dia tidak malu memamerkan kemesraan di hadapan umum, karena memang begitulah sikapnya yang sangat perhatian dan penyayang baik dengan keluarga ataupun warga Kampung sagaranten sehingga Dadang selalu memiliki tempat di hati orang-orang yang mengenal.
__ADS_1
"Aku dan istriku. setelah kejadian pembunuhan kedua orang tuaku kami memutuskan untuk tidak memiliki anak karena kami takut kalau anak kami hidup dalam ketakutan, ancaman dan kecelakaan, sama seperti yang sudah kami alami. makanya kenapa kami mengirim Abduh dan Jasmine Untuk berkuliah jauh dari kampung, karena kami tidak ingin mereka merasakan kengerian yang kami rasakan." ungkap Dadang dengan suara parau menandakan kesedihan yang begitu mendalam, soalnya lelaki mana yang tidak ingin memiliki seorang anak, tidak ingin memiliki penerus dalam keluarganya. tapi dengan keadaan yang sedang konflik Dadang harus menyampingkan kebahagiaan itu demi kebaikan bersama.
"Apakah kang Dadang tidak ingin pindah dari kampung Sagaranten, mencari kampung yang lebih aman dan damai karena kita dianjurkan untuk berhijrah ketika di kampung satu tidak menemukan kebahagiaan." tanya Nathan mencoba menawarkan solusi yang lain, agar Kampung mereka tidak selalu berkonflik dengan Kampung Tetangga.
"Ini Tanah kami, dan Kampung ini adalah Kampung kelahiran kami kalau bukan kami yang menjaga, kalau bukan kami yang mengurus, mau mengandalkan siapa lagi kami tidak ingin warisan leluhur kami ditinggalkan begitu saja. karena tanah ini bukan didapat dari hasil mengemis ataupun meminta, Tanah ini didapat hasil para pejuang yang memperjuangkan kemerdekaan, mengorbankan jiwa raga sampai tetes darah penghabisan." jawab Dadang yang mengerti kemana arah tujuan pembicaraan Nathan.
Mendengar jawaban ketua Kampung Sagaranten. Nathan pun hanya menghela nafas dalam merasa susah menghadapi orang yang keras kepala, karena mungkin pertikaian ini tidak akan terus berlanjut kalau salah satu dari mereka mengalah, karena sejatinya manusia itu kalau tidak bisa merubah manusia lain maka dirinya sendirilah yang harus berubah, diri sendirinya lah yang harus mengalah menghindari konflik yang terus berkelanjutan.
"Sudah ini bukan kampung kamu dan bukan tempat kelahiran kamu. pasti kamu tidak akan mengerti dengan apa yang sedang kami rasakan. sekarang kalian istirahat saja jangan sampai acara lamaran Abduh terganggu!" Pinta Dadang mengakhiri musyawarah, kemudian dia pun bangkit dari tempat duduknya untuk mengajak Manta melanjutkan obrolan di halaman belakang, karena dia ingin berbicara sesuatu yang sangat serius.
Seperginya Dadang. Sarah yang sejak dari tadi terdiam dia pun menghampiri Jasmine kemudian mengajaknya untuk masuk ke dalam, dia menghibur adiknya agar tidak sakit hati Kalau kakaknya marah-marah, Karena itu adalah bukti tanda kasih sayang yang diberikan seorang kakak, sekaligus orang tua yang sangat menyayangi adiknya. Sedangkan Abduh dan Nathan dia tetap duduk di teras, membahas kejadian yang baru saja mereka alami.
"Kalian memang benar-benar ceroboh, Bagaimana kalau warga Kampung Cisaga menyerang kembali kampung kita, apalagi sekarang kekuatan mereka sangat penuh sekembalinya Darman dari penjara" tanya Dadang mulai mengawali pembicaraan sambil membagi tatap ke arah orang-orang yang hadir di dalam Saung.
"Kayaknya kalau untuk menyerang datang seperti lima tahun yang lalu, mereka tidak akan memiliki keberanian, karena warga Kampung kita jauh lebih banyak dan lebih besar. paling juga mereka akan mengintai dan mencari kelemahan setelah ada celah barulah mereka menyerang, seperti yang sudah dilakukan ketika menyerang Kang Andi dan Kang Dadang Ketika pulang menjemput Abduh." jawab Manta yang merasa yakin dengan kekuatan Kampung sagaranten.
__ADS_1
"Kita Jangan meremehkan kekuatan musuh. Lima tahun yang lalu sudah berbeda jauh dengan sekarang, mereka terus menjalin ikatan dengan kampung yang lain agar membantu kampungnya ketika terjadi perang. dan mungkin bisa jadi sekarang mereka terus mencari-cari masalah agar perang itu meletus kembali, karena mereka sudah yakin mampu menghadapi kekuatan kita, dan akhirnya kita pun terpancing untuk memulai keributan kembali dengan warga Kampung Cisaga, dimulai kamu dengan menyerang Darman."
"Insya Allah semuanya tidak akan terjadi kang. Dan kalau itu pun terjadi kami semua akan selalu merapatkan barisan, bahu-membahu menjaga agar Kampung kita tetap aman."
"Harus. kita harus mulai memperketat ronda malam, bahkan kalau perlu kita adakan ronda siang, karena melihat kejadian yang baru saja kalian lakukan ini akan memantik kembali amarah Sutardji dan Darman yang masih menaruh dendam terhadap warga Kampung kita, karena gara-gara perkelahian waktu itu sampai-sampai membuat orang tuanya harus masuk rumah sakit dan Darman masuk penjara."
"Baik Kang, Sekali lagi saya mohon maaf atas keteladoran saya namun saya berjanji tidak akan mengulanginya lagi, saya akan setia patuh terhadap perintah Akang."
"Bagus kalau begitu, sekarang kalian pulang kemudian laksanakan perintah saya jangan sampai gara-gara keteladoran kalian adik saya yang mau menikah akan terganggu."
Akhirnya mereka pun berpisah. Dadang kembali masuk ke dalam rumah untuk mengobrol dengan keluarganya, sedangkan Manta bersama rekan-rekannya, mereka pun pulang ke rumah masing-masing, kemudian mengadakan musyawarah untuk menggiatkan kembali ronda agar Kampung mereka tetap aman.
Keadaan pun kembali normal seperti biasa yang ditakutkan tidak terjadi, warga Kampung Cisaga tidak sedikitpun melakukan serangan balasan seperti yang dikhawatirkan oleh Dadang. keadaan Kampung Sagaranten terlihat kembali normal, Adin yang di rumah sakit sudah pulang ke rumah, Abduh Yang sebentar lagi mau mengadakan lamaran Dia terlihat selalu mengulum senyum tidak sabar ingin segera meminang kekasih hatinya yang bernama Yanti.
Tring! tring! tring!
__ADS_1
Siang itu ketika Nathan berada di dalam kamar dia dikagetkan dengan handphonenya yang berbunyi, setelah melihat Siapa yang memanggilnya dia pun keluar untuk mengangkatnya.
"Halo ada apa Ayla?" tanya Nathan setelah teleponnya terhubung.