
"Iya Kang. Yanti sangat senang mendengar kesiapan Akang yang akan melamar Yanti. tapi di satu sisi Yanti juga harus berbicara terlebih dahulu dengan orang tua, karena walau bagaimanapun sekarang Yanti masih berada dalam tanggung jawab mereka. meski Yanti sudah sangat dewasa dan sudah bisa menentukan jalan hidup sendiri."
"Benar memang tugas seorang perempuan adalah mentaati orang tuanya, namun ketika mereka sudah menikah maka mereka harus taat terhadap suaminya, bukan tidak boleh taat kepada orang tua setelah menikah, tapi kepentingan keluarga lebih utama dari semuanya. dan bagi kaum laki-laki yang mereka bertanggung jawab atas perempuan mereka juga harus mengerti tentang tugasnya seorang anak yang diemban oleh istrinya, laki-laki tidak boleh mau menang sendiri, mereka harus tetap menghargai dan menghormati istrinya dengan menghormati keluarganya, karena meski laki-laki berada di atas segalanya, tapi ingat perempuan itu tidak akan tumbuh dengan begitu cantik, kalau tidak ada orang tua yang bersusah payah membesarkannya. jadi dalam hal ini harus saling pengertian." Timpal Nathan yang membenarkan perkataan Yanti, yang tidak boleh gegabah dalam mengambil keputusan, karena Yanti masih memiliki orang tua.
"Yah, kasih tahu mereka terlebih dahulu nanti kalau mereka sudah Siap, Akang akan berbicara dengan kang Dadang, untuk mendatangi rumah Yanti, meminta izin kepada orang tua." sahut Abduh yang membenarkan.
"Iya nanti Yanti akan berbicara dengan mereka tentang hubungan kita, dan tentang kita setelah menikah. tapi Yanti ingin tahu apakah Kak Nathan benar-benar serius ingin mengajak saya dan Kang Abduh untuk tinggal di Bogor, dan Apakah benar kalau kami tinggal di Bogor Kami boleh mengajak orang tua kami?" tanya Yanti dengan mengalihkan pandangan terhadap Nathan, matanya yang berlinang menatap lekat ke arah pemuda itu, seolah ingin tahu isi di dalam hatinya.
"Insya Allah saya seriu, dan saya akan berusaha semaksimal mungkin untuk mewujudkan kebahagiaan kalian, karena saya dan Abduh bukan orang yang baru kenal, mungkin Abduh lah yang mengetahui isi hati dan kehidupan saya, Karena antara saya dan Abduh tidak ada rahasia."
"Ya sudah nanti Yanti akan bicarakan terlebih dahulu dengan mereka."
Akhirnya pembicaraan itu terus dilanjutkan dengan pembicaraan ngalor ngidul, namun tidak terlepas dari pembahasan pembahasan yang akan mereka kerjakan setelah mendapat keputusan dari orang tua Yanti, baik keputusan yang menyenangkan atau keputusan yang akan menyakitkan, mereka berdua sudah mengantisipasinya.
Sebelum Ashar, Yanti pun berpamitan untuk pulang terlebih dahulu ingin mengganti pakaian setelah seharian membantu dan mengobrol di rumah kekasihnya. Sarah yang merasa terbantu dia pun menitipkan makanan untuk orang tua Yanti yang tadi siang tidak ikut hadir dalam acara makan bersama.
Suasana pun terlihat sangat cerah, secerah harapan Yanti yang sudah mendapat kepastian dari kekasihnya, hanya tinggal membicarakan dengan kedua orang tua untuk mendapat keputusan yang terbaik, meski harapan cerah itu ada sedikit berawan yang menghalangi, namun itu bisa membuat Yanti sedikit merasa lega karena sudah mendapat kepastian.
Setelah melaksanakan salat Isya berjamaah dan perempuan salat di di kamar yang berada di rumah masing-masing, keluarga Yanti terlihat sedang mengobrol Sehabis makan malam sambil melepaskanlah setelah seharian bekerja di sawah dan di kebun.
Marna yang merasa heran kenapa anaknya ikut bergabung karena biasanya Yanti lebih memilih masuk mengurung diri di kamar, untuk berteleponan atau menonton film kesukaannya, sekarang sangat berbeda karena anak yang paling besarnya itu bergabung seperti hendak menginginkan sesuatu, karena memang begitulah kebiasaannya para anak-anak yang akan menunjukkan, kebaikan ketika dia ingin mendapat imbalan.
"Ada apa neng?" tanya Marna di sela-sela jeda iklan televisi.
"Maksudnya ada apa Bagaimana Pak?" tanya Yanti dengan tetap menundukkan pandangan, seolah dia tidak mau kalau wajahnya terlihat, takut isi hatinya diketahui oleh kedua orang tuanya itu.
__ADS_1
"Biasanya kalau kamu menginginkan sesuatu atau ingin menyampaikan hal yang penting kamu akan ikut menonton televisi."
"Ah bapak, nggak kok!" Ujar Yanti yang terlihat wajahnya memerah berubah menjadi tomat, membuat kedua orang tuanya semakin yakin bahwa anaknya sedang menginginkan sesuatu.
"Jujur aja! ibu akan siap membantu selama permintaan Yanti bisa Ibu turuti." Timpal Sumiati sambil mengambil tangan anaknya, kemudian dielus dengan begitu penuh kasih sayang.
"Beneran! Yanti tidak apa-apa, Yanti ingin menonton televisi aja."
"Apa kuota internetmu habis?" tanya Marna mulai menebak.
"Enggak Pak, biasanya Kang Abduh mengisi penuh kuota Yanti untuk sebulan."
Mendengar nama Abduh disebut, kedua sudut bibir Sumiati pun terlihat mengembang, seolah mengetahui apa yang terjadi dengan anaknya. apalagi tadi siang dia sudah berkunjung ke rumah pacarnya, dengan alasan menemui sahabat ketika waktu sekolah di SMA. dengan segera Sumiati pun membetulkan tempat duduk kemudian menggenggam tangan anaknya dengan begitu erat, seolah mengisyaratkan bahwa dirinya berada di pihak anaknya.
"Tidak ngapa-ngapain Bu, hanya bantu Bi Sarah yang menyiapkan makanan untuk kang Dadang dan para tamunya."
"Bagaimana keadaan Jasmine sehat?"
"Alhamdulillah sehat bu, Bahkan dia terlihat semakin cantik, maklum tinggal di negara yang diinginkan oleh setiap orang."
"Terus kalau kakaknya bagaimana?" tanya Sumiati sambil mengedipkan mata.
"Kang Dadang," jawab Yanti yang menundukkan pandangan merasa malu seolah isi hatinya sudah diketahui.
"Bukan yang satunya lagi."
__ADS_1
"Oh Kang Abduh, dia sehat kok Bu tidak ada yang kurang apapun, meski kemarin ketika pulang diserang oleh warga Kampung Cisaga. Sekarang Dia sebentar lagi mau lulus kuliah dan akan tinggal di Bogor mengikuti sahabatnya." Jawab Yanti yang terlihat panjang lebar.
"Syukurlah kalau sehat, Kapan dia mau main ke sini lagi."
"Anu Bu, anu...!" jawab Yanti yang sedikit cari gugup seolah menandakan dia sudah kalah pembicaraan.
"Jangan gugup! kalau kamu mau cerita, cerita saja! siapa tahu saja kami berdua bisa membantu." ujar Sumiati yang selalu lemah lembut terhadap anaknya karena memang begitulah seorang perempuan yang akan lebih mengerti dengan sifat anak perempuannya.
"Begini Bu, Yanti sebenarnya mau jujur."
"Nah gitu dong, Jadi orang itu harus berani berbicara, jangan diam nanti yang ada malah Jadi beban pikiran." Timpal Marna yang sejak dari tadi dia memperhatikan.
"Sudah Bapak jangan ikut ngomong biarkan anaknya berbicara."
"Iya, iya. tapi Ibu harus ingat kalau Yanti juga itu anak bapak, bukan anak ibu sendiri. Jadi tidak apa-apa kan kalau bapak ikut nimbrung."
"Iya anak bapak sendiri juga nggak apa-apa, sudah Bapak diam dulu Ibu mau bertanya lagi." pungkas Sumiati sambil menatap kembali ke arah anaknya yang sejak dari tadi hanya tertunduk seolah malu berbicara dengan mereka.
"Cantik kamu mau jujur tentang apa?" tanya Sumiati dengan lemah lembut penuh sikap keibuan.
"Begini bu, sebelumnya Yanti mau minta maaf terlebih dahulu karena selama ini Yanti hanya bisa merepotkan bapak dan ibu, belum bisa membalas kebaikan kalian berdua." ungkap Yanti dengan wajah sedihnya.
"Tidak merepotkan kok, karena memang begitulah tugas orang tua yang harus mengurus anaknya, dan ibu minta maaf terhadap Yanti kalau kami banyak salah dan banyak khilaf ketika mengurus dan memperselakan kamu."
"Terima kasih kalau ibu dan bapak mau memaafkan Yanti, dan Yanti ingin menyampaikan sesuatu." ungkap Yanti namun tidak diteruskan seolah tenggorokannya ada yang menutupi.
__ADS_1