
Rombongan Darman pun berlari mengikuti jejak Nathan dan Abduh yang sudah melarikan diri, mereka harus kesusahan karena kendaraan yang berada di kampung Sagaranten mereka bakar semuanya tak tersisa meski hanya satu.
Asap asap mengepul dari rumah yang dibakar dari kendaraan yang mereka hanguskan, teriakan dan tangisan bercampur menjadi satu bahkan ada beberapa wanita yang memiliki keberanian atau merasa frustasi dengan kejadian yang menimpa keluarganya, melempari Sutardji dengan batu yang ada dekatnya. namun sutarji tidak terlalu mempedulikan serangan itu karena menurut dirinya bertarung dengan wanita itu adalah perbuatan seorang pengecut, Sutardji hanya mau menghancurkan pihak laki-lakinya saja karena laki-laki lah yang suka membuat kerusuhan.
Mereka terus berlari sampai akhirnya berhenti ketika bertemu dengan jenazah Darman yang sudah tak bernyawa. benar apa yang dikatakan oleh anak buah Sutardji bahwa tubuh dan kepala Darman Sudah terpisah. melihat adiknya mengalami hal yang begitu naas sutarji pun mengeratkan gigi mengepalkan tangan dalam hatinya berjanji akan membalas dendam rasa perih rasa sakit yang dirasakan oleh Darman.
"Kejar orang itu, jangan biarkan dia lolos, kita harus mendapatkannya hidup ataupun mati." seru Sutardji sambil berlari meninggalkan tubuh Darman begitu saja diikuti oleh anak buahnya yang mengikuti di belakang.
Sedangkan orang yang dikejarnya mereka terus berlari menggunakan sisa-sisa tenaga untuk membawa Abduh ke rumah sakit terdekat, namun Abduh yang sudah tidak kuat lagi Dia meminta Nathan untuk berhenti.
"Sabar Abduh, sabar! kamu pasti selamat, kamu harus kuat, Kamu tidak boleh meninggal. sabar Abduh sabar!" jawab Nathan sambil terus berlari.
"Tolong berhenti, tolong!" ucap Abduh sambil menggerak-gerakan tangannya menghentikan pelarian, suaranya yang terbata-bata membuatnya semakin mengkhawatirkan.
Jasmine yang berjalan di belakang dia hanya menangis sambil terus menguatkan kakaknya. "Sabar Kak, sabar! sebentar lagi kita sampai ke Puskesmas."
"Tolong, tolong berhenti, tolong!" ucap Abduh yang sudah tidak kuat lagi.
Nathan yang merasa tidak tega dia pun meletakkan tubuh sahabatnya disandarkan ke pohon yang berada di samping jalan, dia mengusap darah yang terus keluar dari bibir sahabatnya.
__ADS_1
"Abduh Kenapa kamu minta berhenti, sebentar lagi kita akan sampai ke rumah sakit. kamu yang kuat, kamu pasti akan selamat." tanya Nathan dengan suara yang bergetar Bahkan bukan hanya suaranya saja tubuhnya pun melakukan hal yang sama, merasa sedih melihat sahabatnya terluka sangat parah.
Abduh tidak menjawab, Dia hanya mengangkat tangannya. dengan segera Nathan pun menggenggam tangan sahabatnya dengan begitu erat, seolah sedang memberikan kekuatan agar Abduh bisa bertahan dari luka yang ia Derita.
"Hehehe, aku minta tolong sama kamu!" ucap Abduh yang masih bisa tersenyum walau dalam keadaan yang sangat genting.
"Minta tolong apa Abduh, tenang kamu pasti akan selamat. Ayo kita lanjutkan perjalanan lagi!" ajak Nathan yang hendak menggendong kembali tubuh sahabatnya namun dengan segera Abduh pun menolak.
"Sebelum aku pergi, Aku mau kamu berjanji."
"Berjanji Apa Abduh, berjanji apa?" tanya Nathan dengan suara yang bercampur dengan suara tangis. "kamu akan baik-baik saja, kamu tidak akan pergi kemana-mana." lanjut Nathan semakin erat memegang tangan sahabatnya seolah tidak mau terjadi sesuatu hal yang buruk kepada Abduh.
"Aku selalu menolak kamu mendekati Jasmine, sekarang aku mohon kamu bawa adikku pergi jauh dari kampung terkutuk ini dan jangan biarkan dia kembali ke sini. jaga dia, bahagiakan dia, jangan sampai kamu melukainya karena sesuai dengan yang aku ucapkan ketika Jasmine sedih maka akulah yang lebih sedih." Pinta Abduh dengan suara terputus putus.
Tapi Aduh tetap menolak dia menyandarkan tubuhnya ke pohon seperti sudah tidak memiliki kekuatan untuk bertahan, matanya perlahan .mulai mengatup namun bibirnya terlihat mengulum senyum
"Abduh, Abduh, sadar Abduh, Abduh." Panggil Nathan sambil menggerak-gerakan tubuh sahabatnya.
Semakin lama tubuh Abduh semakin lemah, bahkan tangan yang digenggam oleh Nathan dan Jasmine sudah tidak memiliki kekuatan, tangan itu terlihat sangat lemas, matanya mulai perlahan mengatup, nafasnya mulai memburu, hingga akhirnya nafas itu keluar sekali dengan nafas yang agak sedikit keras, Abduh melepaskan nyawanya berpisah dengan raga.
__ADS_1
"Tidak....! tidak, Kakak jangan pergi...., bangun Kak bangun Jasmine takut kalau hidup sendirian." teriak Jasmine dengan histeris tangisnya pecah kembali tubuhnya mulai merasa lemas dengan apa yang menimpa keluarganya, karena dari keluarga orang tua hanya Jasmine lah yang tersisa.
"Aduh bangun, Abduh kamu jangan pergi, Abduh, Abduh, Abduh.....!" Panggil Nathan sambil menggerak-gerakan tubuh sahabatnya untuk membangunkan kembali. namun sayang raga yang ditinggalkan oleh Abduh tidak memberikan respon, tubuh Abduh terkulai dengan lemas kepalanya sudah tidak bisa tegak berdiri, darah terus mengalir dari arah perut dan punggung, akibat tusukan golok yang dilancarkan oleh Darman.
"Tunggu kalian, tunggu....!" belum saja selesai dari rasa terkejutnya, terdengar suara teriakan dan sorak-sorai yang begitu mengerikan meminta mereka untuk berhenti.
Setelah melihat ke arah datangnya suara Nathan pun terkejut karena warga Kampung Cisaga terus mengejarnya, sekarang yang mengejar semakin banyak karena hampir seluruh kampung yang sudah menghabisi musuhnya ikut mengejar.
Melihat kenyataan yang begitu menyakitkan, Nathan pun dengan segera menarik tubuh Jasmine untuk meninggalkan Abduh yang sudah tidak bernyawa, Jasmine meronta-ronta ingin melepaskan diri.
"Biarkan, biarkan aku mampus sekalian, biar mereka puas dengan apa yang menimpa dengan keluargaku." ujar Jasmine dengan putus asa
Nathan tidak menghiraukan perkataan Gadis itu, dia terus menarik tangan Jasmine agar segera menjauh dan berlari menyelamatkan diri, bahkan Nathan sampai memanggul Jasmine di pundaknya kemudian dia berlari menggunakan sekuat tenaga.
"Jangan lari Kau pengecut, Jangan lari. kejar, Ayo kejar! Habisi Mereka jangan sampai ada yang tersisa!" teriak sutarji sambil mempercepat langkah pengejarannya dia ingin segera menuntaskan dendam Darman yang sudah meninggal, agar dia bisa hidup tenang kalau tidak memiliki musuh, tanpa ada hutang nyawa.
Nathan dan Jasmine terus dikejar meski melewati perkampungan, tapi mereka tidak ada yang mau menolong karena mereka tidak mau mencampuri urusan orang lain yang sudah mengakar sampai ke anak cucu. kedua kampung itu sudah bukan rahasia lagi kalau selalu melakukan penyerangan ataupun diserang, bahkan tidak sedikit merugikan Kampung lain yang tidak tahu menahu, karena mereka bertarung tidak memiliki tempat dan aturan dimana Mereka bertemu maka di situlah terjadinya konflik.
Ada beberapa kampung yang berbaik hati memisahkan kedua kampung yang selalu berkonflik, tapi mereka malah dijadikan musuh bersama, sehingga dari saat itu mereka sudah tidak mau tahu dengan urusan Kampung Sagaranten ataupun kampung Cisaga, karena orang-orangnya sangat keras kepala.
__ADS_1
"Kak, Kak Abduh...., kang Dadang.... Maafkan Jasmine....!" hanya kata itu yang keluar dari mulut wanita yang sedang digendong oleh Nathan, dia tidak henti-hentinya menangis terus meronta ingin melepaskan diri, dia ingin menghadapi Sutardji sendirian. tapi Nathan yang sudah berjanji akan membawa dan menjauhkan Jasmine tidak akan membiarkan Itu semua terjadi. Dia akan menyelamatkan Jasmine semampunya sampai tetes darah penghabisan.
Semakin lama para pengajar pun semakin mendekat karena mereka mengejar tanpa membawa beban seperti Nathan yang membawa tubuh Jasmine di pundaknya. hati Nathan mulai berdebar, jantungnya mulai berdegup, karena dia dihadapkan dengan kematian dan takut tidak bisa menepati janjinya. namun pertolongan akan selalu datang kepada orang-orang yang selalu berusaha keras, dari arah belakang terlihat ada mobil colt pengangkut sayuran yang berjalan begitu ngebut, sambil membunyikan klakson membuat orang-orang yang sedang mengejar loncat ke arah samping menghindari mobil yang seperti kesetanan.