Terjebak Cinta Gadis Konflik

Terjebak Cinta Gadis Konflik
Perih


__ADS_3

"Kamu harus kuat, kamu harus bisa melupakan semua kejadian buruk yang menimpa keluargamu. bangunlah kehidupan yang baru yang jauh dari konflik. Paman yakin kalau kamu akan hidup bahagia," ujar Manta sambil kembali memeluk Jasmine dengan begitu erat, seperti sedang mencurahkan semua kesedihan bersama gadis konflik Kampung sagaranten.


Jasmine tidak menjawab, hanya deraian air mata dan isakan Tangis yang mewakili semua perasaannya hari itu. hatinya sangat hancur kedua kakak yang sangat ia kagumi, yang ia sangat sayangi sekarang sudah tidak ada di dunia ini lagi, meninggal dibunuh oleh Darman warga Kampung Cisaga sebagai musuh bebuyutan Kampung sagaranten.


"Sudah kamu tidak boleh menangis lagi, Paman berjanji akan mengurus semua hartamu dan nanti kalau sudah kondisinya aman maka kita akan bertemu kembali untuk membicarakan semua. sekarang doakan Paman agar selamat supaya Paman bisa mencari tubuh Kak Abduh dan menguburkannya bersama Kang Dadang." lanjut Manta setelah tidak mendapat jawaban.


Setelah dirasa cukup Manta mulai melepaskan pelukannya kemudian menepuk kedua bahu Jasmine seolah sedang memberikan kekuatan agar gadis konflik itu bisa kembali kuat memulai kehidupannya, kehidupan yang mungkin jauh akan menyedihkan atau kejadian sekarang adalah puncak kesedihan dalam hidupnya, karena kehidupan tidak ada yang bisa ditebak selanjutnya Bagaimana, namun manusia tetap harus berusaha agar kehidupannya semakin lebih baik dan semakin bahagia.


Dengan berat hati Manta masuk kembali ke dalam mobilnya setelah membalikkan arahnya dia pun mengklakson sekali untuk berpamitan kepada kedua orang yang masih berdiri menatap sayu ke arahnya, seolah enggan ditinggalkan namun Manta yang memiliki jiwa tanggung jawab yang sangat besar,  dia tetap harus pergi demi mengurus semua yang sudah terjadi.


Suasana Hari itu terasa sangat terik, akibat hujan Sudah lama tidak mengguyur bumi. pohon-pohon terlihat kering bahkan tidak sedikit yang mati tidak kuat menahan panasnya suasana kala itu. orang-orang yang belum menanam padi mereka semakin kebingungan bagaimana mereka akan melanjutkan kehidupan, karena Harapan satu-satunya sawah yang mereka miliki tidak bisa digarap akibat kekurangan air.


Matahari yang cuma hanya satu memancarkan sinar begitu panas, seolah membakar amarah amarah, dendam dan kebencian kedua warga Kampung Cisaga. karena setiap pertikaian pasti dari kedua kampung itu akan mengalami kerugian, baik kerugian material ataupun Moril. memang benar pepatah mengatakan ketika ada pertikaian, konflik yang berkepanjangan ketika mereka bertarung Yang Kalah jadi abu yang menang jadi arang, tidak ada guna dan untung sama sekali.


Burung-burung tidak terdengar bersuara mungkin mereka sedang bersembunyi di balik dedaunan yang warnanya sudah kuning kecoklatan, tidak hijau seperti musim hujan. semilir angin tidak terasa seolah mereka enggan memberikan kehidupan bagi jiwa-jiwa yang memiliki ego tinggi, memiliki keras kepala hati membatu sehingga tidak mau mengalah untuk menang. padahal sudah banyak contoh yang mereka alami, tidak sedikit warga yang kehilangan anak, istri, suami, bahkan rumah akibat dari pertikaian itu.

__ADS_1


Manta yang berada di dalam mobil terlihat menarik nafas dalam kemudian menghembuskannya dengan pelan, berharap dengan hembusan nafas masalah yang sedang ia hadapi terbuang. air mata terlihat membasahi pipi yang mulai keriput, karena Manta sudah berumur lanjut, Manta sudah berteman dengan bapaknya Dadang semenjak masih hidup.


"Orang lain mewarisi anak cucunya dengan harta benda tapi berbeda dengan Kampung Sagaranten dan Kampung Cisaga yang mewarisi anak cucu mereka dengan permusuhan, dengan pertumpahan darah yang tidak akan pernah berakhir, karena setiap orang yang dibunuh pasti memiliki keturunan pasti keluarga, mereka tidak akan terima dan terus mencari cara bagaimana melampiaskan dendam yang terus menyelimuti kedua kampung itu. Bagaimana kalau kejadiannya sudah seperti sekarang, orang yang dianggap penting di kampung Sagaranten sudah meninggal, adiknya pun ikut menyusul. beruntung masih ada yang selamat, semoga kedepannya meski dia hanya seorang wanita bisa membawa kedamaian kepada kedua kampung itu." gumam hati Manta sambil menyekap cairan bening di pipinya menggunakan tangan kiri, matanya terus menatap ke arah depan meski dalam keadaan yang sangat memilukan dia tetap fokus menjalankan mobilnya.


Ketika hanya beberapa km lagi sampai ke kampung Sagaranten, kampungnya yang sudah porak poranda diserang oleh Kampung Cisaga. Manta menghentikan mobilnya kemudian dia turun dari mobil itu. Matanya memindai keadaan sekitar yang nampak sepi, karena warga Kampung tetangga mereka lebih memilih tinggal diam di rumah ketika ada pertikaian berlangsung, seolah mereka tidak peduli dengan apa yang terjadi terhadap tetangganya.


"Aku harus memusnahkan mobil ini agar tidak terjadi masalah kedepannya, karena aku yakin warga Kampung Cisaga akan mencari pemilik mobil yang sudah menyelamatkan orang yang mereka buru." gumam Manta sambil kembali masuk ke dalam mobil kemudian dia menyalakan mesinnya,  lalu menjalankan mobilnya dengan begitu pelan.


Jalanan Kabupaten Sukabumi yang berada di lereng lereng bukit, sehingga membuat Manta mendapatkan ide.  Awalnya dia mau membakar mobil itu tapi dia takut kalau pembakarannya tidak sempurna, sehingga menimbulkan ledakan yang akan Merugikan dirinya sendiri.


Ketika dia sampai di lereng bukit yang di bawahnya ada sungai yang mengalir dengan aliran air yang begitu deras, warnanya menguning seperti air itu terus menerus tebiannya. tanpa berpikir panjang mantap mulai mematikan mobilnya kemudian mengarahkan setir untuk berbelok ditahan menggunakan kunci pembuka ban yang selalu ada.


Setelah semuanya dirasa rapih, Manta keluar dari mobilnya kemudian berjalan menuju ke bagian belakang, tanpa berpikir panjang dia mulai mendorong mobil itu agar masuk ke dalam jurang.


Awalnya memang terasa berat apalagi mobilnya Mobil sudah tua, namun dengan usaha yang sangat gigih akhirnya mobil pun perlahan mulai melaju menuju ke arah tepian jurang, sampai lama-kelamaan mobil itu melesat maju meninggalkan Manta yang terlihat merasa lega karena sudah bisa melenyapkan bukti.

__ADS_1


Mobil yang didorong terus melaju menyusuri Lembah hingga akhirnya tiba di air sungai, semakin lama mobil pun semakin masuk ke dalam muara, hingga mobil itu tidak terlihat lagi, tertelan oleh aliran air yang begitu deras apalagi airnya sangat kuning sehingga menyamarkan benda-benda yang ada di bawahnya.


Setelah semuanya dirasa selesai, Manta mulai berjalan menyusuri Jalan Setapak, dia tidak menggunakan Jalan Besar takut bertemu dengan musuh. Manta terus berjalan dikipasi dengan semilir angin bukit yang datang dari arah Lembah sehingga memberikan kesegaran bagi tubuh yang terasa sangat lelah dan letih, menyegarkan pikiran yang hancur akibat banyak orang yang meninggalkan dirinya.


Setengah jam berlalu, akhirnya Manta tiba di salah satu rumah yang berada di kampung curug kembar, rumah yang menampung para warga Kampung sagaranten yang berlari menyelamatkan diri dari serangan warga Kampung Cisaga. ketika melihat ada orang yang datang orang-orang yang sedang mengobati ataupun diobati Mereka terlihat terkejut dengan segera mereka menyambutnya dengan begitu baik.


"Ayo masuk ke dalam nanti takut ada mata-mata yang mengintai, kalau kita sampai ketahuan bersembunyi di rumah Kang Karsa." ujar Adang dengan segera menarik masuk ke dalam rumah yang lumayan besar sehingga bisa menampung sebagian besar warga Kampung sagaranten.


Sesampainya di dalam hati Manta Terasa seperti diiris perih melihat orang-orang yang sedang terbaring dengan luka di tubuhnya, seperti baru pulang dari medan perang. namun meski merasa kesal Manta tidak bisa berbuat banyak karena memang kala itu warga Kampung Sagaranten diharuskan untuk kalah diharuskan untuk kehilangan beberapa nyawa."


"Bagaimana keadaan Kampung kita?" Tanya Manta  mengalihkan pandangan.


"Keadaan Kampung sudah kondusif karena pihak yang berwajib sudah turun untuk mengamankan situasi, tapi kita belum bisa pulang sekarang karena takut ada orang yang mengetahui kalau kita bersembunyi di rumah kan Karsa. kita harus berterima kasih kepada beliau, soalnya sudah mau menampung kita di sini, bahkan mau meminjamkan mobil untuk menyelamatkan Aduh dan Jasmine." jawab Adang menjelaskan semuanya.


"Terus bagaimana dengan orang-orang yang meninggal, Bagaimana dengan jenazahnya."

__ADS_1


"Untuk para jenazah semuanya dibawa ke rumah sakit terdekat untuk diurus sebagaimana mestinya. kita bukan tidak mau mengurus para jenazah itu Tapi keadaan lah yang tidak memungkinkan. kita percayakan semuanya ke pihak yang berwenang, sekarang kita harus berfokus memulihkan semua luka dan berpikir bagaimana kehidupan kita kehidupannya."


__ADS_2