
Suasana di Kota Bogor pagi itu terasa begitu sejuk, masih banyak pepohonan yang dilestarikan, meski memiliki dampak negatif ketika musim penghujan datang, tapi kalau dirawat dengan baik para pohon akan memberikan timbal balik ketika musim kemarau datang, dengan menetralisir rasa panas yang menyengat. burung-burung terdengar berkicau di ranting menjatuhkan butiran air embun yang terlihat gemerlap bagai mutiara yang tersinari oleh mentari pagi, orang-orang sudah berkumpul di meja makan untuk sarapan bersama demi menghadapi hari yang akan terasa sangat panjang, mobil-mobil angkutan umum yang berwarna hijau sudah memadati setiap ruas jalan mencari sewa untuk menafkahi keluarga.
Begitu juga di rumah Nathan yang terasa begitu sejuk, gemericik air yang mengalir ke kolam-kolam kecil yang dihiasi oleh ikan-ikan koi berwarna-warni, dipadukan dengan bunga-bunga yang sedang bermekaran membuat para kupu-kupu mendatangi hinggap di sana, sehingga rumah itu nampak begitu Asri meski berada di tengah kota.
Seperti biasa, pagi-pagi mereka akan kumpul kembali sebelum memulai aktivitas masing-masing, karena begitulah ajaran Suyatno yang ditekankan terhadap keluarganya, bahwa mereka harus berkumpul sebelum bekerja dan berkumpul kembali setelah beraktivitas dengan acara makan malam.
"Hari ini aku mau fitting baju pernikahan dengan Mas Rifki." ujar Ayla setelah selesai menghabiskan sarapannya.
"Ya sudah, tapi hati-hati. terus kalau sudah selesai kamu jangan main keluyuran, kamu harus langsung pulang karena sebentar lagi kamu akan menikah." jawab Suyatno memberikan izin.
"Mau diantar?" tanya Nathan menawarkan diri.
"Iya antar saja sekalian ajak Jasmine jalan-jalan agar dia tidak terus teringat dengan keluarganya." saran Rahmi menimpali.
"Nggak usah, aku bisa sendiri kok." tolak Ayla dengan halus.
"Yah mendingan diantar oleh pihak mahramnya karena Ketika ada seorang perempuan mau keluar maka dia harus didampingi oleh saudara laki-lakinya, kalau tidak ibu dan bapaknya." jawab Suyatno menguatkan.
Ayla pun terdiam, Mungkin dia akan sangat percuma ketika melanjutkan pembicaraan karena melawan dua orang yang sangat ia hormati. hingga akhirnya dia pun meminum susu yang tinggal setengah gelas lagi, sedangkan kedua Kakaknya yang sudah menikah Adnan dan Arfan mereka berpamitan untuk pergi bekerja sambil mengantar anak istrinya ke sekolah.
Suasana rumah yang nampak besar itu terasa sunyi karena sebagian keluarga besar mereka memiliki aktivitas di luar rumah, hanya Ayla saja yang masih diam di rumah bersama Nathan, Jasmine dan ibunya.
Rahmi yang kemarin belum sempat mengobrol banyak dengan Nathan, dia pun memanggilnya untuk berbicara Nathan diajak ke kamar agar mereka bisa leluasa.
"Ada apa Bu kok manggil Nathan ke sini?" tanya Nathan sambil duduk di sofa yang berada di kamar orang tuanya.
"Kok nanya ada apa, emang kamu tidak kangen sama ibu, kamu sudah 6 bulan tidak pulang ke rumah, sekarang pulang dengan membawa keanehan." ujar Rahmi membalikkan pertanyaan.
"Hehehe maaf, Lagian ibu mau ngobrolnya sampai harus di kamar segala, seperti ada rahasia yang sedang disembunyikan."
__ADS_1
"Kamu yang ada rahasia, kamu tidak bisa membohongi ibu." ujar Rahmi sambil menatap lekat mata anaknya soalah ingin menembus ke dalam hati Nathan.
"Bohong apa Ibu, Nathan tidak berani berbohong sama ibu."
"Sudah jangan pura-pura, Ibu sudah tahu. Tolong ceritakan siapa sebenarnya Jasmine?" tanya Rahmi mulai menyelidiki.
"Anu Bu, anu." jawab Nathan tergagap.
"Jujur aja, Ibu tidak akan marah."
"Mohon maaf Bu sebelumnya Nathan berbohong sama ibu, tapi Nathan tidak bermaksud untuk melukai atau durhaka kepada orang tua, tapi keadaan lah yang memaksa." jawab Nathan akhirnya dia mulai berani berkata jujur.
"Iya Ibu tahu. pasti kalau kamu berbohong ada alasan yang penting. coba tolong ceritakan siapa sebenarnya Jasmine, biar ibu tidak setengah-setengah ketika menyayanginya apalagi. kalau memang benar dia sudah tidak memiliki keluarga ibu akan angkat dia menjadi anak ibu, karena Ayla sebentar lagi akan menikah."
"Begini Bu sebenarnya Jasmine itu adalah." Nathan tidak melanjutkan pembicaraan, tiba-tiba wajahnya mulai meredup seperti Kehilangan cahaya, matanya dipenuhi dengan genangan air kesedihan."
"Adalah apa, siluman rubah dari Korea Utara?" jawab Rahmi mencairkan suasana.
Rahmi yang mengetahui anaknya sedang memiliki masalah besar, dia berpindah tempat duduk mendekat ke samping Nathan. dengan lembut dia mulai mengusap punggung anaknya memberikan kekuatan agar Nathan bisa menghadapi semua.
"Ya lagian kamu kalau ngomong sepotong-sepotong, jadi orang lain tidak sabar menyimpulkan sebenarnya siapa Jasmine."
"Ibu kenal Abduh kan?" Tanya Nathan sambil menatap ke arah ibunya cairan yang bening membasahi pipi di usap menggunakan telapak tangan.
"Ya kena lah, kan kamu sering ajak dia main ke sini, dan kamu tidak pernah membawa teman lain selain Abduh dan Shakila. Bagaimana kabarnya sekarang dia, bukannya kemarin kamu ke rumahnya?" jawab Rahmi memberondong anaknya dengan berbagai pertanyaan.
"Itulah yang menjadi dasar semuanya, Kenapa Jasmine dibawa ke sini."
"Sudah kamu jangan berbelit, Tolong kamu ceritakan dari awal sampai akhir tidak ada yang boleh ditutup-tutupi."
__ADS_1
Mendengar permintaan ibunya. Nathan pun mulai menceritakan tentang liburannya ke rumah Abduh sampai sahabatnya mau melakukan lamaran hari kemarin, namun tiba-tiba acara lamaran yang begitu sakral itu berubah menjadi mengerikan, orang-orang tergeletak dengan berlumuran darah terkena serpihan bom yang meledak, disusul dengan serangan yang bertubi-tubi dari warga Kampung Cisaga, sampai akhirnya keluarga Jasmine tidak ada satupun yang tersisa.
Nathan menceritakan Semuanya dari awal sampai akhir dari permusuhan. sampai konflik yang terjadi di kampung Jasmine. Nathan menceritakan dengan terperinci tidak ada satupun yang terlewat agar ibunya mengerti kenapa Jasmine di bawah lari ke rumahnya. namun Nathan tidak menceritakan kalau dirinya sangat mencintai gadis itu, karena dia takut melukai perasaan Jasmine yang mau menolong dengan imbalan meminta hatinya.
"Ya Allah Kasihan amat dengan semua yang menimpa gadis konflik itu, syukur kamu bawa ke sini. tapi Ibu masih khawatir Apakah warga Kampung Cisaga Kampung musuhnya Jasmine tidak akan menyusul ke sini?"
"Nathan kira tidak akan Bu. karena mereka tidak kenal dengan Nathan. dan warga Kampung Sagaranten pun tidak ada mengetahui asal usul Nathan karena Nathan di sana tidak lama."
"Kalau begitu kamu tetap hati-hati dan temani Jasmine sampai kondisi mentalnya pulih kembali, jangan tinggalkan dia sendirian apalagi sahabatmu sudah menitipkan."
"Terima kasih Bu, Nathan akan selalu menjaganya."
"Ya sudah sekarang kamu siap-siap katanya kamu mau mengantar Alya, sekalian ajak Jasmine jalan-jalan."
"Baik bu."
Akhirnya obrolan pun selesai, Nathan keluar dari kamar ibunya, kemudian dia naik ke lantai atas untuk menemui Jasmine yang berada di kamar Ayla.
"Ada apa sih Aku lagi mandi?" jawab Ayla yang masih menggunakan handuk kimono.
"Yasminnya ke mana?" tanya Nathan sambil menoleh ke arah dalam.
"Jasmine mau ke taman, Katanya dia mau menenangkan diri."
Tanpa berbicara lagi Nathan pun berlari menuruni tangga membuat adiknya mendengus dengan kesal karena dia harus menghentikan aktivitas mandi akibat ketukan pintu yang tak mau berhenti, namun Nathan tidak memperdulikan. sesampainya di bawah Dia pun keluar dari rumah menyusuri taman untuk mencari keberadaan Jasmin.
Nathan memindai keadaan sekitar ketika dia berada di halaman depan rumah, Tapi orang yang dicari tidak ketemu sehingga dia pun bertanya kepada Satpam Penjaga rumahnya.
"Nggak ada Den, mungkin ke halaman samping atau halaman belakang, karena di sana udaranya sangat sejuk dan segar." jawab satpam memberitahu.
__ADS_1
"Ke mana kamu Jasmine, jangan buat aku khawatir, jangan buat aku ketakutan seperti ini." gumam hati Nathan sambil meninggalkan Pos jaga untuk terus mencari keberadaan Jasmine.