
"Nanti aja lagi tanggung nih!" jawab Nathan yang tidak mau diganti, karena merasa tanggung dirinya sedang On Fire bahkan dia sudah mencetak satu gol.
"Penting katanya. ya sudah Akang temui biar saya ganti terlebih dahulu." jawab Roni menjelaskan.
"Halah mengganggu aja!" gerutu Nathan sambil keluar dari lapangan kemudian dia pun berjalan menuju ke Saung untuk menemui sahabatnya.
Setelah sampai di saung, tiba-tiba Abduh pun memeluk dengan Nathan membuat pemuda itu Terkesima. dia hanya diam sambil menepuk-nepuk bahu sahabatnya, mungkin dia beranggapan kalau Abduh sedang menemukan kesedihan.
"Sudah sabar aja! masih banyak cewek yang lain yang mungkin menerima kekuranganmu." ucap Nathan yang merasa kasihan.
"Maksudnya?" tanya Abduh sambil melepaskan pelukannya, kemudian dia menatap sahabatnya dengan begitu lekat tidak mengerti dengan apa yang diucapkan.
"Kamu gagal lamaran kan sehingga kamu datang menemuiku, kamu pasti ingin curhat menangis dipelukanku curhat." tanya Nathan yang sok tahu.
"Kurang ajar amat kamu! Kalau ngomong itu dijaga jangan asal ngeplos aja." gerutu Abduh sambil memukul lengan sahabatnya.
"Terus kalau bukan mau curhat kamu mau ngapain kamu sampai bela-belain datang ke sin,i kalau bukan untuk menangis bombay" tanya Nathan sambil duduk di bangku panjang yang berada di saung lapangan sepak bola.
Mendapat pertanyaan dari Nathan, Abduh tidak langsung menjawab. Dia pun duduk di bangku samping sahabatnya, kemudian memperhatikan Nathan dengan sesama seperti hendak menembus isi hatinya. merasa risih Nathan pun dengan segera Melambaikan tangan di hadapan wajah. Mungkin dia takut sahabatnya kesambet.
"Ditanya malah natap, ada apa, ada yang penting?" ujar Nathan mengulang kembali pertanyaannya.
"Selamat ya!" Jawab Abduh yang masih tetap mengulum senyum penuh bahagia.
"Selamat buat apa? Kalau ngomong itu jangan diputus-putus ngomong sampai selesai, jangan membuat orang penasaran."
"Siapa yang berbicara di putus-putus, kamu Yang Terus memotong pembicaraanku." gerutu Abduh memang seperti itulah mereka ketika berbicara namun mereka sangat menyayangi satu sama lain.
__ADS_1
"Iya selamat apa?"
"Selamat kamu akan menjadi adik iparku."
"Maksudnya?" tanya Nathan sambil mengerutkan dahi semakin tidak mengerti dengan apa yang disampaikan oleh sahabatnya.
"Barusan aku mengobrol dengan Kang Dadang dan teh Sarah membicarakan pembicaraan yang tadi siang. kita bahas pembicaraan tentang Jasmine yang harus dinikahkan."
"Terus apa hubungannya denganku?" tanya Nathan yang masih tidak mengerti dia merasa kalau penyampaian sahabatnya terlalu berbelit.
"Kang Dadang dan teh Sarah memilih kamu untuk dijodohkan dengan Jasmine, karena mereka yakin kalau kamu adalah lelaki yang terbaik untuk adiknya untuk adikku."
"Kamu tidak sedang bercanda kan, dan aku tidak sedang bermimpi kan?" tanya Nathan soalnya tidak percaya dengan apa yang ia dengar.
Plak!
Satu tamparan mengenai lengan Aduh, membuat pemuda itu menatap heran ke arah sahabatnya, karena kenapa tiba-tiba dia di pukul.
"Yah untuk membedakan Kalau kamu masih terjaga, kamu tidak sedang tertidur dan bermimpi. Selamat ya sekarang kamu sudah sah menjadi adik iparku." ujar Abduh sambil meregangkan kembali tangannya membuat Nathan pun sekarang memeluknya begitu erat, terasa butiran bening pun mulai bercucuran membasahi pipi namun butiran itu bukan menandakan kesedihan, melainkan menandakan Rasa Bahagia dari apa yang sudah ia dapat.
"Aku titip adikku, jaga dia seperti kamu menyayangi dirimu sendiri. jangan sakiti dia karena kalau dia sakit hati, akulah yang akan lebih merasakan sakit itu karena aku sudah mempercayakan semuanya kepadamu tapi kamu menghianatinya." ujar Abdul sambil kembali melepaskan pelukan, Mereka terlihat berbicara dengan sangat serius.
"Baik kakak ipar. aku akan menjaganya sekuat tenagaku, seluruh jiwaku akan aku persembahkan untuknya, demi melihat dia hidup bahagia."
"Terima kasih aku pegang janjimu. Terus sekarang di mana jasmine-nya, Bukannya tadi berpamitan untuk berlari sore dengan kamu?"
"Tuh lagi main kucing-kucingan sama anak kecil, Memang dia itu sangat berbeda dengan wanita yang lain. dia selalu ceria tanpa sedikitpun terlihat beban. Padahal aku yakin dia sangat sedih dengan kenyataan yang menimpanya, harus hidup tanpa orang tua tapi dia sangat beruntung karena memiliki dua kakak yang selalu bertanggung jawab." jawab Nathan sambil menunjuk ke arah seorang wanita yang sedang main kejar-kejaran dengan anak kecil, dia tertawa begitu lepas sehingga menambah kecantikannya karena memang begitulah sifat Jasmine yang priang.
__ADS_1
Nathan terlihat mengulum senyum penuh kebahagiaan, karena sebentar lagi wanita yang selalu hadir dalam mimpi indahnya, sebentar lagi akan menjadi istrinya wanita yang sangat cantik, periang dan baik hati. bahkan dia mau menemani bermain anak kecil. khayalan Natan sudah terbang jauh membayangkan Bagaimana kalau nantinya dialah yang akan menemani Jasmine bermain dengan anak-anaknya, dia berjanji di dalam hati tidak akan sedikitpun mengecewakan calon kekasihnya itu.
"Ya sudah ayo kita beritahu dia sekarang dan kita tanyain Apakah dia mau dia menikah dengan pria macam kamu."
"Pasti mau lah! Secara aku ini kan ganteng, tampan, gagah dan pemberani. yang paling penting tidak makan sabun." jawab Nathan yang selalu ceplas-ceplos.
"Nah mulai deh ngaturnya! Ayo jangan buang waktu Nanti keburu pulang." saran Abduh sambil bangkit dari tempat duduknya, padahal kalaupun Jasmine pulang dia tetap akan bertemu karena Jasmine itu adalah adiknya.
"Jangan!" tahan Nathan sambil menggenggam tangan Abduh.
"Kenapa, jangan bilang kalau kamu tidak suka dengan Jasmine, atau apakah kamu takut ditolak olehnya." jawab sahabatnya sambil mengerutkan dahi.
"Bukan tidak suka, tapi aku takut mengganggu acara lamaran kamu, Bagaimana kalau kita menyampaikan semua ini setelah kamu melangsungkan acara lamaran."
"Mengganggu bagaimana?"
"Yah siapa tahu aja Jasmine menolak Perjodohan ini. nanti kalau dia menolak pasti sedikit banyaknya akan mengganggu konsentrasi kalian yang sedang berfokus untuk melamar Yanti. mendingan sekarang kita tahan dulu saja biar kebahagiaan kita menjadi triple kebahagiaan."
Mendengar perkataan sahabatnya Abduh pun terdiam seolah mencerna apa yang disampaikan oleh Nathan. setelah agak lama berpikir dia pun mulai membenarkan apa yang disampaikan oleh orang yang berada di hadapannya. karena kalaupun Jasmine tetap menerima pasti fokus mereka akan terbagi dua, sehingga acara lamarannya takut terganggu, akhirnya Abduh pun memutuskan bahwa dia akan mengikuti saran sahabatnya.
"Benarkan apa yang aku bicarakan?" tanya Nathan.
"Yah tapi nggak apa-apa, kalau kamu menunggu setelah acara lamaranku selesai?" jawab Abduh sambil duduk kembali.
"Jangankan menunggu hanya tiga hari, seabad pun akan kutunggu kalau wanitanya secantik Jasmine. Karena wanita seperti itu adalah wanita idamanku."
"Mulai deh ngelantur lagi, pasti kamu lupa minum obat. Ya sudah kalau begitu nanti akan aku sampaikan sama Kang Dadang dan teh Sarah, bahwa kita akan menangguhkan pertanyaan terhadap Jasmine sampai acara lamaranku selesai."
__ADS_1
"Oke! sekarang Ayo kita bermain bola soalnya tanggung aku belum berkeringat sepenuhnya." ajak Nathan sambil bangkit dari tempat duduknya, kemudian dia pun berjalan ke pinggir lapangan mencari Siapa orang yang kelelahan dan mau diganti. matanya sesekali melirik ke arah Jasmine yang sedang terlihat sangat bahagia semakin membuat betah menatapnya.
Roni dan salah satu warga kampungnya keluar untuk digantikan oleh Abduh dan Nathan, hingga akhirnya kedua pemuda itu ikut menikmati sore dengan berolah raga Mereka terlihat tertawa terlihat bahagia meski hanya dengan bermain bola, berbaur dengan warga yang lain, tidak ada kasta tidak ada perbedaan di antara mereka.