Terjebak Cinta Gadis Konflik

Terjebak Cinta Gadis Konflik
Keputusan Abduh


__ADS_3

Mendengar pembicaraan Nathan, Abduh terlihat terdiam seperti sedang mencerna apa yang disampaikan oleh sahabatnya itu, seperti sedang menimbang baik dan buruknya keputusan Apa yang hendak ia ambil, karena telah dipikirkan memang benar kenyataannya kalau dia mau menikah ataupun tidak, itu tidak akan merubah apapun. warga kampung Cisaga akan terus memusuhinya begitu juga kang Dadang dan orang tua Yanti mereka akan terus dihantui oleh rasa ketakutan.


"Semua orang di sini menghormati Kang Dadang, jangankan untuk mengobrol panjang lebar, hanya untuk saling bertatap saja Kami merasa enggan. Jadi bagaimana aku bisa jujur dengan perasaanku, kalau aku dihantui ketakutan." jawab Abduh mengungkapkan kegelisahan hatinya.


"Oh itu masalah, kamu tenang saja! Biar aku saja yang berbicara dengan Kang Dadang."


"Jangan nanti kamu dimarahi oleh Beliau, mending kalau hanya dimarahi Bagaimana kalau diusir?"


"Kalau diusir ya pergi saja. tapi aku kira Kang Dadang bukan orang yang begitu, aku melihat kebaikan terpancar dari sorot matanya. pokoknya kamu tenang saja, biarkan semua ini menjadi urusanku."


"Tapi Nathan aku nggak enak, kalau aku membebani pikiran Kang Dadang, Jadi mendingan biarkan semua rasa ini aku pendam dan aku jaga sampai menemukan waktu yang tepat." jawab Abduh yang tetap Kukuh dengan pendiriannya.


"Mau sampai kapan kamu bersembunyi dalam alasan seperti itu, nanti kalau sudah menikah Kamu bisa tinggal di Bogor, kebetulan orang tuaku memiliki usaha di sana, Jadi untuk sekedar hidup aku bisa menjamin, jadi sebisa mungkin Jasmine, Abduh dan Yanti jangan tinggal di kampung konflik, karena ini sangat berbahaya dan akan mengganggu regenerasi penerus keluarga kita." ujar Nathan memberikan cara untuk terus bertahan hidup.


"Memang aku dan Yanti berjalan seperti itu bukan kami tidak cinta dengan kampung sendiri, tapi kami ingin melangsungkan kehidupan menjadi keluarga yang bahagia tanpa dihantui rasa ketakutan akan adanya penyerangan dari pihak lain, tapi aku bingung harus pergi ke mana."


"Sudah ke Bogor, sesuai rencana kita bahwa kita datang ke sini, hanya untuk menjemput Jasmine, agar bisa tinggal di rumahku. dan sekarang bukan hanya Jasmine yang harus tinggal di rumah, tapi kamu juga harus berada di rumah yang sama, karena kamu dari Jasmin tidak ada bedanya bagiku, kalian memang kedua orang yang sangat berharga jadi aku tidak mau kehilangan salah satu dari kalian kalau bisa hanya maut memisahkan."


"Terima kasih, nanti aku coba bicarakan dengan Yanti, Apakah dia mau mengikuti saranmu atau tidak, soalnya ketika sudah berhubungan maka keputusan harus diambil bersama."

__ADS_1


"Benar, kita tidak boleh keras kepala ketika kita sudah menjalin hubungan, maka kita harus bisa mengalah dan bisa menerima pendapat orang lain, jangan sekemauan sendiri karena maju dan mundurnya satu hubungan itu adalah kesepakatan bersama."


"Ya sudah, terima kasih atas semua saran dan tawarannya, tapi semoga saja ini tidak akan memberatkan untuk kehidupanmu kedepannya."


"Tidak akan, aku berbicara seperti ini karena aku sudah memiliki pegangan yaitu perusahaan yang diberikan oleh keluargaku, jadi nanti kamu bisa bekerja di sana, kamu harus usaha itu sampai berkembang kalau bisa sampai mendunia."


"Usaha tekstil itu ya?"


"Benar meski sekarang masih dipegang oleh kepercayaan orang tuaku, tapi semua itu sudah di alih namakan dengan Namaku dan semua keuntungannya sudah masuk ke rekeningku."


"Terima kasih banyak ya, Kamu Memang sahabat terbaikku." jawab Abduh dengan mata berbinar dia merasa bahagia karena memiliki sahabat sebaik. Nathan yang mau memberikan penerangan di saat kegelapan, mau memberikan solusi di saat ketidakpastian karena memang begitulah arti persahabatan.


Benar saja apa yang disampaikan oleh pacar Abduh itu, di ruang tengah rumah Kang Dadang sudah berkumpul banyak orang ternyata Kang Dadang menyuruh masak banyak, bukan hanya untuk menyambut kepulangan kedua adiknya. tapi melainkan untuk mengajak para petani yang sudah selesai memberikan pupuk, pada pertanian dan syukuran atas panen kebun yang mereka garap.


Suasana di rumah itu selalu terdengar riuh, apalagi dengan kehadiran Jasmine membuat suasana semakin terasa riang, karena Gadis itu selalu memberikan keceriaan bagi semua orang warga Kampung Sagaranten mereka makan bersama dengan penuh suka cita, membuat Nathan semakin merasa betah berlama-lama tinggal di kampung itu, meski dalam keadaan kampung yang sedang konflik tapi ketika melihat kebersamaan. hati Nathan pun merasa iba sehingga dia mulai memikirkan berbagai cara Agar kampung itu bisa berdamai dengan Kampung musuhnya, walaupun semuanya terlihat sangat mustahil Tapi itu tidak ada yang tidak mungkin kalau terus berusaha.


Selesai makan kang Dadang, seperti biasa mengobrol dengan para petani membahas Langkah apa yang harus mereka lakukan ke depannya. sedangkan Nathan diajak oleh Abduh dan Yanti untuk mengobrol di halaman belakang, karena Abduh selalu terpikirkan perkataan-perkataan Nathan yang harus secepatnya menikahi Yanti karena sebenarnya, Abduh pun menginginkan hal yang sama namun kenyataan lah yang membuat semuanya terasa sangat sulit.


"Hei kalian kenapa hanya bertiga saja, aku nggak diajak?" ujar Jasmine yang mengikuti keluar.

__ADS_1


"Sini kirain tadi kamu sibuk," ujar Yanti sambil Melambaikan tangan.


Mereka berempat pun akhirnya duduk di atas pelupuh papan Saung yang berada di halaman belakang rumah, mereka berkumpul seperti hendak melaksanakan kongres yang sangat besar, karena wajah mereka dipenuhi dengan keseriusan.


"Ada apa Kang Abduh, kok mengajak Yanti ke sini?" tanya Yanti sambil menatap ke arah kekasihnya dengan wajah penasaran.


"Begini Yanti, tadi aku dan Nathan mengobrol kalau aku harus berani mengambil keputusan." jawab Abduh yang terlihat menghela nafas seolah pembicaraan yang akan disampaikan terasa sangat berat.


"Keputusan apa?" tanya Yanti yang semakin tidak mengerti sedangkan Nathan dan Jasmine hanya diam memperhatikan kedua insan yang sedang berdiskusi.


"Akang harus mengambil keputusan kalau akan harus secepatnya melamar Yanti, karena menurut sahabat Akang dengan adanya pernikahan kita, Kampung Sagaranten akan tetap seperti ini, akan tetap menjadi Kampung konflik."


"Emang Akang nggak takut mengganggu kang Dadang, nggak takut menambah beban Kakak Akang?"


"Akang sudah memikirkan semuanya dengan matang, Kalau Akang harus secepatnya mengambil keputusan, karena ini tidak akan mengubah apapun. tapi yang jadi permasalahan Akang setelah menikah ingin mengajak Yanti untuk tinggal di Bogor, agar kita bisa hidup dengan tenang. Nanti kalau orang tua Yanti mau, Yanti mengajak mereka karena Nathan sudah bersedia menanggung semuanya. bukan begitu?" jelas Abduh diakhiri dengan melirik ke arah sahabatnya.


"Insya Allah saya akan melakukan hal yang terbaik buat kalian, membantu sebisa saya, semampu saya."


Mendengar penjelasan kekasih dan Nathan, Yanti terlihat termenung seperti sedang menimbang baik dan buruknya Apa yang hendak ia lakukan. di satu sisi dia merasa bahagia karena apa yang dia Tunggu selama ini Akhirnya bisa terjadi, Abduh sudah mau mengajaknya ke jenjang yang lebih serius, namun di sisi lain Yanti belum memikirkan kalau dia harus tinggal jauh dari orang tuanya, harus tinggal jauh dari keluarganya.

__ADS_1


"Kamu tidak usah jawab sekarang, karena memang ini akan sulit bagi kita di satu sisi akan juga tidak mau meninggalkan kampung kita tercinta ini. namun di sisi lain kita diperintahkan untuk berhijrah ketika di kampung kita tidak berkembang atau tidak aman, sehingga kita sangat sulit untuk melakukan apapun, terutama dalam beribadah kiita selalu dihantui rasa ketakutan ketika ada di sini. tapi Yanti harus ingat kita pergi bukan untuk selamanya melainkan menunggu sampai keadaan kampung kita menjadi kondusif kembali." ujar Abduh menjelaskan rencananya.


__ADS_2