
"Kamu betah tinggal di sini?" Ujar Nathan mulai mencoba mencairkan suasana yang membeku.
"Betah atau tidak aku harus tetap tinggal di sini karena aku takut kalau tinggal sendirian." jawab Jasmine yang terlihat menarik nafas dalam, seolah berat membayangkan kehidupan yang sedang menimpanya.
"Maafkan aku belum bisa memberikan ketenangan dan kehidupan yang layak yang bisa membuatmu bahagia. Tapi aku berjanji akan terus mencoba memahami apa yang kamu inginkan, tapi kalau kamu ada keinginan kamu utarakan saja Insya Allah nanti saya akan mengabulkan."
"Kamu tidak harus meminta maaf karena kamu tidak memiliki kesalahan. aku yang harusnya minta maaf soalnya aku sudah merepotkan kamu dan keluarga, kalau tidak ingat dengan kesedihan Mungkin aku akan segera pergi takut mengganggu harmonisnya keluarga."
"Jangan pergi ke mana-mana, kalau kamu mau kamu boleh tinggal di sini selamanya."
"Pasti mau, tapi untuk sekarang aku belum bisa memikirkannya, karena aku masih trauma dengan kehidupan yang menimpa keluargaku, orang tuaku dibunuh Begitu juga dengan kakak-kakakku yang dihabisi secara brutal di hadapan mata. sekarang aku merasa trauma yang begitu mendalam jangankan ada orang yang membunuh ada orang yang saling berteriak saja hati ini sudah berdebar, jantung tiba-tiba berdegup, napasku Agak sedikit sesak dan memburu."
"Aku sangat paham dengan apa yang sedang menimpa keluargamu, tapi aku tidak mau kalau kamu memiliki pikiran seperti itu, karena kamu sudah dianggap keluarga oleh kami dan Ibu Pun mengangkat sebagai anak."
"Sekali lagi aku ucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya."
"Sama-sama, santai aja! aku yang harusnya berterima kasih karena saling menolong itu sangat dianjurkan baik dalam agama maupun hukum bernegara." jawab Nathan yang tidak mau Jasmine berbicara atau mengucapkan terima kasih karena dia memang benar-benar ikhlas menolongnya.
"Tapi kalau kondisiku sudah membaik, Aku mau minta izin untuk kembali ke California, Aku ingin menyelesaikan kuliah di sana sambil mencari kerja, agar Hidupku terasa tenang karena sekarang tidak ada orang ataupun keluarga yang masih tersisa, sehingga aku bisa terfokus mengejar cita-cita di sana."
"Syukurlah kalau begitu, tapi jangan sekarang nanti saja kalau kamu sudah bisa pulih kembali seperti semula, jasmine yang sangat priang dan penuh keceriaan."
__ADS_1
"Tidak, aku tidak akan berangkat sekarang, karena aku juga tahu pasti banyak orang yang mengganggu dan tidak akan paham Seperti apa keadaanku sekarang, tidak seperti keluargamu yang selalu menghiburku Meski aku baru pertama kali bertemu kalian, aku merasakan kenyamanan dan menegaska. bahwa aku mendapat keluarga baru." ujar Jasmine yang tidak mau secepat kilat meninggalkan keluarga Nathan karena dia ingin mengobati mental yang sudah down karena ditinggal semua keluarganya.
Suasana pun menjadi hening seperti kehabisan pembicaraan, Nathan menatap ke arah jalan yang terlihat sepi tidak ada orang yang berlalu Lalang, mungkin sudah beristirahat bareng keluarga, Karena komplek perumahan Nathan sangat dibatasi orang yang berkunjung agar kenyamanan dan keamanan di dalam rumah tetap terjaga. Begitu juga dengan Jasmine yang mematap kosong ke arah samping rumah yang nampak tembok pembatas antara rumah Nathan dan rumah-rumah yang lain, khayalannya mulai terbang tinggi membayangkan kejadian yang akan terjadi, dan yang sudah lewat. sehingga gadis cantik itu terlihat menarik nafas dalam kemudian menghempaskannya dengan begitu pelan, berharap semua beban yang memenuhi dada terbawa oleh hembusan nafas.
Sudut mata Nathan sesekali melirik ke arah Jasmine hatinya merasa sedih karena kondisi Jasmine tidak seceria ketika saat pertama kali bertemu atau ketika membahas perjalanan-perjalanan yang ia lewati ketika di California. dalam hatinya pemuda itu berjanji bahwa dia akan sekuat tenaga mengubah Jasmine untuk melupakan semua yang terjadi, apapun caranya bagaimanapun resikonya, karena selain sudah berjanji dengan Abduh, dia juga sangat menyayanginya, namun dia tidak berani mengungkapkan perasaan karena kondisinya yang belum memungkinkan.
"Emang besok kamu benar-benar mau ikut dengan kakek, Kalau kamu merasa terpaksa Mendingan jangan ikut, kita di rumah saja." ujar Nathan kembali ke pokok permasalahan di mana mereka esok pagi akan pergi ke Jasinga untuk mancing.
"Aku tidak terpaksa karena aku juga ingin tahu suasana perkampungan dari kota ini, mungkin kalau tidak sekarang aku kapan lagi bisa berkunjung ke wilayah yang bernama Jasinga."
"Terima kasih kalau begitu aku takut kamu merasa terpaksa.
Melihat wanita yang sangat dicintainya bangkit Nathan pun mengikuti, kemudian mereka berjalan bersama melewati koridor untuk menuju kamar masing-masing. sesampainya di ambang pintu kamar Ayla Nathan pun mengetuk pintu itu hingga adiknya yang sedang berteleponan keluar dengan memasang wajah yang cemberut.
"Eh kak Jasmine, Ayo masuk Kak!" ajak Ayla sambil menggeserkan tubuhnya ke samping memberikan ruang untuk sahabat kakaknya masuk ke dalam kamar. Sedangkan ketika Nathan mau mengikuti dengan segera ialah pun menolak lalu menutup pintunya agar Jonathan tidak bisa masuk.
Truk! truk! truk!
"Ayla Tolong buka pintunya!" pinta Nathan sambil mengetuk pintu.
"Mau ngapain lagi sih, memangnya tidak bosan mau ngobrol dengan Jasmine dari pagi sampai sore sekarang biarkan dia istirahat dulu baru besok boleh mau ngobrol lagi." jawab Ayla dengan Ketus dia menasehati kakaknya seperti sedang panas kaki anak kecil yang ingin mengajak anaknya bermain.
__ADS_1
"Emang kamu nggak bosan teleponan terus dari tadi aku lihat handphone mu sudah menempel di telinga."
"Sudah jangan banyak membalikkan perkataan, sekarang istirahat." Ujar Ayla sambil menutup pintu kamarnya.
Nathan beberapa kali mengetuk namun tidak ada jawaban dari adiknya, sehingga dia pun menuju kamar yang berhadapan dengan kamar. Ayla mengistirahatkan tubuh setelah melewati seharian yang cukup melelahkan.
Keesokan paginya, suasana kota Bogor yang masih belum diguyur air hujan terasa sangat hangat ketika tersinari oleh matahari, namun terasa dingin menggigil ketika berada di balik benda yang tidak tembus cahayanya. orang-orang yang merasa kedinginan mereka berjemur di bawah cahaya mentari pagi sebelum berangkat ke pekerjaannya, burung-burung terdengar berkicau menyambut riang karena matahari tidak pernah bosan menerangi alam dunia, sesekali terdengar suara klakson angkutan umum yang menawarkan orang-orang untuk memakai jasanya, mungkin lewat di depan pintu gerbang komplek
Nathan yang sudah mendapat izin dari kepala keluarganya karena hari itu tidak ada acara Ayla yang harus ditemani, soalnya untuk dekorasi pernikahan mereka sudah memakai jasa wedding organizer hanya tinggal menyiapkan yang kecil-kecilnya saja.
Mereka bertiga sudah siap-siap untuk pergi memancing sesuai rencana tadi malam. Nathan dan kakeknya terlihat sangat kompak dengan memakai kemeja dan topi koboi yang agak lembek, joran-joran sudah dimasukkan ke dalam bagasi begitupun dengan perlengkapan lainnya, mulai dari umpan dan cemilan-cemilan untuk menemani acara rutin yang sering mereka lakukan ketika Nathan pulang ke rumah
"Kamu Nanti sore pulang lagikan Than?" tanya Rahmi ketika mengantar orang tuanya masuk ke dalam mobil.
"Iyalah pasti pulang kalau mau menginap Jasmine mau tidur di mana?" Jawab Susanto menjelaskan.
"Ya sudah hati-hati kalau berkendara. jangan mengebut, Jangan terburu-buru karena kita tidak dikejar setoran."
"Baik Bu, kalau begitu Nathan pamit dulu." ujar Nathan sambil mencium punggung tangan ibunya Begitu juga dengan Jasmine, yang berbeda adalah Susanto dialah yang dicium tangannya oleh Rahmi.
Setelah semuanya dirasa rapi, mereka bertiga pun masuk ke dalam mobil kemudian mulai meninggalkan halaman rumah keluar dari komplek perumahan Yang elit menuju ke arah barat Kota Bogor. di perjalanan Susanto dan Nathan terlihat akrab berbicara, namun mereka tidak melupakan Jasmine untuk gabung di dalamnya. karena Susanto sangat paham dan Entah mengapa tiba-tiba dia merasa sayang dengan wanita yang baru beberapa hari tinggal di rumah, meski Jasmine belum diketahui asal-usul dari mana, karena hanya Rahmi dan Nathan yang mengetahui seluk beluk konflik yang menimpa gadis cantik itu.
__ADS_1