
Suasana sore di kampung Sagaranten terlihat begitu Asri, matahari yang masih memancarkan cahayanya merubah benda-benda yang tersinari oleh sinarnya menjadi kuning keemasan, hamparan padi yang sedang menghijau terlihat seperti permadani yang dihamparkan, anak-anak kecil terlihat bermain di halaman rumah ada yang bermain galah, ada yang bermain gatrik, petak umpet. Ada pula yang main kucing-kucingan disaksikan oleh orang-orang tua yang duduk di teras rumah, sambil melepas lelah setelah seharian bekerja.
Suara burung-burung terdengar sangat riuh berkicau seperti sedang berebut tempat penginapan, di sauti dengan suara gerapung yang terdengar dari arah kebun menambah suasana Asri pedesaan. di jalan kampung sagaranten terlihat ada dua orang yang sedang berlari menjadikan pusat perhatian, karena jarang sekali orang yang melakukan olahraga, seperti itu biasanya para anak muda lebih memilih bermain sepak bola ataupun bermain volly ball.
"Larinya jangan cepat-cepat." pinta Nathan sambil terus berlari di samping Jasmine.
"Ya Kalau ingin pelan, jangan berlari, jalan saja." Jawab Jasmine yang terlihat Ketus.
"Ya sudah ayo kita jalan aja, biar kita bisa menikmati suasana sore yang begitu indah seindah kamu."
"Apaan sih gak jelas, ngapain ngikut-ngikut segala kayak kita kenal aja."
"Bukannya kemarin kita sudah kenalan, Kamu Jasmine kan?" tanya Nathan sambil cengengesan.
Mendengar perkataan Nathan seperti itu, Jasmine hanya membuang muka dan mempercepat ritme larinya, sehingga Nathan pun mengikuti dengan mempercepat langkahnya kedua orang itu terus berlari mengelilingi Kampung, hingga akhirnya mereka tiba di salah satu jembatan Sungai yang airnya berwarna kekuningan karena tercampur dengan tanah.
"Beberapa KM aja sudah berhenti, kirain kamu berlari sangat kuat." cibir Nathan sambil berdiri di samping Jasmine yang sedang memperhatikan air yang mengalir begitu deras.
"Aku selalu rindu dengan air sungai karena dulu ketika waktu kecil dan ketika musim kemarau seperti sekarang tiba kita sekeluarga mandi di sungai ini."
"Berarti kamu dulu anak yang kurang cantik ya, mainannya saja di sungai."
"Emang mandi di sungai akan berubah kecantikan seseorang. bukannya pada bidadari pun mereka mandi di air terjun sedangkan air terjun tidak ada yang di dekat perkampungan. Biasanya air terjun di hulunya ada pemukiman penduduk yang biasa mengotori Sungai tapi pada bidadari itu tetap berwajah cantik, bahkan banyak orang yang menginginkannya. padahal itu hanya cerita mitos."
"Iya yah, ternyata kamu memang pandai berbicara, sehingga banyak orang yang menyukaimu termasuk salah satunya aku."
"Aku tidak butuh pengakuan siapapun, karena ini adalah hidupku sendiri. Jadi aku akan menikmati hidupku sendiri, dengan caraku sendiri aku tidak akan mendengarkan ocehan orang lain yang akan menjatuhkan dan melemahkan mentalku, karena Kalau hidup sudah tergantung kepada orang lain maka hidup kita akan terasa capek."
__ADS_1
Jasmine pun terus menatap air yang terus mengalir seolah tidak merasa capek untuk terus berjalan menuju ke arah Hilir, di dalam ingatannya waktu itu ketika dia masih kecil dia sering diajak oleh ibu ataupun bapaknya untuk mandi di sungai itu, karena waktu dulu orang-orang lebih memilih WC umum daripada membuat WC di rumah masing-masing.
Suara air terus bergemuruh bercampur dengan suara hewan-hewan sore yang terus berbunyi, Jasmine tetap menatap ke arah Sungai seperti orang yang hendak terjun ke bawah. Nathan yang sejak dari tadi dia hanya diam memperhatikan ambil berjaga-jaga.
"Di Amerika Aku kangen sekali dengan kampung halamanku, karena kampung ini walaupun memberikan kengerian tapi menyimpan sejuta kenangan yang indah ketika kedua orang tuaku masih berada." ungkap Jasmine sambil berjalan meninggalkan sungai.
"Memang di Amerika tidak ada sungai."
"Kenapa bertanya seperti itu, Bukankah lebih baik bertanya. Apakah di Amerika ada tanah ada rumah pula."
"Maksudnya kenapa kamu bisa kangen dengan kampung halaman hanya dengan melihat sungai."
"Meskipun di setiap tempat ada bangunan ataupun tempat yang sama, tapi Kenangan di setiap tempat tinggal itu akan berbeda jadi yang berharga itu, bukan hanya tempatnya melainkan kenangannya."
"Oh jadi begitu, Emang kapan orang tuamu meninggal."
Mendapat pertanyaan seperti itu Jasmine tidak menjawab, Dia mulai berlari kembali setelah melepaskan rasa lelah dengan beristirahat. Nathan yang mengetahui perubahan sikap itu dia tidak berani bertanya kembali, dia terus mengikuti berlari di samping, kadang pula di belakangnya, seperti sedang mengawal kekasihnya.
"Terima kasih untuk apanya, aku hanya ngomong apa adanya."
"Terima kasih untuk keberanianmu menghadapi Kang Dadang, karena di dalam keluarga kami tidak ada yang berani berbicara seperti itu."
"Tenang aja nanti juga akan ada."
"Maksudnya?" tanya Jasmine yang menghentikan langkahnya.
"Tidak ada, hehehe. Ayo kejar aku!" ujar Nathan sambil berlari duluan untuk pulang ke rumahnya.
__ADS_1
"Eh tunggu jangan tinggalin aku." teriak Jasmine namun dengan segera dia menutup mulutnya sekolah perkataan yang keluar refleks begitu saja.
Pukul 05.00 sore tepat, mereka sudah sampai di rumah kemudian membersihkan tubuh dari keringat yang dihasilkan dari olahraga, Setelah itu mereka pun bersiap-siap untuk melaksanakan salat magrib.
Malam hari, keluarga Abduh disibukan dengan mengundang tetangga terdekat, untuk membantu mempersiapkan acara lamaran, sehingga rumah itu terasa sangat ramai walaupun biasanya juga seperti itu. tapi keramaian sekarang dipenuhi dengan kebahagiaan karena salah satu dari pemimpin mereka akan ada yang menikah.
Abduh yang merasa bahagia tidak lepas-lepasnya mengulum senyum dan terus mengucapkan, terima kasih kepada Nathan karena berkat sahabatnya lah dia merasakan kebahagiaan itu mereka berdua terlihat sibuk membantu melengkapi perlengkapan-perlengkapan yang dirasa kurang.
Kira-kira pukul 10.00 acara itu pun dibubarkan para tetangga Dadang, mereka berpamitan terlebih dahulu dan besok pagi akan melanjutkan pekerjaan yang tertunda, sehingga rumah Dadang pun terasa sepi karena mereka sudah masuk ke kamar masing-masing.
"Baru saja mau melaksanakan lamaran, aku sudah merasakan kebahagiaan yang tak terhingga. ternyata beginilah bahagianya orang yang hendak menikah?"
"Yah memang begitu."
"Begitu bagaimana Kayak pernah merasakan saja."
"Ya Sekarang aku sedang merasakannya aku sudah bisa mendekati Jasmine, tadi saja aku berlari bersamanya itu menunjukkan kemajuan yang sangat signifikan."
"Terus jasmine-nya sudah merespon?"
"Belum." jawab Nathan dengan singkat tapi wajahnya tidak sedikitpun menunjukkan kekhawatiran.
"Kenapa?"
"Karena aku belum memiliki waktu yang tepat untuk mengungkapkan perasaanku."
"Halah kayak apa aja harus memiliki waktu yang tepat, bukannya menurut Kang Dadang perbuatan yang baik harus disegerakan. Awas nanti kamu menyesal kalau Jasmine keburu dilamar oleh orang lain." ingat Jasmine itu bintang Desa Sagaranten jadi tidak sedikit orang yang menginginkan dirinya menjadi istri mereka.
__ADS_1
"Waktu yang tepat, untuk orang yang tepat pula agar nantinya aku bisa menceritakan dengan anak-anakku, bahwa perjuangan mendekati Ibu mereka sangat melelahkan dan membutuhkan deraian air mata dan keringat. Jadi aku tidak mau sembarangan menentukan pilihanku, tidak mau tergesa-gesa aku ingin menikmati semua momen ketika aku memperjuangkan cintaku."
"Halah gayamu kayak orang benar aja." jawab Abduh dengan mencibir.