
Obrolan pun terus berlanjut membahas masa-masa lalu mereka yang saling membantu dalam Setiap kesusahan, bahkan Jonet beberapa kali membantu Sutardji Ketika melawan warga Kampung Sagaranten seperti mencarikan bahan peledak yang diledakan ketika acara lamaran Abduh dan Yanti, ditambah dengan orang-orang bayaran untuk memperkuat kekuatan warga Kampung Cisaga.
Kedua orang itu meski Jarang bertemu namun mereka terus berkomunikasi untuk tidak memutus tali persaudaraan yang sudah terjalin ketika mereka belajar di kampus yang sama. meski mereka tidak lulus tapi mereka bisa mengembangkan bisnis masing-masing, sudarji yang memiliki kekayaan hampir seluruh kampung bisa gak dia berhasil mengelolanya dengan berbagai bidang pertanian, mulai dari sawah kebun Dan Ladang. sedangkan Jonet yang tidak memiliki kekayaan sebanyak itu, dia pun mendirikan sebuah gangster untuk mengamankan pasar, jalanan dan terminal. padahal yang sebenarnya merekalah yang menjadi pengacau bukan pengaman.
"Sebenarnya kamu ada apa, kok sampai-sampai kamu datang ke Bogor?" tanya Jonet yang belum mengetahui apa maksud dan tujuan Sutardji berkunjung ke rumahnya.
"Pertama Aku mengucapkan terima kasih atas bantuanmu sehingga aku bisa mengalahkan Kampung Sagaranten, namun dari pertempuran itu masih ada pengganjal yang membuatku tidak enak tidur tidak enak makan bahkan minum pun Terasa seperti air comberan, soalnya aku belum bisa menemukan anak terkecil dari keluarga si Ali. aku takut kedepannya akan menjadi masalah baru dan yang lainnya adikku yang bernama Darman seperti yang sudah kamu ketahui dia sudah meninggal dibunuh oleh seseorang yang sekarang aku mengetahui tempat tinggalnya yaitu di Bogor."
"Terus?" tanya Jonet dengan memperhatikan wajah sahabatnya karena memang begitulah etika ketika berbicara.
"Aku butuh bantuanmu untuk mencari orang itu tugasmu hanya mencari Di mana tempat tinggalnya, soal eksekusi itu menjadi urusanku.
"Kamu sudah memiliki datanya, minimal fotonya?"
"Aku sudah memiliki semuanya, tapi kalau untuk mencari seseorang di daerah yang luas seperti ini dan aku belum hafal daerahnya seperti apa. Aku membutuhkan orang yang lebih mengetahui seluk beluk kota Bogor, yaitu kamu yang sudah menjadi penguasanya."
"Coba mana lihat datanya?" pinta Jonet.
Sutardji pun merogoh kantong bajunya kemudian mengeluarkan lipatan kertas untuk diberikan kepada sahabatnya, setelah kereta itu berpindah tangan tujuannya pun Perhatikan dengan seksama, dia melihat alamat yang tertera dalam data seseorang dahinya terlihat mengerut, seolah mengingat-ingat apa yang sudah dia lalui.
"Kayaknya ini sangat berat, walaupun aku bisa menguasai seluruh kota Bogor tapi untuk bertemu dengan orang ini akan sangat sulit, soalnya pendukungnya bukan orang-orang yang dibayar seperti anak buah kita. pendukung orang ini adalah masyarakat yang sangat mencintainya karena kalau tidak salah Bapak dari anak ini adalah orang yang paling dermawan di kota ini. banyak bantuan-bantuan yang diberikan tanpa mengharapkan balas budi." jawab joned dengan menghembuskan nafas pelan, sepertinya sangat berat menghadapi masalah yang sedang dihadapi oleh sahabatnya.
__ADS_1
"Jadi kamu menyerah sebelum bertanding, mana Serigala yang dulu yang selalu ditakuti oleh orang lain, jangankan bertindak mendengar gerramannya saja orang-orang sudah lari terbit-birit."
"Bukan menyerah tapi kita harus berpikir ulang untuk menghadapi orang-orang seperti ini, karena kalau masa yang mendukung Sekuat apapun kekuatan kita sehebat apapun, ilmu yang kita miliki kita tidak akan mampu menghadapi masyarakat karena kedudukan yang paling tinggi dalam hukum adalah masyarakat itu sendiri."
Suasana pun menjadi hening membayangkan apa yang akan terjadi, ketika mereka bertemu dengan keluarga suyatno orang yang sangat baik dan Dermawan begitupun dengan keluarga-keluarganya yang sangat dihormati.
"Ya sudah aku Serahkan semuanya sama kamu, aku yakin "kamu bukan orang yang pantang menyerah karena jangankan melawan seseorang yang tidak memiliki kekuatan secara tertulis, melawan orang yang memiliki banyak anggota kamu bisa mengalahkan." ujar Sutardji memperbesar hati sahabatnya.
*****
Di tempat lain, di kota yang sama dengan kota yang ditinggali oleh Jonet dan Sutardji terlihatlah ada keluarga yang sangat riang. Pagi itu adalah hari sabtu hari di mana para keluarga libur bekerja, hingga keadaan ruang tengah rumah besar terlihat ramai dengan candaan dan tawa.
"Kapan kita mau berangkat, kita sudah siap nih?" tanya istri Adnan yang sudah berdandan rapi.
"Kita sudah siap nih, tenang kita tidak akan terlambat." jawab Arfan dari atas sambil menggendong anaknya yang laki, sedangkan yang perempuan di pegang tangannya oleh Viona mungkin takut berlari ketika menuruni tangga.
Keluarga besar itu pun keluar dari rumah menuju parkiran mobil, setelah berada di dalam mereka semua berangkat menuju ke salah satu mall. untuk mengantar Ayla yang sebentar lagi akan menikah Rifki yang ingin membeli perlengkapan-perlengkapan pernikahan.
Di dalam mobil terdengar riuh orang yang berbicara, saling bercanda, saling menggoda satu sama lain. bahkan Jasmine yang sudah lama tinggal di rumah itu dia pun terlihat tersenyum dan sesekali menimpali candaan tidak ada kata canggung di dalam dirinya, karena keluarga Nathan sangat baik ketika memperlakukan dirinya.
Pagi itu seluruh keluarga Nathan berangkat semua hanya suyatno saja yang tinggal di rumah, karena dia tidak terlalu suka berada di tempat-tempat seperti itu, dia lebih memilih berjalan-jalan blusukan menuju ke kampung-kampung kecil mencari orang yang membutuhkan pertolongan.
__ADS_1
Sesampainya di mall, mereka semua menyebar membeli kebutuhan-kebutuhan perlengkapan pernikahan sekaligus mengajak anak-anak mereka berjalan-jalan setelah 5 hari penuh berada di sekolah. setelah menemukan apa yang mereka cari mereka pun mengumpulkannya di tempat penitipan barang, kemudian melaksanakan salat lalu dilanjutkan dengan makan bersama.
Canda tawa Riang selalu terlukis di keluarga yang penuh Bahagia itu, tidak ada raut wajah iri antara keluarga satu dan keluarga lainnya, mereka saling mendukung, saling membahu mewujudkan keluarga yang harmonis. sakinah, mawadah, warohmah, sesuai dengan apa yang diminta oleh suyatno yang harus terus berhubungan baik dengan saling mendukung satu sama lainnya.
Selesai melaksanakan makan mereka pun menemani cucu, keponakan bermain di Timezone, bahkan orang tuanya pun ikut mengikuti permainan itu, melupakan umur yang sudah dewasa, agar keturunan-keturunan suyatno terus merasa bahagia dan tidak terputus hubungan.
Setelah melaksanakan salat asar, Mereka pun berkumpul di halaman parkir yang berada di lantai dasar Mall, hanya Nathan dan Jasmine yang belum keluar karena tadi Nathan meminta izin kepada keluarga untuk mengantar Jasmine berjalan-jalan mengelilingi seluruh area Mall.
"Anak itu sudah ditelepon Bu?" tanya Arfan sambil menatap ke arah ibunya.
"Sudah, mereka berdua lagi salat dulu kita tunggu aja kita harus pulang bersama." jawab Rahmi menjelaskan keberadaan anak ketiganya.
"Kebiasaan suka gitu, dia tidak pernah tepat waktu kalau dijanjikan."
"Biarkan saja, kamu juga dulu seperti itu ketika kamu berpacaran dengan Fiona kamu susah diingatkan."
"Tapi aku nggak membuat orang menunggu seperti ini Bu?"
"Sudah biarkan saja, Lagian tidak lama." Jawab Rahmi menenangkan padahal harapan berbicara itu hanya bercanda.
Tak lama diantaranya dari ujung lorong terlihat ada sepasang anak muda yang berjalan menuju ke arah mereka, Jasmine berjalan paling depan sedangkan Nathan berada di belakangnya seperti pengawal yang selalu Sigap mengamankan sang atasan.
__ADS_1
"Kiw kiw....! Suit...!" Tiba-tiba ada suara yang seperti memanggil kemudian diikuti gelak tawak membuat Nathan dan Jasmine, melirim ke arah datangnya suara terlihatlah ada lima orang yang sedang duduk menunggu parkiran.