
Jantung Nathan tiba-tiba berdegup dengan kencang, hatinya berdebar tidak karuan, dia sudah membayangkan hal yang buruk yang dilakukan oleh gadis konflik itu, Dia takut kalau Jasmine berbuat yang tidak diinginkan akibat tidak kuat menahan tekanan dan cobaan yang menimpa.
Perasaan Nathan semakin tak menentu ketika sampai di halaman samping , dia tidak menemukan siapapun di sana. dia pun meneruskan pencarian ke halaman belakang rumah yang begitu besar dan begitu mewah, harus membutuhkan waktu ketika mencari seseorang. namun kekhawatiran itu tidak terjadi karena Sesampainya di halaman belakang, Jasmine terlihat sedang duduk di tepian kolam sambil menenggelamkan kakinya, sehingga banyak ikan yang menghampiri mungkin mereka menganggap bahwa kaki gaspin adalah makanan.
Nathan menarik nafas lega, setelah melihat gadis konflik itu tidak melakukan hal yang ditakutkan, namun Nathan merasa sedih ketika melihat wajahnya yang murung diselimuti awan kesedihan, matanya menatap ke arah ikan-ikan yang sedang berenang, Namun sayang tatapan itu hanyalah tatapan kosong, karena pemikiran Jasmine sedang terbang membayangkan hal-hal yang menimpa keluarganya.
"Aku berjanji! semampuku Aku akan terus berusaha menghiburmu, Aku tidak akan membiarkanmu terus terpuruk dalam kesedihan." gumam Nathan sambil berjalan mendekat ke arah Jasmine.
Mendengar ada yang mendekati Jasmine hanya melirik dengan sudut mata, kemudian dia menatap kembali ke arah kolam, seolah tidak peduli dengan keadaan sekitar, dia terus berkubang dalam kesedihan yang begitu mendalam. namun tiba-tiba.
Byur!
Nathan tercebur ke dalam kolam, membuat Jasmine terkejut. Nathan pura-pura tidak bisa berenang awal Jasmin hendak bangkit menolong, tapi dengan segera mengurungkan niat hingga duduk kembali ke tepian kolam, mengajukan Nathan yang terlihat kesusahan untuk bangkit.
Pemuda yang tidak mendapat tanggapan sedikit kecewa, hingga akhirnya dia bangun kemudian berjalan di kolam yang tinggi airnya hanya selutut , usaha untuk menghibur Jasmine agar tidak bersedih gagal total.
"Kenapa kamu tidak menolongku?" tanya Nathan sambil menyeka wajah yang penuh dengan air kolam.
"Menolong apanya?" jawab Jasmine dengan cuek.
"Aku tidak bisa berenang, aku tercebur ke kolam. Harusnya kamu menolong ku kalau beneran aku tidak bisa berenang mungkin aku bisa mati di sini."
"Kolamnya kan dangkal, kamu tinggal bangkit Kenapa kamu pura-pura tidak bisa berenang. Dan kamu tidak akan tenggelam di air yang hanya selutut.
"Ya meski dangkal, tapi kan kalau orang panik nanti bisa bahaya."
"Salah sendiri jalan tidak hati-hati, lagian mau ngapain ke sini?"
"Aku mau mengajakmu keluar menemani Ayla fitting baju pengantin." jawab Nathan sambil duduk di samping Jasmine, bajunya masih meneteskan air kolam.
__ADS_1
"Katanya Nanti jam 10.00 makanya aku ke sini dulu, terus kenapa kamu tega?" jawab Jasmine diakhiri dengan pertanyaan namun matanya tidak menoleh ke arah Nathan.
Walaupun Jasmine masih cuek, Tapi Nathan merasa senang karena Jasmine bisa diajak berbicara. sehingga dia akan mudah ketika menghiburnya, dan mengetahui keluh kesahnya.
"Tega Kenapa," tanya Nathan dengan mengerutkan dahi matanya memaling tetap ke arah wajah gadis yang sangat cantik tapi tidak bercahaya.
"Kemarin kan lamaran adikmu Kenapa kamu tidak hadir di acara lamarannya, kamu lebih memilih acara lamaran kak Abduh."
"Oh itu aku sudah minta izin kok sama dia, buktinya adikku tidak marah."
"Bukan itu pertanyaannya?"
"Lantas?"
"Kenapa kamu lebih memilih mengikuti acara lamaran kaj Abduh daripada mengikuti acara lamaran adikmu sendiri."
"Kalau Jawab jujur aku lebih memilih lamaran kaj Abduh, karena Kak Abduh adalah sahabatku terbaikku. dan mohon maaf Dia tidak memiliki keluarga lengkap seperti Ayla yang masih memiliki dua kakak yang akan selalu hadir mendampinginya. sehingga aku sebagai sahabat sejati aku harus berada di di sampingnya, baik dalam keadaan suka ataupun duka."
"Masuk yuk sebentar lagi jam 10.00, kita siap-siap terlebih dahulu." ajak Nathan sambil bangkit dari tempat duduk, kemudian mengeluarkan tangan hendak membantu Jasmine untuk berdiri.
"Mau ngapain?" tanya Jasmine sambil menatap Aneh ke arah Nathan.
"Membantu kamu untuk bangkit," jawab Nathan sambil memainkan kedua alisnya.
"Aku bisa sendiri." Ketus Jasmine kemudian dia pun bangkit lalu masuk ke dalam rumah, meninggalkan Nathan yang menganga tidak menyangka dia akan ditinggalkan seperti itu.
"Sudah bela-belain tercebur tapi dianya tidak terhibur, namun Alhamdulillah sekarang dia mau berbicara tidak seperti kemarin yang hanya terdiam mematung. semoga saja ini menjadi permulaan yang baik baginya, dan sedikit demi sedikit aku bisa mengobati luka kehilangan yang sangat besar." gumam Nathan sambil berjalan menuju ke arah dapur Sesampainya di sana dia meminta art untuk mengambilkan handuk.
Waktu yang dijanjikan pun sudah tiba, Nathan Ayla Jasmine dan Rifki mereka bersama-sama menuju ke butik yang dipercaya untuk menyiapkan baju pernikahan. selama memilih desain baju Nathan terus berusaha menghibur dia tidak memperdulikan adiknya yang sedang asyik mencoba berbagai busana yang berada di tempat itu. Namun sayang Jasmine tetap Terdiam hanya sesekali dia menjawab seolah keinginan untuk hidup sudah hilang terbawa oleh kedua almarhum kakaknya.
__ADS_1
Selesai mencoba baju, mereka pun memutuskan untuk makan di luar. karena Rifki memaksa. hingga akhirnya mereka bersama-sama pergi ke lestoran, namun Jasmine tidak berubah tetap diam membeku sedingin es yang berada di Kutub Utara. merasa tidak enak dan kasihan melihat situasi Jasmin akhirnya Nathan pun mengajak Ayla untuk segera pulang ke rumah. Padahal Rifki masih mengajak mereka untuk bermain karena dia tahu kalau Jasmine sedang berduka.
Sesampainya di rumah Rahmi yang melihat Jasmine Belum menunjukkan perubahan. dia pun ikut menghibur dengan mengajaknya mengobrol dengan Rahmi. Jasmine tidak sekaku dengan Nathan Dia sangat mengimbangi pembicaraan, membuat Rahmi semakin menyayangi gadis konflik itu. meski Jasmine lebih banyak terdiam Tapi kalau diajak mengobrol Dia sangat nyambung.
Sore hari setelah melaksanakan salat asar, Nathan kembali mendatangi kamar Ayla untuk menemui Jasmine yang baru saja menunaikan ibadah yang sama, karena melihat Ayla yang sangat rajin beribadah sehingga Jasmine pun ikut terbawa
"Mau apa lagi sih pagi-pagi ngantuk, siang ngantuk, Sore sudah ngetuk lagi?" tanya Ayla dengan Ketus.
"Jasmine-nya ada?" Jawab Nathan dengan cuek tidak memperdulikan pertanyaan Ayla.
"Ya ada lah, Emang mau ke mana, dia baru selesai salat.
Nathan pun mendorong tubuh adiknya yang berada di ambang pintu, membuat Ayla menekuk wajah cemberut merasa kesal dengan sikap kakaknya yang selalu seperti itu, namun itu hanya candaan.
Nathan duduk di tepian ranjang adiknya, menatap ke arah Jasmine yang sedang merapikan mukena. selesai merapikan Nathan pun memanggil Jasmine untuk duduk di sampingnya.
"Lari sore yuk kamu belum sepenuhnya tahu kan kota Bogor?" ajak Nathan memulai pembicaraan.
"Jangan mau, itu hanya modus." jawab Ayla yang duduk menyela kedua pasangan yang belum tahu hubungan Apa yang sedang mereka bangun.
"Lari ke mana, lari di komplek?" tanya Jasmine yang lebih antusias dari tadi pagi karena mungkin Rahmi tadi terus menasehatinya.
"Kita ke kota kita, Ke lampang Sempur, atau enggak berkeliling di taman Raya, sekalian beli baju ganti untuk kamu tinggal di sini, karena kemarin kita hanya beli dua baju.kalau mau ayo siap-siap nanti aku jemput lagi ya."
"Aku sudah siap, aku tinggal berangkat."
"Ya sudah kalau begitu ayo, Ayla kamu mau ikut nggak?" Tanya Nathan sambil melirik ke arah adiknya
"Nggak ah, Kak. malas, capek, Ayla mau dipingit dulu karena sebentar lagi mau nikah."
__ADS_1
"Iya biar putih biar nggak item." ledek Nathan sambil mencubit hidung adiknya kemudian, dia pun berlalu pergi membuat Ayla menarik bantal kemudian melemparkan ke arah Nathan, namun pintu yang sudah tertutup sehingga bantal itu tidak kena.
"Hahaha tidak kena, tidak kena." ujar Nathan sambil memunculkan kepalanya di balik pintu.