
Mobil colt Setan Pun terus melaju untuk mengantarkan para penumpang ke tempat tujuan, Hilir berganti orang menaiki angkutan sejuta umat itu, ada yang naik ada yang turun, dengan sabar sopir pun melayani. kala itu waktu semakin lama semakin siang, mungkin kira-kira pukul 01.00 siang karena Nathan tidak membawa handphone karena terjatuh ketika tadi bertarung.
Deru suara mesin mobil tidak berhenti, sesekali diselingi dengan suara klakson yang dibunyikan, ketika mobil colt itu menyalip atau ada kendaraan lain yang menghalangi jalannya, karena raja jalanan Sukabumi Bogor adalah cilt setan, tidak ada orang yang berani menggubrisnya atau mereka malas berurusan dengan para raja itu.
Perjalanan tidak ada gangguan lagi karena Jasmine dan Nathan tidak memilih untuk tidur, mereka menikmati pemandangan dari jendela mobil. Jasmine masih belum memberikan respon, masih tidak mau diajak berbicara akibat kesedihan yang masih membelenggunya.
Kira-kira pukul 03.00 sore Nathan sudah sampai di terminal Baranangsiang, Terminal Kota Bogor. mereka turun setelah membayar ongkosnya Nathan mengajak Jasmine untuk naik angkot, kebetulan angkot itu sedang kosong sehingga Nathan pun meminta agar mengantarkan sampai ke rumah sopir angkot tidak menolak asal sesuai dengan bayaran yang akan diberikan.
Suasana sudah lewat adzan Ashar, burung-burung gereja terdengar berkicau dari atas pohon, karena meskipun kota, Bogor memiliki satu keunikan, mereka memiliki hutan di tengah kota. masih banyak pohon-pohon besar yang tumbuh di samping kanan kiri jalan, membuat hewan-hewan yang bisa terbang berhabitat di atasnya.
Angkot terus melaju menuju jalan Ciomas, namun ketika ada belokan Gang yang masuk komplek perumahan, angkot itu berbelok masuk ke dalam setelah meminta izin terhadap satpam. Angkutan umum pun dibiarkan lewat apalagi mereka sangat tahu bahwa Nathan adalah salah satu anak orang yang paling dihormati di tempat itu.
Nathan terus mengarahkan angkot Menuju jalan ke rumahnya hingga akhirnya angkot pun terhenti di salah satu depan pintu gerbang yang rumahnya sangat besar, halamannya sangat luas ditumbuhi dengan berbagai macam bunga, diselingi dengan kolam-kolam kecil yang dihiasi oleh ikan-ikan berwarna-warni. ketika sampai ke rumah itu terlihat ada beberapa mobil yang keluar dari pintu gerbang seperti selesai Melaksanakan pertemuan.
"Terus masuk aja ke dalam!" pinta Nathan yang ingin diantarkan sampai depan teras.
Sopir pun mengangguk dia terus memasukkan mobilnya ke halaman rumah, dia meski berada di Bogor dia baru melihat rumah seluas itu, karena mungkin keluarga Nathan jarang ada yang memesan angkutan umum, mereka biasa menggunakan mobil pribadi untuk efisiensi kerja yang harus bergerak cepat.
__ADS_1
Orang-orang yang baru mengantarkan tamunya terlihat heran melihat ada angkot yang masuk ke dalam rumah, namun rasa heran itu seketika berubah menjadi kebingungan karena yang keluar dari dalam angkot adalah Nathan anaknya sendiri.
Melihat anaknya datang dengan segera Rahmi sebagai Ibunya datang menghampiri kemudian wajah heran itu berubah menjadi kesal karena Nathan baru datang setelah acaranya sudah selesai. ternyata hari itu adalah hari lamaran Ayla dengan kekasihnya, sebagaimana adik Nathan menelepon Beberapa hari lalu mengingatkan kakaknya untuk hadir dalam acara lamaran.
"Darimana saja kamu baru pulang, bukannya Ayla sudah menelpon agar kamu pulang sejak hari kemarin." Gerutu ibunya yang memberondongi Nathan dengan pertanyaan.
Nathan dengan wajah lesu, muram, tak ada cahaya, dia tidak menjawab ocehan ibunya. dia melirik ke arah dalam angkot kemudian keluarlah seorang gadis dengan wajah yang sangat kelambu, tidak ada lagi cahaya kehidupan dalam rautnya. senyum manis, keceriaan yang selalu menghiasi, kini sirna entah ke mana. membuat ibunya semakin menatap heran ke arah Nathan yang belum menjawab pertanyaannya.
"Ini siapa lagi?" tanya Rahmi dengan menatap penuh Sidik ke arahnya.
"Apa nggak sebaiknya Ibu mengajak saya masuk terlebih dahulu, baru di sana Ibu boleh bertanya, karena itulah yang selalu ibu ajarkan kita harus menghormati tamu walau bagaimanapun orangnya." jawab Nathan membuat ibunya menarik nafas dalam Sepertinya dia terjebak dengan perkataannya sendiri
Keluarga Nathan pun masuk ke dalam, Ayla yang biasanya sangat antusias menyambut kedatangan kakaknya. hari itu seolah masih diliputi kecewa karena acara sakral tidak dihadiri oleh seorang kakak, atau mungkin dia bisa membaca suasana hati kakaknya yang masih diliputi oleh kesedihan.
Hiasan-hiasan dekor yang sangat mewah masih berada di tempatnya, jamuan jamuan masih berbaris rapi di aula, bahkan masih banyak orang-orang yang sedang menikmati jamuan itu, suara musik terdengar begitu merdu menambah suasana megah di rumah Nathan, Kak Padahal kalau hanya untuk lamaran seharusnya tidak perlu semewah ini, sebab hanya untuk mengobrol menentukan tanggal dan menanyakan kesiapan pihak perempuan untuk menerima pihak laki-laki sebagai suaminya, namun berbeda dengan keluarga Suyanto yang termasuk salah satu orang kaya di kota itu
Sebenarnya keluarga Suyanto harus menemani para tamu undangan namun melihat Nathan membawa seorang perempuan ke dalam rumah dibarengi dengan keanehan-keanehan yang nampak di wajah kedua orang itu membuat mereka memutuskan untuk rapat bersama dengan begitu mendadak. Nathan dan jasmine di ajak ke salah satu ruangan yang berada di rumah itu, ruang tengah tempat berkumpul keluarga.
__ADS_1
Yang menghadiri acara rapat mendadak adalah kedua Kakak Nathan dan suami istrinya, ditambah Alya, kedua orang tua dan kakeknya. mereka yang awalnya baru selesai mengantar calon besan dikejutkan dengan kedatangan Nathan di barengi seorang perempuan. ini harus segera diselesaikan karena mereka menjunjung tinggi tentang norma-norma kehidupan dan ingin mengetahui asal usul Jasmine supaya tidak tabu.
Nathan duduk berdampingan dengan Jasmine dihadapi kedua orang tuanya, seperti seorang terdakwa yang sedang di sidang oleh Hakim. sedangkan kakek Nathan berada di samping kiri dan kakak-kakaknya bersama Ayla berdiri saja mereka hanya menjadi saksi ketika tidak dibutuhkan untuk memberikan pendapat.
"Mohon maaf kalau kedatangan kamu disambut dengan seperti ini, tapi ini bukan apa-apa ini untuk kebaikan kita semua, agar semuanya bisa jelas dan kami tidak heran." ujar Suyatno mulai membuka pembicaraan dia membagi tatap dengan kedua orang yang duduk di hadapannya.
Suasana di ruangan keluarga terasa sangat sepi, hanya terdengar sayup-sayup suara musik dari aula acara lamaran. adik dan kakak Nathan tidak ada yang berani berbicara bahkan Rahmi pun hanya diam mengawasi.
"Yah Pak Nathan sangat mengerti dan sangat paham apa yang akan Bapak tanyakan." jawab Nathan seolah menantang namun berbeda dengan gestur tubuhnya yang menatap ke arah lantai, tidak berani beradu tatap dengan bapaknya kecuali dengan Rahmi Nathan sering bercanda.
"Siapa gadis yang ada di samping kamu, nampaknya dia sangat cantik. Apakah dia adalah calon istrimu?" tanya Suyanto dengan pelan namun terdengar tegas.
"Namanya Jasmine, dia adalah sahabat saya. maksud saya membawa dia ke sini saya ingin meminta kepada kalian semua untuk memperbolehkan dia tinggal di sini untuk sementara waktu. karena dia sedang berduka setelah ditinggal keluarga yang meninggal akibat kecelakaan."
"Astaghfirullahaladzim, Apakah benar itu Jasmine?" tanya Rahmi dengan sedikit panik, dia mulai paham kenapa sejak dari tadi Jasmine Murung seperti tidak ada semangat dalam hidupnya.
Hasmine menganggukan kepala, kemudian menundukkannya kembali menatap ke arah lantai, dari sudut matanya mulai Kembali keluar cairan bening seolah air mata itu tidak pernah surut dari tubuhnya m, seperti memiliki stok yang sangat banyak. Rahmi yang sebagai seorang perempuan melihat perubahan sahabat anaknya dengan segera dia pun bangkit, kemudian duduk di sampingnya lalu dia memeluk Jasmine ikut merasa sedih dengan apa yang menimpa.
__ADS_1
Pelukan tulus diberikan oleh seorang wanita membuat Jasmine semakin merasa sedih m, semakin mengingat kembali dengan kedua orang tua yang begitu sangat menyayanginya. Jasmine menangis diperlukan Rahmi mencurahkan semua kesedihan yang sangat berat, berharap kesedihan kepedihan terbawa dengan butiran-butiran air mata yang tak surut.