Terjebak Cinta Gadis Konflik

Terjebak Cinta Gadis Konflik
Bukan Harta yang Mereka cari


__ADS_3

Dengan segera salah satu orang dari ketiga perampok itu keluar dari kamar mencari-cari kotak P3K. setelah menemukan dia pun kembali dengan membawa betadin dan kapas, dengan telaten orang itu mengobati luka Halimah seperti sudah biasa melakukan karena mungkin mereka tinggal di kampung konflik yang harus bisa mengobati luka untuk bertahan hidup.


"Kalian sebenarnya mau ngapain?" tanya Halimah dengan membagi tatapan nanar ke arah Ketiga orang yang berada di samping dan di hadapannya.


"Kami membutuhkan salah satu data mahasiswa yang kuliah di kampus ITC, aku yakin kamu pasti mengetahuinya."


"Siapa yang kalian cari?"


"Nathan, Kami sedang mencari tempat tinggal dia berada di mana, Kami yakin kalau kampus akan memiliki data lengkapnya."


Mendengar pertanyaan seperti itu dahi Halimah terlihat mengerut, seolah menerka-nerka Ke mana arah tujuan ketiga perampok itu, namun setelah lama berpikir dia tidak menemukan jawaban hingga akhirnya dia pun bertanya.


"Buat apa kalian mencari Nathan?"


"Kamu tidak usah banyak tanya, sekarang kamu jawab di mana alamat rumah Nathan?:" ujar orang yang memegang pisau sambil sedikit menekan namun tidak sampai melukai seperti tadi.


"Ampun, ampun, jangan lukai saya!"


"Kalau kamu tidak ingin terluka dan nyawamu masih ingin tetap tinggal di dalam raga, maka jawablah jangan bertele-tele!" hardik orang yang merasa kesal mereka sangat leluasa dalam memperdaya Halimah, karena Entah mengapa wanita itu tinggal sendirian atau mungkin suaminya belum pulang dari kantor.


"Maaf aku tidak tahu di mana Nathan tinggal." jawab Halimah mulai mencoba melakukan perlawanan.


Plak!


Satu tamparan mendarat di area pipi Halimah membuat wajah wanita itu terlempar ke arah samping, wanita yang sudah diikat kaki dan tangannya tidak bisa berbuat apa, hanya deraian air mata yang membasahi Pipi sebagai ungkapan kesedihan, dari rasa tidak berdaya menghadapi semuanya.


"Sekali lagi Kamu bohong, akan kupatahkan lehermu!" ucap pria yang menampar dengan sorot mata yang tajam.

__ADS_1


"Kamu itu dosen Mana mungkin kamu tidak tahu. kalau pun tidak tahu kamu bisa bertanya dengan orang yang mengetahuinya." ujar yang lainnya menimpali.


"Baik, baikĀ  akan aku tunjukkan tapi bagaimana aku menunjukkan, kalau aku diikat seperti ini."


"Memang ada di mana data-data anak kampus?"


"Di ruang kerjaku?"


"Ya sudah ayo Tunjukkan!" jawab orang yang memegang pisau kemudian dia menggendong tubuh Halimah dengan begitu enteng membawa keluar dari kamar.


Halimah terlihat meronta-ronta, namun apalah daya kekuatan wanita yang sangat jauh berbeda jika dibandingkan dengan kekuatan pria. sehingga akhirnya dia hanya bisa terdiam menunjukkan kamar yang berada di lantai dua.


Sesampainya di kamar, benar saja apa yang dikatakan oleh Halimah, di kamar itu terlihat banyak berkas-berkas yang tersusun rapi di dalam rak.


"Mana berkasnya?"


Salah seorang mendekat ke rak yang ditunjuk oleh Halimah, kemudian ia memindai tahun-tahun yang menandai rak itu, setelah menemukan dia pun mengambil tumpukan berkas yang begitu banyak, dia membawanya ke meja di mana Halimah duduk di kursinya.


Ketiga orang pun membagi tugas, satu diantaranya menjaga Halimah takut melakukan hal yang tidak diinginkan, kedua orang lain mereka disibukkan membuka satu persatu lembaran demi lembaran data-data mahasiswa tahun ajaran 2015. Lama mencari akhirnya mereka pun menemukan data Nathan, memang di dalam data itu tertera sangat lengkap mulai dari nomor handphone sampai alamat tempat dia tinggal.


Setelah menemukan apa yang mereka cari, dengan segera Mereka pun mengambilnya kemudian mendekat ke arah Halimah yang masih ditahan oleh temannya


"Awas kalau kamu sampai melapor ke pihak yang berwajib, aku sudah mengetahui gerak-gerik mu dari beberapa minggu yang lalu, sehingga kami akan mudah ketika kami ingin menghabisi nyawamu." ancam orang itu sambil menatap tajam ke arah Halimah.


"Terus selanjutnya Bagaimana Kang?" tanya orang yang menjaga Halimah dari tadi.


"Kita pulang saja biarkan wanita tua ini hidup, karena kita tidak punya urusan dengannya."

__ADS_1


"Nggak kita apa-apain dulu kang, lumayan untuk mengobati rasa dingin."


Mendengar kata itu, tubuh Halimah pun tiba-tiba bergetar membayangkan hal terburuk yang akan menimpanya, terlihatlah tubuhnya yang bergidig ngeri karena dalam hidupnya tidak sempat terbayangkan berhubungan dengan pria lain apalagi pria itu ada tiga.


"Jangan menambah masalah, Biarkan saja seperti biasa."


"Terus harus kita apakan."


"Kita tinggalkan saja biarkan nanti saudara atau anaknya menolong, kalau dia memiliki. tapi kalau tidak biarkan mampus saja sekalian, biar tidak ada yang mengganggu kedepannya."


Mendengar penjelasan dari ketuanya terdengar hembusan napas yang ditarik begitu dalam, seperti merasa kecewa karena tidak bisa menikmati tubuh Halimah yang hanya terbalut oleh handuk, namun meski begitu dia tidak berani memaksa.


Orang yang memerintahkan pun dengan segera mengambil kain lalu menyobeknya dengan Pisau, kemudian dia mengikat mulut Halimah seperti tadi agar tidak berteriak ketika mereka melarikan diri.


Setelah semuanya dirasa aman tanpa berpamitan mereka bertiga pun menuruni anak tangga menuju lantai pertama kemudian keluar dari pintu gerbang dengan tergesa-gesa. sedangkan Halimah hanya bisa bergerak gerak ingin melepaskan diri namun ikatan yang ada di tubuhnya terasa begitu kuat, hanya air mata yang terus mengalir membasahi pipi tidak mampu menahan percobaan yang begitu berat.


Dalam hati kecilnya Halimah merasa bersyukur karena dia tidak sampai di Nodai oleh ketiga orang yang mencari Nathan, tapi dia merasa khawatir dengan keselamatan mahasiswanya sehingga dia pun ingin segera melepaskan diri kemudian menelepon Nathan untuk memberitahukan bahwa dirinya sedang diincar oleh orang yang tidak dikenal.


Keadaan pun semakin lama semakin sore hujan yang awalnya mengguyur kota Bandung sudah mulai terlihat reda, lampu-lampu yang berada di jalan dan di depan rumah sudah menyala karena waktu sudah mulai memasuki waktu malam, saya sayap siang akan menutup digantikan oleh waktu gelapnya malam. yang berbeda waktu itu lampu yang berada di halaman depan rumah Halimah tidak menyala bahkan di dalamnya hanya sebagian saja yang dinyalakan.


Kira-kira selepas adzan maghrib berkumandang ke rumah Halimah ada mobil yang terparkir di pintu gerbang, kemudian turunlah seorang pria muda dengan berlari karena gerimis masih terus berlanjut, dia membuka pintu gerbang yang tidak dikunci membuat kekhawatirannya semakin bertambah, soalnya Halimah yang biasa ditelepon langsung mengangkat waktu tadi sore beberapa kali ditelepon Halimah membiarkan.


Setelah pintu gerbang terbuka mobil pun masuk ke dalam Alangkah terkejutnya dia karena lampu-lampu yang berada di depan rumah tidak menyala, dia yang semakin merasa ada sesuatu yang tidak beres tergesa-gesa keluar namun ditahan oleh istrinya.


"Jangan tergesa-gesa Kang, mendingan Akang hubungi dulu Pak RT agar ketika ada sesuatu yang tidak diinginkan kita memiliki saksi.


"Ya sudah ayo kita temui Pak RT terlebih dahulu." jawab sang pria membenarkan saran dari istrinya.

__ADS_1


Mereka berdua pun menggunakan payung yang dipakai berdua keluar kembali dari pintu gerbang, menuju gang yang hanya bisa dimasuki oleh motor untuk menemui pengurus warga setempat.


__ADS_2