
"Memang aku orang benar, lihat saja ketika aku memilih seorang wanita untuk aku jadikan Seorang Istri. aku memilih Jasmine wanita paling cantik di dunia ini. Apa kamu masih meragukan kalau aku memilih mencintai Jasmine itu adalah pilihan yang salah?" jawab Nathan yang pandai beretorika dia tidak akan pernah kalah ketika berbicara namun kelebihannya pembicaraannya itu akan dibuktikan dengan sekuat tenaga melalui perbuatan, sehingga menjadikan pribadi yang lebih baik di mata orang lain.
"Ya tidak salah memilih Jasmine, tapi Jasmine lah yang salah karena sudah dipilih oleh dirimu." Jawab Abduh mengelak pernyataan Nathan.
"Dari mana kesalahannya?"
"Karena dia sudah dikenali oleh pria yang tidak bertanggung jawab seperti dirimu, sehingga nantinya dia akan hidup susah karena memiliki suami yang tidak pernah sikat gigi sebelum tidur."
"Selalu itu aja Yang kamu bahas, nggak ada yang lain apa? jangan terus memojokkanku karena kalau aku semakin di pojokan, maka aku akan semakin gigih untuk berusaha membuktikan apa yang aku utarakan."
"Ya Buktikanlah, Jangan nunggu lama-lama nanti Jasmine keburu disambet oleh pria lain. ingat Jasmine itu adalah wanita yang sangat cantik, jadi bukan kamu saja yang menginginkannya."
"Selain cantik Jasmine itu sangat pintar, dia tidak akan Salah Memilih mana laki-laki yang cocok untuk menjadi pendampingnya. Lagian Kenapa buru-buru amat sudah tidak sabar ingin memanggil sahabat ini dengan sebutan adik ipar?" ujar Nathan sambil mengulum senyum merasa menang atas pembicaraannya.
"Susah kalau ngomong sama kamu, diingatkan Malah semakin berbelit." jawab Abduh yang membaringkan tubuhnya ke atas kasur matanya menatap ke arah langit-langit kamar membayangkan kalau hari Minggu sudah tiba, dia akan datang ke rumah kekasihnya sambil disambut dengan senyuman yang sangat indah dan penuh kebahagiaan.
Abduh tidak berbicara lagi seolah tidak memperdulikan Natan yang terus mengoceh seperti burung yang sedang gacor. membanggakan dirinya ketika berhasil mendekat Jasmine cerita menemani lari sore Terus diulang sehingga Abduh pun memalikan tubuhnya menyamping kemudian menutupi telinga menggunakan bantal.
"Ngapain kamu malah berbalik, kenapa kamu nggak dengerin aku bercerita?" tanya Nathan sambil mengambil bantal yang dipakai penutup telinga.
"Aku capek dari tadi aku sibuk terus mengurus persiapanku untuk melamar lagian aku juga punya khayalan Indah sendiri
Jadi Kita menghayal masing-masing aja!" jawab Abduh sambil merebut kembali bantal yang tadi diambil.
"Nggak asik kamu Duh!" gerutu Nathan sambil membaringkan tubuhnya di samping Abu dia pun menatap langit-langit yang sama membayangkan kejadian tadi sore di mana dia berlari dengan wanita idamannya senyum Jasmine kesedihan Jasmine selalu terbayang di dalam pelupuk matanya seolah menjadi candu yang tidak bisa dilepaskan, Terjebak Cinta Gadis konflik.
Setelah agak lama terdiam, mereka yang terlarut dalam lamunan masing-masing. akhirnya matanya mulai mengatup dengan perlahan, hingga lama-kelamaan mata itu tertutup dengan sempurna, dibarengi dengkuran halus yang keluar dari bibir masing-masing. khayalan yang indah terbawa ke alam impian, Memang begitulah mimpi yang hadir ketika kita terus terobsesi dengan sesuatu.
Keesokan paginya. Nathan yang sedang berada di belakang rumah, tiba-tiba dihampiri oleh Jasmine. membuat pemuda itu mengulum senyum karena merasa kalau dirinya sudah berhasil membuat Jasmine mencarinya.
__ADS_1
"Ada apa wanita jutek, pagi-pagi menghampiriku?" Tanya Nathan dengan wajah cengengesannya.
"Siapa yang jutek? aku nggak jutek kok. aku hanya memilih-milih Siapa saja orang yang bisa dijadikan teman dan siapa saja yang bisa dijadikan sahabat. karena aku tidak mau bergabung dengan orang-orang yang tidak sejalan atau sepemikiran. Nantinya bisa membuat hidupku menjadi memiliki beban."
"Terus sekarang aku sudah terpilih, sehingga Bidadari Tanpa Sayap ini mau menghampiriku."
"Jangan ngedupus terus, aku nggak akan mempan dengan bahasa-bahasa anak baru lulus SMP seperti itu, kalau ngobrol denganku ngobrol lah seperti biasanya, seperti kamu sedang mengobrol dengan adik ataupun saudara." Pinta Jasmine dengan wajah yang serius.
Melihat lawan bicaranya mengajak serius, Nathan pun merubah raut wajah dengan wajah yang datar, menandakan kalau dirinya pun bisa diajak mengobrol serius, namun itu tidak lama karena dengan segera dia pun mengulum senyum seperti orang yang kurang waras.
"Ada apa Mau ngajak aku beradu lari lagi seperti kemarin sore?" ujar Nathan mengulangi pertanyaannya.
"Nggak, aku lari hanya seminggu dua kali, hanya untuk kesehatan saja tidak terus-menerus."
"Terus mau apa Apakah, ada yang bisa saya bantu?"
"Kalau begitu berarti kamu datang dengan orang yang tepat."
"Maksudnya?" tanya Jasmine yang terlihat mengerutkan dahi.
"Iya maksudnya kalau membutuhkan pertolongan maka kamu sudah berada di jalan yang tepat, karena kamu mau menemuiku. soalnya aku ini orangnya multi Talent. kamu mau minta dibuatkan seribu candi akan aku layani, kamu meminta dibuatkan perahu akan aku sanggupi."
"Mulai deh, aku serius Nathan!" jawab Jasmine dengan membuat hati Nathan terasa berdebar, karena kalau Jasmine sedang Ngambek dia terlihat semakin cantik.
"Iya mau serius apa, mau minta tolong apa?" jawab Nathan yang tidak melepaskan senyum di bibirnya namun dia terlihat membenarkan posisi duduknya seolah dia sudah siap berbicara dengan serius.
"Aku kangen dengan kenangan dulu ketika orang tuaku masih ada. aku sering diajak ke sawah dan bermain lumpur di sana atau kalau tidak aku menunggu di saung sambil memperhatikan mereka bekerja."
"Oh kamu ingin diantar pergi ke sana?" Tanya Nathan memastikan.
__ADS_1
"Yah Itupun kalau kamu tidak keberatan?"
"Nggak, nggak keberatan kok. justru aku senang kalau aku bisa membantu, karena menurutku hidup itu bukan seberapa kaya kita, bukan seberapa Gagah kita, tapi seberapa manfaat hidup kita buat orang lain."
"Benar memang prinsip Hidup harus seperti itu. karena kalau kita memiliki harta tidak bisa memanfaatkannya itu sama saja tidak berguna, sama seperti kita agak memiliki kepintaran tapi tidak ada manfaatnya itu sama sekali tidak ada gunanya. jadi bagaimana mau nggak kamu menemaniku untuk pergi ke Saung?" Tanya Jasmine memastikan."
"Sama siapa aja?" tanya Nathan sambil menatap serius ke arah Jasmine.
"Hanya Kita berdua."
"Ayo!" jawab Nathan dengan segera seolah tidak dipikir terlebih dahulu karena dia bisa memiliki waktu untuk mengungkapkan perasaan yang baru-baru ini selalu hadir dalam mimpi indahnya, karena meski sudah beberapa hari tinggal bersama Jasmine, Nathan selalu kesulitan untuk mengajak wanita pujaannya buat mengobrol atau bertegur sapa, karena selalu banyak orang. kalau dia pergi ke Saung dan jauh dari keramaian dia akan leluasa mengutarakan isi hatinya.
"Semangat amat, ingat ya kamu hanya mengantarku tidak lain dan tidak bukan."
"Maksudnya?" tanya Nathan mengerutkan dahi.
"Halah pura-pura, kayak nggak tahu Sifat laki-laki aja. aku mengajakmu berdua bukan aku ingin berduaan dengan kamu, Tapi kalau aku meminta izin dengan kang Dadang ataupun teh Sarah mereka pasti akan melarangku karena sawah orang tua kami berada di ujung desa, sehingga ketika kita mengunjunginya kita harus mengadakan pengawalan besar-besaran karena tidak menutup kemungkinan ke sawah itu akan ada warga Kampung Cisaga yang lewat, sehingga membahayakan keselamatan kami."
"Oh kamu takut kalau aku berbuat macam-macam begitu?"
"Iya cowok kan sama aja."
"Itu kan cowok, aku bukan cowok."
"Terus ngondek begitu?:
"Tidak juga. aku adalah pria sejati pria yang akan selalu memegang norma-norma kehidupan. jadi kamu tidak usah takut kalau aku berbuat macam-macam, Kalau kamu tidak diizinkan menyentuh pun aku tidak akan berani lakukan kecuali kalau kamu maksa."
"Halah PD amat, Kalau benar mau menemaniku ke Saung. ayo siap-siap nanti keburu Kang Dadang pulang." Ajak Jasmine sambil bangkit dari tempat duduknya kemudian dia pun pergi meninggalkan Nathan yang terlihat bersemangat. dengan segera dia pun mengejar Jasmin untuk sama-sama masuk ke rumah bersiap-siap hendak pergi ke sawah.
__ADS_1