
"Begini Abduh, Akang kepikiran dengan ucapan Nathan ketika tadi kita ngobrol di ruang tamu." jawab Dadang menjelaskan Kenapa adiknya dipanggil ke kamar untuk mengobrol.
"Sudah Jangan dipikirkan Memang begitulah keadaan sahabat saya, yang sering bercanda dan cuplos-ceplos kalau berbicara. akang harus memakluminya!"
"Ini masalahnya serius Abduh, karena memang benar apa yang dibicarakan oleh Kakak kamu teh Sarah kalau Jasmine tidak segera dinikahkan nanti takutnya dia kesepian, karena tidak ada lagi orang yang menemani, apalagi Jasmine sangat dekat dengan kamu bahkan setiap hari pasti dia akan menelpon dan mengirimkan video ketika dia berada di Amerika. Akang takut kalau dia merasa kesepian karena ditinggalkan olehmu yang menikah."
"Oh masalah Jasmine," jawab Abduh tertegun karena dia yang sedang dimabuk kasmara dia tidak terlalu mempedulikan ucapan Nathan yang harus menikahkan Jasmine agar tidak kesepian.
"Iya tadi Akang sama teh Sarah sudah mengobrol banyak membahas Bagaimana Jasmine ke depannya."
"Terus Apa keputusannya?" Tanya Abduh sambil membagi tatap ke arah kedua Kakaknya.
"Belum diputuskan! karena kami masih menunggu kesepakatan dari kamu."
"Tentang?" tanya Abduh yang mengerutkan dahi dia belum paham kemana arah pembicaraan kedua Kakaknya.
"Kami berdua berencana ingin menikahkan Jasmine dengan Nathan."
"Waduh!" jawab Abduh yang terlihat kaget tidak menyangka kalau kakaknya memiliki pikiran sampai ke sana.
"Kenapa kamu seperti orang yang kaget, Apa kamu tidak setuju Kalau Jasmine dinikahkan dengan sahabatmu itu?" tanya Dadang sambil menatap heran ke arah adiknya.
"Saya sangat setuju kang, memang kayaknya mereka sangat cocok kalau dijodohkan."
"Syukur kalau begitu, Sekarang kita tinggal memikirkan Bagaimana Abduh mau menikahi Jasmine. Soalnya kalau adik kita sudah bisa dipastikan dia akan mau menerima sahabatmu sebagai kekasihnya, karena menurut Akang Abduh lumayan tampan dan bertanggung jawab. Buktinya dia mau membebaskan Jasmine ketika disandera oleh Darman."
Mendengar penjelasan dari kakaknya, Abduh pun mengulum senyum karena merasa bahagia soalnya keinginan Nathan akan segera terwujud. dia yang sangat mengetahui kalau sahabatnya sangat serius ingin menikahi adiknya karena Abduh belum melihat Nathan Seserius sekarang, dia berani melakukan apapun demi bisa berdekatan dengan Jasmine.
__ADS_1
"Kenapa kamu malh terdiam lagi, kamu takut kalau Nathan tidak suka dengan adik kita. Atau Apakah dia sudah memiliki pasangan atau Kekasih Hati?"
:Bukan begitu Kang. Kalau Akang mau tahu Nathan jauh-jauh datang ke sini karena dia melihat video yang sering Jasmine kirimkan, meski hanya baru satu kali dia sudah menyukai adik kita, bahkan kalau adik kita mau dia akan langsung melamar dan menikah. dia berencana mengajak Jasmine untuk tinggal di kampung halamannya, di Bogor agar Jasmine tidak dihantui oleh ketakutan akibat Serangan Kampung Cisaga."
"Yang benar kamu, Abduh Apakah Teteh tidak salah mendengar?" tanya Sarah yang sejak dari tadi terdiam.
"Benar teh Bahkan dia sudah membawa cincin untuk melamar Jasmine. Tapi entah mengapa dia belum melakukannya, mungkin karena kesibukannya membantu persiapan untuk acara lamaran
"Alhamdulillah syukurlah kalau begitu, Akang lega mendengarnya, karena walau bagaimanapun Jasmine tetap adik kita yang harus tetap kita awasi dan kita bahagiakan."
"Iya Kang, Syukurlah kalau akang juga menginginkan Nathan menjadi adik ipar kita, karena awalnya saya takut kalau dia tidak akan mendapat restu dari Akang."
"Akang pasti merestui mereka. Ya sudah kamu sampaikan berita baik ini sama Nathan nanti Akang akan sampaikan kepada Jasmine."
"Baik kang, tapi akang tidak usah repot-repot karena biasanya mereka kalau sore seperti ini berolahraga bersama, jadi biarkan Abduh sekalian yang menyampaikan berita bahagia ini terhadap adik kita
Akhirnya musyawarah sore itu berakhir dengan keputusan bahwa Abduh akan menemui Nathan yang sedang berolahraga sore bersama Jasmine. Abduh pun keluar dari kamar kakaknya sambil mengulum senyum merasakan kebahagiaan yang terus bertubi-tubi, bahagia dirinya akan menikah dan bahagia adik sekaligus sahabatnya bisa bersatu. Abduh tidak terlalu khawatir kalau Jasmine menikah dengan Nathan, karena Abduh sudah sangat mengenal sifat baik pemuda itu.
Sesampainya di luar kamar, Abduh pun merogoh kantong celananya untuk mengeluarkan handphone kemudian dia pun menekan tombol Panggil, sehingga nada tunggu pun terdengar.
"Halo di mana kamu Nathan?" tanya Abduh setelah teleponnya tersambung.
"Maaf ini siapa ya?"
"Lah kenapa suara sahabat saya jadi berbeda, Kamu siapa. Kamu mencuri hp sahabat saya ya?" tanya Abduh dengan nada penuh curiga, karena suara sahabatnya berubah menjadi seperti suara anak kecil.
"Saya Roni Kang, kebetulan Kang Nathan sedang bermain bola, handphonenya disimpan di saung Sehingga tadi ketika ada telepon berbunyi Dia menyuruh mengangkatnya. Emang ini siapa?"
__ADS_1
Tut! tut! tut!
Telepon pun terputus membuat Roni mengerutkan dahi tidak mengerti dengan orang yang menelepon nomor Nathan, Kalau tidak ada kepentingan kenapa menelpon. Sedangkan Abduh setelah mengetahui keberadaan Nathan, dia pun keluar dari rumah kemudian mengambil motor dari Garasi rumahnya lalu dia pun pergi meninggalkan rumah Dadang menyusuri jalan besar yang nantinya akan tiba di lapangan bola.
Suasana sore terlihat begitu indah, Lembayung senja merubahkan warna-warna benda yang tersinari oleh sinarnya menjadi kuning keemasan, digenadangi dengan suara terapung diiringi oleh burung yang bernyanyi di atas pohon, mereka Terdengar gemericit seperti sedang memperebutkan tempat penginapan, membuat muda-mudi warga Kampung sagaranten memanfaatkannya dengan berkumpul berolahraga ada yang bermain bola, ada yang voli, ada juga yang hanya berjalan-jalan santai dan menonton sambil melepaskan lelah setelah seharian bekerja.
Begitu juga dengan anak-anak kecil yang bermain dengan usia sebayanya, ada yang bermain petak umpet, galah, gatrik, main kucing-kucingan dan yang lainnya, selayaknya permainan anak-anak kecil, disaksikan oleh orang tua yang duduk di teras rumah.
Aduh terus mengendarai motor itu sesekali dia menjawab sapaan dari warga kampung yang begitu menghormatinya, karena kebaikan orang tuanya dan Kang Dadang tidak terhingga, sehingga Abduh pun menjadi orang yang sangat disegani dan dihormati.
Sesampainya di lapang bola terlihatlah banyak para pemuda dan orang tua yang sedang menikmati waktu sore dengan berolahraga. Ada pula yang hanya mengobrol dengan temannya atau dengan lawan jenis, saling memikat, saling menarik, karena mereka yang berada di kampung konflik akan susah menemukan pasangan dari luar kampung.
"Lihat si Roni?: tanya Abduh sama pemuda yang berada di situ.
"Di saung, emang kenapa."
"Gak Papa, Ada urusan sedikit. ya sudah saya ke sana dulu." jawab Abduh sambil berjalan menuju ke arah Saung. terlihatlah Roni yang sedang memainkan HP sahabatnya karena dia masih kecil dan orang tuanya mungkin tidak mampu membelikan handphone, sehingga dia pun merasa senang memainkan game-game yang berada di HP sahabatnya.
"Mana Nathan?" tanya Abduh sambil menatap ke arah Roni.
"Eh Kang Abduh, tuh Kang Nathan sedang bermain bola." Jawab anak SMP itu yang menarik sebentar kemudian menatap lagi ke arah handphone yang sedang dipegangnya.
"Tolong panggilkan!" jawab Abduh sambil duduk di bangku panjang yang disiapkan untuk para penonton atau pemain beristirahat.
Roni yang merasa terganggu, dia pun hanya terdiam kemudian bangkit dari tempat duduknya, Karena untuk menolak dia tidak memiliki keberanian, sehingga dia pun berlari ke tengah lapangan, membuat wasit meniup peluit, namun Roni pun mengacuhkan dia terus berlari menemui Nathan.
"Ada apa Roni kok kamu masuk ke dalam lapangan?"
__ADS_1
"Dipanggil Kang Abduh!" jawab Roni sambil memberikan handphonenya karena dia akan menggantikan Nathan yang sedang bermain bola.