Terjebak Cinta Gadis Konflik

Terjebak Cinta Gadis Konflik
Abduh Terpaku


__ADS_3

Orang-orang terlihat berbondong-bondong mendatangi kaum yang berada di halaman rumah Abduh, karena kaget mendengar teriakan Jasmine yang seperti menemukan ketakutan, beruntung tangan Nathan sudah dilepaskan sehingga tubuh Jasmine bisa terlepas kembali ketika orang-orang datang mereka sudah tidak berpelukan.


"Kenapa, kalian kenapa?" tanya Sarah dengan wajah penuh khawatir ketika sampai di hadapan Saung.


Hati Nathan berasa berdetak dengan kencang, karena kalau Jasmine berbicara dengan jujur, maka harga dirinya akan habis, soalnya dia terlalu iseng mengerjai wanita itu Karena rasa penasaran yang begitu dalam ingin mengetahui bagaimana aroma wanita cantik.


"Nggak ada apa-apa, tadi ada cicak yang jatuh. Aku berlari karena kaget dan menabrak tubuh orang yang kurang ajar ini, sehingga kami pun terjatuh." jawab Jasmine sambil menunjuk ke arah Nathan yang masih terduduk.


"Oh kirain ada apa, Kakak sudah takut kirain ada penyerangan dari warga Kampung Cisaga." ujar Sarah yang kembali lagi ke dalam dapur karena, dia ingat dia sedang memasak kalau ditinggalkan terlalu lama nanti masakan Itu bisa menjadi kosong.


Sedangkan para warga lainnya tidak jauh berbeda dengan Sarah, mereka meninggalkan tempat itu untuk melanjutkan pekerjaan masing-masing, hanya Abduh yang masih terdiam membagi tatap ke arah adik dan sahabatnya, seperti seorang detektif yang menyelidiki suatu kejadian.


Jasmine yang merasa tidak enak ditatap oleh Abduh, dia merapikan matras lalu pergi ke dalam rumah tanpa mengeluarkan sepatah kata pun Nathan yang mengingat kembali, kejadian yang baru saja ia alami terlihat mengulum senyum, seolah sedang mendapat kebahagiaan walaupun pipi dan punggungnya masih terasa sakit.


"Kenapa dia?" tanya Abduh sambil duduk di tepian pelupuh Saung.


"Yah... kan tadi kamu sudah dengar apa yang dibicarakannya, aku kaget, aku tadi hendak menolongnya tapi dia yang tidak waspada, dia malah menabrakku sehingga kita pun terjatuh bersama."


"Eh kurang ajar, pasti kamu manfaatkan Kesempatan Dalam kesempitan, kamu apakan adikku?" tanya Abduh penuh selidik.


"Diapakan Bagaimana?" jawab Nathan balik bertanya dengan wajah datarnya.


"Halah kayak gua nggak tahu saja, sifat lo seperti apa."


"Tenang aja, kakak ipar gak usah khawatir karena aku tidak akan berbuat macam-macam dengannya. Sekarang Kak Abduh harus memberikan semua rasa tanggung jawab yang kakak miliki, terhadap calon adik iparnya.


"Nggak kayaknya kamu memang tidak pantas untuk adikku."


"Sok tahu. Oh iya hari ini kita mau ke mana? Aku stres nih aku tidak bisa mendekati Jasmine."

__ADS_1


"Mending kamu Menyerah saja daripada kamu nanti mati penasaran."


"Cintaku padanya akan ku perjuangkan sampai nyawaku berpisah dengan raga."


"Mulai deh. Ya sudah antar aku untuk berjalan-jalan mengelilingi kampung." ajak Abdul sambil bangkit dari tempat duduknya, kemudian dia berjalan menuju ke dalam rumah.


Nathan dia menekuk lututnya, kemudian dia peluk begitu erat. membayangkan tubuh Jasmine yang tadi jatuh menimpa tubuhnya, rasanya masih terasa sampai saat itu dan dia berjanji tidak akan membasuh dan mencuci bajunya, Karena itu adalah baju pertama yang disentuh oleh Jasmine.


"Ternyata perempuan yang sangat Cantik itu sangat wangi, aku tergila-gila dengan aromamu. aduh bagaimana cara mendekatimu kamu seperti merpati yang terlihat sangat jinak, tapi sangat susah untuk ditaklukan, namun walaupun begitu Aku akan terus berusaha agar kamu berlari memelukku dengan penuh cinta." gumam Nathan yang menyandarkan dagunya ke atas dengkul dia semakin tergila-gila dan terjebak Cinta Gadis konflik.


"Ayo....!" teriak seseorang mengagetkan Lamunan Indah Nathan.


"Ayo ke mana Abduh, ganggu aja!" jawab Nathan dengan menggerutu karena sedang membayangkan Bagaimana Indahnya hidup berduaan dengan wanita cantik seperti Jasmine.


"Jalan-jalan cari angin."


Mendengar jawaban Nathan, Abduh tidak berbicara lagi dia mendekat ke arah Saung kemudian menarik tangan sahabatnya untuk diajak pergi. Nathan yang awalnya menolak karena masih terbius oleh Lamunan dan khayalan yang indah, namun setelah dipaksa dan ditarik beberapa tarikan mulai mengikuti kemauan sahabatnya. Nathan berjalan menuju ke halaman terlihatlah sudah ada motor Supra yang menunggu.


Abduh mulai menyalakan motor yang terparkir di halaman rumah, kemudian menyerunatan untuk naik dari arah dalam terlihat Sarah yang menghampiri.


"Mau ke mana kalian?"


"Mau cari angin dulu Teh."


"Sarapan dulu nanti masuk angin."


"Kan tadi udah Teh." jawab Abduh sambil menarik tuas gas motornya tidak mempedulikan kakak iparnya yang terlihat menggeleng-geleng kepala, karena sikap adik iparnya tidak jauh berbeda dengan sikap kakaknya, namun untuk urusan orang lain Mereka selalu Sigap membantu berbeda dengan dirinya dan sendiri.


Baru saja keluar dari halaman rumah motor yang dikemudikan oleh Abduh mulai melambat membuat Nathan merasa khawatir kalau motor itu akan batuk sehingga dia pun bertanya.

__ADS_1


"Bawa motornya pelan, kalau mau cari angin harusnya kencang dong." tanya Nathan dari belakang.


Abduh tidak menjawab matanya terfokus menuju ke arah depan, yang terlihat ada salah satu orang wanita yang berjalan menuju ke arahnya Abduh, menghentikan motornya kemudian manggut memberi hormat.


Nathan yang melihat kelakuan sahabat yang tiba-tiba berubah menjadi aneh seperti orang yang salah minum obat, dia terdiam memperhatikan tubuh Abduh yang membeku kemudian, mengalihkan pandangan ke salah satu wanita yang berjalan semakin mendekatinya, terasa tubuh Abduh mulai gemetar seperti orang yang sedang kedinginan. sekilas saja melihat kejadian seperti itu Nathan sudah paham bahwa ada yang tidak beres dengan sahabatnya.


Ketika melewati mereka berdua wanita itu pun membalas manggut memberi hormat dengan melemparkan senyum yang begitu manis, kemudian berlalu pergi seperti Lembayung senja yang memberikan keindahan sebelum siang menghilang sebelum kesuraman datang.


"Kamu suka ya dengan wanita itu?" tanya Nathan ketika Wanita itu sudah tidak terlihat masuk ke dalam rumah Dadang.


"Suka apanya?"


"Ya kalau nggak suka Kenapa tubuhmu gemetaran, bukannya itu adalah hal yang wajar ketika kita bertemu dengan wanita yang kita cintai "


"Sok tahu kamu?"


"Nggak, Nggak sok tahu karena aku merasakan hal yang sama Ketika aku melihat Jasmine, jantungku terasa lebih cepat berdetak hatiku terasa berdebar badan mulai menggigil, bahkan kalau tidak bisa mengendalikan tubuh akan terlihat bergetar."


"Ya sudah ayo lanjutkan perjalanan!" Abduh tidak menjawab Dia pun mulai mengengkol kembali motornya untuk melanjutkan perjalanan mencari angin padahal seharusnya, mereka itu berlari untuk menyehatkan tubuh apalagi udara di kampung masih sangat Asri.


Setelah sepuluh menit berjalan, kemudinya untuk menuju kembali ke rumah membuat Nathan mengurutkan dahi tidak mengerti maksud dan tujuan Abduh, tadi dia tadi dia memaksa untuk mengantarnya berjalan-jalan tapi sekarang dia ingin pulang.


"Kasihan Teteh sudah masak sarapan, kalau kita tinggalkan nanti siapa yang makan." alasan Abduh ketika ditanya oleh Nathan Kenapa dia pulang kembali.


"Bukan gara-gara wanita tadi yang masuk ke rumahmu."


"Bukanlah!" jawab Abduh singkat.


Motor yang mereka kendarai Kembali menuju ke rumah Dadang, matahari dari ufuk timur mulai memberikan kehangatan memberikan semangat bagi jiwa-jiwa yang tersinari oleh sinarnya, memberikan harapan bagi para petani yang giat bekerja mengurus sawah dan ladang masing-masing.

__ADS_1


__ADS_2