
Malam hari Abduh ang merasa bahagia dengan semua yang diterimanya, dia pun mengabari Shakila yang masih tinggal di Bandung tentang acara lamarannya dan acara Perjodohan Nathan dengan adiknya namun sahabatnya meminta maaf karena dia tidak bisa hadir dengan acara lamaran yang akan dilangsungkan di hari Minggu, karena saudaranya juga akan melangsungkan acara yang sama sesuai dengan rencana awal.
Hari-hari pun berlalu begitu cepat, bagaikan Parang yang sedang ditebaskan. tidak ada yang mampu menghentikan waktu sehebat apapun orangnya, waktu akan terus berjalan sebagaimana mestinya, silih berganti antara kesenangan dan kesedihan antara tangis dan tawa karena itu tidak bisa dipisahkan.
Hari Minggu hari yang sudah ditunggu-tunggu oleh keluarga Abduh dan keluarga Yanti akhirnya tiba, hari itu terlihat orang berkumpul baik di rumah Dadang ataupun di rumah Marna karena waktu yang sangat membahagiakan sudah tiba. mereka berkumpul untuk ikut merasakan kesenangan keluarga yang akan melangsungkan perikatan lamaran.
Abduh kalau itu terlihat sangat tampan didandani dengan memakai jas hitam celana yang Senada, di dalamnya terselip kemeja putih dengan begitu rapi membuat ketampanannya semakin bertambah, maklum dia akan menjadi calon raja dalam sehari. Bahkan bukan hanya kakaknya yang sudah rapi Jasmine yang sudah didandani dengan berpakaian yang Senada seperti keluarga yang lainnya, kala itu terlihat sangat cantik membuat Nathan tidak bosan untuk memandangnya dari jarak jauh. kalau tidak ingat dengan janjinya sama Abduh Mungkin dia akan menggandeng wanita itu untuk menemani berjalan menuju ke rumah Yanti, tapi dia yang sudah keluar ucap dia tidak mau menjilat ludahnya sendiri, sehingga dia harus bersabar sampai lamaran Abduh selesai baru mereka akan mengungkapkan bahwa Jasmine sudah dijodohkan dengannya.
"Sudah berkumpul semuanya?" tanya Dadang sambil memindai keadaan sekitar, mengabsen satu persatu warga kampung yang sudah daftar untuk ikut mengantar adiknya yang akan melakukan acara lamaran.
"Sudah Kang mungkin hanya beberapa orang lagi, tapi nanti mereka juga akan menyusul."
"Ya sudah kamu atur semuanya, Saya ingin acara lamaran adik saya menjadi kesan yang baik bagi semuanya."
"Siap sudah diatur Kang, kita tinggal berangkat saja."
"Tolong kumpulkan dulu semuanya, agar kita seirama biar terlihat rapi."
"Baik Kang!" jawab Manta sambil berbalik ke arah orang-orang yang sudah berkumpul kemudian dia pun bertepuk sekali hingga keadaan pun yang semulanya riuh Menjadi sepi seketika, karena mereka tahu bahwa ketuanya akan berbicara.
__ADS_1
"Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh." ujar Dadang setelah semuanya terdiam.
"Waalaikumsalam Warahmatullahi Wabarakatuh." jawab para warga kampung dengan serempak.
"Pada kesempatan kali ini saya mengucapkan puji syukur kepada Allah Subhanahu wa ta'ala dan mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada para bapak dan para ibu yang sudah berkenan hadir untuk ikut merasakan kebahagiaan yang sedang keluarga kami alami. Dan semoga saja dengan pernikahan Abduh dan Yanti kekuatan Kampung kita akan semakin bertambah, karena adik saya juga lulusan Universitas terbaik dengan nilai yang cukup baik. Semoga saja dia bisa memanfaatkan ilmunya untuk kemajuan kampung kita." ujar Dadang yang menyampaikan rasa Terima kasih atas kehadiran seluruh warga kampung Sagaranten yang diketuai olehnya.
"Amin!" jawab warga kampung dengan kompak.
Setelah semuanya dirasa sudah rapi, akhirnya Dadang pun meminta Manta untuk mengomandoi agar semua orang berangkat menuju ke rumah warna rumah yang akan menjadi besannya.
Orang yang ditugaskan pun tidak bertele-tele dia mulai menyusun barisan dengan Abduh yang berjalan paling depan, sedangkan Dadang dan Sarah mengapit adiknya itu. Jasmine dan para warga Kampung lainnya berjalan di belakang mereka.memang waktu itu mereka memilih untuk berjalan kaki Karena jarak rumah Yanti dan Abduh tidak terlalu jauh mungkin hanya beberapa menit ketika ditempuh menggunakan kedua kaki.
Suara gamelan yang khusus disiapkan terdengar dari rumah Yanti, Suaranya sangat merdu menambah keelokan kearifan lokal, karena memang begitulah kebiasaan warga Kampung Sagaranten waktu itu mereka akan mengadakan kemeriahan ketika ada salah satu dari anak mereka yang menikah. Tapi orang yang hadir tidak sebanyak dengan orang yang sekarang, karena mungkin perbedaannya antara ketua dan yang biasa.
Meski sering kali mereka melakukan hal yang serupa tapi acara lamaran saat itu terasa begitu mewah karena biasanya acara mewah akan diselenggarakan ketika hari pernikahan, kalau hanya untuk lamaran hanya keluarga yang datang ditemani oleh sesepuh Kampung ataupun Ustad setempat.
Nathan yang berjalan di samping Jasmine sesekali dia terus melirik wanita itu yang tampak tak memperdulikannya, karena dia terlihat sibuk mengobrol dengan rekan-rekan sebaya yang mungkin sudah lama tidak bertemu. dia masih tidak menyangka kalau sahabat ketika waktu sekolah di SMA sekarang akan menjadi kakak iparnya, tapi meski begitu dia sangat bahagia karena bisa terus bersama Yanti.
Rombongan itu pun akhirnya tiba di rumah yang dituju disambut dengan ki Lengser yang membawa kalung Bunga lalu dikalungkan kepada Abduh, layaknya hari itu akan mengadakan pernikahan, padahal hari itu hanya mengadakan lamaran tapi sudah semewah itu, karena harta yang dimiliki keluarga Dadang memang tidak ada tandingnya.
__ADS_1
Bahkan bukan hanya disambut oleh Ki Lengser, rombongan yang baru datang disambut dengan tari jaipong yang begitu memukau, sehingga banyak pemuda-pemudi yang terlihat menelan ludah seperti sangat kehausan, karena Penari Jaipong itu sangat cantik dan mempesona. mereka saling berbisik membicarakan apakah para penari itu masih lajang atau sudah menikah, namun ketika ada kebahagiaan selalu ada saja yang menghancurkan yaitu dengan kenyataan bahwa Pemuda ataupun pemudi Kampung Sagaranten tidak akan pernah menikah dengan warga Kampung luar, kecuali orang itu memiliki keberanian yang luar biasa berani tinggal di kampung yang sedang konflik.
Setelah disuguhkan dengan tarian Ki Lengser pun mengajak Abduh dan Dadang untuk masuk ke dalam tenda yang sangat besar yang mampu menampung seluruh warga Kampung Sagarante, Bahkan bukan hanya tendanya yang besar meja yang disiapkan pun terlihat sangat besar di lengkapi dengan kursi yang berjejer rapih.
Dua keluarga pun ditempatkan di ujung meja yang berlawanan, Abduh berada di sebelah kanan sedangkan keluarga Yanti berada di depannya, sehingga mereka bisa saling bertatap muka. setelah semuanya duduk dengan rapi Ki Lengser pun memberikan pihak tamu untuk menyampaikan maksud dan tujuannya.
Dadang pun berdiri kemudian mengambil mic yang diberikan oleh pihak panitia, lalu dia pun mengetuk mic itu untuk memastikan bahwa micnya berbunyi. setelah yakin micnya menyala Dadang terlihat menarik nafas yang dalam dan akhirnya dia pun berucap.
"Terima kasih atas waktu dan penyebutan yang begitu luar biasa ini tidak ada kata yang saya ucapkan selain kata itu, benar apa yang dibicarakan oleh Ki Lengser bahwa kedatangan saya ke sini bersama para rombongan bukan dengan tangan kosong, tapi saya datang ke sini dengan membawa maksud dan tujuan. semoga saja Tujuan saya yang baik ini bisa diterima oleh pihak keluarga Bapak Marna," ujar Dadang ketika dia diberikan waktu untuk berbicara disambut oleh tepuk tangan yang begitu meriah.
"Saya datang ke sini dengan adik saya yang pertama, namanya Abduh Gilang ramaya. kemarin ketika dia pulang dari kampusnya Dia berbicara terhadap saya untuk mengantarnya melamar gadis tercantik di kampung sagaranten akhirnya dengan persiapan yang mepet kami pun memutuskan untuk mendatangi keluarga gadis pujaannya, yang kebetulan anaknya dari keluarga Bapak Marna untuk menanyakan bahwa putrinya masih lajang ataupun sudah memiliki pasangan. Kalau masih lajang maka kami sekeluarga ingin melamarnya." lanjut Dadang menyampaikan maksud dan tujuannya begitu jelas.
Setelah dari pihak tamu menyampaikan Ki Lengserpun mengambil mic kemudian memberikannya terhadap keluarga Marna, namun Marna yang tidak terlalu piawai ketika berbicara, dia pun meminta perwakilan oleh Ustad setempat.
"Kami yang merasa bahagia dengan kesiapan keluarga kang Dadang yang sudah rela mendatangi rumah kami hanya untuk menanyakan putri kami masih lajang ataupun sudah memiliki pasangan. kalau menurut Pengakuan dari orang tuanya Neng Yanti dia tidak pernah terlihat berjalan atau berdampingan dengan pria lain, kecuali hanya dengan nak Abduh yang sebagai kekasihnya. tapi untuk meyakinkan semua yang ada di sini kita tanyakan dulu terhadap orangnya karena kami sebagai orang tua tidak bisa memaksa keinginan anaknya kami hanya bisa mendukung dan mendoakan yang terbaik." Jawab Pak Ustadz dalam pidatonya. kemudian dia pun melirik ke arah Yanti untuk bertanya tentang kesiapannya menikah dengan Abduh.
Yanti yang ditanya dia tidak langsung menjawab, Dia terlihat malu-malu bahkan tidak sempat mengangkat kepalanya dari semenjak tadi ketika keluar dari rumah. Yanti tetap menunduk walaupun dalam hatinya merasa bahagia karena sebentar lagi dia akan bersanding dengan pria idamannya, pria yang selalu jadi bahan pemikiran ketika bergadang.
Duaaaar!
__ADS_1