Terjebak Cinta Gadis Konflik

Terjebak Cinta Gadis Konflik
Berhasil


__ADS_3

Setelah para warga pergi meninggalkan rumahnya, Halimah duduk di meja makan ditemani oleh Wandi dan menantunya. suasana kala itu terasa sangat dingin karena hujan dari sore hari tidak kunjung surut meski tidak ke deras tadi namun itu cukup untuk membuat orang-orang betah tinggal di rumah.


"Sudah Ibu jangan melamun. karena sekarang ibu sudah selamat, tidak ada yang terluka sedikitpun. meski hanya ada goresan kecil itu sangat wajar, karena itu tidak terlalu berat." ujar Wandi menenangkan ibunya bahkan tangan anak itu mengelus punggung Halimah.


"Ibu tidak melamun, Ibu Sedang berpikir bagaimana nasib Nathan ke depannya, karena melihat dari gelagat ketiga orang itu, ibu sangat takut kalau terjadi sesuatu dengan mahasiswa ibu.


"Apa nggak sebaiknya Ibu telepon saja nomor Nathan, karena tadi Sari mendengar Ibu memiliki nomor mahasiswa ibu itu."


"Ya benar, sebentar ibu akan telepon dia." jawab Halimah yang mendapatkan ide kemudian dia pun memijat-mijat handphonenya untuk mencari nomor Nathan telah ketemu dia pun memanggil.


"Nomor yang ada tuju sedang sibuk atau berada di luar jangkauan service area." balas suara seorang wanita ketika telepon itu terhubung.


"Coba ke aplikasi hijau." pinta Wandi.


Halimah pun menurut dia membuka aplikasi pesan untuk menghubungi Nathan, namun Alangkah terkejutnya Halimah karena Nathan Sudah lama tidak aktif karena mungkin HP Nathan yang jatuh ketika bertarung melawan warga kampung Cisaga itu tidak ditemukan, atau ditemukan orang lain namun sudah diganti nomornya


"Kalau sudah begini Ibu harus bagaimana?" tanya Halimah sambil membagi tatap ke arah anak dan menantunya.


"Emangnya kenapa Bu?"


"Dua-duanya tidak Aktif, tidak bisa dihubungi."


Mendengar penjelasan ibunya, Wandi dan Sari terlihat terdiam seolah sedang mencari jalan keluar dari masalah yang sedang mereka hadapi, namun setelah lama berpikir Mereka pun menemui jalan buntu, Entah harus bagaimana memberitahu Nathan kalau dirinya sedang diancam oleh bahaya.

__ADS_1


"Ya sudah tidak apa-apa, kita doakan saja yang terbaik buat Nathan. dan kejadian yang serupa tidak akan lagi menimpa keluarga kita." akhirnya Wandi pun memberikan penjelasan dengan apa yang mereka hadapi.


Halimah hanya menarik nafas dalam merasa kecewa tidak bisa berbuat banyak untuk menyelamatkan orang lain, namun perkataan Wandi ada benarnya mereka hanya bisa berdoa agar semua kejelekan semua kejahatan tidak terulang lagi kepada keluarganya ataupun keluarga Nathan.


*****


Di tempat lain khususnya tempat yang sangat jauh dari kota Bandung. di terminal jalur Lingkar Selatan Sukabumi terlihat ada tiga orang yang baru turun dari mobil, mereka langsung menuju ke rumah makan untuk mengisi perut yang terasa keroncongan, karena dari tadi pagi mereka hanya memakan jajanan-jajanan ringan, mereka tidak ada waktu yang leluasa seperti sekarang.


"Ternyata mencari seseorang itu sangat mudah, dengan sedikit gertakan saja kita sudah bisa menemukan." ujar orang yang paling tua setelah mereka duduk sambil menunggu pesanan dibuatkan.


"Benar, tapi apakah pekerjaan kita tidak akan menjadi masalah yang baru. Apalagi Si Wanto yang gegabah dalam bertindak dia sampai melukai pundak wanita tua itu," ujar yang lain menimpali.


Ternyata mereka adalah ketika orang yang masuk ke dalam rumah Halimah untuk mencari data tentang Nathan yang menjadi musuh dari pemimpin warga Kampung Cisaga, karena sudah berani melenyapkan nyawa adiknya.


Wanto, Darta dan Sarman. mereka tidak berlama-lama di kota Bandung, setelah keluar dari rumah Halimah mereka bergegas menuju Terminal Leuwi Panjang kemudian naik bis jurusan Sukabumi, agar keberadaannya tidak terendus oleh pihak yang berwajib. mereka yakin Halimah bukan orang bodoh, Pasti Halimah akan membuat laporan tentang penganiayaannya.


Tak selang beberapa lama, pesanan makanan Mereka pun tiba di meja. tanpa berbasa-basi lagi mereka melahap seluruh makanan yang dihidangkan dengan begitu rakus, Bahkan mereka meminta nambah nasi Karena perut masih terasa lapar.


Selesai menyantap makanan, Mereka pun melanjutkan perjalanan dengan menaiki angkot jurusan Terminal, kemudian dilanjutkan dengan menaiki mobil Elef. agak lama menunggu Karena jarang orang yang melakukan perjalanan di malam hari, Namun ketika ditunggu dengan penuh kesabaran akhirnya mobil pun berangkat kira-kira pukul 01.00 malam hari.


Angkot pun melaju dengan kecepatan sedang. melalui jalan-jalan yang berbelok-belok seperti ular yang sedang mencari mangsa. di samping kanan kiri jalan hanya ditumbuhi oleh pohon-pohon yang rindang, sesekali diselingi oleh rumah-rumah warga yang nampak sepi, karena kondisi Sukabumi dan Bandung tidak jauh beda yang sama-sama diguyur hujan.


Orang-orang yang berada di dalam mereka tidak ada yang berbicara, sepertinya mereka terlalut dalam tidur masing-masing, apalagi orang yang hendak turun di terminal mereka lebih memilih untuk tidur agar perjalanan tidak terlalu melelahkan.

__ADS_1


Kira-kira pukul 03.00 pagi mobil pun tiba di terminal tegal buleg, Wanto Sarman dan Darta Mereka pun melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki Karena sangat berbahaya ketika melakukan perjalanan menggunakan motor, Meski banyak ojek yang menawarkan tapi mereka tetap menolak bukan tidak mampu membayar tapi keamanan lebih penting dari semuanya.


Mereka berjalan menyusuri jalan besar, namun ketika sudah mendekati Kampung Cisaga Mereka pun berbelok menggunakan Jalan terobosan. untung keadaan waktu malam Hujan sudah reda digantikan dengan cahaya rembulan yang membantu penerangan jalan. mereka bertiga terus berjalan hingga akhirnya tiba di pinggir Kampung Cisaga.


Mereka masuk ke dalam kampung dengan mengendap-endap, takut membuat para petugas yang sedang berjaga curiga, hingga akhirnya mereka pun tiba di rumah Darta yang tidak memiliki istri. mereka memutuskan untuk beristirahat terlebih dahulu sebelum menemui Sutardji Keesokan paginya.


"Bangun, bangun...! orang lagi genting malah enak-enakan tidur." ujar salah seorang sambil menggoyang-goyangkan tubuh Sarman.


"Ngapain, Aku masih ngantuk ganggu aja!" jawab Sarman sambil menarik sarung untuk menutupi kepala, dia merasa kalau tidurnya baru sebentar.


"Bangun Sarman, ini sudah siang!" bentak orang itu membuat Herman terperanjat kaget dia menatap ke arah orang yang berbicara ternyata itu adalah sutarji.


Ketua Kampung Cisaga dia mengetahui ketiga anak buahnya sudah pulang, dari salah satu warga yang melaporkan bahwa di rumah Darta ada orang yang sedang menginap, padahal beberapa hari belakangan Darta tidak terlihat, membuat sutarji Yang penasaran dengan menemui mereka tanpa menunggu mereka mendatanginya


"Maaf Kang, kirain bukan Akang." jawab Sarman sambil menguce kedua matanya, untuk membungkuskan pandangan dari rasa kaget akibat dibangunkan begitu mendadak.


Kedua temannya pun sama. Wanto dan Darta Mereka pun bangkit kemudian duduk dengan wajah yang masih ngantuk, namun untuk menyanggah mereka tidak berani karena mereka sangat menghormati Sutardji ketua Kampung Cisaga.


"Bagaimana pekerjaan kalian apakah beres atau tidak?: tanya sutarji yang tidak mau berbasa-basi.


"Aman Kang!"


"Aman Bagaimana, kalau jawab itu yang jelas."

__ADS_1


"Aman, semuanya beres terkendali, data si Nathan sudah ada di tangan."


"Baguslah mana datanya?" pinta sutarji sambil mengeluarkan tangan.


__ADS_2