Terjebak Cinta Gadis Konflik

Terjebak Cinta Gadis Konflik
Persetujuan


__ADS_3

"Mau menyampaikan apa nak? jangan membuat ibu penasaran!" susul Sumiati yang terlihat geregetan ingin segera mengetahui apa yang ingin diutarakan oleh anak sulungnya.


"Tadi siang Yanti mengobrol dengan Kang Abduh."


"Mengobrol apa? cerita saja jangan ragu! karena Ibu tidak akan marah."


"Yanti dan Kang Abduh mengobrol masalah tentang hubungan kita yang sudah kita lalui beberapa tahun terakhir. tadi Kang Abduh berbicara serius tentang hubungan kita, yaitu dia ingin melamar Yanti. tapi Yanti belum bisa memastikan karena menurut Yanti, Yanti masih punya orang tua yang harus diminta pendapatnya. Nah sekarang Yanti sudah berada di sini, Yanti mau minta pendapat Bapak dan Ibu karena dari dulu kang Abduh Belum berani mengutarakan takut membebani pikiran kalian berdua, terutama pikiran kang Dadang. namun setelah mendapat keputusan dari kita kang Abduh akan memberanikan diri untuk berbicara langsung dengan kakaknya."


"Alhamdulillah ternyata kamu akan segera mengakhiri menjadi perawan tua." Timpal Marna yang mengusapkan telapak tangannya ke wajah seolah habis berdoa.


"Bapak kok tega banget sih sama anak bilang perawan tua, Yanti ini masih berumur 20 tahun belum nyampe 30 tahun." gerutu Sumiati dengan segera menimpali. "yang harus kita pikirkan sekarang bagaimana sikap kita terhadap anak yang sudah dewasa ini."


"Ya Iya, emang nggak boleh kalau Bapak bahagia soalnya anak bapak yang sudah dewasa ini Akhirnya ada yang mau meminang juga."


"Dari dulu juga banyak yang mau meminang, tapi anaknya kita aja yang selalu tahan harga. Jadi Bapak jangan Salah tanggap anak kita tidak menikah-menikah bukan tidak laku, tapi dia lebih memilih cinta sejatinya dengan Abduh."


"Benar karena Tetangga kampung kita, Kampung Curug gembar. Ada yang mengajak bapak untuk berbesan, Tapi bapak tidak berani menyanggupi, karena Bapak tahu kalau anak kita ini sudah diikat cinta oleh pria lain, walaupun belum datang secara resmi."


"Memang anak kita sangat cantik, sehingga banyak orang yang ingin menikah dengannya."

__ADS_1


"Iya siapa dulu Bapaknya." jawab Marna Yang suka bercanda dengan membusungkan dada, seolah bangga memiliki Putri secantik Yanti.


"Mohon maaf Bapak, Ibu. Bagaimana dengan Yanti?" pisah anaknya yang hentikan perebutan pendapat itu. memang begitulah ketika mereka menghadapi masalah mereka selalu dibawa dengan enjoy, karena mau dihadapi dengan serius ataupun dengan santai, masalah itu akan terus berjalan. sehingga biarkan masalah itu terjadi dengan pemikiran yang tenang.


"Hehehe, kalau kita berdua itu terserah Yantinya saja." jawab Sumiati dengan mengulum senyum merasa bahagia kalau anaknya sebentar lagi akan ada yang meminang.


"Yah Yanti. Kita sebagai orang tua hanya bisa memberikan dukungan dan doa."


"Jadi kalian mengizinkan kalau Yanti menikah dengan Kang Abduh?"


"Dengan siapapun kamu menikah kami akan tetap mengizinkan, yang terpenting kamu bahagia hidup bersamanya,  karena seperti yang kamu ketahui kami yang serba kekurangan tidak bisa membahagiakan anaknya, dan siapa tahu saja ketika kamu sudah menikah kamu akan dibahagiakan oleh suamimu." ujar Marna yang tetap mengulum senyum, berbeda dengan Yanti yang tiba-tiba meneteskan air mata namun entah air mata kebahagiaan atau air mata kesedihan, karena perasaan Yanti yang campur aduk dia belum bisa mengartikan.


"Terima kasih Bapak, Terima kasih Ibu...!" hanya kata itu yang keluar dari mulut Yanti dengan dibarengi pelukan erat terhadap ibunya. dia menangis sejadi-jadinya merasa bahagia karena memiliki orang tua yang sangat pengertian, meski keadaan mereka yang pas-pasan namun tidak menyurutkan untuk hidup berbahagia, karena menurut Marna kebahagiaan itu bukan soal materi, tapi kebahagiaan itu hadir kepada orang-orang yang ingin menikmatinya.


"Iya anak bapak tidak boleh menangis dalam keadaan apapun, anak Bapak harus kuat karena. kampung kita sudah diajarkan untuk menutup air mata kesedihan. sudah terlalu banyak air mata warga kampung yang jatuh karena ditinggalkan sanak keluarga ataupun tetangga. kita yang masih hidup kita harus bisa menikmati kehidupan ini meski dalam keadaan di tengah konflik ujar." Marna yang menimpali.


Yanti pun mengangkat kepalanya, kemudian membagi tatap ke arah kedua orang tua, lalu dia pun memeluk erat sekali lagi, seperti sedang mengisyaratkan bahwa pelukan itu adalah pelukan yang terakhir. kemudian dia duduk dengan begitu tegap, tangannya yang lentik mulai mengusap cairan bening yang masih membasahi pipi. sebelum berbicara dia pun menarik nafas terlebih dahulu, mengatur pita suara yang terasa serak karena habis menangis.


"Terima kasih banyak atas kebaikan kalian yang sangat tak terhingga, meski jiwa raga Yanti dikorbankan, Yanti tidak akan mampu membalas kebaikan kalian.

__ADS_1


"Sama-sama Terima kasih juga sudah menjadi anak yang baik, sehingga menjadi sumber kebahagiaan bagi kami berdua."


"Oh ya satu lagi Bu, ada yang ingin Yanti sampaikan terhadap ibu dan bapak."


"Apalagi itu?"


"Kalau Yanti dengan Kang Abduh sudah menikah. calon suami Yanti mengajak tinggal di luar kota, yaitu di Bogor. karena ada sahabatnya yang ikut ke sini, dia bersedia membantu kehidupan kami selama Kang Abduh belum bisa bekerja. Apakah nanti Yanti boleh ikut dengan Kang Abduh?" tanya Yanti sambil membagi tatap ke arah kedua orang tuanya.


"Mau di kemanapun kamu tinggal, Mau dibawa Kemanapun kamu hidup, selama kamu bahagia selama itu baik, itu bisa membuatmu bahagia. maka kami sebagai orang tua hanya bisa mendoakan, Soalnya bukan orang tua lepas tanggung jawab, karena setelah menikah ada yang lebih bertanggung jawab daripada kami, seperti yang tadi kami bicarakan kalau orang tua hanya bisa mendukung dan mendoakan.


"Jadi Bapak mengizinkan Yanti untuk ikut bersama Kang Abduh?"


"Silakan yang terpenting kalian sah dulu menjadi suami istri, baik secara agama maupun hukum negara." jawab Sumiati sambil mengelus punggung anaknya.


"Ada Satu lagi yang ingin Yanti sampaikan terhadap kalian berdua."


"Apalagi? Coba kamu sampaikan Jangan ragu-ragu karena kami ini adalah orang tua kamu." tanya Marna seolah menantang.


"Yanti ingin kalian ikut dengan kami. agar keluarga kita tidak terus dihantui oleh rasa takut akan adanya pertikaian atau penyerangan. biarkan yang sudah berlalu menjadi kenangan, sekarang kita harus bisa memulai kehidupan yang baru dengan lebih bahagia." pinta Yanti yang mengajak keluarganya untuk ikut tinggal di Bogor, supaya mereka bisa hidup dengan aman dan damai, karena hidup di kampung konflik itu sangat tidak mengenakkan.

__ADS_1


Mendapat permintaan anaknya, kedua orang tua Yanti hanya mengulum senyum, seolah bahagia atas kepedulian yang diperlihatkan oleh anak sulungnya. kemudian Marna yang sebagai kepala keluarga dia pun berbicara.


"Kalau kita ingin hidup jauh dari masalah hanya ada satu jalan yang harus kita ambil, yaitu meninggal. karena selama kita masih hidup kita akan terus dihantui oleh masalah-masalah dan cobaan-cobaan, begitupun ujian-ujian yang akan datang silih berganti. memang kalau kita pindah kita bisa terbebas dari konflik ini, tapi kita tidak tahu kehidupan di sana apakah lebih baik ataupun tidak, karena Bapak yakin semua yang kita pilih pasti akan mempunyai risiko masing-masing. Bapak berbicara seperti ini bukan ingin menjatuhkan keinginan Yanti yang sangat mulia, Tapi bapak berbicara hanya untuk diri bapak sendiri, kalau anak bapak telah menikah Bapak ingin yang terbaik buat anaknya, Bapak ingin kalau Yanti bisa hidup dengan aman dan damai mempunyai anak yang sholeh ataupun solehah. jadi sekarang Kalau benar Aduh serius ingin mengajak Yanti untuk hidup bersama dengan ikatan pernikahan, maka kami sekeluarga akan Siap menunggu Hari kebahagiaan itu. Setelah kalian menikah silakan kalian jalani hidup kalian masing-masing, karena bapak sudah sangat tua dan sangat cinta dengan kampung kita, banyak tanggung jawab yang harus Bapak emban."


__ADS_2