Terjebak Cinta Gadis Konflik

Terjebak Cinta Gadis Konflik
terpojok


__ADS_3

"Siapa yang mau pergi ke neraka, Apakah kalian sudah jalannya, Kalau tidak tahu Tanya sama Si Adin yang sudah aku antarkan ke rumah sakit, hahaha." jawab Darman dengan menyeringai membuat para warga Kampung Sagaranten mengeratkan gigi menahan amarah yang memenuhi dada, karena bukannya Darman sadar dengan apa yang sudah ia lakukan sampai-sampai membuat orang terluka, dia malah terlihat bangga melakukan kejahatan itu.


"Kami datang ke sini untuk meminta pertanggungjawabanmu tentang Kang Adin, karena orang yang tidak bersalah kamu siksa begitu aja." ujar Mantap dengan suara bergetar menandakan amarahnya sudah naik ke ubun-ubun.


"Kenapa minta tanggung jawab sama aku Mintalah pertanggungjawaban terhadap si Dadang. karena semua ini gara-gara dia menyerang orang tuaku dibantu oleh kalian-kalian, memang dari dulu Kampung Sagaranten tidak ada nyalinya, mereka hanya berani datang bergerombol seperti anak kecil yang bau kencur meminta jatah jajan. lihat aja hanya untuk meladeni dua orang mereka membawa satu kampung penuh. Ke mana si Dadang, Apakah dia tidak berani memunculkan wajahnya. kalau benar-benar dia laki-laki Coba keluarkan dia, biar aku antar ke rumah sakit sekarang bahkan kalau mau aku antar ke neraka sekalian hahaha." jawab Dadang masih bertolak pinggang.


"Sudah kang Manta jangan diajak berbicara, karena orang seperti ini tidak akan ngerti pembicaraan manusia. kita langsung Akhiri Saja hidupnya mungkin kalau berbicara dengan malaikat dia akan nyambung." ingat Heri sambil mengangkat Parangnya yang sangat panjang.


"Ayo maju kalau berani, jangan berbicara tanpa bukti. kalau bisa maju sekalian biar aku mudah membabatnya." jawab Darman sambil memegang golok yang tadi digunakan untuk mengupas kelapa, matanya membagi tatap ke arah orang-orang yang berada di hadapannya.


Mendapat tantangan seperti itu, Adang yang sudah kesal dari tadi dia pun maju beberapa langkah hendak meladeni kesombongan Darman. dengan segera dia pun memasang kuda-kuda dengan posisi Parang di depannya.


"Jangan sombong kamu Darman, kamu baru kemarin sore lahir ke dunia ini. kalau kamu mau Coba rasakan parangku yang sangat tajam."


"Kalau mau mentas pencak silat jangan di sini silakan cari panggung di luaran sana, karena di sini silat bukan tandinganku minimal harus ada yang maju 5 orang baru itu akan membuatku sedikit berkeringat." jawab Darman dengan mencibir.


"Banyak bacot kamu Darman!" dengan segera Adang pun melayangkan satu sabetan parang dari arah atas menuju kepala musuhnya, namun Darman yang sudah piawai dalam bertarung dia pun menahan sebesar Parang itu menggunakan golok yang dipegang ujung belakangnya, sehingga kembang api pun terpercik berhamburan ke mana-mana.


Trang!

__ADS_1


Golok dan parang pun beradu Tak Bisa dihindarkan, namun dengan segera Adang pun menarik parangnya untuk melancarkan serangan kembali mengarah ke arah leher, membuat Darman harus merunduk menghindari serangan itu sambil melancarkan serangan balasan menggunakan golok mengarah ke arah perut musuh, sehingga membuat Adang harus mundur beberapa langkah ke belakang.


"Hahaha kenapa kamu mundur, kamu takut dimakan Si Gobang? Kalau kamu memang benar-benar jago tahan kalau ku dengan perutmu!" ledek Darman sambil menyeringai tangannya mengacungkan golok mengancam musuhnya.


"Jangan banyak bacot kamu Darman, kalau bertarung itu harus pintar mengelak dan menyerang," jawab Adang sambil memasang kuda-kuda kembali.


"Yang banyak bacot itu kamu, makan nih golok ku!" teriak Darman sambil menghunuskan goloknya mengarah ke arah dada Adang, namun dengan segera Adang menggeserkan tubuhnya ke arah samping menghindari serangan itu sambil memasukkan satu tendangan mengarah ke arah perut Darman.


Blugh!


Tendangan itu tepat mengenai perut lawannya sehingga membuat Darman terhuyung ke belakang, namun tidak sampai rubuh. matanya yang sudah memerah menatap tajam ke arah Adang yang terlihat tersenyum merasa menang.


Tanpa menunggu aba-aba Darman pun mulai membubat babitkan goloknya ke arah samping kanan dan kiri sehingga golok itu tidak terlihat akibat saking kencangnya putaran serangan, menimbulkan suara yang mendenging membuat ngeri musuh yang menyaksikan. melihat Darman yang seperti kerasukan setan membuat Adang sangat kewalahan, bahkan beberapa kali tendangan dan pukulan Darman bersarang di tubuhnya.


Melihat warganya terdesak Manta yang sudah merasa ngeri dari tadi dia pun memberi komando agar melawan Darman dengan mengeroyok karena dalam pertarungan semacam ini tidak diperlukan jiwa ksatria, Siapa yang banyak siapa yang akan menang. karena begitulah kebiasaan kedua warga Kampung ketika bertikai, mereka tidak akan memberikan ampun walaupun hanya sendirian seperti yang dilakukan oleh Darman kepada Adin.


Mendapat komando dari pimpinannya dengan segera orang-orang yang berada di sana pun mengambil batu, karena kalau untuk mengadu kekuatan senjata itu akan sangat sulit, soalnya Darman sangat piawai memainkan goloknya. setelah mendapat batu sebesar kepalan tangan batu itu dilemparkan menghujani Darman.


"Dasar tidak tahu malu, sudah keroyokan bertarung pun dengan cara curang!" Dengus Darman sambil menghindari beberapa serangan namun batu yang dilemparkan lebih banyak mengenai tubuhnya. bahkan Wanto yang berdiri di belakang Darman dia pun terkena serangan sehingga dia pun mundur beberapa langkah untuk menghindari serangan, namun Serangan yang dilancarkan sangat banyak sehingga dia pun tidak luput dari hujanan batu yang dilancarkan oleh warga Kampung sagaranten.

__ADS_1


"Teman-teman, terus Serang! dalam pertarungan seperti ini tidak harus sportivitas kita harus membalaskan sakit hati Kang Adin yang masih terbaring di rumah sakit." teriak warga Kampung sambil melemparkan batu yang baru saja diambil dan batu itu tepat mengenai kepala Darman.


Merasa terdesak Darman pun terus mundur beberapa langkah, hingga akhirnya membalikkan diri dan berteriak memanggil Wanto untuk kabur dari tempat itu, meninggalkan dua motor yang terparkir di halaman Saung.


"Kejar, kejar....! jangan biarkan mereka lolos, mereka harus menerima balasan dari apa apa yang sudah mereka perbuat." teriak manta yang semakin semangat karena kampungnya dalam posisi unggul.


Sebenarnya tidak harus dikomando karena dari tadi mereka sudah merangseg maju mendekat ke arah Darman, ketika melihat musuhnya lari Mereka pun mengejar dengan terus melempari batu. sedangkan yang lain melihat ada dua motor yang terparkir di halaman Saung, Mereka pun memiliki ide, dengan sengaja mereka menyalahkan kayu api lalu dimasukkan ke dalam tangki motor, sehingga tak Ayal lagi motor pun meledak, beruntung tidak menimbulkan perubahan jiwa.


Setelah dua motor terbakar, orang-orang terus mengikuti mengejar Darman yang sudah lari menjauh, seperti sedang mengejar maling yang ketahuan. mereka terus berteriak membuat hati Wanto yang tidak memiliki keberanian seperti Darman semakin menciut, hingga konsentrasi ketika menyelamatkan diri pun turun dan akhirnya dia terjatuh tersandung batu.


"Serang!" teriak orang yang mengejar di belakang sambil mempercepat langkah pengejarannya, hingga tak lama mereka pun sudah sampai di tempat Wanto terjatuh.


Tanpa basa-basi lagi Mereka pun menyiksa Wanto dengan begitu kejam. ada yang menendang, ada yang memukul, bahkan ada pula yang melempari dengan batu. Wanto yang sudah terdesak dia hanya berteriak-teriak meminta tolong, dan lama-kelamaan di suara itu menghilang berbarengan dengan terkulai lemas tubuhnya.


Darman yang sudah lari duluan Bukannya tidak mendengar teriakan warga kampung yang meminta tolong ,tapi dia juga masih bingung dengan memikirkan keselamatan sendiri, sehingga dia terus berlari menghindari para pengejar Karena tidak semua orang menyiksa Wanto, Sebagian ada yang terus berlari mengejar dan Karena itulah tujuan mereka melakukan penyerangan.


Teriakan demi teriakan terus terdengar diselingi dengan jeritan-jeritan ketakutan, apalagi ketika ada seorang wanita yang melihat kejadian seperti itu mereka berteriak sangat histeris, bahkan ada sampai yang pingsan. tapi pengejaran itu terus mereka lakukan tanpa memperdulikan teriakan teriakan peringatan. hingga akhirnya Darman bertemu dengan dua orang yang sedang berjalan di jalan gang yang ada di sawah Jalan Gang yang menuju ke jalan besar.


Merasa kenal dengan gadis itu Darman pun mengulum senyu,  karena seperti sedang mendapat ide untuk melarikan diri. Sedangkan orang yang sedang diintai dia tidak sadar kalau di belakangnya ada orang yang sedang mengancam keselamatan, meski dia mendengar teriakan-teriakan tapi dia tidak terlalu peduli karena teriakan seperti itu sudah biasa terjadi di kampung Sagaranten ataupun Kampung Cisaga. pasangan itu hanya ingin cepat segera pergi meninggalkan tempat pertikaian agar tidak terkena getahnya, Namun sayang keselamatannya sedang diancam.

__ADS_1


__ADS_2