Terjebak Cinta Gadis Konflik

Terjebak Cinta Gadis Konflik
Dadang Marah


__ADS_3

Mendengar perkataan Abduh, Yanti terlihat mengangkat wajah menatap ke arah pria yang selalu hadir dalam mimpi indahnya, tangannya mulai membalas genggaman erat laki-laki yang berada di hadapannya, seolah sedang saling menguatkan. bibirnya yang tipis mengukir senyum indah menenangkan hati.


"Tidak apa-apa Kang, lagian kang Dadang bukan pergi ke luar kota atau pergi tidak kembali. kang Dadang hanya pergi untuk menjenguk warga Kampung kita yang terkena serangan, nanti kalau beliau sudah pulang kita temui lagi." jawab Yanti tanpa sedikitpun merubah raut wajahnya, tanpa sedikitpun menunjukkan kekecewaan karena semuanya sudah dia antisipasi jauh-jauh hari sebelum menerima cinta Abduh.


"Terima kasih banyak! kamu memang Bidadari Tak Bersayap, hatimu selembut kain sutra sifatmu seperti seorang Ratu. Ya sudah ayo kita kembali temui Nathan dan Jasmine." ajak Abduh sambil menarik tangan Yanti kemudian berjalan melewati samping rumah menuju ke halaman belakang.


"Waduh kenapa yang mau lamaran wajahnya terlihat masam seperti rujak asam?" tanya Nathan dengan wajah cengengesan.


Aduh tidak menjawab Dia hanya menjatuhkan tubuhnya ke atas pelupuh, sedangkan Yanti disambut oleh Jasmine dengan pelukan hangat, kemudian mengelus punggungnya seperti seorang adik yang sedang menguatkan kakaknya. karena Jasmine sudah bisa menebak bahwa mereka tidak berhasil menyampaikan tujuannya, atau tidak berhasil meyakinkan keinginan kepada kang Dadang."


"Hei ditanya kenapa malah bengong, Bagaimana tanggapan kang Dadang?" tanya Nathan untuk yang kedua kalinya


"Gagal. Kang dadangnya keluar." jawab Abduh dengan membuang nafas kasar.


"Jangan berputus asa kawan. karena kegagalan itu adalah keberhasilan yang tertunda, tapi kalau kegagalan terus-menerus kita harus sadar diri bahwa kita memiliki batas kemampuan sebagai manusia yang lemah, sehingga kita harus mencari cara lain agar kita mencapai kesuksesan." tenang Nathan bak motivator Kondang.


"Emang Kang dadangnya ke mana?" tanya Jasmine sambil menatap ke arah kakaknya.


"Ngejenguk Kang Adin, Katanya tadi dia pulang dari pasar diserang oleh warga Kampung Cisaga."


"Sampai kapan pertikaian ini akan terus terjadi, apa sampai semua warga Kampung Sagaranten dan Kampung Cisaga Habis tak tersisa." ungkap Jasmine dengan menarik nafas dalam, wajahnya terlihat mengawan seketika karena konflik terus terjadi meski sudah berpuluh-puluh Tahun Lamanya.

__ADS_1


"Nggak tahu Akang juga bingung, kita diam diserang, kita ngelawan semakin menjadi. entah ditaruh di mana otak-otak warga Kampung Cisaga?" gerutu Nathan melampiaskan kekecewaan.


"Kita tidak bisa menyalahkan warga Kampung Cisaga, karena warga Kampung kita juga sama sama tidak memiliki otak, selalu membesarkan masalah-masalah sepele sehingga menjadi percikan api permusuhan yang terus menerus tanpa henti, seperti bensin yang terus disiramkan kepada api yang sedang berkobar."


"Terus apa yang akan kita lakukan?" tanya Nathan dengan wajah serius


"Yah mau bagaimana lagi sekarang kita harus menunggu kang Dadang pulang, karena kalau tidak mendapat izin darinya aku takut akan jadi masalah kedepannya. Apalagi aku akan tinggal di bogor bersama kamu, nanti aku dicap orang yang tidak nasionalis. Tidak memiliki jiwa yang sayang dengan kampungnya.


"Tidak boleh berbicara seperti itu, kita bukan tidak mencintai tanah kelahiran kita, tapi kalau tanah kelahiran kita menimbulkan masalah dan Petaka bahkan sampai mengancam keselamatan. Apa salahnya berhijrah ke kampung yang lebih aman, karena menyelamatkan diri sendiri itu adalah kewajiban.


Mendengar perkataan dari sahabatnya Abduh terlihat terdiam, karena merasa bingung dengan apa yang harus dia lakukan. Padahal kalau untuk seorang laki-laki dia bisa menikah tanpa persetujuan dari orang tuanya, berbeda kalau dengan perempuan yang harus mendapat Setuju dari kedua orang tuanya, karena perempuan membutuhkan Wali untuk menikahkan, sedangkan laki-laki tidak membutuhkan Wali nikah.


Suasana pun semakin lama semakin siang, Matahari mulai menunjukkan panasnya, mereka yang awalnya mengobrol di saung belakang rumah pindah ke dalam, sambil membantu Sarah menyiapkan makan siang. sedangkan Abduh dan Nathan terus mengobrol membahas rencana apa yang akan mereka lakukan ketika kang Dadang Datang.


Kira-kira pukul 01.00 siang, ada dua mobil yang masuk ke dalam halaman rumah mereka, kemudian orang-orang yang berada di dalamnya pun turun lalu terdengar suara hentakan-hentakan ketidakpuasan dengan keputusan yang diambil.


"Sudah daripada kita berebut paham mendingan sekarang kita makan dulu, nanti kita lanjutkan lagi permusyawarahan ini agar kita memiliki tenaga." pinta Dadang dengan nada yang biasa tidak sedikitpun terpanggil oleh amarah warga yang sudah menggebu, karena Adin harus dilarikan ke rumah sakit karena luka yang diderita lumayan parah.


"Pokoknya kita harus mengadakan serangan balasan karena kalau dibiarkan warga Kampung Sagaranten akan terus dibantai oleh warga Kampung musuh." pinta manta dengan sedikit menaikan intonasi suara.


"Sudah ayo makan dulu, kebetulan tadi Istri saya menelepon bawa dia masak lumayan banyak." jawab Kang Dadang sambil ngeloyor pergi masuk ke dalam rumah.

__ADS_1


Melihat suaminya sudah datang, Sarah yang dibantu oleh Yanti dan Jasmine Mereka pun bergegas Menyiapkan makan siang, karena Sarah tidak akan berani makan kalau tidak Bersama sang suami, suasana pun mulai agak tenang karena ketika makan bersama, Dadang mengajarkan bahwa tidak ada orang yang boleh berbicara karena menurut penuturannya kita harus menikmati makanan sebagai tanda kita menghormati makanan itu.


Selesai makan siang bersama para warga Kampung sagaranten. Kang Dadang pun mengajak para warganya untuk melaksanakan salat zuhur berjamaah, Setelah itu mereka pun berkumpul kembali di teras rumah untuk melanjutkan permusyawarahan.


"Pokoknya diizinkan atau tidak, kami akan membalas perlakuan Kampung Cisaga yang sudah kelewat batas. Masa iya, orang yang sedang mencari nafkah mereka Serang juga." ujar manta dengan semangat yang berkobar.


"Kita jangan gegabah mengambil tindakan, karena kalau kita membalas serangan warga Kampung Cisaga itulah yang mereka harapkan, agar pertikaian ini terus terjadi. apalagi Kampung Cisaga sekarang sangat kuat dengan kembalinya Darman dari penjara."


"Kang Dadang tidak berani bukan untuk melawan warga Kampung Cisaga?" tanya manta dengan nada sinis.


"Bukan masalah berani atau tidak. Tapi ini menyangkut keselamatan warga Kampung lain, karena kalau sudah pecah pertikaian bukan hanya kita saja yang akan terluka, melainkan seluruh warga Kampung Sagaranten dan seluruh warga Kampung Cisaga yang tidak berdosa akan ikut kena getahnya."


"Berarti kalau begitu kang Dadang tega membiarkan warga Kampung kita terus ditindas oleh warga Kampung Cisaga?"


"Tidak, saya tidak memihak siapapun. tapi saya sudah lelah dengan semua pertikaian ini. jadi sebaiknya sekarang kita lebih dewasa kita harus menjalin perdamaian dengan warga Kampung musuh, karena kalau kita terus-terusan seperti ini Kasihan anak cucu kita yang akan hidup di bawah bayang-bayang dosa-dosa yang pernah orang tua mereka lakukan.


"Pokoknya diizinkan atau tidak, saya akan tetap mengadakan pembalasan perlakuan terhadap Kang Adin dan pembalasan penyerangan terhadap kang Dadang ketika menjemput nak Abduh dari terminal."


"Kalau kamu tidak mau mengikuti saya, silakan kalian tinggalkan tempat ini." usir Dadang dengan suara datarnya Namun Terdengar sangat tegas.


Mendengar pengusiran seperti itu, Manta tidak berbicara lagi dia mengajak rekan-rekannya yang sepemikiran untuk pergi meninggalkan rumah ketua kampungnya, karena menganggap kalau Kang Dadang tidak punya rasa solidaritas terhadap warga yang sudah menjadi korban atas pertikaian yang berkepanjangan.

__ADS_1


Perdebatan kakaknya terdengar jelas oleh Abduh dan Yanti yang sejak dari tadi pagi menunggu kesempatan untuk mengutarakan niatnya yang hendak melangsungkan acara lamaran, mereka berdua terlihat masih terdiam mematung di belakang pintu keluar, Mereka terlihat ragu-ragu ketika hendak menghampiri kakaknya yang sedang dilanda masalah yang selalu datang.


__ADS_2