
Setelah lama berpelukan, akhirnya Dadang pun melepaskan pelukan itu kemudian menyuruh keluarganya untuk masuk ke dalam rumah tak lupa mengajak warga kampung yang setia dengannya untuk membahas berita bahagia ini.
"Sejak kapan kalian menjalin hubungan?" tanya Dadang mulai membuka acara musyawarah itu.
"Sejak Yanti main ke rumah Kang, dulu ketika Abduh pulang dari Bandung, Abduh sudah menaruh hati dengannya."
"Terus kamu diterima?"
"Alhamdulillah Kang diterima, bahkan sampai sekarang kita masih menjaga hubungan itu agar menjadi lebih kuat, dan Kami sudah sepakat untuk melanjutkan hubungan ini ke jenjang yang lebih serius."
"Oh begitu, Kenapa nggak Jujur dari dulu. kirain Yanti sering main ke sini hanya untuk bertemu dengan Jasmine, karena dia adalah sahabat terdekatnya."
"Malu Kang, takut Akang tidak setuju karena akang selalu mementingkan pendidikan dari apapun. menurut Akang setelah pendidikan kuliah Abduh selesai Abduh boleh melakukan apapun dan Abduh boleh memilih jalan hidup Abduh sendiri. sekarang Abduh sebentar lagi akan wisuda jadi, Abduh baru berani mengungkapkan semuanya."
"Ya sudah kalau seperti itu tidak apa-apa, Terus kapan kamu mau mendatangi keluarga Yanti?"
"Itu terserah Akang, karena Akang lah Yang mengganti orang tua kita, jadi semua keputusan ada di tangan Akang."
"Mendengar jawaban adiknya, Dadang pun terlihat terdiam seolah Sedang berpikir mencari hari baik untuk melangsungkan lamaran setelah lama berpikir Akhirnya dia pun berbicara."
"Bagaimana kalau hari Minggu kita datang ke rumah Kang Marna?" ujar Dadang memberikan keputusan.
"Apa itu tidak terlalu cepat Kang." Timpal Sarah yang sejak dari tadi hanya dia menyimak.
"Perkara yang baik tidak boleh ditunda-tunda secepatnya harus dilaksanakan agar kebaikannya cepat terasa, dan hari Minggu itu tidak terlalu cepat, karena kita masih memiliki waktu beberapa hari untuk menyiapkan semuanya, Lagian kita tidak akan susah untuk menyiapkan buat acara lamaran karena semuanya sudah tersedia dan kita sudah rencanakan Sejak jauh-jauh hari, ketika adik-adik kita akan menikah."
"Iya Kang, Bagaimana pendapat kamu Yanti?" tanya Sarah sambil menatap calon adik iparnya.
__ADS_1
"Yanti ikut aja Teh." jawab calon tunangan Abduh yang sejak dari tadi tertunduk Entah mengapa dia merasa malu dengan keluarga Dadang, padahal dia sering main ke rumah itu untuk bertemu dengan adiknya."
"Sebentar, sebentar dulu. Emang Yanti tidak akan menyesal dengan menerima lamaran adik Akang yang segini buruk rupanya?"
"Ih Akang Kok gitu sih." Jawab Abduh yang mengulum senyum Dadang memang sangat pintar mencairkan suasana yang sangat tegang.
"Ya harus ditanya dulu, siapa tahu saja Yanti terpaksa menerima lamaran kamu."
Yanti tidak menjawab, Dia hanya semakin menundukkan pandangan tidak berani baru tetap dengan orang-orang yang ada di situ hatinya mulai berdebar, jantungnya mulai berdegup, dengan kencang keringat dingin mulai membasahi tubuh, namun meski begitu dia merasa bahagia karena satu persatu jalan untuk menuju kebahagiaan sudah terbuka lebar.
"Kok diam, Yanti terpaksa ya?" tanya Dadang yang tetap menatap ke arah calon adik iparnya.
"Nggak Kok Kang, Yanti tidak terpaksa menerima lamaran Kang Abduh, karena Yanti wanita itu tidak melanjutkan pembicaraannya, wajahnya tiba-tiba berubah menjadi tomat."
"Kalau perempuan itu tidak menjawab dan tidak memberikan keputusan berarti menunjukkan bahwa Wanita itu sangat menyukainya, namun mereka tidak berani berbicara karena rasa malunya yang sangat tinggi." jawab Soleh yang kebenaran diajak untuk bergabung.
Yanti hanya menggelengkan kepala, dia sebenarnya Ingin secepatnya mengakhiri pertemuan itu karena semakin lama dia semakin merasa malu, meski dalam hatinya merasa sangat bahagia.
"Sudahlah kang jangan ditanya terus, kalau Abduh sudah menginginkan seperti itu pasti mereka sudah berbicara sebelumnya tahan Sarah yang sangat mengerti dengan perasaan wanita."
"Ya sudah kalau begitu nanti kalau kamu pulang Sampaikan salam Akang ke Bapakmu, dan Tolong bilang sama beliau bahwa hari Minggu Akang akan datang bersama keluarga." putus Dadang.
"Baik kang."
Akhirnya obralan pun berlanjut dengan membahas hal yang lainnya, namun obrolan itu tidak terlepas dengan persiapan untuk melangsungkan acara lamaran. Dadang yang termasuk orang paling kaya di kampungnya dia sudah merencanakan berbagai acara ketika pernikahan adiknya berlangsung, membuat Abduh dan Yanti semakin merasa bahagia atas penerimaan dari ketua Kampung sagaranten.
Setelah dianggap semuanya selesai, Dadang pun meminta izin untuk melanjutkan musyawarah dengan sholeh dan warga Kampung lainnya, yaitu membahas manta yang marah karena keinginannya ditolak mentah-mentah sedangkan Sarah dan Jasmine memeluk Yanti dengan begitu erat, seolah mengucapkan selamat datang ke dalam keluarganya begitupun dengan Abduh yang memeluk Nathan mengucapkan terima kasih, atas keberaniannya untuk mengungkapkan keinginan terhadap kakaknya yang disegani itu.
__ADS_1
"Terima kasih banyak Nathan, Terima kasih ternyata kamu memang bisa diandalkan."
"Sama-sama Abduh aku melihatmu bahagia, aku ikut merasakannya." jawab Nathan sambil melepas pelukan.
"Oh jadi kalian tadi tidak berani mengungkapkan keinginan kalian terhadap Kang Dadang?" tanya Sarah.
"Iya Teh, Awalnya kami ragu karena Kang Dadang sedang menghadapi masalah warga yang diserang oleh orang kampung Cisaga, tapi Nathan menarik lengan kami untuk berani menghadapi segala kemungkinan yang akan terjadi, kami dihadapkan dengan kang Dadang dan Alhamdulillah semuanya berjalan dengan lancar." jawab Yanti menjelaskan.
"Padahal Kenapa kalian harus malu, karena Kang Dadang sangat baik orangnya."
"Justru dengan orang yang baik, kami sangat senggan teh karena berkat kebaikan kang Dadang, kita jadi malu untuk berbicara jujur."
"Ya sudah kalau begitu tidak apa-apa yang terpenting kalian sebentar lagi akan melangsungkan pernikahan, sekarang banyak-banyak berdoa agar tidak ada halangan dan rintangan yang akan mengganggu kebahagiaan kalian." ujar Sarah yang terlihat mengulum senyum.
Setelah tidak ada obrolan lagi nanti berpamitan pulang untuk memberitahukan kabar baik ini terhadap keluarganya, karena Yanti sudah berjanji dia akan sedikit cepatnya pulang. Setelah semuanya selesai Sarah yang sudah menyayangi Yanti Sedari Dulu, dia menyuruh Abduh Untuk mengantarkan ke rumahnya.
Sore hari, setelah melaksanakan salat ashar Jasmine sudah terlihat bersiap dengan memakai celana training dan kaos olahraga, di kepalanya tertanam topi golf berwarna merah, topi yang hanya melingkar tanpa ada penutup kepala, di telinganya terpasang earphone yang tidak memakai kabel.
"Mau ke mana Jasmine?" tanya Sarah yang melihat adik iparnya sudah bersiap-siap.
"Mau olahraga teh, rasanya badan Jasmine terasa kaku karena beberapa hari terakhir di rumah terus."
"Mau olahraga ke mana?" Timpal Nathan yang memunculkan wajahnya dari balik pintu kamar.
"Nyamper aja kayak bensin." jawab Jasmine sambil mendelik namun itu membuatnya semakin terlihat cantik membuat hati Nathan semakin meleleh, seperti Timah yang dipanaskan oleh solder.
"Ikut....!" Pinta Nathan dengan masuk kembali ke kamar hendak mengganti sarungnya dengan celana olahraga.
__ADS_1
Jasmine tidak menghiraukan permintaan sahabat kakaknya itu dia keluar melalui pintu rumah, kemudian mulai berlari secara perlahan menyusuri jalanan Desa. Nathan yang ketinggalan dia pun menyusul dengan berlari secepat kilat, sehingga ketika bisa berlari bersama nafasnya terlihat terengah-engah kecapean.