
Pria yang baru turun dari mobil berjalan dengan begitu gagah, dadanya yang tegap dipadukan dengan kepala yang menatap tegak lurus ke arah depan, menyimpulkan bahwa dia sangat berwibawa. pria itu berjalan mendekat ke arah Jasmine yang terlihat menundukkan pandangan, tidak berani beradu tetap dengan kakaknya yang baru datang.
"Pulang dan kalian semua harus ikut!" hanya kata itu yang keluar ketika dia berdiri di hadapan adiknya, kemudian Dadang membalikkan tubuh menuju ke arah mobil.
Melihat kakaknya sudah masuk Jasmine mengajak Nathan untuk segera mengikuti masuk ke dalam. sedangkan Manta dan para warga lainnya mereka yang sejak dari tertunduk malu Hanya bisa menarik nafas dalam, melepaskan rasa takut untuk sesaat. karena mereka sudah tahu Apa hukuman bagi orang yang melanggar peraturan ketuanya, namun meski begitu Mereka pun berjalan mengikuti mobil yang sudah pergi meninggalkan Saung sawah, tidak ada satu orang pun yang berani membantah.
Di dalam mobil tidak ada pembicaraan sedikitpun, Nathan yang biasanya cengengesan dia pun terlihat kalem, matanya menatap keluar jendela memperhatikan hamparan sawah yang begitu indah, namun tak ada sedikitpun menunjukkan raut ketakutan di wajahnya seperti orang yang tidak memiliki dosa.
Mobil itu terus melaju menyusuri Jalan Desa, hingga akhirnya tiba dia salah satu rumah terbesar dengan halaman yang sangat luas. ketika mobil itu berhenti Dadang pun turun dari dalam kemudian menyuruh adiknya untuk masuk ke dalam, sedangkan dirinya bertolak pinggang menatap ke arah jalan menunggu rombongan anak buahnya datang.
Tak terlalu lama menunggu, akhirnya rombongan Manta pun tiba di halaman rumah Dadang, dengan segera pria yang menunggu itu masuk ke dalam rumah diikuti oleh rombongan orang yang baru pulang mengejar Darman yang sudah kabur.
Sesampainya di halaman teras, Dadang pun membalikkan tubuh lalu menatap tajam ke arah Manta yang tertunduk malu karena dia sudah melanggar peraturan yang dibuat oleh ketua kampungnya.
Plak!
Satu tamparan mendarat di pipi anak buah kepercayaan Dadang itu, namun pria yang ditampar itu tidak berteriak ataupun mendesis kesakitan, padahal tamparan itu sangat keras. akibat rasa bersalah yang memenuhi dadanya karena dia tidak mampu menahan kekesalan terhadap warga Kampung Cisaga yang terus-menerus mengobarkan api permusuhan.
"Gobl0k, tolol! Sudah aku bilang kalian Jangan bertindak gegabah, aku sudah bersusah payah mendamaikan kampung segaranten dengan Kampung Cisaga, tapi kalian merusak semuanya hanya demi ego. asal kalian tahu aku tidak membalas serangan Ketika pulang menjemput Abduh dari terminal, karena aku menginginkan hidup yang damai. tapi kalian memang benar-benar tidak bisa diatur, tidak sayang dengan keluarga yang terus dihantui oleh ketakutan." bentak Dadang dengan mengepalkan tangan, kalau tidak bisa mengontrol emosi, Mungkin dia ingin menampar bolak-balik pipi anak buah yang tidak bisa diatur.
"Maafkan saya Kang, Saya tidak mampu mengontrol emosi karena, saya sangat jengkel dengan kelakuan warga Kampung Cisaga yang diketuai oleh Darman yang baru keluar dari penjara. saya tidak bisa tinggal diam ketika akang terus diserang bahkan warga kampung kita satu persatu terus menjadi korban. Apakah kita akan terus tinggal diam menerima perlakuan mereka?" jawab Manta mencoba membela diri.
__ADS_1
"Tidak, saya tidak tinggal diam. tapi saya sedang mencari cara dengan lebih baik, agar tidak terus menimbulkan korban. saya terus berpikir bagaimana caranya agar Kampung kita bisa berdamai dengan Kampung Cisaga, Namun sayang Semua usaha saya sekarang kamu hancurkan begitu saja."
Mendengar pembicaraan Dadang, Manta tidak mengeluarkan suara lagi karena memang dia sangat tahu kalau Dadang menginginkan perdamaian itu, sehingga dia hanya bisa terdiam menerima kemarahan ketua yang sangat ia hormati.
"Saya bukan tidak berani melawan mereka, saya bukan penakut. tapi saya hanya ingin menginginkan perdamaian diantara kedua kampung yang sudah lama bertikai. Untuk itu tolong bantu saya mewujudkan semuanya, agar anak cucu kita ke depan bisa hidup dengan aman dan damai." Lanjut Dadang mengingatkan kembali keinginannya.
"Baik kang Dadang, sekali lagi saya minta maaf saya khilaf."
Setelah menceramahi anak buahnya, mata Dadang yang terlihat sangat tajam menatap ke arah Jasmine yang duduk di kursi teras, membuat adiknya itu semakin menundukkan pandangan tidak berani beradu tatap dengan kakaknya.
"Kamu kenapa ada di sana dan mau ngapain ada di saung sawah yang sangat berbahaya?" tanya Dadang dengan pelan namun terdengar tegas.
"Jasmine kangen dengan masa lalu yang selalu bermain di sawah bersama almarhum Bapak dan Ibu. Jasmine ingin mengenang kembali keindahan itu meski hanya melihat peninggalan mereka."
"Karena kalau bilang sama Akang, pasti Jasmine tidak akan diizinkan." jawab adiknya mengelak.
"Pasti, pasti akang tidak akan mengijinkan kamu, karena Setelah orang tua kita meninggal kamu menjadi tanggung jawabku. jadi apapun yang terjadi sama dirimu, itu adalah di bawah kendaliku."
"Kenapa Akang selalu melarang Jasmine mengenang kedua orang tua kita, padahal Jasmine hanya pergi ke sawah."
"Akang tidak melarang, tapi kamu harus mengerti dengan situasi Kampung kita yang sangat tidak kondusif, kampung yang terus-menerus terlibat konflik dengan Kampung Tetangga. Jadi Akang harus melarang Bukan Tanpa Alasan, Akang melarang Jasmine untuk pergi ke Pinggiran Kampung kita, karena keselamatanmu sendiri. akang tidak mau kalau keluarga Akang terus-menerus terbunuh akibat konflik yang berkepanjangan. Jadi Mulai sekarang kamu tidak boleh ke mana-mana kamu diam di rumah!"
__ADS_1
"Tapi Kang, Jasmine pulang dari Amerika ke sini bukan untuk diam di rumah. Jasmine ingin bertemu dengan teman-teman Jasmine berkumpul dengan sahabat-sahabat Jasmine."
"Gampang, nanti biar Akang suruh mereka ke sini."
"Terus kalau Jasmine ingin pergi ke sawah bagaimana, karena Jasmine selalu ingat ketika bapak dan ibu yang selalu mengajak Jasmine ke sana?"
"Pokoknya tidak boleh, kamu di rumah aja!" putus Dadang dengan nada tegasnya.
"Kenapa tidak boleh pergi ke sawah, padahal warga Kampung Sagaranten semuanya menjadi petani. bahkan bisa dikatakan warga kampung di sini bisa hidup dari persawahan ataupun perkebunan. Bagaimana kalau warga di sini dilarang untuk pergi ke sana, Apakah larangan itu sudah tepat atau tidak?" ujar Nathan menyela pembicaraan kakak dan adik itu,
"Sudah saya bilang keadaan kampung di sini tidak seperti di kampung-kampung yang lainnya, yang aman dan tentram. di sini selalu diintai oleh warga Kampung musuh yang menginginkan kehancuran."
"Kenapa kalian terus bertikai, Kenapa tidak duduk bersama membahas perdamaian. karena saya yakin kalau bicara dengan baik-baik semua masalah pasti bisa diselesaikan." jawab Nathan memberikan solusi.
"Hahaha." Tanggap Dadang tertawa sinis. "kamu kira masalah kampung di sini seperti masalah yang berada di kampus yang bisa diselesaikan hanya mengobrol duduk di cafe sambil ngopi. masalah di sini sudah turun temurun dari dulu tidak ada yang bisa menyelesaikan. jangankan orang yang baru lahir seperti kamu, kepolisian, pemerintah tidak mampu mendamaikan warga Kampung Cisaga dan Kampung sagaranten."
"Berarti kalau begitu, kalian sama-sama tidak menginginkan perdamaian."
"Siapa yang tidak ingin berdamai. saya adalah orang yang paling vokal membicarakan perdamaian itu. namun bagaimana kita mau berdamai kalau ketika kita pulang dari kuliah S2 di bidang pertanian dan istri saya S2 di bidang perekonomian, disambut dengan kematian kedua orang tua kami." jawab Dadang yang terlihat matanya berenang dengan air kesedihan mengingat kejadian yang sangat memilukan itu.
5 tahun ke belakang, Dadang yang umurnya berbeda 15 tahun lebih tua dari Abduh. dia terus mencari ilmu berkuliah dari kampus satu pindah ke kampus yang lain, untuk menambah pengetahuan demi memajukan kampungnya. ketika di kampus dia bertemu dengan Sarah yang sekarang menjadi istrinya, mereka berdua pun bahu membahu menyatukan tujuan hingga akhirnya mereka pun menikah.
__ADS_1
Setelah Dadang dan Sarah menikah, mereka tidak tinggal di kampung Sagaranten, mereka lebih memilih bekerja di kota metropolitan sambil terus berkuliah, hingga akhirnya gelar magister pun mereka dapat. Setelah semuanya dirasa cukup akhirnya mereka pun memutuskan untuk mengembangkan Kampung sagaranten melalui ilmu masing-masing. Dadang yang jago di bidang pertanian dia ingin mengembangkan pertanian di kampungnya, sedangkan Sarah bertugas untuk memasarkan.