Terjebak Cinta Gadis Konflik

Terjebak Cinta Gadis Konflik
Darman Dipojokan


__ADS_3

Setelah semuanya dirasa rapi akhirnya mereka berdua pun keluar dari rumah menggunakan motor tua peninggalan orang tua Jasmine. Nathan yang mengendarai motor itu hatinya terasa berdetak, jantungnya terasa berdegup dengan kencang, apalagi ketika gadis pujaannya memeluk tubuhnya dengan begitu erat, seolah dia takut terjatuh dari atas motor. Membuat Nata menjadi semakin salah tingkah.


Matahari sudah mulai terasa panas, orang-orang yang sedang bekerja di sawah sebagian memilih untuk beristirahat berteduh di saungnya terlebih dahulu, tidak kuat menahan teriknya matahari yang begitu menyengat, namun ada pula yang masih bekerja Mungkin Mereka sudah terbiasa dengan panas yang begitu trik membakar.


Motor yang dikendarai oleh Nathan dan Jasmine terus melaju menyusuri jalan desa, mengeluarkan asap pekat dari belakang knalpotnya, namun motor itu masih layak untuk dikendarai karena mampu membawa mereka dengan selamat sehingga mereka pun tiba di salah satu sawah yang berada di pinggiran desa.


Kedua muda-mudi itu turun dari motornya, kemudian berjalan mendekat ke arah Saung yang masih terawat. meski jarang didatangi tapi Dadang selalu membersihkannya seminggu sekali, diantar oleh para warga kampung yang lain untuk memastikan keamanan, berjaga-jaga takut ada warga Kampung Cisaga yang menyerangnya.


Jasmine berlari sedikit kencang menuju ke arah Saung, tidak kuat menahan rasa panas yang menyengat, apalagi dia baru saja pulang dari Amerika yang cuacanya ada 4 musim. Sesampainya di saung dia pun menjatuhkan tubuhnya ke atas pelupuh, matanya menatap ke arah sawah yang padinya sedang menghijau, Dia terlihat terdiam sambil mengatur nafas yang lumayan memburu. Nathan yang berjalan di depan dia pun menghampiri kemudian duduk di sampingnya.


Tidak ada pembicaraan yang keluar dari mulut mereka, seolah Nathan membiarkan Jasmine mengenang masa kecil bersama keluarga yang sudah meninggal, tidak seperti biasa yang selalu cengengesan dan sikapnya sangat menyebalkan.


"Indah ya suasana pedesaan." ungkap Natan dengan suara pelan sekolah pujian itu memang benar-benar diutarakan dari lubuk hatinya.


"Iya, aku selalu rindu dengan kampung halamanku karena di sini orang-orangnya sangat ramah, buktinya ketika kita tadi melewati Jalan Desa mereka selalu menyapa dengan melempar senyum yang sangat ikhlas, berbeda ketika tinggal di kota besar atau di negeri orang, yang sama sekali tidak terlihat ada keramahan karena mungkin mereka disibukkan dengan bekerja. selain orang-orang yang ramah kampung halaman kita ini terlihat begitu indah dengan hamparan sawah yang membentang seluas mata memandang di diselingi oleh pohon-pohon kelapa atau pohon-pohon bambu yang tumbuh subur di tepian sungai."


"Sudah berapa tahun kamu tinggal di Amerika?" tanya Nathan tanpa mengalihkan pandangan dari ciptaan tuhan yang begitu indah.


"Aku sudah 2 tahun bersekolah di sana, rasanya sangat lama, rasanya terasa sewindu aku tidak pulang, sehingga aku merasa aku sangat kangen ke sini walaupun sudah tidak ada orang tua, tapi masih banyak kenangan-kenangan lain yang tidak bisa aku lupakan."


"Kalau begitu kamu berhenti saja kuliah di sana, Nanti kamu kuliah di Bandung seperti Kak Abduh." ungkap Nathan memberikan saran.

__ADS_1


"Enggak, aku harus terus berkuliah di sana agar nantinya aku bisa bekerja di perusahaan-perusahaan ternama. Aku selalu bermimpi bahwa suatu saat nanti aku akan bekerja di perusahaan yang sangat terkenal."


"Jadi setelah kuliah kamu akan bekerja terlebih dahulu?" tanya Nathan yang terlihat sedikit kecewa karena khayalan untuk menikahi Jasmine semakin terasa menjauh.


"Iya, aku ingin mencari pengalaman di luar sana sebelum mengabdikan hidupku untuk laki-laki yang aku pilih, karena menurut sebagian keterangan ketika wanita sudah menikah maka kegiatannya harus dibatasi, ada yang lebih wajib dari semuanya yaitu melayani suami siang maupun malam, sedang berada di rumah ataupun sedang bekerja. jadi aku tidak mau masa mudaku terkekang, aku ingin terbang seperti burung elang yang bisa menjelajahi pulau-pulau, menyeberangi Samudra hinggap di benua."


"Memangnya cita-citamu bekerja di perusahaan apa?"


"Apa saja, yang terpenting sudah terkenal. Kenapa kamu bertanya seperti itu, seolah seorang perempuan tidak boleh bekerja."


"Tidak apa-apa kok, justru aku sangat senang mendengar wanita yang mau bekerja keras, tidak berpangku tangan mengandalkan semuanya kepada pihak laki-laki, karena pada dasarnya baik laki-laki ataupun perempuan Semuanya sama, semuanya manusia yang harus terus berusaha untuk memperbaiki diri dan berkembang."


"Kalau kamu setelah lulus kuliah mau apa?" tanya Jasmine mulai menyelidiki.


"Berubah bagaimana?"


"Sekarang aku tidak mau menikah dulu, nanti saja setelah aku bisa bekerja dan memiliki pengalaman baru kalau itu aku mau menikah.


"Baguslah, apalagi seorang laki-laki harus bertanggung jawab, harus memiliki penghasilan yang lebih agar bisa menafkahi istrinya."


Obrolan pun terus berlanjut saling bertukar pemikiran, saling bertukar pengalaman, saling membagikan tujuan hidup mencari kesamaan antara yang satu dan yang lainnya. namun setelah berbicara panjang lebar Nathan yang awalnya hendak mengungkapkan perasaan di waktu yang sedang tidak ada orang, dia pun mengurungkan karena dia sangat menghormati prinsip-prinsip orang lain, dia tidak mau membebani orang lain dengan keinginannya, sehingga mereka hanya mengobrol seperti biasa seperti layaknya seorang teman yang sedang bertukar cerita.

__ADS_1


***


Di tempat lain khususnya di kampung Cisaga. Darman yang masih merasa kesal karena Dirinya belum mampu menjalankan tugas untuk menghabisi nyawa Dadang, dia terus di pojokan oleh kakaknya bahwa dirinya sangat tidak berguna. merasa Kesal Di rumah tidak dihargai Darman pun memutuskan untuk keluar mencari angin, Dia berjalan menuju pinggiran kampung untuk menenangkan pikiran yang sedang sangat kalut, karena dia tidak menemukan cara bagaimana melumpuhkan Darman yang sudah membuat orang tuanya cacat seumur hidup. beberapa hari yang lalu Darman pernah menyerang orang yang baru pulang dari pasar dan berharap dengan keributan yang ia timbulkan pihak warga Desa Sagaranten akan terpancing dan keluar menyerang kampungnya, namun itu tidak terjadi warga Kampung Sagaranten seolah menahan diri untuk melanjutkan keributan sehingga rencananya pun gagal dan sutarji kakaknya terus memojokkan.


"Mau ke mana Kang?" tanya salah seorang yang kebetulan datang dari arah depan, orang itu menghentikan motornya kemudian membalikkan mengejar Darman yang sudah berhenti.


"Dari mana kamu Wanto?" ujar Darman tidak langsung menjawab Dia malah balik bertanya.


"Mau ke rumah Akang, soalnya di rumah sedang tidak ada pekerjaan, Kalau di tempat Akang lumayan kan walaupun tidak bekerja kopi sama rok0k selalu tersedia."


"Aduh jangan ke rumah, mendingan antar aku ke sawah, Kebetulan aku ingin minum degan nanti kamu yang naik."


Mendengar Permintaan pimpinan seperti itu, Wanto tidak langsung menyanggupi, karena walaupun Darman sebagai pimpinan Dia sangat pelit tidak seperti kakaknya yang bernama Sutardji yang selalu Royal terhadap siapapun, apalagi orang tuanya yang selalu membantu kesusahan warga Kampung ciptaan sehingga ketika mereka memiliki musuh maka musuh mereka pun menjadi musuh satu kampung. sama seperti keluarga Dadang yang selalu dihormati oleh warga kampung gagaranten mau tidak mau para warga pun harus terjebak ikut dalam konflik keluarga yang sudah lama terjadi.


"Kenapa kamu malah diam, kamu tidak punya rokok kan? Ya sudah nih beli dulu." ujar Darman sambil mengeluarkan uang sebesar 100.000 lalu diserahkan kepada Wanto.


"Bukan begitu Kang."


"Udah jangan banyak alasan, cepat beli rokok sekalian belikan rokok saya, nanti kembaliannya buat kamu, hitung-hitung sebagai Burhan memanjat kelapa."


"Ah yang bener Kang?" ujarwanto seolah tidak percaya.

__ADS_1


"Kapan aku pernah berbohong. Ya sudah sana beli rok0k, nanti susul saya ke Saung yang berada di ujung desa." ujar Darman sambil menarik kembali tuas kelas motornya meninggalkan Wanto yang masih terdiam kebingungan.


"Kalau ngomong anak paling kecil Pak Maja itu selalu sebakul tapi kenyataannya nol. pakai nanya kapan dia pernah berbohong Padahal dia selalu berbohong, bahkan saking seringnya sudah tak terhitung. tapi biarkan sajalah yang terpenting sekarang aku mendapatkan rok0k dan uang untuk membeli kopinya." ujar Wanto sambil memasukkan uang pemberian dari Darman ke dalam kantong kemudian dia pun memberikan motornya mencari warung yang termurah.


__ADS_2