Terjebak Cinta Gadis Konflik

Terjebak Cinta Gadis Konflik
Mencari Masalah


__ADS_3

Suasana kala itu terasa Begitu terik membuat orang-orang tidak betah berlalu-lalang di bawah sinar matahari, Kalau tidak ada kepentingan atau keperluan mendesak orang-orang lebih memilih berdiam diri di rumah, sambil mengipasi tubuh yang terasa sangat panas. di jalan Cisaga yang menuju ke arah utara yang nantinya tembus ke kampung Sagaranten terlihat ada sebuah motor yang sedang dikendarai.


Wajah orang itu terlihat ditekuk menimbulkan suasana sangar di wajahnya yang sangat menyeramkan, pipinya yang besar ditumbuhi oleh jenggot yang sampai ke jambang, namun di atas bibir tidak ada kumis yang dipelihara mungkin kalau ada kumis wajah orang itu terlihat sangat menakutkan.


Orang yang mengendarai motor itu terus melaju menuju ke Saung sawah yang di sampingnya ditumbuhi oleh pohon kelapa, dia terus menggerutu seperti sedang menemukan kekesalan dalam hidupnya. Bagaimana tidak kesal, kakaknya yang seharusnya selalu memotivasi dirinya, tapi malah terus menyudutkan, karena dia belum mampu membalaskan dendam Orang tua yang disiksa sampai cacat seumur hidup.


"Kurang ajar! Awas kamu Dadang. pasti suatu saat kita akan bertemu di medan tempur. Aku tidak akan memberikan ampun, aku akan menghabisimu seperti orang tuaku menghabisi orang tuamu." umpat orang itu sambil turun dari motor Karena dia sudah sampai ke tempat tujuan.


Pria yang bernama darman itu berjalan dengan gontai menuju ke arah Saung, kemudian menjatuhkan tubuhnya ke atas pelupuh tidak kuat tersengat oleh teriknya matahari, nafasnya sedikit memburu, keringat mulai bercucuran, padahal dia tidak berjalan tapi suasana yang begitu panas membuatnya tidak kuat berlama-lama di bawah terik sinar matahari.


Mata pria itu memindai ke area sekitar memperhatikan sawah yang membentang luas, di tepian sungai irigasi terlihat banyak pohon kelapa yang tumbuh subur diselingi dengan pohon-pohon bambu haur untuk menahan kontur tanah agar tidak longsor. di tempat itu terlihat sangat sepi karena tidak banyak orang yang selalu mendatangi sawah, paling kalau ada itu akan sangat banyak dan biasanya dikawal oleh pihak yang berwajib agar tidak terjadi pertikaian, karena sawah itu berbatasan dengan Kampung sagaran dan Kampung musuh warga Kampung Cisaga.


"Ke mana si Wanto, Kok lama sekali. Apa dia mau beli rokok sampai ke Baghdad?" orang itu menggerutu menatap ke arah jalan yang terlihat tampak sepi, namun terlihat ada asap hitam tipis mengepul seperti ada kebakaran akibat dari teriknya matahari yang sangat panas.


Lama menunggu dari arah jauh terdengar suara motor yang semakin lama semakin mendekat hingga muncullah Wanto yang terlihat memamerkan gigi, tidak kuat menahan terik matahari yang menyengat tubuhnya.


"Dari mana saja kamu Wanto, ditunggu Kok lama sekali datangnya?" tanya Dadang sambil menatap tajam ke arah orang yang baru datang.


"Maaf Kang kirain saya akan tidak ke sini, kirain saya ke sawah yang satunya lagi."


"Emang kenapa kalau aku ke sini?" tanya Darman dengan wajah datarnya, menandakan tidak ada ketakutan dalam jiwanya.

__ADS_1


"Jangan pura-pura tidak tahu Kang, bagaimana kalau ada warga Kampung sagaranten yang sedang mengontrol sawahnya, itu kan sangat bahaya. apalagi mereka datang tidak akan sendirian mereka pasti berbondong-bondong seperti kambing yang sedang digembala."


"Oh kamu takut sama kampung sagaranten?" jawab Darman sambil menyunginkan satu sudut bibirnya.


"Ya bukannya takut Kang. tapi kalau dua lawan 10 orang itu sangat tidak masuk akal dan kemungkinan menang itu sangat kecil."


"Kamu nggak usah takut Wanto, karena aku sudah merasakan hal terburuk dalam hidupku. Aku sudah masuk penjara, aku sudah pernah membunuh orang. jadi apa yang harus aku takuti kecuali aku tidak mampu melenyapkan orang yang sudah membuat kedua orang tuaku cacat seumur hidup."


"Memang Sampai kapan permusuhan ini akan berakhir, rasanya sangat capek hidup dikejar-kejar oleh ketakutan. mau keluar dari kampung sendirian Kita Harus berpikir berulang kali, bahkan kalau tinggal di rumah kita tidak tenang takut sewaktu-waktu warga Kampung musuh menyerang kampung kita." tanya Wanto yang sudah merasa lelah dengan apa yang terjadi di kampungnya, karena hampir setiap minggu ada saja kejadian yang sangat mengerikan.


"Sampai aku bisa membalas perlakuan mereka terhadap Pak Maja dan Bu Suhaimi, orang tuaku. karena prinsip warga kampung kita darah harus dibayar dengan darah, garam harus dibayar dengan garam, cacat harus dibayar dengan nyawa. kenapa kayaknya kamu sudah tidak setia lagi dengan kedua orang tuaku yang sangat berjasa di kampung ini? ingat hampir seluruh tanah warga Kampung Cisaga itu adalah milik orang tuaku dan kalian tinggal membuat rumah di sana tanpa harus membayar sewa sepeserpun." jawab Darman yang menatap tajam ke arah Wanto seolah tidak setuju dengan pertanyaan yang dilontarkannya.


"Memang semuanya adalah berkat orang tua akang, tetapi rasanya akan sangat Percuma kalau kita hidup berada dalam bayang-bayang ketakutan. Saya ingin menikah  saya ingin memiliki keluarga seperti para pria pada umumnya, memiliki anak memiliki kehidupan yang layak."


"Mau kelapa yang mana yang di petik Kang?" jawab Wanto mengalihkan pembicaraan, karena berdebat dengan Darman ataupun Sutardji itu tidak akan membuatnya merasa unggul, karena keluarga Maja sangat keras kepala. padahal warga Kampung Sagaranten Sudah beberapa kali mengajukan perdamaian namun api permusuhan itu selalu dikobarkan dengan penyerangan yang terus diupayakan, agar kedua Kampung tetangga itu saling bertikai.


"Nah gitu! daripada kamu berpikir yang tidak-tidak mendingan sekarang kamu ngambil degan."


"Ya kang, baik!" jawab Wanto sambil bangkit dari tempat duduknya kemudian dia pun mendoakan kepala melihat-lihat kelapa mana yang ada degannya.


Setelah menemukan yang dia cari, Wanto pun mulai menyingsingkan lengan bajunya mempererat tali pinggang kemudian dengan perlahan dia menaiki pijakan demi pijakan yang dibuat di pohon kelapa. Wanto terus merangseg naik ke atas untuk mengambil degan. namun setelah sampai di atas Alangkah terkejutnya dia karena di tepian sungai yang membatasi kampung bisa gak dan Kampung sagaranten ada seorang laki-laki yang menatap ke arahnya.

__ADS_1


"Kang kang ada musuh." ujar wanto memberitahu Darman yang sedang mendongak ke atas.


"Di mana, berapa orang?"


"Tuh di tepian sungai, nggak banyak cuma satu orang."


Mendengar penjelasan Wanto Darman pun menatap ke arah orang yang ditunjuk oleh warga kampungnya, terlihatlah ada seseorang yang sedang menunduk tangannya terlihat bergerak-gerak seperti sedang membebatkan Arit. melihat kejadian seperti itu Darman pun mengulum senyum yang mengeluarkan tawa.


"Bagaimana Kang, dilanjutkan apa tidak ngambil degannya, Soalnya saya takut kalau orang itu akan menyerang ke arah kita."


"Lanjutkan saja! lagian para pencair rumput Mana berani menghadapi singanya Cisaga, yang ada kalau mereka melakukan pergerakan pasti akan aku makan bulat-bulat." jawab Darman dengan sombong bahkan terlihat mengangkat kepala tangan seperti menebar ancaman.


"Tapi kang!" ujar wanto yang masih merasa ngeri karena posisi mereka sangat tidak menguntungkan, kalaupun ada pertikaian lebih memilih untuk tinggal di belakang menyelamatkan diri ketika sudah terdesak.


"Sudah tidak ada tapi tapian, kamu lanjutkan saja tugasmu mengambil degan. buruan aku haus nih!" Pinta Darman sambil masuk kembali ke dalam Saung tidak kuat berlama-lama di bawah teriknya matahari.


Mendengar perintah anak ketua Kampung mereka, Wanto hanya menggelengkan kepala seolah tidak setuju dengan kelakuan Darman, namun untuk membantah dia tidak berani sehingga dia pun terus melanjutkan mengambil degan.


Blug! blug! Blugh!


Terdengar suara kelapa yang jatuh beberapa kali membuat Darman mengulum senyum karena dia bisa membasahi tenggorokan yang terasa kering. setelah menurunkan beberapa buah kelapa muda Wanto pun turun kemudian merapihkan buah kelapa itu dengan membawanya ke Saung.

__ADS_1


"Kupas langsung To!" Pinta Darman sambil membuang asap yang memenuhi mulutnya.


Di tempat lain, orang yang sedang mencari rumput dengan segera dia pun memenuhi keranjang meski tidak dijejal. namun ketika sudah terlihat penuh dengan sedikit tergesa-gesa dia pun meninggalkan tempat mengambil rumputnya untuk menemui Manta yang terus mengatur strategi untuk membalaskan perlakuan warga Kampung Cisaga terhadap Adin yang masih terbaring di rumah sakit.


__ADS_2