Terjebak Cinta Gadis Konflik

Terjebak Cinta Gadis Konflik
Abduh terluka


__ADS_3

Orang yang mengejar pun sudah sampai di tempat Nathan, dengan segera Mereka pun melancarkan serangan menggunakan senjata masing-masing, mencari lengah musuhnya. Nathan agak sedikit kewalahan karena yang menyerangnya tidak kurang dari 5 orang, dia harus loncat bahkan harus merunduk menghindari serangan-serangan yang begitu membahayakan. namun dia yang memiliki kelebihan dalam bertarung dia tetap tenang sehingga ketika mendapat celah dengan segera dia pun melancarkan serangan balasan sehingga satu orang pun roboh bermandikan darah.


Orang-orang yang mengejar semakin lama semakin banyak membuat Nathan harus berkonsentrasi agar dirinya tidak menjadi korban, seperti apa yang terjadi terhadap Dadang dan keluarganya. Nathan terus berusaha menghindari serangan sesekali membalas menggunakan parang, akhirnya satu persatu musuh mulai tumbang, namun tidak sampai meninggal karena ketika hendak menggunakan kekuatan lebih serangan lain sudah menghampiri, sehingga Nathan harus pandai Membagi waktu antara menyerang dan bertahan.


Darman yang ikut memperhatikan, dia tidak ikut bertarung, Dia berjalan menuju ke arah bawah memotong Jalan berlari Abdul dan Jasmine. sehingga tak lama dia pun sudah berada di hadapan mereka.


Abduh dan Jasmine yang sedang terfokus memperhatikan Nathan bertarung karena mereka merasa ngeri melihat cahaya putih yang terpancar dari golok yang digunakan senjata untuk menyerang, sehingga mereka berdua tidak menyadari kalau di belakangnya sudah ada Darman yang terlihat mengulumng senyum penuh kemenangan.


Darman pun berjalan perlahan mendekat ke arah Abduh yang berada di paling dekat dengannya. kemudian Dia menepuk bahunya sehingga Abduh pun menengok namun Alangkah terkejutnya ketika ada benda tajam yang menusuk perut sampai ke punggung.


Abduh tidak mengeluarkan suara hanya mencekram tangan Darman yang memegangi pundaknya, Jasmine yang sadar dengan kondisi kakaknya yang sudah tertusuk dia pun berteriak membuat Nathan melirik ke arah datangnya suara.


Betapa terkejutnya pemuda itu ketika melihat sahabatnya sudah tertancap oleh golok yang sangat panjang, setelah melancarkan serangan balasan dia pun berlari menuju ke arah Darman yang masih memainkan golok yang menancap di perut Abduh.


Srett!


Satu tebasan Parang mengenai leher Darman dengan kekuatan yang sangat penuh dibarengi amarah yang memuncak, sehingga membuat leher pemuda Kampung Cisaga itu tergelincir, dari lehernya memancarkan Darah segar membasahi tanah, tubuh yang awalnya berdiri sekarang pun terkulai lemas dengan menarik golok yang masih tertancap di tubuh Abduh.


Tubuh Darman terlihat mengkerejat sebentar kemudian tubuh itu diam tak bergerak karena nyawanya sudah meninggalkan raga. Begitu juga dengan Abduh yang ambruk namun tidak sampai jatuh tanah karena Jasmine dengan Sigap memeluknya.


Tangis Jasmine Semakin menjadi melihat keluarganya Habis tak tersisa, dibunuh dengan keji oleh warga Kampung Cisaga. Jasmine yang sudah tidak bisa berbuat banyak dia hanya berteriak teriak histeris sambil memanggil-manggil nama Abduh agar tidak meninggal


Melihat kepala yang tergelinding lepas dari tubuhnya para warga Kampung Cisaga merasa ngeri tidak berani melanjutkan pertarungan, apalagi Nathan yang sedang menatapnya dengan Tatapan yang begitu tajam seperti seorang singa yang siap menerkam mangsanya.

__ADS_1


Mendapat Tatapan yang sangat mengerikan nyali para warga Kampung Cisaga seketika menciut dan mereka pun membalikan tubuh untuk melarikan diri, namun Nathan tidak membiarkan dengan segera dia pun mengejar.


"Nathan, Nathan....! tolong kak Abduh Nathan!" teriak Jasmine dengan suara bergetar bercampur dengan suara tangis, tangannya Menutup luka dari sebelah depan Namun sayang luka Abduh tembus dari belakang sehingga darah pun tetap mengalir.


Orang yang dipanggil pun berlari mendekat ke arah Abduh kemudian memegang wajah sahabatnya untuk menyadarkan agar tidak pingsan, dari sudut matanya keluar air bening yang membasahi pipiĀ  Sekuat apapun orangnya kalau menyaksikan kengerian yang begitu mengerikan pasti akan menangis juga.


"Adduh, Abduh, bangun Abduh! jangan pingsan Abduh! kamu akan selamat, kamu akan selamat!" ujar Nathan sambil menggerak-gerakan sahabatnya yang terkulai lemas akibat terlalu banyak keluar darah.


Tanpa berpikir panjang Nathan pun menggendong Abduh di belakangnya , kemudian dia pun berlari untuk menuju ke Puskesmas terdekat , untuk menyelamatkan nyawa sahabatnya. sambil berlari Nathan terus menangis berteriak-teriak histeris tidak mampu menahan kesedihan yang begitu memilukan.


Jasmine yang berjalan di belakang dia terus memberi motivasi agar Kakaknya bisa selamat, darah terus mengucur membasahi jalan yang mereka lewati, bercampur dengan air mata yang terus bercucuran membasahi bumi.


****


Orang-orang yang ditanya tidak berani menjawab, mereka hanya menundukkan kepala sambil bergetar karena mereka dihampit oleh dua ketakutan. satu takut karena kehebatan Nathan yang mampu mengalahkan Darman yang tidak ada tandingnya di kampung Cisaga, yang kedua Mereka takut dengan amukan Sutardji karena mereka sudah meninggalkan Darman.


"Kenapa kalian ditanya malah diam, jawab ke mana Darman dan bagaimana adik si Dadang itu apakah mereka sudah kalian Giring ke neraka?" ujar Dadang mengulang pertanyaannya


Para warga Kampung Cisaga mereka tetap membisu membuat amarah ketua kampungnya semakin bergejolak, hingga akhirnya dia pun mengambil kerah baju Seorang warga yang sedang duduk bersimpuh di hadapannya. tanpa basa-basi dia melayangkan pukulan yang begitu keras sehingga orang itu terlihat sempoyongan akibat kerasnya pukulan.


"Jawab ke mana si Darman!" Hardik Sutardji sambil hendak melayangkan tinjunya kembali.


"Ampun Kang, ampun, ampun."

__ADS_1


"Jangan ampun-ampunan, sekarang jawab dimana Mereka?"


"Mohon maaf Kang, mohon maaf!" jawab orang itu dengan ragu-ragu, tubuhnya bergetar karena dia sangat tahu apa yang akan diterimanya.


"Kenapa malah minta maaf, aku bertanya di mana mereka?"


"Kang Darman, Kang Darman." orang itu tidak melanjutkan pembicaraannya


"Kenapa dengan si Darman?"


"Kang Darman, Kang Darman, anu Kang."


"Anu apa?" tanya sutarji sambil kembali melayangkan satu pukulan ke arah perut, sehingga membuat orang itu terlihat muntah darah akibat kerasnya pukulan.


"Ampun Kang, ampun!"


"Jawab. si Darman Kenapa?" ujar Sutardji yang sudah merasa tidak enak hati Karena dia sudah bisa membaca, pasti ada sesuatu yang buruk terjadi dengan adiknya.


"Kang Darman tewas Kang." jawab orang itu akhirnya kata Jujur karena tidak kuat menahan siksaan Sutardji yang begitu tidak manusiawi.


Mendengar adiknya sudah tewas sutarji pun tidak percaya, sehingga dia pun melayangkan pukulan kembali yang benar. "kamu kalau berbicara jangan ngelantur, mana mungkin Darman yang sangat gagah bisa mampus juga."


"Benar Kang. bahkan kepalanya terputus karena dibabat oleh Pemuda yang membawa mereka kabur." jelas orang itu dengan terbata-bata meski dipenuhi dengan ketakutan tapi dia harus tetap jujur agar ketua kampungnya mengetahui dengan apa yang sudah terjadi, sesuatu yang mengerikan dengan adiknya.

__ADS_1


Sutardji pun mendorong tubuh orang itu kemudian mengajak orang-orang yang masih berada untuk mengejar dan membuktikan perkataan mereka bahwa adiknya sudah meninggal. hati Sutardji sedikit merasa sedih karena kalau bagaimanapun Darman adalah adik satu-satunya yang bisa dia andalkan


__ADS_2