
Merasa kesal, akhirnya Susanto pun bangkit dari tempat duduknya, kemudian dia pergi meninggalkan pemancingan tanpa mengeluarkan sepepatah kata apapun, membuat tertawa Natan semakin menggelegar.
"Mau ke mana, Kalau kalah Jangan kabur, nanti kelihatan semakin kalah." ledek Nathan di sela-sela tawanya.
"Jangan banyak berbicara, Aku mau ke toilet dulu." Jawab Susanto sambil terus masuk ke dalam villa membuat Jasmine dan Nathan saling melirik kemudian melempar senyum.
Setelah Susanto tidak terlihat, Nathan pun bangkit kemudian mengambil Koja wadah ikannya lalu ditukarkan dengan koja milik Susanto, yang hanya setengah dari pendapatannya. Jasmine hanya memperhatikan gerak-gerik pria yang akhir-akhir ini selalu menemaninya, dia semakin terkagum karena ternyata Nathan terlalu kalah bukan karena dia salah sebenarnya tapi kalah Mengalah.
"Kenapa ditukarkan?" tanya Yasmin sambil menatap lekat ke arah Nathan.
"Nggak apa-apa kakek Susanto sudah tua, nanti kalau kena air dia akan masuk angin."
"Kayaknya kamu dekat banget dengan kakek Susanto."
"Alhamdulillah semua anak-anak Ibu semuanya dekat sama kakek, karena mungkin kakek tinggal ke rumah dan yang paling dekat denganku, soalnya kedua kakakku disibukkan dengan mengurus keluarga dan perusahaan."
"Beruntung banget kamu bisa tahu kakek. aku semenjak lahir dan semenjak Ingat tidak mengenal wajah kakekku hanya mengenal melewati foto yang dipajang di rumah, soalnya kakekku meninggal dalam pertikaian antara Kampung Sagaranten dan Kampung Cisaga." keluh Jasmine yang merasa sedih tidak bisa bermain dengan kakeknya tidak pernah merasakan bagaimana kasih sayang seorang kakek, jangankan kasih sayang seorang kakek kasih sayang orang tua yang didambakan setiap anak Jasmine merasa kekurangan karena kedua orang tuanya selalu disibukkan dengan konflik-konflik yang terus terjadi.
"Semua orang memiliki kisah hidup masing-masing, yang terpenting kita bisa menjalaninya dengan penuh kesabaran dan ketegaran, karena kehidupan akan terus berjalan meski tanpa sesuai harapan kalau tidak ditumbuhkan rasa syukur, mungkin manusia tidak akan mau hidup lama di dunia, merasa berat menghadapi masalah-masalah yang selalu berat beruntung kamu sudah diterpa oleh badai cobaan dan kesedihan sehingga menjadikanmu lebih kuat dan lebih dewasa. aku berharap tidak akan ada kejadian yang serupa terulang kembali." jawab Nathan dengan menatap wajah Jasmine membuat wajah yang putih bersih itu terlihat memerah seperti tomat merasa malu ditatap seperti itu.
Entah mengapa ketika beradu tetap pasangan berbeda jenis itu terasa ada getaran-getaran yang tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata, namun hanya bisa dirasakan rasa nyaman, rasa takut kehilangan rasa ingin saling membalas kebaikan masing-masing.
Suasana pun terasa hening, seolah mereka kehabisan pembicaraan, hanya khayalannya saja yang terbang melintasi udara, tidak ada batasan untuk seseorang berpikir membayangkan apa yang sudah terjadi, menerka-nerka apa yang akan dilewati, ada ketakutan, ada kebahagiaan, ada kekhawatiran ketika menggambarkan kehidupan yang akan terjadi.
__ADS_1
Dari arah pohon cemara terdengar burung-burung gereja yang sedang bersuara di Sauti dengan burung-burung lainnya, Mereka terlihat loncat-loncat seperti sedang menikmati kehidupan yang tanpa beban suara gemericik air yang menimpa ke kolam, menambah suasana Asri perkampungan. Nathan sesekali mengajak mengobrol Jasmine namun sekali juga dia memutar reel pancing untuk mengangkat ikan mas.
"Ke mana kakek, Kok lama banget ya?" Tanya Jasmine sambil menoleh ke arah Villa yang pintunya terbuka.
"Palingan dia tidur karena memang begitulah kalau sudah kalah dia akan tiduran terlebih dahulu, nanti juga akan kembali lagi."
"Aku susul ya!" pinta Jasmine sambil bangkit dari tempat duduknya.
"Ya sudah sana!" ujar penataan membiarkan.
"Terus pancingannya harus diapakan?"
"Simpan saja, Nanti kalau ada yang nyangkut biar aku yang ngangkat."
"Kenapa gak dilanjutkan, memancingnya kek?" tanya Jasmine sambil duduk di kursi yang ada di depan Susanto.
"Ngapain susah-susah memancing ikannya juga nggak dapat, nanti juga Nathan akan menukarkannya."
"Jadi kakak tahu kalau Nathan selalu menukarkan Koja miliknya dengan milik kakek?"
"Tahulah Emangnya Kakek ini bodoh tidak bisa menghitung, tidak mungkin kan kakek yang jarang dapat ikan bisa memiliki koja yang penuh diisi oleh ikan."
"Terus kenapa Kakek biarkan?" tanya Jasmine sambil menatap berkat ke arah Susanto salah ingin mengetahui isi di dalam hatinya.
__ADS_1
"Biarkan, karena Seorang lelaki harus tanggung jawab, seorang lelaki harus lebih merasakan sakit dibandingkan dengan orang lain, Seorang lelaki harus lebih merasa susah dibandingkan kesusahan orang lain maka laki-laki itu akan perlahan berubah menjadi laki-laki tanggung jawab, baik terhadap dirinya sendiri ataupun keluarga, Karena seharusnya lelaki seperti itu."
"Oh...!" tanggap Jasmine sambil memonyongkan bibirnya.
"Ya seperti itu, meski Dia terlihat nakal tapi dia sangat baik dia berani mengorbankan seluruh jiwa dan raganya, demi untuk keluarga. tak ada ketakutan dalam dirinya Yang ada hanyalah pengorbanan dan perjuangan agar seluruh keluarganya bahagia, kadang kakek juga merasa kasihan karena sudah dewasa itu Nathan belum pernah memiliki pasangan, terlalu sibuk mengurus keluarga." jelas kakek Susanto membuat Jasmine semakin mengerti bahwa Nathan adalah pria terbaik yang dikirimkan Tuhan untuk dirinya.
Mereka terus mengobrol berbicara tentang Nathan yang semakin membuat Jasmine terkagum dengan pria itu, Jasmine sangat percaya dengan apa yang dibicarakan oleh kakeknya karena dia pun merasakan pengorbanan Nathan yang begitu baik terhadap dirinya, yang selalu mementingkan kepentingannya dibandingkan kepentingan diri Nathan sendiri.
Kira-kira 30 menit berlalu, akhirnya kakek Susanto pun mengajak Jasmine Untuk Kembali keluar, melanjutkan acara mancing yang sudah lama ditinggalkan Sesampainya di tepian kolam, terlihat Nathan sedang menarik real pancing milik Susanto.
"Kenapa kamu angkat itu, kan joran milik kakek."
"Tadi katanya tidak boleh menyiksa ikan, kalau umpannya sudah dimakan ikan itu harus secepatnya ditarik ke atas, Kasihan dia tersiksa oleh kail yang menempel di mulutnya." jawab Nathan sambil terus memutar reel pancingnya.
"Awas, awas. biar kakek yang narik." ujar Susanto sambil merebut gagang joran pancing yang sedang dipegang oleh Nathan, membuat cucunya hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala.
Kakek Susanto dengan terfokus memutar reel pancing untuk mengangkat ikan yang baru saja memakan umpannya, semakin lama senar pancing pun semakin memendek pergerakan, ikan semakin terlihat bergejolak hingga menimbulkan suara dan cipratan-cipratan yang membasahi tepian kolam, menandakan bahwa ikan yang didapat adalah ikan yang besar.
"Tahan dulu Tahan dulu, jangan langsung diangkat nanti kailnya putus." ujar Nathan mengingatkan.
"Halah kamu tahu apa, kamu baru lahir kemarin." jawab Susanto tanpa memperdulikan peringatan dari cucunya dia terus memutar reel pancing dengan tergesa-gesa Ingin secepatnya mengangkat ikan yang didapat ke atas permukaan air.
Byur! byur! byur!
__ADS_1
Suara air terus bergejolak Susanto, terus reel pancing senarnya semakin mengencang bahkan jorannya terlihat melengkung seperti Mau patah, namun Susanto tidak mempedulikan dia terus memutar sampai ikan itu terlihat di permukaan ikannya, sangat besar mungkin kalau diukur 2 sampai 3 kiloan, namun Susanto yang tidak menghiraukan peringatan dari Nathan, dia tidak sadar kalau senar pancing yang digunakan senar kecil, sehingga ketika diangkat ke atas senarnya pun terputus ikan yang mau diangkat, terlihat pergi meninggalkan Susanto ke tengah kolam mungkin ikan itu takut kalau dia tertipu lagi oleh kail pancing.