
"Kang Abduh di mana Jasmine?" tanya Yanti setelah berada di kamar sahabatnya, karena kedatangan kala itu bukan untuk menemui Jasmine, melainkan untuk menemui Abduh yang sudah bersepakat akan bersama-sama bertemu dengan Dadang, untuk meminta izin kalau mereka akan melaksanakan acara lamaran.
"Oh Kak Abduh, ada di belakang tuh sama temannya yang dari Bogor. Kenapa sudah kangen ya, bukannya baru kemarin kalian bertemu?" ledek Jasmine sambil mencolek dagu sahabatnya.
"Bukan, bukan begitu Jasmine. aku ingin membicarakan sesuatu dengan Kang Abduh."
"Membicarakan apa?" tanya Jasmine seorang lupa dengan permusyawarahan yang dilakukan hari kemarin.
"Rahasia perusahaan, anak kecil tidak boleh tahu." Jawab Yanti dengan mendelik.
"Halah Sombongnya baru saja mau dilamar udah berbicara seperti itu, apalagi kalau sudah sah menjadi seorang istri, bisa-bisa aku ditindas sebagai adik ipar."
"Nah itu tahu, sekarang kamu tidak boleh ngelunjak dengan Kakak iparmu, kamu harus membiasakan diri dengan memanggilku dengan sebutan kakak ipar atau teteh seperti memanggil istrinya Kang Dadang teh Sarah."
"Nggak, aku nggak mau melakukan hal konyol seperti itu, walaupun kamu sudah menikah dengan Kang Abduh, tapi kamu akan tetap menjadi sahabat terbaikku, tidak ada kasta-kasta yang membedakan kita, karena Begitulah persahabatan."
"Iya aku tidak akan berbuat jahat dengan calon adik iparku, kamu kebanyakan Nonton sinetron TV lokal sehingga persepsimu buruk dengan kakak ipar. ya sudah sekarang ayo antar aku menemui kakakmu."
"Ya sudah ayo!" ajak Jasmine sambil keluar dari kamarnya kemudian dia menuju halaman belakang untuk menemui Abduh dan Nathan yang sedang mengobrol sambil menunggu kedatangan kekasihnya.
Melihat kedua wanita cantik yang menghampiri, kedua pria itu terlihat mengulum senyum merasa Terkesima dengan kecantikan pasangan dan calon pasangan masing-masing. karena sampai saat ini Nathan belum punya waktu untuk mengungkapkan isi hatinya kepada Jasmine, ditambah urusan sahabatnya lebih penting dari urusan dirinya sendiri.
Jasmine dan Yanti mereka duduk bergabung dengan Abduh dan Nathan, sebelum berbicara Mereka pun meminum kopi yang dibawa oleh kedua wanita yang baru saja menghampiri. Soalnya tadi Sarah menyuruh mereka membawa minuman untuk orang yang sedang ada di belakang rumah.
__ADS_1
"Bagaimana sudah siap?" tanya Abduh sambil menatap ke arah Yanti.
"Kalau Yanti dari dulu juga sudah Siap Kang, tinggal Akangnya sendiri sudah siap apa belum?"
"Akang sudah siap, tapi tadi kamu melihat kang dadangnya nggak di rumah?"
"Tadi ketika Yanti datang Kang Dadang sedang mengobrol dengan Kang manta."
"Ngobrol tentang apa?"
"Kurang tahu Yanti tidak berani menguping. tapi melihat dari raut wajahnya mereka sedang mengobrol hal yang serius."
"Aduh bagaimana ya kalau sedang serius, aku takut Kang Dadang bukannya menerima Keinginan kita tapi malah melampiaskan kemarahannya." keluh Abduh sambil melirik ke arah Nathan.
"Kenapa kamu minder anak muda, bukannya cinta itu akan menguatkan pasangan, bahkan Jangan hanya menghadapi kang Dadang, tujuh samudra Lautan Api dan tujuh gunung yang menjulang tinggi akan diseberangi dan akan didaki, demi tercapainya cinta dan harapan yang akan membahagiakan kehidupan jiwa." jawab Nathan bak seorang penyair profesional.
"Lagian siapa yang sedang bercanda, bukannya begitulah kekuatan cinta yang akan menyatukan dan akan mendobrak ketidakbiasaan menjadi biasa. karena dengan adanya cinta manusia akan saling menguatkan saling bahu-membahu demi terwujudnya cita-cita. sekarang kalian berdua Jangan membuang kesempatan yang baik ini, mumpung masih ada waktu, masih ada kehidupan, maka kalian harus memanfaatkannya semaksimal mungkin agar tidak menyesal di kemudian hari. sekarang temui kang Dadang apapun resikonya, masa kamu akan kalah dengan Yanti yang sudah berani jujur dengan keluarganya." nasehat Nathan panjang lebar membuat Abduh terdiam seketika, membenarkan apa yang disampaikan oleh sahabatnya.
Sebelum berbicara kembali, Abduh pun menatap ke arah Yanti yang sejak dari tadi tertunduk, karena semua kejadian yang akan terjadi sudah diantisipasi dari sebelumnya. Yanti bukan sudah tahu dengan kesulitan yang akan dihadapi sehingga terlihat biasa saja.
"Bagaimana Yanti Kamu sudah siap?" tanya Abduh Untuk yang kesekian kalinya seperti sedang menanyakan kesanggupan Yanti, padahal yang sebenarnya terjadi Dia sedang menguatkan dirinya sendiri, agar berani menghadapi kakaknya yang amat sangat disegani.
Yanti tidak menjawab seolah kehabisan kata-kata, dia hanya melakukan kepala sebagai persetujuan bahwa dia akan ikut serta menjalankan perjuangan demi mencapai kebahagiaan bersama. setelah menarik nafas dalam akhirnya Abduh pun bangkit dari tempat duduknya, kemudian Dia merapikan bajunya yang kusut akibat terlalu lama menunggu. setelah itu dia mengeluarkan tangan mengajak Yanti untuk berdiri bersamanya.
__ADS_1
Aduh dan Yanti terlihat sudah bersiap menerima kemungkinan-kemungkinan baik ataupun kemungkinan terburuk sekalipun, karena dari awal menjalin hubungan mereka sudah bisa memastikan bahwa hubungan itu tidak akan mulus semulus jalan yang tak berhambatan, pasti akan ada liku-liku kehidupan di antara perasaan cinta yang semakin lama semakin tumbuh subur di dalam dada masing-masing.
Kedua orang itu berjalan meninggalkan Saung dengan tubuh yang tegap dada yang membusung seperti hendak maju ke medan pertempuran, mereka berdua sudah berhasil menyingkirkan ketakutan-ketakutan yang akan menimpanya, mereka sudah bersiap dengan segala risiko yang akan terjadi menimpa cintanya, Karena untuk mencapai kebahagiaan ataupun kesuksesan harus ada keringat yang lebih banyak keluar daripada orang lain, harus ada air mata yang jatuh membasahi bumi lebih banyak daripada tangisan orang lain, karena tidak ada kesuksesan atau kebahagiaan yang diraih secara cuma-cuma, Walaupun ada itu hanya sedikit dan itu pun terjadi sangat langka.
Kedua orang itu terus berjalan menyusuri samping rumah dengan sangat perlahan, padahal jarak dari halaman belakang ke halaman depan itu sangat dekat, mungkin tidak akan lebih dari 100 meter, tapi berjalan terasa sangat lambat seperti siput yang sedang berlari. hati mereka terasa berdebar, jantungnya tiba-tiba berdegup dengan kencang, keringat dingin mulai bercucuran membasahi tubuh seperti sedang menunggu vonis Hakim yang akan dijatuhkan, namun dengan kekuatan cinta akhirnya mereka pun tiba di halaman depan, rumah tapi ketika mereka sampai mereka sangat terkejut karena Dadang sudah bersiap untuk memasuki mobil yang sudah dinyalakan.
"Mau ke mana Kang?" tanya Abduh dengan tergesa-gesa.
"Akang mau menjenguk warga yang tadi pagi diserang oleh warga Kampung Cisaga ketika dia pulang dari pasar."
"Siapa yang diserang?" tanya Abduh menyembunyikan kekecewaannya karena sudah dipastikan Rencananya akan gagal.
"Menurut Kang Manta, kang Adin lah yang menjadi korban penyerangan sekarang. ada apa?" jawab Kang Dadang diakhiri dengan pertanyaan wajahnya yang dingin menunjukkan ketegasan.
"Tidak ada apa-apa, Abduh cuma mau berbicara sedikit saja Kang."
"Penting atau tidak?"
Mendapat pertanyaan seperti itu Abduh yang hendak berbicara panjang lebar dia pun mengurungkan niatnya, karena dia sangat tahu dengan sikap kakaknya yang akan lebih memilih kepentingan orang lain daripada kepentingan dirinya sendiri ataupun keluarganya, sehingga dia pun berbicara dengan ragu-ragu.
"Penting, tapi tidak penting, eh penting."
"Kalau tidak penting-penting amat, nanti kita ngobrolnya setelah akang pulang menjenguk Mang Adin, nanti ketika kita makan siang kita ngobrol lagi, sekarang Akang harus buru-buru pergi takut Kang Adin tidak tertolong." jawab Dadang sambil masuk ke dalam mobilnya tanpa menunggu jawaban dari Abduh mobil itu melaju meninggalkan rumahnya.
__ADS_1
Mobil itu terus ditatap oleh Yanti dan Abduh sampai tidak terlihat lagi ditelan oleh belokan, setelah mobil itu tidak terlihat Abduh menarik nafas dalam kemudian membuangnya dengan perlahan, matanya yang Sayu menatap ke arah Yanti yang sejak dari tadi tertunduk lesu.
"Maafkan Akang yang tidak bisa berbuat banyak, tapi akang janji akan berusaha sekuat tenaga agar rencana kita bisa terealisasikan." ucap Abduh sambil mengambil tangan Jasmine lalu menggenggamnya dengan begitu erat, seolah sedang meminta kekuatan dari pacarnya itu.